Apakah Kitab Taurat Yang Diterima Oleh Nabi Musa Itu Untuk Manusia?

Dialog Seri 10: 26

 

Tilmidzi: “Mengapa Nabi Musa diberikan Taurat oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Itu merupakan hak Allah untuk memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah SWT berfirman:

 

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (Ibrahim 11)

 

Allah SWT kemudian menjelaskan hal tersebut melalui firman-Nya ini:

 

Allah berfirman: “Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.” (Al A’raaf 144)

 

Allah SWT berbicara langsung dengan Nabi Musa (dalam firman-Nya di atas) itu bukan hanya terjadi ketika Dia memberikan Taurat, tapi juga terjadi ketika Dia mengutus beliau kepada Fir’aun dan kaumnya ketika di bukit Thuwa. Allah SWT berfirman:

 

Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). (Thaahaa 11-13)

 

Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa: “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (An Naazi’aat 16-19)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan Allah SWT melebihkan Nabi Musa (dalam firman-Nya di atas), berarti Dia melebihkan Bani Israil pula?”

 

Mudariszi: “Dengan Allah SWT melebihkan Nabi Musa yang dari Bani Israil, maka Bani Israil menjadi dilebihkan-Nya pula dari kaum-kaum (bangsa-bangsa) lain di masa itu. Bani Israil dilebihkan-Nya itu terlihat dari ditindasnya Bani Israil oleh Fir’aun dengan sangat kejam hingga Dia lalu menolongnya dengan mengutus Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa. (Ad Dukhaan 32)

 

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al A’raaf 137)

 

Tilmidzi: “Apakah Taurat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Musa itu untuk manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat agar mereka ingat. (Al Qashash 43)

 

Allah SWT membinasakan generasi-generasi terdahulu dalam firman-Nya di atas yaitu kaum-kaum sebelumnya yang Dia binasakan (musnahkan) karena kafir kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dengan kaum yang terakhir yaitu Fir’aun dan kaumnya. Allah SWT menurunkan Taurat kepada Nabi Musa untuk manusia karena Dia menghendaki Nabi Musa menyampaikan Taurat tersebut kepada kaum-kaum yang tidak mengikuti agama-Nya atau tidak menyembah-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. (Al A’raaf 145)

 

Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. (Al An’aam 154)

 

Menyempurnakan nikmat Kami kepada orang yang berbuat kebaikan dalam firman-Nya di atas itu tidak terbatas kepada satu orang atau satu kelompok atau satu bangsa atau satu kaum saja, tapi untuk setiap orang atau manusia yang berbuat kebaikan.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Taurat bukan untuk Bani Israil saja?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak pernah menjelaskan Taurat tersebut untuk Bani Israil, tetapi Dia menjelaskan Taurat itu sebagai berikut:

 

Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.” (Al Israa’ 2)

 

Dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. (As Sajdah 23)

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk. (Al Mu’minuun 49)

 

Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil dalam firman-Nya di atas karena Bani Israil hanyalah salah satu kaum di antara kaum-kaum (manusia). Itu menunjukkan bahwa Taurat tersebut bukan untuk Bani Israil. Meskipun demikian, Taurat diturunkan-Nya dalam bahasa Bani Israil karena Nabi Musa dari Bani Israil. Nabi Musa akan kesulitan menjelaskan Taurat jika dalam selain bahasa Bani Israil. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim 4)

 

Dan agar Taurat sampai kepada manusia, Nabi Musa menyampaikan dan menjelaskan Taurat tersebut kepada kaumnya (Bani Israil) lebih dahulu. Agar mudah menjelaskan Taurat kepada Bani Israil, Nabi Musa dan Nabi Harun lalu dijelaskan dan diajarkan oleh Allah SWT tentang Taurat termasuk ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus dengan Taurat itu. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya Kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus. (Ash Shaaffaat 114-118)

 

Dengan Taurat dijelaskan kepada Bani Israil oleh Nabi Musa, maka di antara mereka ada yang diberikan-Nya petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus, sehingga mereka menjalani hidupnya dengan perbuatan yang di jalan-Nya, yaitu perbuatan yang bukan lagi perbuatan yang berdosa (kehidupan yang gelap) tapi dengan perbuatan yang benar (kehidupan yang terang). Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar dan banyak bersyukur. (Ibrahim 5)

 

Bani Israil yang diberikan-Nya petunjuk itulah yang kemudian menyampaikan dan menjelaskan Taurat kepada manusia, atau mereka memimpin dan menunjuki manusia ke jalan yang benar dengan Taurat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Al A’raaf 159)

 

Dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (As Sajdah 23-24)

 

Dan karena Bani Israil merupakan kaum pertama yang diajarkan oleh Nabi Musa tentang Taurat, maka mereka adalah kaum yang paling mengetahui tentang Taurat di antara manusia (kaum-kaum lain). Karena itu Allah SWT mewariskan Taurat kepada Bani Israil, seperti firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)

 

Tilmidzi: “Jika Taurat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada kehidupan yang terang, apakah Taurat menjelaskan tentang agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan dalam Taurat tentang agama-Nya dan syariat (peraturan) agama-Nya termasuk hukum-hukum agama-Nya bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al Baqarah 83)

 

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. (Al Baqarah 84)

 

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum di antara mereka. (Ali ‘Imran 23)

 

Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah. (Al Maa-idah 43)

 

Taurat juga menjelaskan perkara yang berkaitan dengan perbuatan yang benar dan yang salah bagi manusia agar manusia mengetahuinya sehingga mereka menjalani hidupnya di dunia dengan selamat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. (Al Baqarah 53)

 

Keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah dalam firman-Nya di atas itu menunjukkan bahwa Taurat merupakan kitab pelajaran bagi manusia agar mereka mengetahui jalan yang benar (lurus) dan mengetahui perbuatan-perbuatan yang benar dalam menjalani hidup di dunia, dan agar mereka bertakwa hingga mereka terhindar dari azab-Nya di hari kiamat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al Anbiyaa’ 48-49)

 

Karena itu Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan umatnya agar memegang teguh Taurat, yaitu taat mengikuti perintah dan larangan yang Dia tetapkan dalam Taurat (agama-Nya) dengan sebaik-baiknya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

“Sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. (Al A’raaf 144)

 

Maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintah-Nya) dengan sebaik-baiknya.” (Al A’raaf 145)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Taurat serupa dengan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. (Al Ahqaaf 12)

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima (Al Qur’an). (As Sajdah 23)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan kedua kitab tersebut dari Allah SWT yang diturunkan kepada Rasul-Nya yang berbeda. Kebanyakan isi (penjelasan) dari kedua kitab-Nya itu tidak berbeda. Jika Taurat untuk manusia dan sebagai petunjuk bagi manusia, maka demikian pula dengan Al Qur’an, seperti firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (Az Zumar 41)

 

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Al Baqarah 2)

 

Jika Taurat diturunkan dalam bahasa Bani Israil (kaum Nabi Musa) dan diajarkan pertama kali kepada Bani Israil, maka demikian pula dengan Al Qur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab Quraisy (kaum Rasulullah SAW) dan diajarkan pertama kali kepada kaum Arab Quraisy, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Anas, dia berkata: Sesungguhnya Utsman mengundang Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdur Rah­man bin Harits bin Hisyam, maka mereka menyalinnya (Al-Qur’an) ke dalam mushhaf-mushhaf. Dan berkatalah Utsman kepada sekelompok orang-orang Quraisy bertiga (empat orang tersebut selain Zaid bin Tsa­bit, yang bukan Quraisy) itu: Apabila kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit dalam suatu (bacaan) dalam Al-Quran, maka tulislah itu dengan bahasa Quraisy. Sesungguhnya Al-Qur’an itu turun dengan bahasa me­reka.” Maka mereka melaksanakan demikian. (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Dia menye­butkan beberapa hadits di antaranya Rasulullah SAW bersabda: Manusia itu ikut kepada kaum Quraisy dalam masalah kebajikan dan keburukan. Kemusliman mereka ikut pada kemusliman kaum Quraisy, demikian pula kekufuran mereka juga ikut pada kekufuran kaum Quraisy. (HR Muslim)

 

Jika Allah SWT menunjuki manusia kepada jalan yang lurus dengan Taurat sehingga mereka keluar dari kehidupan yang gelap kepada kehidupan yang terang, maka demikian pula dengan Dia menunjuki manusia dengan Al Qur’an, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Ibrahim 1)

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy Syuura 52)

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)

 

Jika Taurat menjelaskan agama-Nya dan syariat dan hukum-hukum agama-Nya, demikian pula dengan Al Qur’an, seperti firman-Nya ini:

 

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. (Ar Ra’d 37)

 

Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Yunus 37)

 

Jika Taurat menjelaskan perkara yang berkaitan dengan perbuatan yang benar dan yang salah, maka demikian pula dengan Al Qur’an, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (Al Baqarah 185)

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah yang membedakan Taurat dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Yang membedakan Taurat dan Al Qur’an, yaitu kedua kitab-Nya itu diturunkan-Nya kepada Rasul yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula. Perbedaan waktu itu menjadikan setiap Rasul mempunyai umatnya sendiri. Dan karena Allah SWT telah menetapkan syariat dan hukum-hukum agama-Nya bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

(Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. (An Nisaa’ 24)

 

Maka perbedaan waktu yang menjadikan setiap Rasul memiliki umatnya sendiri itu, menghendaki Allah SWT lalu menetapkan syariat agama-Nya (termasuk hukum-hukum agama-Nya) bagi umat Rasul yang berbeda dengan syariat agama-Nya bagi umat Rasul lainnya. Dan syariat agama-Nya bagi umat setiap Rasul itu dijelaskan dalam kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul tersebut. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan. (Al Hajj 67)

 

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al Maa-idah 48)

 

Dengan demikian, perbedaan Taurat dan Al Qur’an itu hanya pada syariat agama-Nya bagi umat setiap Rasul.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply