Peringatan Apakah Yang Rasulullah SAW Jelaskan?

Dialog Seri 10: 48

 

Tilmidzi: “Bukankah Rasul-Rasul yang diutus oleh Allah SWT itu sebagai pemberi peringatan bagi manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-Rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Al Kahfi 56)

 

Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (Rasul-Rasul) di kalangan mereka. (Ash Shaaffaat 72)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW juga sebagai pemberi peringatan?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW merupakan salah satu dari Rasul-Rasul yang memberikan peringatan. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. (An Najm 56)

 

Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. (Al A’raaf 184)

 

Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada manusia dengan Al Qur’an, itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam; dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa’ 192-195)

 

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

 

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kepada manusia bahwa Rasulullah SAW itu adalah pemberi peringatan bagi mereka?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW agar menjelaskan hal itu kepada manusia, sebagai berikut:

 

Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan apabila mereka diberi peringatan. (Al Anbiyaa’ 45)

 

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu. (Al Hajj 49)

 

Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan. (Al Hijr 89)

 

Karena itu Rasulullah SAW memperingatkan manusia dengan Al Qur’an yang dimulai dari kaum beliau atau penduduk Mekkah hingga ke penduduk negeri di sekitar Mekkah dan penduduk negeri di luar Mekkah. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Tidak diwahyukan kepadaku melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata. (Shaad 70)

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Asy Syuura 7)

 

Tilmidzi: “Peringatan apakah yang dijelaskan kepada umat manusia oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Peringatan adanya kehidupan akhirat, selain kehidupan dunia, bagi manusia yang akan didatanginya setelah kematiannya di dunia. Allah SWT memperingatkan manusia bahwa kehidupan akhirat itulah kehidupan yang kekal baginya dan bukan kehidupan dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)

 

Di kehidupan akhirat hanya ada dua tempat bagi manusia, yaitu surga dan neraka, yang masing-masing dihuni oleh orang-orang sebagai berikut:

 

(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, maka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 81-82)

 

Penghuni neraka adalah orang-orang yang berdosa, yaitu orang-orang yang ketika di dunia berbuat (beramal) dengan tidak mengikuti (atau mengingkari) agama-Nya dan syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dan Rasul-Nya. Sebaliknya, penghuni surga adalah orang-orang yang ketika di dunia berbuat (beramal) dengan mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah memperingatkan manusia tentang penghuni surga dan neraka tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah memperingatkannya, sebagai berikut:

 

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (Al A’raaf 35-37)

 

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (ke bahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)

 

Tilmidzi: “Apakah penyebab orang itu berbuat dosa ketika hidup di dunia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya kepada manusia yang harus diikutinya ketika mereka menjalani hidupnya di dunia agar selamat di dunia dan di akhirat. Allah SWT telah pula menjelaskan kepada manusia tentang Iblis (syaitan) yang berjanji akan menyesatkan manusia hingga kiamat agar mamusia tidak mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya supaya mereka berdosa. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Al Hijr 39)

 

Syaitan menyesatkan manusia dari Allah SWT (agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus) itu dengan menggunakan kehidupan dunia yang dipenuhi dengan kenikmatan (kesenangan) yang disukai oleh manusia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah memperingatkan manusia tentang kehidupan dunia yang digunakan oleh syaitan untuk menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Manusia yang menyukai kehidupan dunia telah diperingatkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (Al Qiyaamah 20-21)

 

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)

 

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At Takaatsur 1-8)

 

Manusia yang tidak menyadari mereka menyukai kehidupan dunia itu karena syaitan, juga telah diperingatkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang Bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong Bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Luqman 33)

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Tilmidzi: “Bagaimana syaitan dapat membuat manusia hingga menyukai kehidupan dunia dan mengingkari Allah SWT (ayat-ayat-Nya)?”

 

Mudariszi: “Seperti Allah SWT yang ghaib (tidak terlihat), maka syaitan juga tidak terlihat oleh manusia, tapi syaitan dapat melihat manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan Ibu Bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

 

Sekalipun Tuhan dan syaitan tidak terlihat, tapi Allah SWT menurunkan keterangan-Nya atau ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) kepada manusia melalui Rasul-Nya yang juga dari golongan manusia. Hal itu membuat manusia memiliki keterangan dan bukti yang jelas dari Tuhannya yang ghaib dalam mengetahui perkara yang benar dan yang salah ketika mereka menjalani hidupnya. Sedangkan syaitan yang ghaib tidak menurunkan bukti apapun kecuali hanya bisikan-bisikan ke hati manusia yang berupa janji-janji, dan itu membuat manusia sulit untuk mengetahui kebenaran dari bisikan syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)

 

Dengan bisikan-bisikan yang berupa janji-janji manis itulah syaitan menipu (menyesatkan) manusia hingga sebagiannya mengikuti syaitan dengan mengingkari Allah SWT dan ayat-ayat-Nya (agama-Nya dan jalan-Nya) ketika mereka menjalani hidupnya hingga menjadi berdosa.”

 

Tilmidzi: “Apakah bisikan syaitan berupa janji-janji manis kepada manusia itu termasuk jalan-jalan untuk mencapai janji-janji tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)

 

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)

 

Firman-Nya di atas merupakan cara atau jalan yang diada-adakan (dibisiki) oleh syaitan agar manusia dapat mencapai janji-janji manis syaitan. Semua jalan syaitan itu bengkok karena menyimpang dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Tapi sebagian manusia merasakan (menganggap) bisikan (jalan) syaitan itu benar, karena mereka tidak mengetahui agama-Nya dan karena pandainya syaitan menipu. Misalnya, syaitan membisikkan janji-janji manis yang menyesatkan sambil membisikkan bahwa dia (syaitan) itu tuhan; bisikan-bisikan syaitan itu dipercaya oleh sebagian manusia karena Tuhan dan syaitan itu ghaib. Jika mereka mengetahui agama-Nya, mereka tidak akan mengikuti bisikan (janji-janji) syaitan, karena Dia telah menetapkan penghidupan manusia di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. (Az Zukhruf 32)

 

Janji-janji manis syaitan termasuk jalannya yang bengkok itu lalu diikuti oleh sebagian manusia sehingga mereka menjadi sesat dan berdosa.”

 

Tilmidzi: “Apakah Alah SWT menjelaskan jalan-Nya yang lurus dan jalan-jalan syaitan yang bengkok?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kedua jalan itu sebagai berikut:

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (An Nahl 9)

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)

 

Penjelasan lengkap dari jalan-Nya yang lurus atau jalan kebajikan atau jalan orang-orang yang saleh dan jalan-jalan syaitan yang bengkok atau jalan kejahatan atau jalan orang-orang berdosa itu diuraikan dalam Al Qur’an dengan bukti-buktinya. Dan agar manusia selamat hidup di dunia dan di akhirat, Allah SWT lalu memerintahkan manusia ketika menjalani hidupnya, sebagai berikut:

 

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)

 

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)

 

Mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin dalam firman-Nya di atas yaitu mengambil Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis sebagai pemimpin.”

 

Tilmidzi: “Apakah umat Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW itu ada yang mengikuti jalan-jalan yang bengkok?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir 24)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT telah mengutus Rasul-Rasul-Nya (sebelum Rasulullah SAW) kepada setiap umat untuk memberikan peringatan. Tapi kebanyakan dari umat Rasul-Rasul itu mengikuti jalan-jalan syaitan yang bengkok atau mengingkari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus ketika mereka menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-Rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (At Taubah 70)

 

Allah SWT sekali-kali tidak menganiaya mereka seperti dalam firman-Nya di atas, yaitu Dia tidak mengazab kaum kafir tersebut jika mereka tidak mendustakan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya yang telah diperingatkan kepada mereka. Karena itu, sebenarnya mereka sendiri yang menganiaya dirinya. Allah SWT menjelaskan perilaku umat Rasul-Rasul yang kafir (karena mengikuti syaitan) itu ketika mereka diperingatkan oleh Rasul-Rasul dan ayat-ayat-Nya, sebagai berikut:

 

Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang Rasul-Rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya.” Berkata Rasul-Rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” Rasul-Rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mu’min bertawakkal. Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri.” Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-Rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (Ibrahim 9-14)

 

Allah SWT kemudian menyeru orang-orang yang lahir setelah umat Rasul-Rasul itu untuk memperhatikan bekas azab-Nya atas umat Rasul-Rasul yang kafir tersebut, agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi mereka ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (Yusuf 109)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT tidak memusnahkan umat Rasul-Rasul yang kafir setelah Rasul-Rasul yang dijelaskan firman-Nya di atas?”

 

Mudariszi: “Setelah Allah SWT menurunkan Taurat kepada Nabi Musa untuk manusia, Dia tidak lagi memusnahkan umat Rasul yang kafir. Umat Nabi Musa (Bani Israil) yang kafir hingga umat Nabi ‘Isa yang kafir tidak dimusnahkan oleh Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. (Fushshilat 45)

 

Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. (Asy Syuura 14)

 

Allah SWT memperingatkan Ahli Kitab yang kafir termasuk Ahli Kitab yang lahir kemudian untuk memperbaiki dirinya dalam beragama dan beramal (berbuat) dengan mempelajari dan mengikuti Al Qur’an dan Rasulullah SAW, karena Al Qur’an terhadap Taurat dan Injil itu sebagai berikut:

 

Dia menurunkan Al Kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Qur’an). (Ali ’Imran 3-4)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT peringatkan manusia yang lahir setelah Rasul-Rasul di atas dengan Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an). (Thaahaa 99)

 

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatannya sendiri. (Al An’aam 70)

 

Allah SWT menjelaskan pula tentang Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa agama-Nya yang yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dengan Al Qur’an merupakan agama-Nya yang terakhir untuk manusia hingga kiamat. Hal itu menunjukkan pula bahwa waktu kiamat semakin dekat sehingga waktu beramal shaleh bagi manusia di dunia semakin singkat. Dan Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Sahal bin Sa’ad, katanya: “Saya melihat Rasulullah SAW bersabda dengan dua jarinya demikian dengan jari tengah dan jari yang berdekatan dengan ibu jari: “Saya diutus dan (jarak dengan) kiamat seperti kedua jari-jari ini.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT tidak menghendaki manusia yang lahir setelah Al Qur’an turun, termasuk umat Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW dan kaum musyrik, menjadi orang-orang yang rugi ketika di akhirat. Selain itu, Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan ketika di hari kiamat, sebagai berikut:

 

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Kita adalah orang-orang akhir dan orang-orang pendahulu di hari kiamat, hanya saja semua umat menerima Kitab sebelum kita sedang kita me­nerima (Al-Qur’an) sesudah mereka.” (HR Bukhari)

 

Firman-Nya dan sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa manusia yang lahir setelah Al Qur’an turun akan menjadi orang-orang pertama yang perbuatannya di dunia dihisab-Nya dengan Rasulullah SAW menjadi saksi bagi mereka.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika ada orang yang (lahir setelah Al Qur’an turun) mengingkari Al Qur’an dan Rasulullah SAW atau kafir kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak memaksa manusia untuk beriman kepada-Nya meskipun Dia telah memperingatkan dengan Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan dan memperingatkan manusia melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri ketika di kehidupan akhirat yang kekal. Tidak ada kerugian apapun bagi Allah SWT dengan kafirnya manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang ada di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 170)

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (Al Kahfi 29)

 

Allah SWT hanya memperingatkan manusia, sebagai berikut:

 

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. (Al An’aam 51)

 

Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat. (Thaahaa 100-101)

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). (Al Haaqqah 50)

 

Orang yang berpaling dari Al Qur’an itu karena syaitan tidak mau dia mengetahui agama-Nya dan jalan-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Ketidak tahuannya itu memudahkan syaitan membuatnya mengutamakan selain Al Qur’an dan agama-Nya dalam dia menempuh hidupnya. Itu berarti dia mengikuti syaitan dan jalan-jalannya yang bengkok sehingga dia menjadi kafir, sesat dan berdosa. Di hari kiamat dia mengetahui kesalahannya setelah perbuatannya dihisab oleh Allah SWT, sehingga berpalingnya dia dari Al Qur’an ketika di dunia itu membuatnya menyesal.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika Allah SWT tidak memberikan peringatan kepada umat manusia dengan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dan Rasul-Rasul-Nya?”

 

Mudariszi: “Jika Allah SWT tidak memberikan peringatan (penjelasan) kepada manusia melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, maka semua orang yang hidup di dunia akan menjadi sesat karena syaitan, sehingga mereka akan mendapatkan azab-Nya di neraka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan. (An Nisaa’ 83)

 

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. (An Nuur 21)

 

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). (An Nuur 20)

 

Orang-orang yang diazab-Nya di neraka itu tidak menerimanya, karena mereka ketika di dunia tidak diberikan penjelasan dan peringatan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Qur’an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (Thaahaa 134)

 

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mu’min. (Al Qashash 47)

 

Karena itu, dengan Allah SWT telah mengutus Rasul-Rasul-Nya termasuk Rasulullah SAW dan menurunkan ayat-ayat-Nya termasuk Al Qur’an untuk manusia, maka penghuni neraka tidak dapat lagi menyalahkan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

(Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu. (An Nisaa’ 165)

 

Dan pada hari kiamat itu (di kehidupan akhirat), Allah SWT akan memisahkan manusia, yaitu penghuni neraka dari penghuni surga. Allah SWT berfirman:

 

Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mu’min) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (Yaasiin 59-62)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply