Apakah Rasulullah SAW Dan Pasukannya Tidak Pernah Terkena Fitnah?

Dialog Seri 10: 65

 

Tilmidzi: “Apakah kaum perempuan dibenarkan untuk ikut berperang di jalan-Nya membela atau menegakkan agama-Nya (agama Islam)?”

 

Mudariszi: “Ya! Kaum perempuan dibenarkan oleh Rasulullah SAW untuk ikut berperang di jalan-Nya dalam membela atau menegakkan agama Islam seperti kaum laki-laki. Hanya saja Rasulullah SAW memberikan tugas kepada kaum perempuan yang ikut berperang itu sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Pernah Rasu­lullah SAW berperang dengan mengajak Ummu Sulaim. Bahkan beberapa wanita Anshar juga pernah ikut berperang bersama dengan beliau. Tugas wanita-wanita Anshar itu ialah memberi minum dan mengobati pasukan yang terluka.” (HR Muslim)

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Ketika terjadi tragedi peristiwa perang Uhud, Abu Thalhah berkata: “Saat itu saya melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim tengah sibuk dan serius sekali melayani kebutuhan pasukan yang menyangkut tentang konsumsi dan pelayanan pengobatan.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum perempuan mendapat harta rampasan perang?”

 

Mudariszi: “Ya! Tapi sangat sedikit, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Yazid bin Hurmuz, sesungguhnya Najdah ber­kirim surat kepada Ibnu Abbas yang isinya menanyakan tentang lima perkara. Kata Ibnu Abbas: Sekiranya aku tidak takut dianggap sebagai orang yang menyimpan ilmu, niscaya tidak sudi aku membalas surat tersebut. Surat yang dikirim oleh Najdah kepada Ibnu Abbas lebih lanjut berbunyi demikian: Selanjutnya, beritahukan kepadaku apakah Rasulullah SAW pernah berperang membawa kaum wanita? Apakah mereka diberikan ghanimah? (HR Muslim)

 

Sahabat Rasulullah yang pernah bersama Rasulullah SAW dalam berperang itu, kemudian menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikiut:

 

Dari Yazid bin Hurmuz, sesungguhnya Najdah ber­kirim surat kepada Ibnu Abbas dan oleh Ibnu Abbas surat tersebut dibalasnya: Kamu menulis surat menanyakan kepadaku apakah Rasulullah SAW pernah berperang membawa pasukan wanita? Benar, Rasulullah SAW pernah membawa­nya yang ditugaskan untuk memberi pengobatan pasukan yang luka-­luka dan mereka diberi sedikit harta ghanimah. Adapun mengenai ba­gian ghanimah, Rasulullah SAW hanya memberi mereka sangat sedikit sekali.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah ikut sertanya kaum perempuan dalam berperang itu tidak menimbulkan fitnah yang dapat mempengaruhi kekuatan pasukan?”

 

Mudariszi: “Fitnah dalam pasukan perang tidak harus terjadi karena ikut sertanya kaum perempuan. Fitnah dalam pasukan perang itu timbul karena adanya orang-orang munafik yang ikut berperang (ikut dalam pasukan perang). Contoh, orang-orang munafik yang ikut perang Uhud, tapi mereka lalu kembali ke rumahnya karena takut mati. Perbuatan orang-orang munafik itu menimbulkan fitnah sampai membuat pasukan Rasulullah pecah menjadi dua kelompok hingga diperingatkan-Nya, sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mu’min pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. (Ali ’Imran 121-122)

 

Dari Zaid bin Tsabit, ia bekata: Ketika Rasulullah SAW keluar menuju peperangan Uhud, maka kembalilah sebagian dari orang-orang (munafik) yang keluar bersama beliau. Dan sahabat-sahabat beliau ter­pecah menjadi dua kelompok. Yang satu kelompok berpendapat: Kami harus memerangi mereka (orang-orang munafik).” Dan yang satu kelom­pok lagi berpendapat: Kami tidak boleh memerangi mereka.” Maka turunlah ayat: Maka mengapa kamu menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran disebabkan usaha mereka sendiri. (surat An Nisaa’ ayat 88). (HR Bukhari)

