Bagaimana Kisah Nabi Musa Belajar Kepada Khidhr?

Dialog Seri 10: 28

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa menjadi hamba-Nya yang paling pandai sejak diberikan Taurat oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Ibnu Abbas berkata: Ubay bin Ka’ab meriwayatkan kepadaku dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Sesungguhnya Musa berdiri sedang berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu dia ditanya: Siapakah manusia yang paling pintar? Musa menjawab: Saya.” Maka Allah mengecam kepada Musa karena dia tidak mengembalikan kepintaran kepada-Nya (Allah Maha Mengetahui), dan Dia berfirman kepadanya: Aku mempunyai seorang hamba (Khidhir) di tempat pertemuan dua laut (laut Parsi dan laut Rum), dia lebih pintar (dalam bidang khusus) daripada kamu.” Musa berkata: Wahai Tuhanku, dan siapakah yang menanggungku untuk bertemu dengan dia? Dia berfirman: Kamu ambil ikan dan kamu letakkan ikan itu di dalam kantong. Di tempat mana kamu kehilangan ikan itu, maka disanalah dia.” Musa mengambil ikan dan meletakkannya di dalam kantong, kemudian dia berangkat bersama muridnya Yusya bin Nun.” (HR Bukhari)

 

Penjelasan Allah dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa ada hamba-Nya yang lain yang lebih pandai (lebih berilmu) daripada Nabi Musa. Nabi Musa ingin belajar kepada hamba-Nya itu, sehingga beliau menuju ke tempat pertemuan dua laut bersama muridnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. (Al Kahfi 60)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa menjumpai pertemuan dua laut itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan ketika Nabi Musa dan muridnya sampai ke tempat pertemuan dua laut, sebagai berikut:

 

Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. (Al Kahfi 61)

 

Ibnu Abbas berkata: Ubay bin Ka’ab meriwayatkan kepadaku dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Hingga sesampai di sebuah batu, keduanya meletakkan kepala dari Musa tidur. Ikan itu bergerak-gerak (hidup lagi oleh air hidup) dan ke­luar (dari kantong) serta jatuh di laut, maka ia mengambil jalannya di laut. Allah menahan gerakan air pada ikan itu, maka jadilah ikan itu se­perti membuat bangunan (yakni di atas air seperti di atas daratan). Lalu keduanya berangkat dengan berjalan kaki selebih malam dan harinya. (HR Bukhari)

 

Firman-Nya dan sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Nabi Musa dan muridnya telah sampai ke tempat pertemuan dua buah laut, tapi ikannya tiba-tiba melompat keluar dari kantongnya pergi ke laut. Nabi Musa dan muridnya lalai terhadap ikannya (dalam firman-Nya di atas) itu, karena muridnya yang melihat ikan tersebut melompat keluar menuju ke laut lupa menceritakannya kepada Nabi Musa. Rasulullah SAW menjelaskan kejadian tersebut sebagai berikut:

 

Dari Ubaiy bin Kaab, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:Ketika keduanya tiba di sebuah batu yang sangat besar, Musa sempat kebingungan. Dia lalu pergi dan meninggalkan muridnya. Ikan tersebut melompat ke dalam air, dan air itu lalu terbelah seperti sebuah jembatan. Muridnya berkata: “Tidakkah sebaiknya aku menemui utusan Allah (Musa) dan memberi­tahukan kepadanya? Namun dia lupa. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Nabi Musa tidak bertemu dengan Khidhr?”

 

Mudariszi: “Pada waktu itu Nabi Musa tidak bertemu Khidhr. Allah SWT lalu menjelaskan ketika Nabi Musa merasa lapar, melalui firman-Nya ini:

 

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. (Al Kahfi 62)

 

Pertanyaan Nabi Musa itu membuat murid beliau teringat ikannya yang melompat keluar pergi ke laut, sehingga dia lalu menceritakan kejadian ikan tersebut kepada beliau. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.(Al Kahfi 63)

 

Ibnu Abbas berkata: Ubay bin Ka’ab meriwayatkan kepadaku dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Hingga di besok harinya, Musa berkata kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita. Sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Dan tidaklah Musa merasakan kepayahan hingga dia melewati (tempat) yang diperintahkan oleh Allah. Murid Musa berkata kepadanya: Tahukah engkau tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Ikan itu punya jalan (untuk ke air) dan keduanya terheranheran (air itu membatu). (HR Bukhari)

 

Murid Nabi Musa dibuat lupa oleh syaitan (seperti dalam sunnah Rasulullah di atas), karena syaitan mampu melakukan itu dengan tujuan untuk menghalang-halangi kedua hamba-Nya itu bertemu dengan hamba-Nya yang berilmu (Khidhr). Tapi Allah SWT lalu menolong Nabi Musa, yaitu dengan membuat beliau lapar dan meminta makanan kepada muridnya. Hal itu membuat muridnya teringat ikannya yang melompat keluar pergi ke laut, karena disitulah tempat yang dicari oleh Nabi Musa untuk dapat bertemu dengan Khidhr.”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa dapat bertemu dengan Khidhr di tempat pertemuan dua buah laut tersebut?”

 

Mudariszi: “Mendengar penjelasan muridnya itu (seperti dalam firman-Nya dan sunnah Rasulullah di atas), Nabi Musa lalu mengatakan kepada muridnya tersebut sebagai berikut:

 

Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. (Al Kahfi 64)

 

Nabi Musa dan muridnya lalu kembali ke tempat tersebut (tempat pertemuan dua laut), dan dapat bertemu dengan Khidhr, hamba-Nya yang dirahmati-Nya dan yang diajarkan-Nya ilmu dari sisi-Nya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Al Kahfi 65)

 

Dari Ubaiy bin Kaab, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:Musa berkata: Kalau begitu itulah tempat yang kita cari. Mereka lalu kem­bali mengikuti jejak mereka semula. Sesampai di tempat tadi, Musa berkata: Disinilah tempat yang ciri-cirinya sudah diberitahukan kepada­ku. Musa berusaha mencari sesuatu. Tiba-tiba dia bertemu Khidhir dalam keadaan berselimut dengan sebuah pakaian sebatas tengkuk. (HR Muslim)

 

Ibnu Abbas berkata: Ubay bin Ka’ab meriwayatkan kepadaku dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Musa berkata kepadanya (Yusya): Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak me­reka semula sehingga keduanya sampai di batu lagi. Ternyata seorang laki-laki tertutup (berselimut) kain. (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW menjelaskan hamba-Nya yang berilmu dari sisi-Nya itu dipanggil Khidhr, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ia diberi nama Khidhir karena ia duduk di atas hamparan kulit putih, tibatiba kulit itu bergerak-gerak dari belakangnya (berubah) hijau (khidhir = hijau).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah yang diminta oleh Nabi Musa kepada Khidhr setelah bertemu dengan Khidhr?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkan aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al Kahfi 66)

 

Dari Ubaiy bin Kaab, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:Musa berkata: Assalamualaikum. Khidhir membuka selimutnya dan menjawab: Waalaikumussalam, siapakah kamu? Musa menjawab: Aku adalah Musa. Khidhir bertanya lagi: Musa siapa? Musa menjawab lagi: Musa Bani Israil.Khidhir berkata: Ada sesuatu yang penting terjadi padamu? Musa berkata: Aku datang agar kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu. (HR Muslim)

 

Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan jawaban Khidhr atas permintaan Nabi Musa tersebut, sebagai berikut:

 

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun. (Al Kahfi 67-69)

 

Ibnu Abbas berkata: Ubay bin Ka’ab meriwayatkan kepadaku dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:Khidhir berkata: Hai Musa, sungguh aku berilmu dari ilmu Allah yang diajarkan oleh Allah kepadaku yang kamu tidak mengetahui. Dan kamu berilmu dari ilmu Allah yang diajarkan oleh Allah kepadamu yang aku tidak mengetahui. Musa berkata: Bolehkah aku mengikuti kamu?” Khidhir berkata: Sungguh kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat bersabar terhadap sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu. Musa berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang bersabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusanpun.” (HR Bukhari)

 

Khidhr lalu memenuhi permintaan Nabi Musa tersebut dengan menetapkan syarat sebagai berikut:

 

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu. (Al Kahfi 70)

 

Nabi Musa menyetujui syarat yang ditetapkan oleh Khidhr tersebut.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Khidhr mengajarkan Nabi Musa?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhr melubanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (Al Kahfi 71)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Musa telah melanggar janjinya, yaitu beliau telah bertanya kepada Khidhr sebelum Khidhr menjelaskannya. Pertanyaan Nabi Musa itu menunjukkan beliau tidak sabar, sehingga Khidhr lalu menegur beliau sebagai berikut:

 

Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku. (Al Kahfi 72)

 

Rasulullah SAW menjelaskan kejadian tersebut di atas sebagai berikut:

 

Ibnu Abbas berkata: “Ubay bin Ka’ab meriwayatkan kepadaku dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Keduanya (juga bersama Yusya) berjalan di pantai laut, lalu sebuah kapal lewat. Mereka berbicara kepada para awak kapal supaya membawa mereka. Para awak kapal mengenali Khidhr, maka mereka membawa Khidhr (Musa dan Yusya) tanpa bayar. Ketika keduanya naik, di dalam kapal itu datang seekor burung pipit dan bertengger di pinggir kapal, lalu mencelupkan paruhnya (minum) pada laut satu atau dua kali. Khidhr berkata: “Hai Musa, ilmuku dan ilmumu tidak mengurangi ilmu Allah kecuali seumpama burung pipit itu, tidak mengurangi air laut dengan paruhnya.” Tiba-tiba Khidhr mengambil kapak dan mendongkel papan. Musa tidak terkejut kecuali papan telah dicabut oleh Khidhr dengan kapak. Maka Musa berkata kepada Khidhr: “Apakah yang kamu perbuat? Orang-orang itu telah membawa kita tanpa bayar, kamu bertindak pada kapal mereka, lalu kamu membedahnya untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh kamu telah berbuat suatu kesalahan yang besar.” Khidhr berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sungguh kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (HR Bukhari)

 

Nabi Musa mengakui kesalahannya dan lalu meminta kepada Khidhr sebagai berikut:

 

Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. (Al Kahfi 73)

 

Kesalahan Nabi Musa dalam peristiwa di atas itu karena beliau lupa dengan janjinya, sedangkan beliau lupa dengan janjinya karena tidak sabar.”

 

Tilmidzi: “Apakah Khidhr memenuhi permintaan Nabi Musa tersebut?”

 

Mudariszi: “Khidhr memenuhi permintaan Nabi Musa dan mereka kemudian melanjutkan perjalanannya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang munkar. (Al Kahfi 74)

 

Tapi Nabi Musa kembali melanggar janjinya (dalam firman-Nya di atas), beliau bertanya kepada Khidhr sebelum Khidhr menjelaskannya. Karena itu Khidhr mengatakan kepada Nabi Musa sebagai berikut:

 

Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (Al Kahfi 75)

 

Rasulullah SAW menjelaskan kejadian tersebut di atas dan alasan Nabi Musa bertanya kepada Khidhr sebelum Khidhr menjelaskan perbuatannya tersebut, sebagai berikut:

 

Dari Ubaiy bin Kaab, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Mereka berjumpa dengan beberapa anak remaja yang sedang bermain. Khidhir bergegas mendekati salah seorang di antara mereka dan dengan spontan dia membunuhnya. Musa terkejut menyaksikan peristiwa yang sangat mungkar itu. Musa bertanya: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih yang tidak ber­dosa? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar. Dalam konteks ini Rasulullah SAW bersabda: Semoga rahmat Allah senantiasa melimpahi kita dan Musa. Kalau saja Musa tidak tergesa­gesa (bersabar), niscaya dia akan melihat sesuatu yang sangat luar biasa. Tetapi dia telah terbawa oleh rasa kasihannya kepada korban.” (HR Muslim)

 

Nabi Musa tidak bersalah dengan pertanyaannya itu karena beliau menyaksikan sendiri perbuatan keji Khidhr tersebut. Tapi kemarahan Nabi Musa itu menjadikan beliau tidak sabar sehingga membuatnya lupa dengan janjinya. Nabi Musa mengakui kesalahannya dan beliau meminta kepada Khidhr agar dibenarkan untuk mengikutinya sekali lagi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku. (Al Kahfi 76)

 

Tilmidzi: “Apakah Khidhr memenuhi permintaan Nabi Musa tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Khidhr memenuhi permintaan Nabi Musa dan mereka lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke suatu negeri yang penduduknya sangat kikir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu. (Al Kahfi 77)

 

Mendengar ucapan Nabi Musa, Khidhr lalu mengatakan sebagai berikut:

 

Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (Al Kahfi 78)

 

Rasulullah SAW menjelaskan kejadian tersebut di atas yang membuat Nabi Musa tidak sabar sehingga membuatnya kembali melanggar janjinya sendiri, sebagai berikut:

 

Dari Ubaiy bin Kaab, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:Mereka meneruskan perjalanan; mereka sampai kepada penduduk suatu negeri yang kikir. Mereka mencoba mendatangi beberapa tempat duduk untuk meminta jamuan kepada penduduk negeri itu. Tetapi pen­duduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian mereka men­dapati sebuah dinding rumah yang hampir roboh. Khidhir lantas mene­gakkan dinding itu. Musa berkata: Jika kamu mau, niscaya kamu bisa mengambil upah untuk itu. Khidir berkata: Inilah saatnya perpisahan kita. Khidhir mengambil pakaiannya dan berkata: Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang mem­bikin kamu tidak sabar.” (HR Muslim)

 

Setelah itu Khidhr menjelaskan alasan dari ketiga perbuatannya tersebut kepada Nabi Musa, sebagai berikut:

 

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang Raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada Ibu Bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. (Al Kahfi 79-82)

 

Khidhr kemudian menjelaskan kepada Nabi Musa tentang ketiga perbuatannya itu, sebagai berikut:

 

Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (Al Kahfi 82)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Khidhr berbuat semua itu karena kehendak Allah. Ilmu Khidhr yang diajarkan oleh Allah SWT itu memungkinkan Khidhr melakukan perbuatan yang keji dan mungkar. Mustahil perbuatan Khidhr itu akibat dari kemauannya sendiri atau dari hawa nafsunya atau dari syaitan, karena perbuatannya yang keji dan mungkar itu ternyata untuk kebaikan bagi orang-orang yang berhak di kemudian harinya. Ilmu Khidhr yang diajarkan-Nya itu hanyalah sebagian kecil dari ilmu-Nya berikut ini:

 

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah 216)

 

Khidhr mengakui ilmunya yang diajarkan oleh Allah SWT tersebut hanyalah sedikit, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Ibnu Abbas berkata: “Ubay bin Ka’ab meriwayatkan kepadaku dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika keduanya naik, di dalam kapal itu datang seekor burung pipit dan bertengger di pinggir kapal, lalu mencelupkan paruhnya (minum) pada laut satu atau dua kali. Khidhr berkata: “Hai Musa, ilmuku dan ilmumu tidak mengurangi ilmu Allah kecuali seumpama burung pipit itu, tidak mengurangi air laut dengan paruhnya.” (HR Bukhari)

 

Sedikitnya ilmu Khidhr dibandingkan dengan ilmu Allah, yaitu Khidhr tidak mengetahui waktu datangnya kebaikan akibat dari perbuatannya itu, termasuk perbuatannya yang keji dan mungkar. Ilmu Khidhr hanya dapat membuat beliau menjadi sabar dan tetap bertakwa kepada-Nya ketika terbebani perasaan gelisah karena menunggu waktu datangnya kebaikan akibat dari perbuatannya yang keji dan mungkar. Karena itu Khidhr mengatakan (sebelumnya di atas) kepada Nabi Musa ketika beliau ingin belajar kepadanya, sebagai berikut:

 

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun. (Al Kahfi 67-69)

 

Ilmu Khidhr itulah yang ingin dipelajari oleh Nabi Musa guna menghadapi umat manusia, termasuk menghadapi kaumnya sendiri (Bani Israil), ketika beliau menyampaikan Taurat.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply