Dialog Seri 10: 47
Tilmidzi: “Apakah tugas Rasulullah SAW setelah menerima Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kami tidak mengutus seorang Rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim 4)
Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An Nuur 54)
Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)
Amanat-Nya yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW dalam firman-Nya di atas adalah Al Qur’an yang untuk manusia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Sedangkan agama Allah dalam firman-Nya di atas, yaitu agama-Nya dengan syariat (peraturan) agama-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menghendaki manusia agar mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)
Akhirat dan dunia kepunyaan-Nya (dalam firman-Nya di atas) menunjukkan bahwa semua yang ada di akhirat dan di dunia itu merupakan ciptaan-Nya dan semua makhluk yang ada di dunia (atau yang di langit dan di bumi) merupakan ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya. Karena kepunyaan-Nya, maka semua makhluk yang ada di dunia itu ditetapkan-Nya untuk mengikuti agama yang Dia tetapkan ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya di bumi juga ditetapkan-Nya untuk mengikuti agama Allah ketika manusia menjalani hidupnya di dunia. Selain memiliki syariat (peraturan) dan hukum-hukum agama-Nya, agama-Nya untuk manusia itu juga memiliki hak dan kewajiban manusia atas Allah SWT serta hak dan kewajiban Allah SWT atas manusia. Hak dan kewajiban dalam agama-Nya itu menjadikan adanya keuntungan dan kerugian bagi manusia di dunia dan di akhirat. Keuntungan atau kerugian manusia di akhirat itu akan diketahui oleh manusia pada hari kiamat setelah perbuatannya di dunia dihisab-Nya. Sedangkan Allah SWT tidak mendapat apapun setelah manusia dihisab-Nya, karena kehidupan dunia dan akhirat hanya bagi Allah saja yang berarti Dia tidak dihisab. Allah SWT berfirman:
Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (An Najm 25)
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Faathir 15)
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al Anbiyaa’ 23)
Tilmidzi: “Apakah perkara hak dan kewajiban di atas itu dijelaskan dalam Al Qur’an dan oleh Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Ya! Semua perkara hak dan kewajiban itu dijelaskan dalam Al Qur’an. Sehingga, Rasulullah SAW yang menjelaskan amanat-Nya (Al Qur’an) dan agama-Nya kepada manusia itu menjadi sebagai berikut:
Dan Kami turunkan (Al Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Israa’ 105)
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan. (Al Baqarah 119)
Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’ 28)
Rasulullah SAW dengan Al Qur’an itu menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan kepada orang-orang yang sebagai berikut:
Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi khabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (Maryam 97)
Dan sebelum Al Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Qur’an) adalah Kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al Ahqaaf 12)
Tilmidzi: “Kabar gembira apakah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada manusia dengan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 25)
Surga-surga (dalam firman-Nya di atas) itu ada di kehidupan akhirat yang akan didatangi oleh manusia setelah kematiannya di dunia. Surga-surga itu hanya dimasuki oleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT (taat mengikuti agama-Nya) dan berbuat baik ketika menjalani hidup di dunia. Karena itu Allah SWT menyeru kepada manusia sebagai berikut:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menyeru manusia ke negeri akhirat?”
Mudariszi: “Karena manusia itu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (Al Qiyaamah 20-21)
Tilmidzi: “Bagaimanakah kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dua kehidupan itu sebagai berikut:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan manusia menyukai kehidupan dunia?”
Mudariszi: “Karena ada Iblis (syaitan) yang ingin menyesatkan manusia ketika manusia menjalani hidupnya di dunia. Syaitan menggunakan kehidupan dunia dalam menyesatkan manusia, yaitu syaitan mengada-adakan jalan-jalan yang menyimpang (jalan-jalan yang bengkok) dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, agar manusia menyukai kehidupan dunia itu dan menjadi lalai dengannya hingga melupakan dan mengingkari Allah SWT (ayat-ayat-Nya) dan tidak mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya. Karena itu Allah SWT menjelaskan kepada manusia sebagai berikut:
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (An Nahl 9)
Penjelasan jalan-Nya yang lurus dalam firman-Nya di atas merupakan berita gembira bagi manusia dan bagian dari janji-Nya kepada manusia, yaitu janji Dia akan melindungi manusia dari kejahatan syaitan. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka; dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga. (Al Israa’ 65)
Tapi janji Allah di atas itu hanya bagi orang-orang yang mengikuti-Nya saja, karena tidak mungkin Dia melindungi orang-orang yang tidak mau dilindungi-Nya karena mereka tidak mau mengikuti-Nya. Orang-orang yang tidak mau mengikuti-Nya itulah orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya karena mereka mengikuti syaitan.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT menyeru manusia ke negeri akhirat itu adalah ke surga dengan menempuh jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)
Allah SWT menunjuki orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (dalam firman-Nya di atas), yaitu orang yang ingin ke surga, karena tidak mungkin Dia menunjuki orang yang tidak ingin ke surga. Orang yang tidak ingin ke surga itulah orang kafir, yaitu orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya (Al Qur’an) karena dia memilih mengikuti syaitan. Karena tidak ingin ke surga dan memilih mengikuti syaitan, maka dia akan mengingkari (mendustakan) ayat-ayat-Nya hingga membuatnya ke neraka dengan azab-Nya yang pedih dalam kehidupan di akhirat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (An Nahl 104)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 39)
Tilmidzi: “Apakah orang yang ingin ditunjuki oleh Allah SWT kepada jalan yang lurus itu harus memeluk agama Allah (yaitu agama Islam)?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Huud 56)
Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa hanya orang-orang beriman yang ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus. Untuk beriman, orang-orang itu harus memeluk (mengikuti) agama Allah, yaitu agama Islam, agama yang diridhai-Nya, seperti yang dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ‘Imran 19)
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)
Dan jika Allah SWT menghendaki untuk menunjuki orang itu kepada jalan yang lurus agar dapat ke surga sesuai dengan keinginannya, maka Dia akan mengajarkan agama-Nya kepada orang itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (Al An’aam 125)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengajarkan agama-Nya dan menunjuki ke jalan-Nya yang lurus kepada orang yang ingin ke surga itu?”
Mudariszi: “Allah SWT mengajarkan agama-Nya dan menujuki ke jalan-Nya yang lurus kepada orang itu dengan Al Qur’an. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)
Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus. (Al Israa’ 9)
Dengan demikian, orang yang ingin ditunjuki-Nya kepada jalan yag lurus hingga dapat sampai ke surga, maka dia dapat mempelajari Al Qur’an dan lalu mengikuti syariat agama-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an ketika dia menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al Insaan 29)
Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (At Takwiir 27-28)
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 126-127)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW diajarkan agama-Nya dan ditunjuki kepada jalan-Nya yang lurus oleh Allah SWT dengan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW sebelum menerima Al Qur’an tidak mengetahui agama-Nya, jalan-Nya dan iman kepada-Nya. Tapi setelah menerima Al Qur’an dan diangkat-Nya sebagai Rasul-Nya, Rasulullah SAW menjadi memahami dan mengetahui semua perkara tersebut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy Syuura 52)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memahami agama-Nya dan berada jalan-Nya yang lurus setelah beliau diajarkan oleh Allah SWT dengan Al Qur’an. Dan Allah SWT lalu menjelaskan kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:
Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 43-44)
Rasulullah SAW berada di jalan-Nya yang lurus karena beliau tetap memegang teguh agama-Nya (Islam), yaitu beliau taat menjalankan (mengikuti) syariat dan hukum-hukum agama-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an ketika menjalani hidupnya.”
Tilmidzi: “Selain membaca (mempelajari) Al Qur’an, apakah yang harus dilakukan oleh orang yang ingin diajarkan agama-Nya dan ditunjuki ke jalan-Nya yang lurus oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang orang yang diajari agama-Nya sebagai berikut:
Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)
Agar orang yang mau diajarkan agama-Nya dan ditunjuki kepada jalan-Nya yang lurus itu menjadi orang yang dikehendaki-Nya untuk Dia ajarkan dan tunjuki, maka orang itu diperintahkan-Nya untuk mengikuti Al Qur’an dan Rasulullah SAW ketika menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Al Qur’an itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Al An’aam 155)
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)
Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (An Nuur 54)
Tilmidzi: “Bagaimana agar menjadi taat mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalani hidup di dunia?”
Mudariszi: “Agar taat mengikuti syariat agama-Nya atau bertakwa kepada-Nya ketika menjalani hidupnya, orang itu diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah. (At Taghaabun 16)
Diceritakan oleh Abu Salamah bin Abdurrahman dan Sa’id bin Al Musyyab, keduanya berkata: “Abu Hurairah pernah bercerita, bahwa sesungguhnya dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apa saja yang aku larang dari kalian, maka tinggalkanlah. Dan apa saja yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah sebatas kemampuan kalian.” (HR Muslim)
Orang yang bertakwa kepada Allah SWT atau taat mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalani hidupnya adalah orang yang memegang teguh agama-Nya. Hal itu akan membuatnya selalu berada dalam petunjuk-Nya di jalan yang lurus hingga ajalnya dan lalu sampai ke surga. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Tilmidzi: “Apakah umat Islam yang menjalani hidupnya dengan mengikuti Al Qur’an tapi tidak mau mengikuti Rasulullah SAW itu sampai ke surga?”
Mudariszi: “Umat Islam yang mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) tapi tidak mau mengikuti Rasulullah SAW ketika menjalani hidupnya, maka dia berarti telah mendurhakai beliau. Dengan mendurhakai Rasulullah SAW, umat itu berarti telah mendurhakai Allah SWT, karena Dia menetapkan hukum agama-Nya sebagai berikut:
Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An Nisaa’ 80)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Rasulullah SAW pula menjelaskan tentang umat beliau yang menjalani hidupnya di dunia dengan tidak mau mengikuti beliau, sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku tentu dia akan masuk surga. Barangsiapa yang durhaka kepadaku, itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)
Dengan umat itu tidak mau ke surga karena durhaka kepada Rasulullah SAW atau tidak mau mengikuti beliau, maka dia berarti akan ke neraka, karena di kehidupan akhirat hanya ada dua tempat yaitu surga dan neraka.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus kepada manusia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan agama-Nya kepada manusia, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar Ra’d 30)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” (Az Zumar 11-12)
Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman, dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (Yunus 104-107)
Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan jalan-Nya yang lurus kepada manusia, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. (Al Mu’minuun 73)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.” (Fushshilat 6-8)
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang Ibu Bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan; Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi; dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al An’aam 151-153)
Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui orang yang ditunjuki oleh Allah SWT kepada jalan-Nya yang lurus atau yang dapat sampai ke surga?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan orang tersebut sebagai berikut:
Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Ali ‘Imran 101)
Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (Qaaf 32-34)
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (syaitan, yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Az Zumar 17-18)
Demikian itulah berita gembira dari Al Qur’an atau dari Allah SWT yang disampaikan (dijelaskan) oleh Rasulullah SAW kepada manusia.”
Wallahu a’lam.