Bagaimana Allah SWT Memusnahkan Fir’aun Dan Kaumnya Yang Kafir?

Dialog Seri 10: 24

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT melindungi orang-orang beriman dari kezaliman Fir’aun?”

 

Mudariszi: “Allah SWT melindungi orang-orang beriman dengan Dia menimpakan musibah yang merupakan mu’jizat-Nya kepada Fir’aun. Hal itu membuat Fir’aun dan pembesarnya sibuk mengatasi musibah tersebut, sehingga tidak menganiaya orang-orang beriman. Dengan musibah itu pula Allah SWT menghendaki Fir’aun dan kaumnya memikirkannya supaya mereka bertaubat kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mu’jizat kecuali mu’jizat itu lebih besar dari mu’jizat-mu’jizat yang sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar). (Az Zukhruf 48)

 

Musibah yang merupakan mu’jizat-Nya tersebut tidak dapat diatasi oleh Fir’aun dan pembesarnya, sehingga mereka meminta Nabi Musa untuk menghilangkannya dengan janji akan beriman setelah musibah itu lenyap. Hal itu djelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka berkata: “Hai ahli sihir, berdo’alah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika do’amu dikabulkan), benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.(Az Zukhruf 49)

 

Tapi setelah Allah SWT menghilangkan musibah tersebut, mereka lalu mengingkari janjinya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya). (Az Zukhruf 50)

 

Demikian pula ketika Allah SWT menimpakan mereka dengan musibah yang lebih besar agar mereka memikirkannya, yaitu musibah seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (Al A’raaf 130)

 

Tapi setelah Allah SWT menghilangkan musibah itu, mereka lalu mengatakan sebagai berikut:

 

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al A’raaf 131)

 

Tilmidzi: “Apakah alasan Fir’aun dan pembesarnya mengingkari janjinya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.(Al A’raaf 132)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Fir’aun dan para pembesarnya mengingkari janjinya karena mereka tetap menganggap Nabi Musa melakukan sihir. Karena itu Allah SWT lalu menghukum mereka dengan menurunkan musibah-musibah yang merupakan mu’jizat-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (Al A’raaf 133)

 

Musibah-musibah tersebut datang berturut-turut hingga membuat Fir’aun dan para pembesarnya kesulitan mengatasinya. Sehingga mereka lalu meminta kepada Nabi Musa untuk menghilangkannya dan mereka berjanji sebagai berikut:

 

Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu), merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.(Al A’raaf 134)

 

Tapi setelah semua musibah itu dihilangkan-Nya, mereka lalu kembali mengingkari janjinya. Allah SWT menjelaskan itu dalam firman-Nya ini:

 

Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. (Al A’raaf 135)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Fir’aun dan kaumnya memang tidak ingin beriman kepada Alah SWT?”

 

Mudariszi: “Semua musibah yang berupa mu’jizat-Nya yang ditimpakan oleh Allah SWT kepada Fir’aun dan kaumnya agar mereka memikirkannya, tidak berakibat apapun bagi mereka. Bahkan mereka tetap mengatakan Nabi Musa itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mu’jizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir. (Al Israa’ 101)

 

Padahal Fir’aun dan pembesarnya mengetahui kebenaran dari semua mu’jizat-Nya tersebut, karena mereka melihat datangnya dan hilangnya semua mu’jizat-Nya (musibah) itu. Karena itu Nabi Musa lalu mengatakan kepada Fir’aun sebagai berikut:

 

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa. (Al Israa’ 102)

 

Allah SWT membenarkan ucapan Nabi Musa kepada Fir’aun (dalam firman-Nya di atas) itu melalui firman-Nya ini:

 

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. (An Naml 14)

 

Dengan demikian, Fir’aun, para pembesarnya dan kaumnya memang tidak mau beriman kepada Allah SWT.”

 

Tilmidzi: “Apakah yang Nabi Musa lakukan setelah mengetahui Fir’aun dan kaumnya tidak mau beriman?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa mengadu dan meminta kepada-Nya sebagai berikut:

 

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksa yang pedih. (Yunus 88)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT kabulkan permintaan Nabi Musa tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengetahui kesombongan Fir’aun dan para pembesarnya karena hartanya dan kekuasaannya hingga mereka mengingkari mu’jizat-mu’jizat-Nya (ayat-ayat-Nya) dan mengingkari Rasul-Rasul-Nya (Nabi Musa dan Nabi Harun). Allah SWT berfirman:

 

Dan (juga) Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). (Al ‘Ankabuut 39)

 

(Kedua mu’jizat ini) termasuk sembilan buah mu’jizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (An Naml 12)

 

Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir’aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran). (Thaahaa 56)

 

Karena itu Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Musa tersebut. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui. (Yunus 89)

 

Salah satu dari permintaan Nabi Musa yang dikabulkan-Nya tersebut, yaitu Dia membenamkan Qarun dan seluruh hartanya ke dalam tanah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Al Qashash 81)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Fir’aun lakukan setelah mengetahui Qarun dan hartanya terbenam ke dalam tanah?”

 

Mudariszi: “Fir’aun menuduh Nabi Musa dan Bani Israil sebagai penyebabnya. Karena itu Fir’aun menjadi marah kepada Nabi Musa dan Bani Israil, sehingga Fir’aun ingin membunuh mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga. (Asy Syu’araa’ 54-56)

 

Fir’aun lalu bertindak sebagai berikut:

 

Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. (Asy Syu’araa’ 53)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa mengetahui rencana Fir’aun itu?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT mewahyukan Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli. (Asy Syu’araa’ 52)

 

Mengetahui akan dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya, Nabi Musa lalu meminta kepada-Nya sebagai berikut:

 

Kemudian Musa berdo’a kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka). (Ad Dukhaan 22)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT kabulkan permintaan Nabi Musa tersebut?”

 

Mudatiszi: “Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Musa itu, karena Dia perintahkan beliau sebagai berikut:

 

(Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar, dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan. (Ad Dukhaan 23-24)

 

Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam). (Thaahaa 77)

 

Perintah Allah dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Fir’aun dan kaumnya akan ditenggelamkan-Nya ke dalam laut setelah Nabi Musa dan orang beriman diselamatkan-Nya. Hal itu menunjukkan bahwa permintaan Nabi Musa dikabulkan-Nya.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Nabi Musa dan pengikutnya dapat dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa dan pengikutnya telah meninggalkan kota lebih dahulu karena wahyu-Nya (perintah-Nya) kepada beliau. Tapi Fir’aun lalu dapat mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. (Asy Syu’araa’ 60)

 

Dan disanalah Kami dekatkan golongan yang lain. (Asy Syu’araa’ 64)

 

Hal itu membuat pengikut Nabi Musa menjadi takut karena mereka telah berada di tepi laut yang tidak ada lagi jalan untuk lari. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengkut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.(Asy Syu’araa’ 61)

 

Nabi Musa lalu menenangkan mereka dengan mengatakan sebagai berikut:

 

Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (Asy Syu’araa’ 62)

 

Tilmidzi: “Mengapa Nabi Musa berkata seperti dalam firman-Nya di atas?”

 

Mudariszi: “Karena Nabi Musa telah mengetahui dari wahyu-Nya bahwa Fir’aun dan tentaranya akan ditenggelamkan di laut. Ketika Fir’aun dan tentaranya makin mendekati Nabi Musa, Allah SWT lalu memerintahkan Nabi Musa sebagai berikut:

 

Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy Syu’araa’ 63)

 

Setelah laut tersebut dipukul oleh Nabi Musa dengan tongkatnya, laut itu terbelah menjadi dua yang di antaranya ada daratan yang dapat dilintasi oleh manusia. Allah SWT lalu memerintahkan Nabi Musa untuk melintasi daratan itu membawa pengikutnya. Allah SWT membiarkan Fir’aun dan tentaranya melintasi daratan itu juga karena mereka ingin mengejar Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya karena hendak menganiaya dan menindas (mereka). (Yunus 90)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa dan pengikutnya terkejar oleh Fir’aun?”

 

Mudariszi: “Allah SWT perintahkan Nabi Musa dan pengikutnya melintasi daratan dari laut yang terbelah itu dengan tujuan sebagai berikut:

 

Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. (Asy Syu’araa’ 65)

 

Sedangkan tujuan Allah SWT membiarkan Fir’aun dan tentaranya melintasi daratan itu karena ingin mengejar Nabi Musa, yaitu untuk menenggelamkan mereka. Karena itu, ketika Nabi Musa dan pengikutnya sampai di darat sedangkan Fir’aun dan tentaranya masih di daratan dari laut yang terbelah, Allah SWT lalu mengembalikan laut yang terbelah itu kepada keadaan semula, sehingga Fir’aun dan seluruh tentaranya menjadi tenggelam di laut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. (Thaahaa 78)

 

Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. (Asy Syu’araa’ 66)

 

Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya. (Al Israa’ 103)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan Fir’aun ketika mengetahui daratan yang dilaluinya itu kembali menjadi laut?”

 

Mudariszi: “Fir’aun dan seluruh tentaranya terkejut tanpa dapat berbuat apapun ketika laut tiba-tiba kembali ke keadaan semula hingga menenggelamkan mereka. Allah SWT menjelaskan ketika Fir’aun hampir tenggelam, melalui firman-Nya ini:

 

Hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).(Yunus 90)

 

Pengakuan Fir’aun itu tidak berguna lagi, karena sebelumnya dia telah menyaksikan mu’jizat-mu’jizat-Nya yang semuanya diingkarinya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Yunus 91)

 

Malaikat Jibril menjelaskan kepada Rasulullah SAW ketika Fir’aun hampir tenggelam di laut, sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, se­sungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ketika Allah menenggelamkan Fir­aun, Firaun berkata: Saya percaya bahwasanya tiada Tuhan kecuali Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil” (surat Yunus ayat 90), Jibril berkata: Hai Muhammad, kalau kamu melihatku ketika itu saya mengambil lumpur laut, saya jejalkan lumpur itu di mulutnya, karena saya khawatir ia mendapatkan belas kasihan.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan Allah SWT tenggelamkan Fir’aun dan kaumnya di laut itu berarti Dia musnahkan Fir’aun dan kaumnya yang kafir?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena kekafiran Fir’aun dan kaumnya kepada Allah SWT, yaitu mengingkari mu’jizat-mu’jizat-Nya (ayat-ayat-Nya) dan mengingkari Rasul-Rasul-Nya (Nabi Musa dan Nabi Harun), itulah Dia lalu memusnahkan mereka dengan menenggelamkannya ke dalam tanah dan laut. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian Kami utus Musa sesudah Rasul-Rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. (Al A’raaf 103)

 

Dan sesungguhnya telah datang kepada kaum Fir’aun ancaman-ancaman. Mereka mendustakan mu’jizat-mu’jizat Kami kesemuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. (Al Qamar 41-42)

 

Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. (Al A’raaf 136)

 

Allah SWT lalu menjadikan badan Fir’aun yang tenggelam itu tetap selamat (tidak rusak). Tujuannya yaitu sebagai bukti adanya manusia atau penguasa yang mengingkari ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya hingga diazab-Nya, dan bukti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang lahir kemudian agar tidak berbuat seperti Fir’aun, para pembesarnya dan kaumnya yang kafir. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Yunus 92)

 

Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian. (Az Zukhruf 55-56)

 

Allah SWT menghendaki pula dengan Dia menyelamatkan badan Fir’aun itu, yaitu agar orang-orang yang lahir kemudian mengetahui bahwa azab-Nya bagi Fir’aun dan kaumnya yang mengingkari ayat-ayat-Nya (mu’jizat-mu’jizat-Nya) tersebut bukan saja terjadi di dunia, tapi juga akan terjadi di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). (An Naazi’aat 25-26)

 

Tilmidzi: “Bagaimana azab-Nya di akhirat bagi Fir’aun dan kaumnya itu?”

 

Mudariszi: “Azab-Nya bagi Fir’aun dan kaumnya di dunia dengan ditenggelamkan-Nya ke dalam tanah dan laut itu merupakan azab-Nya yang keras dan pedih. Fir’aun dan kaumnya merasakan sakit yang amat pedih ketika akan tenggelam dan ketika nyawanya dicabut oleh malaikat maut. Keras dan pedihnya azab-Nya itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat. (Al Muzzammil 16)

 

Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. (Al Fajr 13)

 

Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (Al Qashash 40)

 

Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela. (Adz Dzaariyaat 40)

 

Ketika dalam kubur (sejak matinya), Fir’aun dan kaumnya tetap mendapatkan azab-Nya, yaitu mereka melihat tempatnya di neraka. Penglihatan mereka itu akan membuat hati mereka tersiksa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras. (Al Mu’min 46)

 

Di hari kiamat, Fir’aun dan kaumnya itu akan menjadi sebagai berikut:

 

Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. (Huud 98)

 

Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong (Al Qashash 41)

 

Allah SWT lalu menjelaskan pandangan semua makhluk di langit dan di bumi terhadap Fir’aun dan kaumnya, sebagai berikut:

 

Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh. (Ad Dukhaan 29)

 

Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. (Huud 99)

 

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah). (Al Qashash 42)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan orang-orang beriman yang selamat?”

 

Mudariszi: “Fir’aun dan kaumnya yang tenggelam di laut itu meninggalkan negeri Mesir sebagai berikut:

 

Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. (Asy Syu’araa’ 57-58)

 

Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. (Ad Dukhaan 25-27)

 

Semua yang ditinggalkan oleh Fir’aun dan kaumnya itu lalu diwariskan oleh Allah SWT kepada Bani Israil, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. (Asy Syu’araa’ 59)

 

Demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. (Ad Dukhaan 28)

 

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al A’raaf 137)

 

Dan Allah SWT lalu menjelaskan kepada Bani Israil sebagai berikut:

 

Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu). (Al Israa’ 104)

 

Allah SWT menetapkan Bani Israil sebagai pewaris harta negeri Mesir dan menetap di Mesir karena mereka telah lama ditindas oleh Fir’aun. Penindasan Fir’aun terhadap Bani Israil itu menghendaki Allah SWT membantu mereka, yaitu dengan Dia mengutus Rasul-Rasul-Nya kepada mereka. Pertolongan-Nya terhadap Bani Israil itu merupakan nikmat yang besar dan nyata dari Allah SWT bagi Bani Israil. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah Kami selamatkan Bani Israil dari siksaan yang menghinakan dari (azab) Fir’aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas. (Ad Dukhaan 30-31)

 

Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. (Ash Shaaffaat 114-116)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply