Dialog Seri 10: 11
Tilmidzi: “Apakah Nabi Luth juga merupakan Rasul Allah?”
Mudariszi: “Nabi Luth juga merupakan salah satu dari Rasul-Rasul Allah. Allah SWT mengajarkan hikmah, ilmu, pengetahuan agama kepada beliau, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang Rasul. (Ash Shaaffaat 133)
Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu. (Al Anbiyaa’ 74)
Nabi Luth memiliki hubungan kerabat dengan Nabi Ibrahim dan keduanya tinggal di negeri yang sama. Tapi Allah SWT lalu memerintahkan keduanya untuk pergi ke negeri yang Dia tetapkan setelah Nabi Ibrahim dibakar. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke(tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al ‘Ankabuut 26)
Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Al Anbiyaa’ 71)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Luth juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dan menyeru kaumnya agar mengikuti agama-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (Asy Syu’araa’ 161-164)
Tilmidzi: “Bagaimana penduduk (kaum) dari negeri Nabi Luth itu?”
Mudariszi: “Negeri tempat Nabi Luth menetap itu dihuni oleh penduduk yang menyukai sesama jenis. Nabi Luth berkali-kali memperingatkan mereka tentang perbuatan mereka yang keji itu dengan ayat-ayat-Nya dalam waktu yang lama. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (homosexual) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (Al A’raaf 80-81)
Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (homosexual) itu sedang kamu melihat(nya)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (An Naml 54-55)
Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. (Asy Syu’araa’ 165-166)
Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Luth melakukan perbuatan keji (menyukai sesama jenis) itu karena syaitan?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan menghalang-halangi manusia dari mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus dari sejak kecilnya. Syaitan menggodanya dengan berbagai kesenangan dalam kehidupan dunia agar mereka lalai dengan kehidupan dunia, sehingga mereka melupakan agama-Nya (ayat-ayat-Nya). Syaitan membuat manusia menyukai kehidupan dunia dengan memberikan janji-janji manis hingga timbul hawa nafsunya yang tidak dapat ditahannya dan menjadi kebiasaannya. Syaitan dapat mengetahui orang-orang yang tertipu olehnya, yaitu dari perbuatan mereka yang suka meninggalkan agama-Nya karena ingin memperoleh kesenangan dunia. Mereka itulah orang-orang yang disesatkan oleh syaitan. Di antara mereka, ada orang-orang yang dibuat oleh syaitan menjadi menyukai sesama jenis. Syaitan dengan kepandaiannya dalam menipu manusia, dapat merubah sifat (fitrah) manusia yang Dia telah ciptakan, misal merubah sifat manusia yang menyukai lawan jenisnya menjadi sifat menyukai sesama jenis. Allah SWT menjelaskan kepandaian syaitan tersebut sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka merubahnya.” Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (An Nisaa’ 118-119)
Kaum Nabi Luth yang melakukan hubungan dengan sesama jenis adalah orang-orang yang sudah diketahui oleh syaitan akan menjadi sesat (berdasarkan firman-Nya di atas). Allah SWT menentukan orang-orang itu untuk syaitan, karena mereka selalu menuruti hawa nafsunya akibat dari mengikuti bisikan (janji-janji) syaitan. Karena selalu mengikuti syaitan, maka disadari atau tidak disadarinya, mereka telah menjadikan syaitan sebagai pelindungnya. Sehingga mereka lalu dibuat oleh syaitan menjadi suka melakukan perbuatan keji termasuk perbuatan menyukai sesama jenis. Perbuatan mereka itu jelas bertentangan dengan ketetapan-Nya atas penciptaan manusia yang berupa laki-laki dan perempuan, yaitu ketetapan perkawinan (laki-laki dan perempuan) guna menurunkan keturunan. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan. (Al A’raaf 189)
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (Al Baqarah 223)
(Tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar Ruum 30)
Karena penyakit kaum Nabi Luth itu akibat dari perbuatam syaitan, maka tidak ada jalan lain bagi kaum Nabi Luth yang ingin sembuh, yaitu dengan kembali kepada agama-Nya, agar Dia menunjukinya kepada jalan yang benar termasuk menghilangkan kebiasaan (sifat) buruknya itu. Semua penjelasan (ayat-ayat-Nya) di atas itu yang disampaikan dan dijelaskan oleh Nabi Luth kepada kaumnya agar mereka bertaubat kepada Allah SWT dan taat mengikuti agama-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Luth menerima seruan dari Nabi Luth itu?”
Mudariszi: “Nabi Luth menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya berkali-kali dan dalam jangka waktu yang lama. Tapi kaumnya berkali-kali pula menolak seruan Nabi Luth itu dengan mengatakan sebagai berikut:
Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir.” Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu.” (Asy Syu’araa’ 167-168)
Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” (Al A’raaf 82)
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.” (An Naml 56)
Dalam seruannya itu, Nabi Luth juga memperingatkan mereka dengan azab-Nya yang keras (karena perbuatan kejinya itu). Tapi mereka tetap mengingkarinya, bahkan mereka menantang Nabi Luth untuk mendatangkan azab-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemunkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al ‘Ankabuut 28-29)
Tanggapan kaum Nabi Luth seperti yang dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa Nabi Luth sulit untuk merubah keadaan kaumnya, karena mereka sendiri yang tidak mau berubah.”
Tilmidzi: “Apakah yang Nabi Luth lakukan setelah mengetahui kaumnya tidak mau merubah perbuatan itu?”
Mudariszi: “Kaum Nabi Luth yang selalu menolak seruan Nabi Luth hingga meminta agar didatangkan azab-Nya itu menunjukkan pula bahwa mereka telah mendustakan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. (Al Qamar 36)
Kaum Luth telah mendustakan Rasul-Rasul. (Asy Syu’araa’ 160)
Nabi Luth yang mengetahui kaumnya telah dikuasai oleh syaitan sehingga mereka tidak mau berubah, lalu meminta kepada-Nya sebagai berikut:
Luth berdo’a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (Al ‘Ankabuut 30)
(Luth berdo’a): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” (Asy Syu’araa’ 169)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Luth?”
Mudariszi: “Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Luth dengan Dia mengutus para malaikat kepada beliau untuk menghancurkan kaum beliau yang kafir. Para malaikat yang diutus kepada Nabi Luth itu adalah para malaikat yang diutus kepada Nabi Ibrahim ketika mengabarkan berita kelahiran Nabi Ishaq. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. (Huud 74)
Berkata (pula) Ibrahim: “Apakah urusanmu yang penting (selain itu), hai para utusan?” (Al Hijr 57)
Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.” (Al ‘Ankabuut 31)
Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.” (Adz Dzaariyaat 32-34)
Nabi Ibrahim lalu mengingatkan adanya Nabi Luth di tempat itu, sehingga para malaikat lalu menjelaskannya dan mengakhiri pembicaraan tersebut, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Para malaikat berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (Al ‘Ankabuut 32)
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. (Huud 75-76)
Tilmidzi: “Bagaimana para malaikat itu mendatangi negeri kaum Nabi Luth?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan ketika para malaikat yang berupa manusia sempurna berbentuk laki-laki itu mendatangi kota Sodom negeri kaum Luth, melalui firman-Nya ini:
Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth beserta pengikut-pengikutnya. (Al Hijr 61)
Para malaikat mendatangi rumah Nabi Luth dan beliau tidak mengenalinya. Keadaan itu membuat Nabi Luth susah karena perilaku kaumnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.” (Al Hijr 62)
Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.” (Huud 77)
Para malaikat mengetahui kegelisahan Nabi Luth sehingga mereka menenangkannya dengan menjelaskan tujuan kedatangannya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (Al Hijr 63-65)
Penjelasan malaikat itu membuat Nabi Luth mengetahui bahwa kaumnya akan diazab-Nya. Dengan demikian, permintaan beliau berarti dikabulkan-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. (Al Hijr 66)
Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. (Al Qamar 38)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan kaum Nabi Luth setelah mengetahui Nabi Luth didatangi oleh laki-laki?”
Mudariszi: “Kaum Nabi Luth yang mengetahui ada laki-laki ke rumah Nabi Luth, lalu mendatangi rumah beliau. Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. (Al Hijr 67)
Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. (Huud 78)
Nabi Luth mengetahui maksud kedatangan kaumnya, karena itu beliau melarang mereka dari mendekati tamu-tamunya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku, maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.” (Al Hijr 68-69)
Bahkan Nabi Luth menawarkan puteri-puterinya agar mereka tidak mengganggu tamu-tamunya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeri)ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (Huud 78)
Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri)ku, (kawinilah dengan mereka) jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).” (Al Hijr 71)
Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Luth menerima permintaan Nabi Luth itu?”
Mudariszi: “Kaum Nabi Luth menolak permintaan Nabi Luth, dengan mengatakan sebagai berikut:
Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (Al Hijr 70)
Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” (Huud 79)
Kaum Nabi Luth yang menyukai sesama jenis ketika itu telah dikuasai oleh hawa nafsunya setelah melihat wajah tamu-tamu Nabi Luth. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).” (Al Hijr 72)
Tilmidzi: “Lalu bagaimana dengan Nabi Luth menghadapi keadaan itu?”
Mudariszi: “Nabi Luth tidak mempunyai kemampuan (kekuatan) untuk membela tamu-tamunya dari kaumnya yang ketika itu telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Allah SWT menjelaskan keadaan hati Nabi Luth ketika itu, sebagai berikut:
Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka. (Al ‘Ankabuut 33)
Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat, (tentu aku lakukan).” (Huud 80)
Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Luth dapat menguasai tamu-tamu itu?”
Mudariszi: “Para malaikat mengetahui nafsu keinginan kaum Nabi Luth dan mengetahui pula kegelisahan hati Nabi Luth, karena itu mereka lalu menyuruh Nabi Luth untuk segera meninggalkan rumahnya dengan membawa bersama keluarganya kecuali isterinya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. (Al ‘Ankabuut 33-34)
Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (Huud 81)
Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (Al Hijr 63-65)
Setelah menjelaskan kepada Nabi Luth, para malaikat itu lalu mengazab kaum Nabi Luth yang menginginkan mereka. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al Qamar 37)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Luth, keluarganya dan orang-orang beriman lalu pergi meninggalkan negeri itu?”
Mudariszi: “Setelah itu, Nabi Luth bersama keluarganya dan orang-orang beriman pergi meninggalkan negerinya ke tempat yang diperintahkan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. (Adz Dzaariyaat 35-36)
Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Al Qamar 34-35)
Allah SWT menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya kecuali isterinya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
(Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua, kecuali seorang perempuan tua (isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal. (Ash Shaaffaat 134-135)
Lalu Kami selamatkan ia berserta keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua (isterinya) yang termasuk dalam golongan yang tinggal. (Asy Syu’araa’ 170-171)
Maka Kami selamatkan dia berserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (An Naml 57)
Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (Al A’raaf 83)
Allah SWT tidak menyelamatkan isteri Nabi Luth karena dia mengkhianati Nabi Luth ketika beliau menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya. Isteri Nabi Luth bukannya membantu suaminya yang seorang Rasul, tapi justru memihak kepada kaumnya yang berbuat keji, sehingga dia termasuk mendustakan ayat-ayat-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At Tahriim 10)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menurunkan azab-Nya kepada kaum Nabi Luth yang kafir itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (Al Hijr 73-74)
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. (Huud 82-83)
Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka). (Al Qamar 34)
Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. (Asy Syu’araa’ 173)
Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (An Naml 58)
Allah SWT memusnahkan negeri itu dan semua kaum Nabi Luth yang kafir dengan azab yang sangat keras agar perbuatan mereka yang sangat keji itu tidak ditiru (dilakukan) oleh orang-orang yang lahir kemudian. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (Al A’raaf 84)
Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab yang besar yang menimpanya. (An Najm 53-54)
Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al Qamar 39)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meninggalkan bekas dari azab-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (Asy Syu’araa’ 174)
Sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal. (Al ‘Ankabuut 35)
Bukti-bukti yang nyata dalam firman-Nya di atas itu adalah bukti-bukti dari bekas-bekas azab-Nya atas kaum Nabi Luth yang kafir itu, dan manusia dapat menyaksikan bekas-bekas azab-Nya itu sampai sekarang. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). (Al Hijr 76)
Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Ash Shaaffaat 137-138)
Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekkah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu? (Al Furqaan 40)
Bukti-bukti nyata atau bekas-bekas azab-Nya itu ditinggalkan-Nya untuk orang-orang yang lahir kemudian agar mereka berfikir untuk tidak melakukan perbuatan keji tersebut dan agar mereka beriman kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. (Al Hijr 75)
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Al Hijr 77)
Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut siksa yang pedih. (Adz Dzaariyaat 37)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meninggikan derajat Nabi Luth?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh. (Al Anbiyaa’ 74-75)
Dan Isma’il, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (Al An’aam 86)
Wallahu a’lam.