Bagaimana Allah SWT Menurunkan Ayat-Ayat-Nya Kepada Manusia?

Dialog Seri 9: 2

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memberikan ayat-ayat-Nya kepada manusia pertama, Nabi Adam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT memberikan ayat-ayat-Nya kepada Nabi Adam ketika beliau dan isterinya menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di surga. Ayat-ayat-Nya itu termasuk peringatan-Nya agar berhati-hati terhadap syaitan yang menyesatkan. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (Al A’raaf 19)

 

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. (Thaahaa 117-119)

 

Tapi keduanya berhasil disesatkan oleh syaitan, yaitu keduanya memakan buah yang dilarang-Nya. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al A’raaf 22)

 

Allah SWT menghukum keduanya dengan menurunkan mereka ke bumi. Allah SWT lalu memberikan ayat-ayat-Nya kepada Nabi Adam sebagai petunjuk baginya dan anak cucunya ketika menjalani hidupnya di bumi (di dunia). Ayat-ayat-Nya itu termasuk pula syariat (peraturan) agama-Nya yang berupa hukum perintah dan larangan bagi Nabi Adam dan anak cucunya ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. (Al Baqarah 37)

 

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Al A’raaf 24-25)

 

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. (Thaahaa 123-126)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Adam, keluarganya dan anak cucunya taat mengikuti ayat-ayat-Nya ketika menjalani hidupnya di bumi?”

 

Mudariszi: “Syaitan tetap menggoda Nabi Adam dan isterinya sejak mereka hidup di bumi seperti syaitan menggoda mereka ketika di surga. Tujuan syaitan tidak lain yaitu agar mereka berbuat (beramal) dengan tidak mengikuti ayat-ayat-Nya supaya mereka tersesat. Contoh, syaitan tetap menggoda keduanya, yaitu syaitan membisikkan isteri Nabi Adam ketika melahirkan anak lelakinya, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Qatadah dari Hasan dari Samurah bin Jundub dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Tatkala Hawa hamil, Iblis mengelili­nginya dan tak pernah hidup untuknya, anak lelaki. Iblis berkata:Namakan ia Abdul Harits.” Maka Hawa menamakannya Abdul Harits. Maka anak­nyapun hidup dan itu dari penggoda syaitan dan perintahnya.” (HR Tirmidzi)

 

Setelah sekian tahun Nabi Adam dan keluarganya menjalani hidupnya di bumi (di dunia), syaitan lalu menggoda anak-anak Nabi Adam; di antara mereka ada yang tergoda hingga hawa nafsunya menyuruhnya untuk membunuh saudaranya sendiri. Kejadian itu merupakan pembunuhan manusia pertama di bumi yang dilakukan oleh manusia. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh bila kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang zalim.” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 27-30)

 

Dari Abdullah (ibnu Masud), dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang manusia dibunuh dengan zhalim kecuali anak Adam yang pertama (Qabil) itu menanggung darahnya, karena dialah orang yang pertama mencontohkan pembunuhan. (HR Bukhari)

 

Bertambah banyak anak cucu Nabi Adam yang hidup di dunia (dari perkawinan laki-laki dan perempuan) dan syaitan menggoda anak cucu Nabi Adam yang tanpa henti-hentinya, membuat bertambah banyak anak cucu Nabi Adam yang terhasut oleh syaitan hingga mereka menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti ayat-ayat-Nya dan tidak menyembah-Nya. Hal itu menghendaki Allah SWT lalu mengutus Nabi-Nabi (Rasul-Rasul) kepada mereka dengan membawa ayat-ayat-Nya guna menjelaskan dan memperingatkan mereka agar kembali bertaubat kepada-Nya. Salah satu Nabi (Rasul) tersebut yaitu Nabi Idris yang sabar, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. (Maryam 56)

 

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (Al Anbiyaa’ 85)

 

Tilmidzi: “Apakah anak cucu Nabi Adam itu kembali kepada agama-Nya yang hanya menyembah Dia saja?”

 

Mudariszi: “Tidak demikian. Bahkan pertambahan anak cucu Nabi Adam yang menjadi kafir lebih banyak daripada yang bertaubat. Itu terjadi karena syaitan menggoda anak cucu Nabi Adam tanpa henti-hentinya agar mereka tidak mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus hingga mereka tidak lagi menyembah-Nya atau tidak mengikuti agama-Nya. Allah SWT lalu mengutus Nabi Nuh kepada mereka dengan membawa ayat-ayat-Nya dan memperingatkan mereka, yaitu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Al Mu’minuun 23)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.(Huud 25-26)

 

Firman Allah di atas menunjukkan bahwa kaum Nabi Nuh ketika itu telah banyak yang tidak menyembah Allah SWT atau tidak mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi-Nabi atau Rasul-Rasul. Allah SWT mengutus Nabi-Nabi atau Rasul-Rasul kepada manusia sangat banyak, tapi tidak dijelaskan semuanya dalam kitab-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (Al Mu’min 78)

 

Nabi Nuh menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dan menyerunya agar bertaubat menyembah Allah SWT dengan taat mengikuti ayat-ayat-Nya dan beliau (atau mengikuti agama-Nya) supaya selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.(Asy Syu’araa’ 106-110)

 

Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan kalau kamu mengetahui.(Nuh 2-4)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kaum Nabi Nuh menanggapi seruan Nabi Nuh itu?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Nuh tidak menyukai ayat-ayat-Nya (agama-Nya) yang dibawa oleh Nabi Nuh, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 24-25)

 

Para pemuka (pemimpin) kaum Nabi Nuh khawatir kaumnya mengikuti Nabi Nuh. Jika mereka mengikuti Nabi Nuh, berarti mereka meninggalkan agamanya yang tidak menyembah Allah SWT. Karena itu para pemuka kaum Nabi Nuh terus menghalang-halangi Nabi Nuh dari menyampaikan ayat-ayat-Nya, termasuk mengancam beliau. Allah SWT berfirman:

 

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.(Huud 27)

 

Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.(Huud 32)

 

Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.(Asy Syu’araa’ 116)

 

Para pemuka kaum Nabi Nuh berbuat seperti di atas karena mereka mengikuti syaitan. Syaitan telah membuat mereka selalu memandang baik perbuatan-perbuatan mereka yang buruk. Allah SWT berfirman:

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Tilmidzi: “Agama apakah yang diikuti (dianut) oleh kaum Nabi Nuh itu?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Nuh beragama menyembah tuhan patung berhala. Mereka menyekutukan Allah SWT dengan tuhan patung-patung itu. Patung-patung berhala yang disembah oleh kaum Nabi Nuh itu adalah orang-orang alim dari kaum Nabi Nuh yang telah wafat. Syaitan menghasut (membisiki) kaum Nabi Nuh agar membuat patung-patung mereka sebagai tanda tempat tinggal mereka dengan namanya masing-masing. Ketika orang-orang yang berilmu dan beriman makin berkurang karena wafat, syaitan lalu membisiki kaum Nabi Nuh yang lemah imannya dan pengetahuan agamanya agar menyembah patung orang-orang alim tersebut. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah, sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Berhala-berhala yang dulu ada pada zaman Nabi Nuh, masih ada di Arab setelah itu. Adapun berhala Wadd milik Suku Kalb berada di Daumatul Jandal, dan Suwa ada di Su­ku Hudzail, Yaghuts milik Suku Murad kemudian milik Suku Ghuthaif ada di Jauf dekat Saba, adapun Yauq milik Suku Hamadan, Nasr ada­lah milik Suku Himyar yakni keluarga Dzil Kala, adalah nama-nama orang yang shaleh dari kaumnya Nuh. Maka ketika mereka meninggal, syaitan memberikan wahyu kepada kaum mereka yakni: Dirikanlah tanda kepada tempat tinggal mereka dimana pernah menempatinya dengan berhala-berhala, dan berilah nama berhala-berhala itu dengan namanama mereka. Kemudian kaum tadi melakukannya. Berhala-berhala terse­but tidaklah disembah sampai mereka mati dan ilmu telah terhapus, barulah berhala-berhala itu disembah. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah kebanyakan kaum Nabi Nuh yang menyembah patung itu tidak mau meninggalkan agamanya?”

 

Mudariszi: “Ya! Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya, sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. (Al ‘Ankanuut 14)

 

Lamanya Nabi Nuh hidup bersama kaumnya (dalam firman-Nya di atas) itu menunjukkan lamanya beliau telah menyeru dan memperingatkan kaumnya dengan ayat-ayat-Nya, yaitu beratus-ratus tahun, agar mereka kembali bertaubat kepada-Nya dan mengikuti agama-Nya yang hanya menyembah Allah SWT saja. Tapi seruan Nabi Nuh tidak membuat mereka berubah, bahkan orang-orang yang menjadi kafir bertambah banyak. Seruan dan ajakan Nabi Nuh yang meletihkan tersebut membuat beliau tidak sanggup lagi menasehati kaumnya, karena itu beliau mengadu kepada Allah SWT, sebagai berikut:

 

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (Al Qamar 10)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.(Nuh 5-20)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh 21-24)

 

Lamanya Nabi Nuh bersama kaumnya membuat beliau menyaksikan sendiri orang-orang yang lahir dari puluhan generasi keluarga telah menjadi kafir karena orang tuanya yang kafir atau karena orang-orang di sekitarnya yang kafir. Karena itu Nabi Nuh mengadu kepada Allah SWT agar tidak menambah lagi orang-orang kafir.”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Nuh meminta kepada Allah SWT agar Dia tidak menambah lagi orang-orang kafir?”

 

Mudariszi: “Ya! Nabi Nuh meminta kepada Allah SWT agar Dia tidak lagi menambah orang-orang yang zalim atau kafir, karena anak-anak mereka yang lahir akan menjadi kafir pula. Keadaan itu bukan tidak mungkin akan membuat tidak ada lagi orang-orang beriman yang menyembah Allah SWT atau mengikuti agama-Nya. Karena itu, Nabi Nuh lalu meminta kepada Allah SWT agar memusnahkan orang-orang kafir tersebut agar tidak menambah lagi orang-orang kafir, dan Nabi Nuh juga meminta kepada-Nya agar menyelamatkan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, Ibu Bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. (Nuh 26-28)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mu’min besertaku. (Asy Syu’araa’ 117-118)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Nuh?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Nuh itu, dan hal itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu, ketika dia berdo’a dan Kami memperkenankan do’anya. (Al Anbiyaa’ 76)

 

Allah SWT lalu memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera (kapal), seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Huud 37)

 

Nabi Nuh mengerjakan perintah-Nya itu meskipun beliau diolok-olok oleh kaumnya, karena beliau membuat kapal itu di daratan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami(pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. (Huud 38-39)

 

Tilmidzi: “Apakah perintah Allah selanjutnya setelah Nabi Nuh menyelesaikan kapal tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut melalui firman-Nya ini:

 

Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim. Dan berdo’alah: “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat. (Al Mu’minuun 27-29)

 

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Huud 40)

 

Muatan kapal yang banyak yang terdiri dari pasangan orang-orang beriman dan dari pasangan sejumlah binatang, menunjukkan kapal Nabi Nuh berukuran besar. Kapal besar itu dapat dikerjakan oleh Nabi Nuh karena orang-orang di masa itu bertubuh tinggi dan besar seperti tubuh Nabi Adam, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bersabda Rasulullah SAW: “Dan dengan rupa seorang laki-laki yaitu dengan rupa Bapak mereka, Adam, tinggi­nya 60 hasta di langit (tinggi). (HR Bukhari)

 

Karena itu, setelah kapal selesai dikerjakan dan tanda-tanda yang dijelaskan-Nya telah datang, Nabi Nuh lalu memerintahkan orang-orang beriman sebagai berikut:

 

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Huud 41)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kapal yang berada di daratan itu dapat berlayar?”

 

Mudariszi: “Setelah Nabi Nuh, orang-orang beriman dan semua binatang yang sepasang-sepasang berada di atas kapal, Allah SWT kemudian menjelaskan sebagai berikut:

 

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (Al Qamar 11-12)

 

Demikian banyaknya air yang turun dari langit ke bumi (daratan) dan dari dalam tanah ke atas (daratan), maka daratan dipenuhi oleh air sehingga kapal Nabi Nuh terangkat air dan dengan sendirinya kapal tersebut dapat berlayar. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami angkat Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (Al Qamar 13-14)

 

Tilmidzi: “Apakah air yang turun dari atas dan keluar dari bawah tanah itu menenggelamkan semua orang kafir yang berada (hidup) di bumi?”

 

Mudariszi: “Air yang sangat banyak di bumi dengan gelombangnya yang tinggi membuat air itu naik ke tempat yang tinggi dan menenggelamkan siapapun yang ada di daratan, contoh anak Nabi Nuh yang lari ke gunung, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Huud 42-43)

 

Air itu membuat banjir besar di bumi sehingga orang-orang yang tidak berada di kapal Nabi Nuh, yaitu orang-orang kafir, menjadi tenggelam semuanya. Hal itu sesuai dengan permintaan Nabi Nuh, yaitu Allah SWT menenggelamkan semua orang kafir, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (Asy Syu’araa’ 120)

 

Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (Al A’raaf 64)

 

Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (Al Anbiyaa’ 77)

 

Orang-orang kafir yang tenggelam binasa itu bukan hanya dari kaum Nabi Nuh saja, tapi juga dari umat Nabi Adam, dari umat Nabi Idris dan dari umat Rasul-Rasul sebelum Nabi Nuh. Nabi Adam dan Nabi Idris dan Rasul-Rasul lain di masa itu berusia panjang seperti Nabi Nuh, sehingga mereka menurunkan puluhan generasi keluarga manusia yang telah menyebar ke berbagai belahan bumi.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana kapal Nabi Nuh tersebut berhenti dari berlayar?”

 

Mudariszi: “Setelah semua orang kafir di bumi mati tenggelam, Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah”, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim. (Huud 44)

 

Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. (Huud 48)

 

Kapal Nabi Nuh berhenti berlayar dengan berlabuh di atas bukit Judi. Berlabuhnya kapal di atas bukit menunjukkan tingginya (banyaknya) air ketika banjir, sehingga semua orang dan binatang yang tidak berada di kapal Nabi Nuh tidak akan ada yang selamat. Dengan demkian, Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Nuh dan orang-orang beriman dari azab-Nya. Allah SWT lalu menjadikan orang-orang beriman itu sebagai penerus keturunan manusia di bumi, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. (Asy Syu’araa’ 119)

 

Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)

 

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)

 

Orang-orang beriman yang ada di kapal Nabi Nuh itulah nenek moyang manusia yang lahir dan hidup sampai sekarang ini di dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al Haaqqah 11-12)

 

Jika bumi pada mulanya didiami oleh manusia yang diawali oleh orang-orang beriman, yaitu Nabi Adam dan isterinya, maka setelah banjir besar, bumi lalu didiami oleh manusia yang juga diawali oleh orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh. Orang-orang beriman itu merupakan nenek moyang orang-orang yang hidup hingga saat ini dan hingga kiamat.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply