Bagaimana Kisah Keluarga ‘Imran Dari Bani Israil?

Dialog Seri 10: 37

 

Tilmidzi: “Bagaimana Bani Israil setelah Nabi Sulaiman wafat?”

 

Mudariszi: “Setelah Nabi Sulaiman wafat, kerajaan beliau menjadi lemah karena dipimpin oleh penguasa dari Bani Israil yang memerintah sewenang-wenang dan tidak adil akibat dari tidak taat kepada Allah SWT atau tidak mengikuti syariat agama-Nya. Timbul kebencian dari rakyatnya termasuk rakyat di negeri-negeri yang berada di bawah kekuasaan Nabi Sulaiman. Negeri-negeri itu berusaha melepaskan diri. Akhirnya, salah satu pemimpin dari negeri-negeri itu berhasil menghancurkan kerajaan Nabi Sulaiman. Akibatnya, sebagian besar Bani Israil menyelamatkan diri dengan meninggalkan Palestina ke negeri lain. Kejadian itu sudah menjadi ketetapan-Nya dan Dia telah menjelaskannya dalam Taurat, dan itu seharusnya menjadi peringatan bagi Bani Israil. Tetapi Bani Israil mengabaikannya, sehingga kehancuran itu terjadi. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (Al Israa’ 4-5)

 

Hanya sedikit dari keluarga Bani Israil yang tetap tinggal di Palestina setelah kerajaan Nabi Sulaiman musnah, salah satunya yaitu keluarga ‘Imran.”

 

Tilmidzi: “Apakah keluarga ‘Imran itu keluarga dari Bani Israil yang taat kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Keluarga ‘Imran adalah keluarga yang shaleh, mereka menjalani hidupnya dengan taat mengikuti syariat agama-Nya. Pada suatu waktu, isteri ‘Imran hamil dan bernazar kepada-Nya sebagai berikut:

 

(Ingatlah) ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ali ‘Imran 35)

 

Nazar isteri ‘Imran agar anak dalam kandungannya dapat berkhidmat di Baitul Maqdis (dalam firman-Nya di atas) menunjukkan bahwa keluarga ‘Imran itu dari Bani Israil yang taat kepada Allah SWT karena Baitul Maqdis merupakan tempat ibadah Bani Israil pewaris Taurat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)

 

Allah SWT kemudian menjelaskan ketika isteri ‘Imran melahirkan anaknya, yaitu sebagai berikut:

 

Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk. (Ali ‘Imran 36)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa isteri Imran sebenarnya menginginkan anak laki-laki untuk berkhidmat di Baitul Maqdis, karena amal perbuatan lelaki yang shaleh berbeda dengan wanita yang shaleh. Meskipun demikian, isteri ‘Imran ridha dengan pemberian-Nya itu dan dia meminta perlindungan-Nya atas Maryam (anaknya) dan keturunan Maryam dari syaitan yang terkutuk.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT kabulkan permintaan isteri Imran tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. (Ali ‘Imran 37)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT mengabulkan permintaan isteri ‘Imran; bahkan Dia menerima nazar isteri ‘Imran sekalipun anak yang dilahirkannya itu perempuan. Hanya saja karena isteri ‘Imran tidak mengetahui takdir (ketetapan) Allah, maka dia merasa nazarnya tidak dikabulkan-Nya. Allah SWT lalu melindungi Maryam dengan menjadikan Nabi Zakariya sebagai pemeliharanya. Nabi Zakariya dalam memelihara Maryam termasuk mengajarkannya ilmu agama Allah.”

 

Tilmidzi: “Apakah ada hubungan keluarga antara Nabi Zakariya dengan Maryam?”

 

Mudariszi: “Ya! Yaitu Isya’ isteri Nabi Zakariya merupakan saudara Maryam, dan itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Malik bin Shashaah, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW memberitakan kepada para sahabat: Yahya dan Isa, yang keduanya adalah putra bibi (dari Ibu, yakni Ibunda Isa, Maryam adalah saudara Ibunda Yahya, Isya). (HR Bukhari)

 

Karena hubungan kekeluargaan, Allah SWT lalu menjadikan Nabi Zakariya sebagai pemelihara Maryam melalui undian. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. (Ali ‘Imran 44)

 

Tilmidzi: “Apakah ada kelebihan dari keluarga ‘Imran dari Bani Israil itu?”

 

Mudariszi: “Kelebihan keluarga ‘Imran yaitu mereka dikaruniakan-Nya dua puteri yang keduanya melahirkan Rasul-Rasul-Nya, yaitu Nabi Yahya yang dilahirkan oleh Isya’ (isteri Nabi Zakariya) dan Nabi ‘Isa yang dilahirkan oleh Maryam. Kelebihan dari kedua puteri ‘Imran tersebut, yaitu Nabi Yahya dilahirkan oleh Isya’ yang mandul di waktu usianya telah lanjut. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Disanalah Zakariya mendo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” Berkata Zakariya: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isterikupun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Ali ‘Imran 38-40)

 

Dan Nabi ‘Isa dilahirkan oleh Maryam yang tidak bersuami. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.” Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (Ali ‘Imran 45-47)

 

Nabi ‘Isa dilahirkan oleh Maryam dengan perlindungan-Nya, dimana itu sesuai dengan permintaan isteri ‘Imran kepada-Nya, yaitu agar Dia melindungi Maryam dan anak-anak keturunannya dari syaitan yang terkutuk, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Rasulullah SAW menjelaskan ketika Nabi ‘Isa dilahirkan ke dunia, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Aku mendengar Rasulul­lah SAW bersabda: Tidak ada seorang bayipun dari bani Adam (manu­sia) kecuali dijamah setan ketiga ia lahir, maka ia menangis keras-keras oleh jamahan setan, selain (bayi) Maryam dan putranya (Isa).” (HR Bukhari)

 

Karunia-Nya kepada keluarga ‘Imran itu menunjukkan bahwa Allah SWT telah banyak memberikan karunia-Nya termasuk memberikan mu’jizat-Nya kepada Nabi-Nabi dari Bani Israil yang diawali dari Nabi Yusuf hingga ke Nabi ‘Isa yang lahir tanpa Bapak.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memang melebihkan keluarga ‘Imran?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebahagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ali ‘Imran 33-34)

 

Allah SWT memilih Nabi Adam (dalam firman-Nya di atas) karena Nabi Adam merupakan Bapak dari semua manusia yang lahir di bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (An Nisaa’ 1)

 

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al Israa’ 70)

 

Allah SWT memilih Nabi Nuh karena Nabi Nuh merupakan Bapak (nenek moyang) dari semua manusia yang lahir di bumi setelah semua orang kafir di bumi dimusnahkan-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 75-77)

 

Dari Qatadah dari Al-Hasan dari Samurah dari Rasulullah SAW dalam menafsiri firman Allah: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (surat Ash Shaaffaat ayat 77). Beliau bersabda: Mereka adalah Ham, Sam dan Yafits.” (HR Tirmidzi)

 

Allah SWT memilih keluarga Ibrahim, karena Nabi Ibrahim mempunyai dua putera yang menjadi Rasul, dan dari kedua puteranya itu lahir anak cucu keturunannya yang sebagiannya menjadi Nabi-Nabi atau Rasul-Rasul. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim. (Al Baqarah 124)

 

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)

 

Allah SWT memilih keluarga ‘Imran karena keluarga tersebut melahirkan perempuan mandul (Isya’) yang lalu melahirkan Rasul di usianya yang lanjut, yaitu Nabi Yahya. Hamilnya isteri Nabi Zakariya di usianya yang lanjut itu tidak berbeda dengan isteri Nabi Ibrahim yang mandul tapi lalu hamil dan melahirkan Nabi Ishaq di usianya yang lanjut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaman”, Ibrahim menjawab: “Salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: “Silahkan kamu makan.” (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). Kemudian isterinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu menfirmankan.” Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Adz Dzaariyaat 24-30)

 

Keluarga ‘Imran juga melahirkan perempuan (Maryam) yang tanpa suami tapi melahirkan Rasul yaitu Nabi ‘Isa. Dan penciptaan (kelahiran) Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak itu seperti penciptaan Nabi Adam yang tanpa Bapak dan Ibu. Allah SWT berfirman:

 

Dan telah Kami jadikan (‘Isa) putera Maryam beserta Ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Al Mu’minuun 50)

 

Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah ia. (Ali ‘Imran 59)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply