Apakah Rasulullah SAW Menyampaikan Al Qur’an Ke Negeri-Negeri Lain?

Dialog Seri 10: 64

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an kepada penduduk di luar kota Mekkah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya (agama Islam) kepada umat manusia yang penyampaiannya dimulai dari kota Mekkah sebagai tempat tinggal beliau, hingga ke penduduk di kota-kota atau di negeri-negeri di luar kota Mekkah. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekkah ini. (Al Balad 2)

 

Dan ini (Al Qur’an) adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan sebelumnya) dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (Al An’aam 92)

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. (Asy Syuura 7)

 

Karena perintah Allah dalam firman-Nya di atas, maka setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tetap menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada penduduk Madinah dan kaum-kaum di luar lingkungan kota Madinah dan kota Mekkah. Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an kepada penduduk kota-kota atau kaum-kaum itu dengan mengajarkan hikmah Al Qur’an melalui penjelasan dan perbuatan beliau. Bersamaan dengan itu Rasulullah SAW juga mengajarkan mereka agama Islam dalam beribadah (menyembah) kepada Allah SWT dan beribadah melaksanakan perintah dan larangan yang Dia tetapkan dalam Al Qur’an melalui penjelasan dan perbuatan beliau. Tujuannya agar mereka dapat memperbaiki dirinya dengan mengikuti jalan-Nya dalam agama Islam serta membersihkan dirinya dari dosa-dosa yang dibuatnya selama menjalani hidupnya di dunia hingga mereka selamat dalam kehidupan di akhirat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al Jumu’ah 2-3)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menyampaikan (mengajarkan) Al Qur’an dan agama Islam kepada semua penduduk di Jazirah Arab?”

 

Mudariszi: “Pada waktunya Rasulullah SAW menyampaikan dan mengajarkan pula Al Qur’an dan agama Islam kepada seluruh penduduk di Jazirah Arab, yaitu penduduk kota-kota di luar lingkungan kota Mekkah dan kota Madinah. Tapi Rasulullah SWT tidak menyampaikan dan mengajarkan langsung Al Qur’an dan agama Islam kepada penduduk kota (negeri) tersebut, beliau kadangkala mengutus utusannya kepada mereka. Contoh Rasulullah SAW mengutus utusannya ke Najran dan ke Yaman seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Hudzaifah, ia berkata: Seorang pemimpin permusyawa­ratan dan seorang kepala, yakni dua orang pembesar Najran datang kepada Rasulullah SAW untuk mengutuk beliau.” Hudzaifah berkata: Sa­lah seorang dari keduanya berkata kepada temannya: Janganlah kamu lakukan. Demi Allah, jika ia seorang Nabi lalu ia mengutuk kita, niscaya kita tidak beruntung dan juga anak cucu kita sesudah kita. Lalu keduanya berkata: Kami akan memberimu apa saja yang kamu minta kepada kami, kirimkanlah seorang laki-laki yang terpercaya bersama kami dan janganlah kamu kirimkan bersama kami selain orang yang terpercaya.” Lalu beliau bersabda: Sungguh aku akan mengirimkan seorang laki-laki yang benar-benar terpercaya bersamamu.” Kemudian sahabat-sahabat Rasulullah menampakkan diri kepada beliau, lalu beliau bersabda: “Berdirilah wahai Abu Ubaidah bin Jarrah.” Ketika ia berdiri, Rasulullah SAW bersabda: Ini adalah orang terpercaya dari ummat (Islam) ini.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada Muadz bin Jabal di saat beliau mengutusnya ke Yaman: Se­sungguhnya kamu akan datang kepada sebuah kaum Ahli Kitab. Ketika kamu datang kepada mereka, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka tunduk kepadamu akan demikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada mereka setiap sehari dan semalam. Apabila mereka tunduk kepadamu akan demikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah (zakat) yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka lalu dikembalikan kepada orang-orang fakirnya. Apabila mereka tunduk kepadamu pada yang demikian itu, maka berhati-hatilah terhadap harta benda mereka yang berharga. Dan takutlah terhadap doa orang yang dianiaya, karena sesungguhnya tiada tabir (penghalang) antara dia dan Allah.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada penduduk negeri-negeri di luar Jazirah Arab?”

 

Muadariszi: “Ya! Rasulullah SAW menyeru pemimpin negeri-negeri di luar Jazirah Arab untuk menerima Al Qur’an dan memeluk agama Islam. Rasulullah SAW melakukan hal itu dengan mengirim surat kepada pemimpin negeri-negeri tersebut. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ber­kirim surat kepada Raja-Raja Parsi, kepada Raja-Raja Rumawi, kepada Raja-Raja Ethiopia, dan kepada setiap penguasa diktator yang isinya mengajak mereka kepada Allah Yang Maha Tinggi, selain daripada se­orang Raja Ethiopia yang ketika meninggal dunia beliau ikut menyembahyanginya secara ghaib. (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menyeru pemimpin negeri-negeri tersebut karena jika pemimpin-pemimpin itu menerima seruan Rasulullah, maka rakyatnya cenderung akan mengikuti pemimpinnya yaitu menerima Al Qur’an dan memeluk agama Islam.”

 

Tilmidzi: “Apakah semua pemimpin negeri-negeri itu menerima seruan Rasulullah yaitu menerima Al Qur’an dan memeluk agama Islam?”

 

Mudariszi: “Pada waktu itu hanya Raja Ethiopia (Najasi), Ahli Kitab dari golongan Nasrani, saja yang menerima seruan Rasulullah (seperti dijelaskan sunnah Rasulullah di atas), yaitu beliau menyembahyangkannya secara ghaib ketika Raja itu meninggal dunia. Sedangkan Raja Parsi (kerajaan Persia), yang beragama Majusi yaitu agama yang menyembah patung berhala, menolak seruan Rasulullah. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Syihab, katanya: Ubaidillah bin Abdillah telah memberi khabar kepada saya bahwasanya Ibnu Abbas telah memberi khabar kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus Ibnu Abbas agar supaya ia memberikan surat itu kepada kota Bahrain. Kemudian pembesar kota Bahrain menyampaikannya kepada Raja Kisra. Maka setelah Raja Kisra membaca surat, lantas ia merobek-robeknya. Kemudian saya menyangka bahwa Ibnu Musayyab berkata: Rasulullah memanggil kepada mereka (para sahabat) agar mereka merobek-robek (kekuasaan Kisra) dengan menghancur lumatkan.” (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW meng­utus seorang laki-laki untuk membawa surat beliau dan laki-laki itu disuruh memberikannya kepada Pembesar Bahrain, lalu Pembesar Bah­rain menyerahkannya kepada Kisra. Ketika Kisra membacanya, kemudian merobek-robeknya. Ia berkata: “Lalu Rasulullah SAW mendoakan agar mereka benar-benar dirobek-robek. (HR Bukhari)

 

Raja Romawi (kerajaan Romawi), Ahli Kitab dari golongan Nasrani, juga menolak seruan Rasulullah, padahal Raja itu telah mengetahui kebenaran Rasulullah SAW sebagai seorang Nabi. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Abu Sufyan pernah bercerita kepadanya langsung dari mulut ke mulut, katanya: Pada peristiwa perdamaian Hudaibiyah, saat itu aku tengah berada di Syam. Tiba-tiba ada sepucuk surat dari Rasulullah SAW yang ditujukan kepada Hiraklius penguasa Rum. Dihyat Al Kalbi yang membawanya dan sekaligus menyampaikannya langsung kepada penguasa Bashrah. Selanjutnya oleh penguasa Bashrah diteruskan kepada Hiraklius. Hiraklius lalu bertanya: Apakah disini ada salah seorang kaumnya lelaki yang mengaku sebagai Nabi ini? Orang-orang yang ditanya sama menjawab: Ada. Maka tak ayal aku pun dipanggil bersama beberapa orang Quraisy lainnya. Kami menemui Hiraklius. Setelah dipersilahkan duduk di hadapannya, Hiraklius mulai mengajukan pertanyaan: Ada­kah di antara kalian ini yang paling dekat nasab keturunannya dengan seseorang yang mengaku sebagai Nabi ini? Aku jawab: Aku. Aku kemudian disuruh duduk lebih mendekat lagi tepat di hadapan Hira­klius. Sementara sahabat-sahabatku yang lain dipersilahkan duduk di belakangku. Kemudian Hiraklius memanggil juru bicaranya dan ber­kata: Katakan kepada orang yang berada di hadapanku ini, bahwa aku bertanya mengenai seorang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Jika dia berdusta kepadaku, maka beri dia pelajaran. Demi Allah, seandainya aku tidak khawatir kedustaanku akan diceritakan oleh sahabat-sahabat­ku di negeriku nanti, niscaya aku memilih berdusta saja. Lewat juru bicaranya itulah Hiraklius mulai mengajukan pertanyaan: Bagaimana nasab keturunannya di tengah-tengah kalian? Aku jawab: Di kalang­an kami dia punya nasab keturunan yang cukup mulia. Dia bertanya: Apakah nenek moyangnya ada yang pernah jadi Raja? Aku jawab: Tidak ada. Dia bertanya: Apa kalian pernah mencurigainya ber­dusta sebelum dia mengatakan apa yang sudah dikatakannya? Aku jawab: Tidak. Dia bertanya: Siapa-siapa saja para pengikutnya? Apakah mereka terdiri dari orang-orang yang mulia atau orang-orang yang lemah? Aku jawab: Para pengikutnya adalah orang-orang yang lemah. Dia bertanya: Apa para pengikutnya itu semakin bertambah atau bahkan berkurang? Aku jawab: Bahkan semakin bertambah sa­ja. Dia bertanya: Apakah pernah ada salah seorang dari pengikutnya itu keluar atau murtad dari agamanya lantaran dia merasa tidak suka padanya? Aku jawab: Tidak pernah. Dia bertanya: Bagaimana de­ngan peperangan itu? Aku jawab: Peperangan yang terjadi antara kami dengannya berjalan seimbang dalam artian terkadang kemenangan di pihak kami dan terkadang pula kemenangan itu berada di pihaknya. Dia bertanya: Apakah dia pernah berkhianat? Aku jawab: Tidak. Selama hidupku aku tidak pernah melihat dia berbuat seperti itu. Dia bertanya lagi: Apakah ucapan ini pernah diucapkan oleh seseorang sebelumnya? Aku jawab: Tidak pernah. Selanjutnya lewat juru bicaranya, Hiraklius mengatakan: “Ketika aku tanyakan kepadamu mengenai nasab keturunannya, kamu jawab bahwa Muhammad adalah seorang yang punya nasab keturunan yang baik. Komentarku, memang seharusnya begitulah keadaan para Rasul yang diutus di tengah-tengah kaumnya. Ketika aku tanyakan kepadamu mengenai apakah nenek moyang Muhammad ada yang pernah menjadi Raja, kamu jawab tidak ada sama sekali. Komentarku, justru itulah yang membuatku kagum. Sebab dengan demikian kebesarannya sekarang bukan merupakan warisan dari nenek moyangnya. Ketika aku tanyakan kepadamu mengenai para pengikutnya, kamu jawab bahwa para peng­ikutnya terdiri dari orang-orang yang lemah. Komentarku, memang itulah pengikut-pengikut para Rasul. Ketika aku tanyakan kepadamu apakah kamu pernah menuduhnya berdusta atas apa yang di­ucapkan, maka kamu jawab bahwa dia tidak berdusta baik kepada sesa­ma manusia apalagi kepada Allah. Maka komentarku, memang itulah sifat seorang Rasul. Aku tanyakan kepadamu apakah salah seorang dari pengikutnya ada yang pernah murtad dari agamanya karena merasa tidak suka padanya, maka kamu jawab tidak pernah ada. Komentarku, itulah iman yang kalau sudah bercampur dengan hati yang berseri-seri. Ketika aku tanyakan kepadamu apakah para pengikutnya itu berkurang atau malah bertambah, maka kamu jawab malah semakin bertambah terus. Maka komentarku, demikianlah iman sampai ia sempurna. Aku bertanya kepadamu apakah kamu pernah memeranginya, maka kamu jawab pernah dimana peperangan itu terkadang kamu menangkan dan terkadang pula Muhammad yang memenangkan. Komentarku, memang begitulah para Rasul yang harus dicoba terlebih dahulu sebelum mereka menerima akibat yang baik. Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, maka kamu jawab bahwa dia tidak pernah berkhianat. Ko­mentarku, begitulah sifat para Rasul. Aku bertanya kepadamu apakah ucapan ini pernah diucapkan oleh seseorang sebelumnya, kamu jawab ti­dak pernah seorang pun sebelumnya yang mengucapkan itu. Komentarku, kalau begitu Muhammad itu benar-benar orang yang sangat istime­wa. Masih lewat juru bicaranya, Hiraklius bertanya kepadaku lagi: Lalu Muhammad itu memerintah kamu untuk melakukan apa? Aku jawab: Dia memerintahkan kami untuk melakukan sembahyang, mem­bayar zakat, mengadakan silaturrahim, dan untuk mencegah dari segala yang diharamkan. Dia kemudian mengatakan: “Jika apa yang kamu katakan itu benar semua, maka Muhammad itu memang benar-benar seorang Nabi. Aku tahu sesungguhnya dia adalah seorang yang sungguh luar biasa. Dan aku sama sekali tidak mengira kalau seorang Nabi itu akhirnya muncul dari kalian. Secara jujur ingin aku katakan bahwa aku benar-benar ingin ketemu dengannya. Seandainya aku berada di sisinya, maka akan aku basuh kedua telapak kakinya, dan aku letakkan kekuasaannya di atas kedua telapak kakiku. Kemudian setelah itu Hiraklius meminta diambilkan sepucuk surat yang dikirimkan Rasulullah saw lalu membacanya. Isinya ternyata: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Dari Muhammad utusan Allah ditujukan kepada Hiraklius penguasa Rum. Salam sejahtera semoga selalu melanda orang-orang yang mau mengikuti kebenaran. Syahdan, sesungguhnya aku bermaksud mengajakmu kepada Islam. Masuklah Islam nanti kamu akan tenteram. Masuklah Islam niscaya Allah akan menganugerahimu dua pahala sekaligus. Jika kamu berpaling dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa yang teramat besar. Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).” (surat Ali ‘Imran ayat 64). Selesai membaca surat tersebut, terdengar suara gaduh yang cukup keras sekali. Kami lalu sama keluar. Ketika itulah aku berkata kepada sahabat-sahabatku: Inilah bukti bagi Ibnu Abu Kabasyah yang selalu ditakuti kemunculannya oleh Raja orang-orang Rum. Hiraklius menga­takan: Aku yakin, bahwa ajakan Rasulullah SAW satu saat pasti akan muncul ke permukaan, sampai akhirnya Allah berkenan memasukkan aku ke dalam Islam. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Rasulullah SAW telah melaksanakan perintah Allah dalam menyampaikan Al Qur’an kepada umat manusia melalui penduduk Mekkah dan penduduk kota-kota dan negeri-negeri di luar kota Mekkah?”

 

Mudariszi: “Ya! Penjelasan dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW telah melaksanakan perintah Allah dalam menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada umat manusia yang dimulai dari penduduk kota Mekkah hingga kepada penduduk kota-kota dan negeri-negeri di luar kota Mekkah, yaitu melalui seruan beliau kepada pemimpin negeri-negeri di dalam dan di luar Jazirah Arab. Jika ada penduduk kota-kota dan negeri-negeri yang tidak mau menerima seruan Rasulullah, maka itu bukan tanggung jawab beliau, karena kewajiban beliau itu sebagai berikut:

 

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)

 

Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)

 

Selain menyampaikan Al Qur’an kepada manusia, Rasulullah SAW berkewajiban pula untuk menyampaikan dan mengajarkan agama-Nya dan jalan-Nya kepada manusia dengan Al Qur’an tersebut. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)

 

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)

 

Rasulullah SAW pula menjelaskan tentang perkara tersebut di atas sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW tidak dapat mengajarkan agama Islam kepada pemimpin Romawi dan Parsi ketika itu karena kedua pemimpin negeri tersebut menolak seruan Rasulullah. Jika kedua pemimpin itu tidak menolak tapi ingin mengetahui lebih lanjut tentang Al Qur’an dan agama Islam, maka Rasulullah SAW akan mengutus utusannya kepada kedua pemimpin itu seperti beliau mengutus utusannya kepada penduduk kota Yaman dan Najran di Jazirah Arab.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply