Bagaimana Kisah Nabi Musa Dan Kaum Fir’aun Yang Beriman?

Dialog Seri 10: 22

 

Tilmidzi: “Apakah Fir’aun mengatakan dirinya itu tuhan karena syaitan?”

 

Mudariszi: “Orang yang membantah adanya Allah SWT (Tuhan) atau membantah ke-Esa-an Allah SWT adalah orang yang tidak mengetahui tentang Tuhan. Ucapan (pendapat) dia tentang Tuhan itu bukan berdasarkan ilmu dan kitab dari Allah SWT. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya. (Al Hajj 8)

 

Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (ke-Esaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman 20)

 

Ucapannya atau pendapatnya tentang Tuhan hanya berdasarkan anggapannya atau dari kitab yang ditulis oleh penulis yang juga berdasarkan anggapannya. Anggapan mereka itu tidak akan benar, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)

 

Karena ucapannya (pendapatnya) tentang Tuhan berdasarkan anggapannya (yang tidak akan benar), maka anggapannya itu berarti dari syaitan, karena syaitan selalu menipu (memperdayakan) manusia tentang Tuhan. Allah SWT berfirman:

 

Dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)

 

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Dengan demikian, Fir’aun yang mengatakan dirinya tuhan, berarti dia termasuk salah seorang yang tidak mengetahui tentang Tuhan dan dia ditipu oleh syaitan karena mengikuti syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka. (Al Hajj 3-4)

 

Dan karena Fir’aun mengikuti syaitan hingga mengatakan dia adalah tuhan, maka dia akan di neraka nantinya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. (Al Anbiyaa’ 29)

 

Tilmidzi: “Bagaimana syaitan dapat membuat Fir’aun hingga mengatakan dia adalah tuhan?”

 

Mudariszi: “Syaitan (Iblis) telah berjanji kepada Allah SWT akan menyesatkan manusia hingga kiamat, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Karena itu Allah SWT kemudian memperingatkan manusia tentang syaitan melalui firman-Nya ini:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Syaitan menyesatkan manusia dengan jalan sebagai berikut:

 

Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)

 

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)

 

Syaitan menipu (menggoda) Fir’aun dari sejak kecilnya, karena dia dari keluarga Raja Mesir. Tujuan syaitan yaitu membuat Fir’aun tersesat agar pada waktu dia menjadi Raja negeri Mesir, syaitan dapat menggunakan Fir’aun sebagai pembantunya dalam menyesatkan rakyatnya (kaumnya). Allah SWT menjelaskan tentang pembantu syaitan itu sebagai berikut:

 

Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)

 

Syaitan menipu Fir’aun dengan menggunakan harta dan kekuasaan orang tuanya agar dia menyukai kehidupan dunia. Syaitan selalu membisikkan Fir’aun dengan janji-janji manis agar hawa nafsunya atas keinginannya dalam kehidupan dunia senantiasa timbul. Fir’aun tidak mengetahui jika hawa nafsunya itu dari syaitan. Selalu menuruti hawa nafsu terhadap keinginannya, berarti telah menjadikan hawa nafsunya itu sebagai tuhannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya? (Al Jaatsiyah 23)

 

Ketika Fir’aun menjadi Raja negeri Mesir, syaitan menipu Fir’aun dengan menakut-nakuti akan kehilangan kekuasaannya dan tidak akan diikuti perintahnya jika dia tidak menetapkan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah dan diikuti oleh rakyatnya. Selanjutnya syaitan menipu Fir’aun agar dia menetapkan hukuman berat bagi rakyatnya yang menolak perintahnya. Karena itu Fir’aun lalu menetapkan peraturannya dengan mengatakan dialah tuhan dan memerintah negerinya dengan sewenang-wenang agar rakyatnya takut dan patuh kepadanya. Akibatnya, kebanyakan rakyat (kaum) Fir’aun menjadi sesat, sehingga karena itulah Allah SWT lalu mengutus Nabi Musa kepada Fir’aun dan kaumnya.”

 

Tilmidzi: “Apakah karena alasan di atas itu Fir’aun akan membunuh para ahli sihir yang menjadi beriman?”

 

Mudariszi: “Ya! Fir’aun mengancam para ahli sihir akan dibunuhnya karena telah menjadi beriman. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya. (Thaahaa 71)

 

Ancaman Fir’aun dalam firman-Nya di atas itu bertujuan untuk menakut-nakuti para ahli sihir agar mereka meninggalkan Nabi Musa dan juga menakut-nakuti rakyatnya agar tidak mengikuti Nabi Musa. Tapi para ahli sihir yang telah beriman itu tidak takut dengan ancaman Fir’aun tersebut, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu’jizat) yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya). (Thaahaa 72-73)

 

Jawaban para ahli sihir dalam firman-Nya di atas itu mengkhawatirkan Fir’aun, karena didengar oleh rakyatnya yang dapat membuat mereka menjadi beriman pula. Karena itu, Fir’aun lalu mempengaruhi rakyatnya sebagai berikut:

 

Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?” (Az Zukhruf 51-53)

 

Sehingga rakyatnya tersebut kemudian mematuhi Fir’aun, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (Az Zukhruf 54)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mu’jizat yang nyata kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Fir’aun, padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar. (Huud 96-97)

 

Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Fir’aun dan pembesarnya terhadap Nabi Musa dan orang-orang beriman setelah berimannya para ahli sihir?”

 

Mudariszi: “Berimannya para ahli sihir sangat mempengaruhi Fir’aun dan para pembesarnya. Fir’aun yang selalu menuruti hawa nafsunya lalu ditakut-takuti oleh syaitan akan kehilangan kekuasaannya hingga dia beranggapan buruk terhadap Nabi Musa. Fir’aun tidak beranggapan buruk hanya terhadap orang-orang yang patuh kepadanya, yaitu para pembesarnya. Para pembesar itu pula patuh kepada Fir’aun karena memperoleh apa yang diinginkannya. Syaitan berhasil membuat mereka menjadi sombong karena kekuasaan dan harta mereka. Karena itu mereka mengkhawatirkan seruan Nabi Musa dapat mempengaruhi kekuasaan mereka. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami dan bukti yang nyata kepada Fir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong. Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (Al Mu’minuun 45-47)

 

Padahal Nabi Musa telah menjelaskan kepada mereka bahwa beliau diutus oleh Allah SWT kepada mereka untuk mengajak mereka beriman kepada-Nya; dan jika mereka tidak mau, maka beliau meminta agar melepaskan Bani Israil pergi bersama beliau. Nabi Musa tidak diutus oleh Allah SWT untuk mengambil alih kekuasaan Fir’aun di negeri Mesir. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia, (dengan berkata): “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu, dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang membawa bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari keinginanmu merajamku, dan jika kamu tidak beriman kepadaku, maka biarkanlah aku (memimpin Bani Israil). (Ad Dukhaan 17-21)

 

Tapi karena khawatir yang berlebihan, para pembesar itu menjelaskan kepada Fir’aun sebagai berikut:

 

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” (Al A’raaf 127)

 

Mendengar penjelasan pembesarnya yang sesuai dengan anggapannya, Fir’aun lalu menerangkan kepada para pembesarnya, sebagai berikut:

 

Fir’aun menjawab: “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka. (Al A’raaf 127)

 

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi. (Al Mu’min 26)

 

Tilmidzi: “Apakah para pembesar itu tidak berbeda dengan Fir’aun yaitu telah dikuasai oleh syaitan?”

 

Mudariszi: “Ya! Para pembesar negeri Mesir itu tidak berbeda dengan Fir’aun, yaitu sama-sama dikuasai oleh syaitan dan berbuat dengan menuruti hawa nafsunya karena syaitan. Anggapan dan perbuatan mereka juga tidak berbeda dengan anggapan dan perbuatan Fir’aun, yaitu sama-sama beranggapan dan berbuat buruk (jahat) akibat dari bisikan syaitan. Jika syaitan dari golongan jin menggunakan manusia, contohnya Fir’aun, dalam menyesatkan manusia, maka Fir’aun (yang telah menjadi syaitan dari golongan manusia) menggunakan manusia pula, contohnya para pembesarnya, dalam menyesatkan manusia (rakyatnya). Sehingga orang-orang yang sesat karena syaitan itu sebenarnya adalah para pembantu syaitan dari golongan jin dalam menyesatkan manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Musa setelah mengetahui rencana Fir’aun dan para pembesarnya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT yang mengetahui rencana Fir’aun yang akan membunuh anak orang-orang beriman, menjelaskan sebagai berikut:

 

Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.” Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). (Al Mu’min 25)

 

Sehingga Nabi Musa lalu membalas rencana Fir’aun itu sebagai berikut:

 

Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab. (Al Mu’min 27)

 

(Musa berkata): “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!” (Al Mu’min 29)

 

Seruan Nabi Musa dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa beliau menyerahkan semua perkara itu kepada Allah SWT dan beliau meyakini Dia akan membantunya dan melindungi orang-orang beriman dari rencana Fir’aun yang zalim itu.”

 

Tilmidzi: “Apakah tidak ada orang yang beriman di antara kaum Fir’aun?”

 

Mudariszi: “Di negeri Mesir ada orang-orang beriman. Mereka beriman karena mengikuti orang tuanya yang mengikuti Nabi Ya’qub ketika beliau menetap di Mesir, atau mengikuti Nabi Yusuf yang menjadi Bendahara negeri Mesir karena diangkat oleh Raja, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala Raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf 54-56)

 

Nabi Yusuf mengajarkan agama-Nya di lingkungan istana (kerajaan) selain di lingkungan rakyat Mesir. Raja Mesir ketika itu tidak mempermasalahkan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Yusuf kepada rakyat Mesir. Sekalipun tidak mengikuti agama-Nya, Raja itu memerintah negeri Mesir berbeda dengan Fir’aun, Raja itu memerintah dengan adil dan tidak sewenang-wenang. Isteri Fir’aun merupakan salah satu contoh orang beriman dari kerabat Raja. Dengan demikian, di masa Fir’aun itu ada orang-orang beriman. Contoh, salah seorang dari kaum Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya karena takut dengan Fir’aun. Tapi karena dorongan hatinya (imannya) untuk membantu Nabi Musa dan orang-orang beriman, dia lalu tidak lagi menyembunyikan keimanannya dan dia berkata kepada Fir’aun, sebagai berikut:

 

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Al Mu’min 28)

 

Orang beriman itu memperingatkan Fir’aun dan kaumnya tentang Nabi Yusuf yang telah menyampaikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya) kepada Raja, pembesar dan rakyat Mesir, tapi lalu diabaikan oleh rakyat Mesir yang lahir setelah itu hingga yang lahir di masa Fir’aun. Karena itu mereka menjadi tidak ditunjuki oleh Allah SWT. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang; tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah; dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (Rasulpun) sesudahnya.” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu, (yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Al Mu’min 32-35)

 

Orang beriman itu memperingatkan pula Fir’aun dan kaumnya tentang kaum-kaum terdahulu yang kafir kepada Allah SWT hingga mereka lalu di azab-Nya sampai musnah; tujuannya agar mereka bertaubat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan orang yang beriman itu berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu, (yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” (Al Mu’min 30-31)

 

Tilmidzi: “Apakah orang beriman itu dari kerabat Raja Mesir?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tanggapan Fir’aun atas penjelasan orang beriman itu, sebagai berikut:

 

Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar. (Al Mu’min 29)

 

Tanggapan Fir’aun (dalam firman-Nya di atas) menunjukkan bahwa Fir’aun tidak marah kepada orang beriman itu. Sehingga hal itu menunjukkan bahwa bukan tidak mungkin orang beriman itu merupakan salah seorang dari kerabat Fir’aun atau kerabat Raja-Raja Mesir (seperti isteri Fir’aun). Karena mustahil ada rakyat biasa yang beriman yang berani menasehati Fir’aun dan mustahil pula Fir’aun akan mendengarkan nasehat dari rakyat biasa, terlebih lagi nasehat tentang Allah SWT dan agama-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah benar apa yang dikatakan oleh Fir’aun kepada orang beriman dalam firman-Nya di atas?”

 

Mudariszi: “Ucapan Fir’aun (dalam firman-Nya di atas) itu hanya pendapatnya yang berdasarkan anggapannya. Ucapan Fir’aun, yaitu: menunjuki orang beriman itu kepada jalan yang benar, hanyalah untuk mempengaruhi orang beriman tersebut agar mengikutinya dan tidak menyalahkan perbuatan-perbuatannya yang buruk dan salah. Dengan demikian, ucapan Fir’aun itu tidak benar karena pendapatnya itu hanya berdasarkan anggapannya yang tidak didukung oleh bukti-bukti yang benar. Allah SWT berfirman:

 

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yunus 36)

 

Kebenaran itu hanyalah dari Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah 147)

 

Dan selain kebenaran itu adalah kesesatan (kesalahan) seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (Yunus 32)

 

Kesesatan itu dari syaitan karena syaitan ingin menyesatkan manusia. Sehingga ucapan Fir’aun (dalam firman-Nya di atas) yaitu: apa yang dikemukakannya tidak lain apa yang dipandangnya baik, adalah bisikan (hasutan) syaitan. Syaitan menjadikan Fir’aun memandang baik anggapan dan perbuatannya yang buruk. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (Al Mu’min 37)

 

Dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu prasangkaan itu. (Al Fath 12)

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah). (Al ‘Ankabuut 38)

 

Karena itu Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Muhammad 14)

 

Sehingga Fir’aun yang mengikuti syaitan, telah menyesatkan rakyatnya dengan ucapannya, pendapatnya dan peraturannya. Dengan demikian, Fir’aun dan rakyatnya yang mengikuti Fir’aun menjadi orang-orang yang bersalah atau berdosa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk. (Thaahaa 79)

 

Sesungguhnya Fir’aun dan Hamman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Al Qashash 8)

 

Tilmidzi: “Apakah orang beriman dari kaum Fir’aun itu termasuk bersalah?”

 

Mudariszi: “Orang beriman yang memperingatkan Fir’aun dan kaumnya serta menyeru mereka agar mengikutinya dan beriman kepada Allah SWT itu justru orang yang Dia berikan petunjuk kepada jalan yang lurus (benar). Allah SWT berfirman:

 

Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Al Mu’min 38-44)

 

Allah SWT memelihara dan melindungi orang beriman itu dari kezaliman Fir’aun, dan hal itu terbukti dengan Fir’aun tidak mengambil tindakan apapun terhadapnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. (Al Mu’min 45)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply