Dialog Seri 10: 10
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ishaq lahir setelah Nabi Ismail?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya berikut ini:
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. (Ibrahim 39)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Ishaq, putera Nabi Ibrahim, dilahirkan-Nya setelah Nabi Ismail, karena Nabi Ibrahim bersyukur kepada Allah SWT dengan mendahulukan Nabi Ismail daripada Nabi Ishaq sebagai anugerah-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kelahiran Nabi Ishaq?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kelahiran Nabi Ishaq sebagai berikut:
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Adz Dzaariyaat 24)
Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Salaman (selamat).” Ibrahim menjawab: “Salamun (selamatlah).” (Huud 69)
Nabi Ibrahim tidak mengenal tamu-tamunya itu, beliau tidak mengetahui jika tamu-tamunya tersebut adalah malaikat. Meskipun demikian, Nabi Ibrahim tetap menyambut tamunya dan menghidangkan makanan. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
(Ingatlah) ketika mereka masuk ketempatnya lalu mengucapkan: “Salaman”, Ibrahim menjawab: “Salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. (Adz Dzaariyaat 25-27)
Ibrahim berkata: “Silahkan kamu makan.” (Adz Dzaariyaat 27)
Tapi makanan yang dihidangkan oleh Nabi Ibrahim itu tidak disentuh oleh tamunya, dan itu membuat beliau menjadi gelisah dan takut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada mereka. (Huud 70)
Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.” (Al Hijr 52)
Tamu-tamu itu lalu menjelaskan tentang dirinya dan tujuan kedatangannya, sebagai berikut:
(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). (Adz Dzaariyaat 28)
Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.” (Al Hijr 53)
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Ibrahim setelah mendengar berita tersebut?”
Mudariszi: “Nabi Ibrahim merasa tidak percaya karena beliau merasa telah lanjut usia; karena itu beliau lalu menanyakan perkara tersebut kepada tamu-tamunya, sebagai berikut:
Berkata Ibrahim: “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?” (Al Hijr 54)
Tamu-tamu Nabi Ibrahim itu lalu menjelaskan sebagai berikut:
Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Huud 73)
Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu menfirmankan.” Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Adz Dzaariyaat 30)
Mereka menjawab: ”Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.” Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 55-56)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ishaq yang akan lahir itu dari Sarah?”
Mudariszi: “Ya! Tamu-tamu tersebut datang kepada Nabi Ibrahim ketika beliau bersama isterinya, Sarah, dan Sarah pula yang menghidangkan makanan untuk tamu-tamu itu. Sarah mendengar pembicaraan tamu-tamunya dari dalam rumah, sehingga beliau juga terkejut mendengar akan melahirkan anak karena beliau merasa sudah tua dan mandul. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan isterinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” (Huud 71-72)
Kemudian isterinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” (Adz Dzaariyaat 29)
Bahkan Sarah mengetahui jika nantinya beliau akan mempunyai cucu Nabi Ya’qub dari anaknya Nabi Ishaq tersebut. Karena itu, jika Hajar merupakan Ibu bangsa Arab (dari Nabi Ismail), maka Sarah merupakan Ibu bangsa Eropah (dari Nabi Ishaq) yang termasuk Bani Israil, karena Nabi Ya’qub itu dipanggil pula dengan Israil yaitu Bapak Bani Israil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. (Ali ‘Imran 93)
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil. (Maryam 58)
Israil dalam firman-Nya di atas adalah Nabi Ya’qub putera Nabi Ishaq.”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ishaq juga dijadikan-Nya sebagai Rasul Allah?”
Mudariszi: “Allah SWT juga menjadikan Nabi Ishaq seperti Nabi Ibrahim, yaitu Nabi yang diberikan-Nya wahyu, ilmu-ilmu dan akhlak yang tinggi. Bahkan Allah SWT menjadikan pula cucunya Nabi Ya’qub putera Nabi Ishaq sebagai Rasul. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi Nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi. (Maryam 49-50)
Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah. (Al Anbiyaa’ 72-73)
Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Al ‘Ankabuut 27)
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. (Shaad 45-47)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ibrahim meninggalkan wasiat kepada anak cucunya sebelum wafatnya?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (Az Zukhruf 28)
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (Al Baqarah 131-132)
Wallahu a’lam.