 

Meskipun demikian, ikut sertanya kaum perempuan dalam berperang memungkinkan timbulnya fitnah, karena mereka bersama dengan laki-laki yang berpisah dari isteri-isterinya dalam waktu yang cukup lama. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Said al Khudriy, ia berkata: Kami keluar ber­sama Rasulullah SAW pada peperangan Bani Musthaliq. Kami mem­peroleh sebagian dan tawanan Arab. Kami tertarik kepada wanita dan hidup membujang (tanpa isteri) adalah sangat berat bagi kami.” (HR Bukhari)

 

Karena itu orang-orang yang berperang di jalan-Nya adalah orang-orang yang bertakwa, yaitu yang taat mengikuti syariat agama Islam yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sedangkan yang melanggar syariat agama Islam itu selalunya orang-orang munafik, sehingga orang-orang munafik itulah yang menyebabkan timbulnya fitnah.”

 

Tilmidzi: “Apakah pernah terjadi fitnah dalam pasukan Rasulullah karena ikutnya kaum perempuan berperang?”

 

Mudariszi: “Ya! Fitnah itu berupa berita bohong yang terjadi pada salah satu dari isteri Rasulullah SAW yaitu Aisyah. Rasulullah SAW selalu membawa isterinya (setelah diundi) dalam pasukannya ketika beliau menyampaikan Al Qur’an atau agama Islam kepada suatu kaum (suku). Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW hendak bepergian, maka beliau mengundi di antara beberapa isterinya. Siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, maka Rasulullah SAW pergi dengan dia.” Aisyah berkata: Beliau mengundi di antara kami dalam suatu peperangan yang dihadiri, lalu keluarlah undianku. Maka aku pergi bersama Rasulullah SAW setelah turunnya ayat Hijab. Aku diangkut dan ditempatkan di dalam sekedup, lalu kami berangkat. (HR Bukhari)

 

Adapun berita bohong itu dijelaskan oleh Aisyah sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Se­hingga ketika Rasulullah selesai dan kembali dari peperangan itu, dan (ketika) kami sudah mendekati kota Madinah untuk kembali, maka beliau mengumumkan pemberangkatan pada malam hari. Aku berdiri di saat mereka mengumumkan pemberangkatan, lalu aku berjalan sehingga melewati para serdadu. Ketika aku selesai buang air besar, aku datang ke barang bawaanku. Aku menyentuh dadaku, tiba-tiba kalung­ku yang terbuat dari manik-manik Dhifar telah putus. Aku kembali untuk mencari kalungku, lalu pencarian itu menjadikan aku tertahan.” Aisyah berkata: Dan datanglah sekawanan orang yang mengikatkan barang bawaan (pada unta)ku. Mereka mengangkut sekedupku dan mereka meletakkannya di atas untaku yang semula aku tunggangi, dan mereka mengira bahwa aku berada di dalamnya. Orang-orang wanita pada waktu itu berbobot ringan, mereka kurus dan tidak terbalut dengan daging, mereka hanya makan secukupnya. Maka sekawanan orang itu tidak merasakan ringannya sekedup di saat mereka meng­angkat dan mengangkutnya, sedang aku adalah gadis yang masih muda belia. Lalu mereka membangkitkan unta dan berangkat, sementara aku baru menemukan kalungku setelah para serdadu berlalu. Aku datang ke tempat persinggahan mereka, namun disana tiada seseorangpun yang memanggil maupun menjawab. Aku menuju ke tempat persinggahanku semula, dan aku mengira bahwa mereka akan kehilangan aku, maka mereka akan kembali kepadaku. Pada saat aku duduk di tempat persinggahanku, mataku mengantuk lalu tidur. Dan Shafwan bin Muaththal as Sulamiy adz Dzakwaniy berada di belakang para serdadu, ia datang pagi hari di dekat persinggahanku. Ia melihat sosok seseorang yang sedang tidur, lalu ia mengenaliku setelah ia melihatku. Ia melihat kepadaku sebelum (turunnya) ayat Hijab. Maka aku terjaga sebab ucapan istirjanya (inna lilallahi wa innaa ilaihi raji’un), yaitu di saat ia mengenaliku, lalu aku menutup wajah dengan jilbabku. Demi Allah, kami tidak mengucapkan satu kalimatpun. Dan aku tidak mendengar satu kalimatpun dari dia selain ucapan istirjanya. Ia turun, hingga ia menderumkan untanya, lalu ia menginjak kaki depan unta itu. Aku berdiri dan menungganginya, lalu ia menuntunnya, hingga kami sampai kepada para serdadu pada saat teriknya waktu zhuhur, dan mereka sedang berhenti.” Aisyah berkata: Binasalah orang yang binasa. Orang yang merekayasa berita bohong adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.” (HR Bukhari)

 

Abdullah bin Ubay bin Salul adalah orang munafik, dia yang menimbulkan fitnah dengan membuat cerita (berita) bohong. Berita bohong itu lalu disiarkan oleh orang-orang yang terpengaruh oleh Abdullah bin Ubay, sebagai berikut:

 

Dari Urwah dari Aisyah, dia berkata: Saya diberitahu bahwa berita bohong itu disiarkan dan dibicarakan di dekatnya (Ibnu Ubay), lalu ia mengakui, mendengarkan dan membahasnya.” Urwah berkata lagi: Para pembawa berita bohong itu tidak ada yang disebut nama­nya melainkan Hassan bin Tsabit, Misthah bin Utsatsah dan Hamnah binti Jahsyi bersama orang-orang yang lain. Aku tidak mengetahui mere­ka, selain bahwa mereka adalah sekelompok orang sebagaimana firman Allah. Sesungguhnya orang yang merekayasa hal itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan Aisyah ketika dia sampai di Madinah?”

 

Mudariszi: “Ketika tiba di Madinah, Aisyah menderita sakit sehingga dia hanya menetap di rumahnya sampai sebulan lamanya. Hal itu membuat Aisyah tidak mengetahui jika berita bohong tentang dirinya telah menjadi pembicaraan orang-orang di Madinah. Setelah sembuh, Aisyah merasakan adanya perlakuan yang berbeda dari Rasulullah SAW terhadap dirinya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Lalu kami tiba di Madinah dan aku sakit selama satu bulan semenjak aku tiba. Orang-orang hanyut oleh ucapan para pembawa berita bohong itu, sedangkan aku tidak tahu sedikitpun dari semua itu. Dan yang membuatku ragu ialah bahwa aku tidak melihat kelembutan dari Rasulullah SAW seperti yang pernah aku lihat ketika aku sakit. Rasulullah SAW hanya masuk kepadaku, memberi salam, lalu bertanya: “Bagaimana keadaanmu? kemudian beliau berpaling, maka hal itulah yang membuatku ragu. Aku tidak tahu keburukan (yang terjadi), hingga aku keluar pada saat aku mulai sembuh. Aku keluar bersama Ummu Misthah menuju arah luar kota (Madinah), yaitu tempat kami membuang air besar. Kami tidak keluar kecuali dari satu malam ke malam (berikutnya). Demikian itu sebelum kami membuat tempat membuang air besar di dekat rumah-rumah kami. Lalu aku dan Ummu Misthah pergi ke arah rumahku, ketika kami selesai dari buang air. Kemudian Ummu Misthah tersandung baju bulunya seraya berkata: Celakalah Misthah.” Maka aku berkata kepadanya: Buruk sekali apa yang kamu katakan, apakah kamu mencerca seorang lelaki yang pernah ikut serta pada perang Badar? Ia berkata: Oh perempuan yang masih lugu, engkau belum pernah mendengar ucapannya (Misthah).” Aisyah berkata: Aku bertanya: Apakah yang ia ucapkan? Maka Ummu Misthah menceriterakan ucapan para pembawa berita bohong kepadaku.” Aisyah berkata: Lalu sakitku bertambah parah. Ketika aku kembali ke rumahku, Rasulullah SAW masuk kepadaku dan mengucapkan salam, kemudian beliau bertanya: Bagaimanakah keadaanmu? Aku berkata kepada beliau: Apakah engkau mengizinkan aku untuk datang kepada kedua orang tuaku? Aisyah berkata: Aku ingin meyakinkan berita itu dari mereka berdua.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW mengabulkan permintaan Aisyah?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan itu menyenangkan hati Aisyah karena dia ingin mencari tahu dari orang tuanya tentang berita bohong. Tapi penjelasan orang tua Aisyah tidak membuatnya puas, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Lalu Rasulullah SAW mengizinkan aku, lalu aku bertanya kepada Ibuku: Wahai Ibu, apakah yang sedang diperbin­cangkan orang-orang? Ia menjawab: Wahai anakku, anggaplah (urusan itu) ringan bagimu. Demi Allah, sedikit sekali ada seorang wanita cantik jelita di sisi seorang laki-laki yang mencintainya, sedang ia mempunyai beberapa madu (isteri suami) melainkan mereka banyak memperbincangkan aibnya.” Aku berkata: Maha Suci Allah, apakah orang-orang benarbenar memperbincangkan hal ini? Lalu aku menangis sejak malam itu sampai pagi, air mataku tidak terhenti dan aku tidak dapat tidur, kemudian pagi harinya aku menangis. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW menghadapi fitnah tersebut?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW meminta pendapat dari orang-orang terdekatnya termasuk keluarganya dan sahabatnya atas fitnah yang terjadi pada Aisyah, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Dan Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid di saat wahyu terhenti. Beliau bertanya dan minta nasehat kepada mereka berdua tentang menceraikan isterinya.” Aisyah berkata: “Adapun Usamah me­nunjukkan kepada Rasulullah SAW akan sesuatu yang ia ketahui, yaitu bebasnya isteri beliau, dan apa yang ia ketahui dalam hatinya. Maka Usamah berkata: Isterimu, kami tidak mengetahui selain kebaikan(nya).” Adapun Ali berkata: Wahai Rasulullah, Allah tidak memberi ke­sempatan terhadapmu wanita selain dia masih banyak, mintalah seorang wanita, tentu ia akan menyetujuimu.” Lalu Rasulullah SAW memanggil Barirah, beliau bertanya: Wahai Barirah, apakah kamu melihat sesuatu yang meragukanmu.” Barirah berkata kepada beliau: Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak pernah melihat sesuatu padanya yang dapat aku cerca sama sekali, selain bahwa dia adalah gadis yang masih muda belia. Dia tertidur melalaikan adonan keluarganya, maka datanglah seekor kambing lalu memakannya.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW bertanya kepada Zainab binti Jahsyi tentang keadaanku. Beliau bersabda kepada Zainab: Apakah yang kamu ketahui atau yang kamu lihat? Ia menjawab: Wahai Rasulullah, aku memelihara pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui melainkan kebaikannya.” Aisyah berkata: Dialah (Zainab) di antara isteri Rasulullah SAW yang mengungguli aku, lalu Allah melindunginya dengan kesalehannya.” Aisyah berkata: Jadilah saudara perempuannya, yakni Hamnah bertengkar dengannya. Maka binasalah ia bersama orang-orang yang binasa.” (HR Bukhari)

 

Berita bohong (fitnah) itu telah menimbulkan pertengkaran di antara keluarga dari salah satu isteri Rasulullah. Fitnah itu menimbulkan pula pertengkaran di antara para sahabat hingga mereka hampir saja saling berbunuhan, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW bangun dari tidurnya lalu menuntut dalih terhadap Abdullah bin Ubay bin Salul, sedang beliau berada di atas mim­bar. Beliau bersabda: Wahai sekumpulan orang-orang Islam, siapakah yang dapat memberikan dalih dari seorang lelaki yang telah mendatang­kan kesusahan (fitnah) pada isteriku? Demi Allah, saya tidak pernah me­ngetahui isteriku selain kebaikan(nya). Sungguh mereka telah menyebut­nyebut seorang lelaki (Shafwan bin Muaththal) yang aku tidak pernah tahu selain kebaikan(nya). Ia tidak pernah masuk kepada keluargaku melainkan bersamaku.” Aisyah berkata: Lalu berdirilah Sa’ad bin Mu’adz, yakni saudara Bani Abdil Asyhal. Ia berkata: Wahai Rasulullah, saya dapat memberikan dalih kepadamu. Seandainya ia dari kabilah Aus, maka saya akan penggal lehernya. Namun seandainya ia dari teman kami, yakni dari kabilah Khazraj, (hendaklah) engkau memerintahkan, niscaya kami melaksanakan perintahmu.” Aisyah berkata: “Lalu berdirilah seorang lelaki dari kabilah Khazraj, Ummu Hassan adalah puteri paman lelaki itu, lelaki itu ialah Sa’ad bin Ubadah pemimpin kabilah Khazraj.” Aisyah berkata: Sebelum peristiwa itu ia adalah seorang lelaki­ yang saleh, tetapi ia terbawa oleh kekerasan wataknya. Ia berkata kepada Sa’ad (bin Mu’adz): “Kamu berdusta, Demi Allah kamu tidak boleh membunuhnya dan kamu tidak mampu untuk membunuhnya. Seandainya ia berasal dari kelompokmu, niscaya kamu tidak suka ia dibunuh. Maka Usaid bin Hudlair berdiri ia adalah keponakan Sa’ad bin Mu’adz dari garis ayah, lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah: Kamu berdusta, Demi Allah, sungguh kami akan membunuhnya. Sesungguhnya kamu adalah munafik, kamu bertengkar untuk orang-orang munafik.” Aisyah berkata: Maka bangkitlah dua kabilah itu, yakni Aus dan Khazraj, sehingga mereka hendak saling membunuh, padahal Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar.” Aisyah berkata: Rasulullah SAW senan­tiasa melerai mereka sehingga mereka dan beliau sendiri terdiam. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Rasulullah SAW menyelesaikan fitnah tersebut?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW lalu menanyakan kebenaran fitnah itu dari Aisyah langsung, tapi Aisyah sudah terlanjur sakit hati karena Rasulullah SAW lebih mempercayai orang lain daripada dirinya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Lalu pada hari itu aku menangis sehari penuh, air mataku tidak terhenti dan aku tidak dapat tidur.” Aisyah berkata: Dan pada pagi harinya kedua orang tuaku berada di dekatku, sedangkan aku me­nangis selama dua malam satu hari, air mataku tidak terhenti dan aku tidak dapat tidur. Sehingga aku mengira bahwa tangisan itu meretakkan hatiku. Pada saat kedua orang tuaku duduk di dekatku dan aku sedang menangis, maka seorang wanita Anshar mohon izin kepadaku. Aku mengizinkannya, lalu ia duduk sambil menangis bersamaku.” Aisyah berkata: Ketika kami dalam keadaan (menangis) itulah, Rasulullah masuk kepada kami, lalu beliau mengucapkan salam dan kemudian du­duk.” Aisyah berkata: Beliau tidak duduk di dekatku semenjak dikata­kan apa yang telah dikatakan sebelumnya. Sungguh beliau terhenti selama satu bulan, tidak mendapatkan wahyu sedikitpun tentang diriku.” Aisyah berkata: Lalu Rasulullah SAW mengucapkan syahadat di saat duduk, kemudian beliau bersabda: Adapun sesudah itu wahai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku ini dan itu. Jika memang engkau bebas, niscaya Allah akan membebaskanmu. Namun jika engkau telah jatuh ke dalam perbuatan dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena sesungguhnya ketika seseorang mengakui (dosanya) kemudian bertaubat, niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR Bukhari)

 

Mendengar nasehat Rasulullah SAW itu, Aisyah menjawab sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW selesai dari pembicaraannya, maka terhentilah air mataku, sehingga aku tidak merasakan setetespun. Lalu aku berkata kepada Ayahku: Jawablah apa yang di­ucapkan oleh Rasullullah tentang diriku.” Ayahku menjawab: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah SAW. Kemudian aku berkata kepada Ibuku: Jawablah apa yang diucapkan oleh Rasulullah.” Ibuku menjawab: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah SAW.” Maka aku berkata: Padahal aku adalah gadis yang masih muda belia belum banyak mem­baca Al Quran: Demi Allah, sungguh aku tahu kamu mendengar ceri­tera ini, sehingga menancap di dalam hatimu dan kamu mempercayainya. Sungguh seandainya aku berkata bahwasanya aku bebas, tentu kamu tidak mempercayaiku. Dan seandainya aku mengakui sesuatu kepadamu, tentu kamu mempercayaiku, padahal Allah mengetahui bahwa aku bebas. Demi Allah, aku tidak mendapatkan satu perumpamaan melainkan ayah Nabi Yusuf di kala ia berkata: Maka kesabaran yang baik itulah (kesa­baranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (surat Yusuf ayat 18). Kemudian aku beralih dan berbaring di atas tikarku.(HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana penyelesaian atas fitnah tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT yang menyelesaikan fitnah itu dengan Dia menjelaskannya kepada Rasulullah SAW melalui wahyu-wahyu-Nya ketika beliau di rumah orang tua Aisyah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Allah mengetahui bahwa saat itu aku bebas, dan Allah adalah yang membebaskanku. Te­tapi aku tidak menyangka bahwa Allah menurunkan wahyu yang ter­baca (tertulis) tentang keadaanku. Sungguh keadaanku menurut pera­saanku adalah lebih hina (tidak selayaknya) untuk difirmankan oleh Allah, namun aku mengharapkan Rasulullah SAW bermimpi dalam tidurnya bahwa Allah membebaskan aku. Demi Allah, Rasullullah SAW tidak meninggalkan tempat duduknya, dan tidak seseorangpun dari peng­huni rumah yang keluar, sehingga (wahyu) diturunkan kepada beliau. Maka mulailah beliau merasakan kelelahan, sehingga beliau mengucurkan peluh bagaikan butir-butir mutiara, padahal waktu itu mu­sim dingin. Demikian itu dikarenakan sangat beratnya firman yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah berkata: Maka bergembiralah Rasulullah SAW seraya tertawa. Kata-kata yang pertama kali diucapkan oleh beliau ialah: Wahai Aisyah, adapun Allah sungguh telah membebas­kanmu.” Aisyah berkata: Lalu Ibuku berkata: Bangkitlah kepada be­liau.” Aku menjawab: Tidak, aku tidak akan bangkit kepada beliau, ka­rena sesungguhnya aku tidak akan memuji melainkan kepada Allah.” Aisyah berkata: Allah menurunkan ayat: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. (surat An Nuur ayat 11). Kemudian Allah menurunkan ayat ini tentang kebebasanku.” (HR Bukhari)

 

Adapun wahyu-wahyu-Nya (firman-Nya) yang turun itu sebagai berikut:

 

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar. (An Nuur 15-16)

 

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. (An Nuur 12-13)

 

Karena itu Allah SWT kemudian memperingatkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya sebagai berikut:

 

Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (An Nuur 14)

 

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nuur 17-18)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang menyebarkan fitnah itu akan mendapat balasan dari Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (An Nuur 19)

 

Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (An Nuur 11)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan orang tua Aisyah setelah mendengar wahyu-wahyu-Nya tersebut?”

 

Mudariszi: “Perkara itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Abu Bakar, ia dahulu memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah karena hubungan kekerabatannya dan miskinnya, ia berkata: Demi Allah, saya tidak akan menafkahkan apapun kepada Misthah selamanya, setelah apa yang pernah ia ucapkan terhadap Aisyah.” (HR Bukhari)

 

Bapak Aisyah yang tidak ingin menafkahkan lagi saudaranya yang menyebarkan berita bohong itu (seperti sunnah Rasulullah di atas), lalu membatalkan niatnya tersebut karena dia ditegur oleh Allah SWT melalui wahyu-Nya yang Dia turunkan kepada Rasulullah SAW,  dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Maka Allah menurunkan ayat: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). (surat An Nuur ayat 22). (HR Bukhari)

 

Karena itu Bapak Aisyah lalu mengatakan sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Abu Bakar berkata:Benar, Demi Allah, aku senang Allah memberi am­punan kepadaku.” Lalu ia mengembalikan nafkah yang semula ia berikan kepada Misthah, dan ia berkata: Demi Allah, aku tidak akan mengam­bilnya lagi selamanya.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan sahabat yang telah menolong Aisyah di malam hari hingga dia pula terkena fitnah?”

 

Mudariszi: “Aisyah menjelaskan tentang sahabat itu sebagai berikut:

 

Ibnu Syihab berkata: Inilah ceritera dari segolongan orang yang sampai kepadaku.” Kemudian Urwah berkata: Aisyah berkata: Demi Allah, sesungguhnya lelaki (Shafwan) yang dituduh dengan apa yang dituduhkan kepadanya berkata: Maha Suci Allah, Demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sama sekali saya tidak pernah membuka tabir (tempat mem­buang air besar) wanita.” Aisyah berkata: Kemudian sesudah peristiwa itu ia gugur di jalan Allah.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan orang munafik itu selalu memfitnah?”

 

Mudariszi: “Syaitan telah berjanji (bersumpah) kepada Allah SWT akan menyesatkan manusia hingga kiamat dengan jalan sebagai berikut:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Iblis (syaitan) mengetahui bahwa agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada manusia itu adalah agama Allah yang mengandung penjelasan tentang jalan-Nya yang lurus. Iblis (syaitan) tidak mau Al Qur’an dan agama Islam yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW itu diketahui oleh manusia. Karena itu Iblis (syaitan) lalu menggunakan orang-orang kafir yang tidak menyukai agama Islam tersebut untuk memerangi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman. Orang-orang kafir dibuat oleh syaitan menjadi pembantu syaitan dalam menyesatkan manusia, dan hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)

 

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)

 

Selain itu, dalam menghalang-halangi agar Al Qur’an dan agama Islam tidak sampai kepada manusia, syaitan lalu menggunakan orang-orang munafik yang tidak menyukai agama Islam dan tidak menyukai perang. Syaitan membisikkan hasutan jahatnya yang berupa fitnah-fitnah kepada orang-orang munafik supaya mereka menyampaikan fitnah itu melalui bujukan mereka kepada manusia termasuk kepada orang-orang beriman yang sedang berperang di jalan-Nya dalam menegakkan agama-Nya agar orang-orang beriman itu meninggalkan perang. Bujukan orang-orang munafik itu dijelaskan oleh Allah SWT adalah sebagai berikut:

 

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. (Al Hasyr 16)

 

Bujukan orang-orang munafik itu dapat membuat orang-orang beriman mempercayai fitnah tersebut tanpa ditelitinya dengan benar. Contoh berita bohong yang terjadi pada Aisyah yang membuat sebagian besar orang-orang beriman cenderung mempercayainya hingga mereka ditegur oleh Allah SWT. Fitnah yang timbul dalam pasukan perang itu berpengaruh kepada kekuatan pasukan dan tujuan perang. Sehingga jika timbul fitnah dalam pasukan perang, maka fitnah itu harus dihadapi dengan tenang dan sabar oleh pemimpin pasukan agar dia dapat menelitinya dengan benar hingga diketahui orang-orang munafik pembuat dan penyebar fitnah tersebut. Setelah diketahui, orang-orang munafik itu dapat segera dikembalikan atau dikeluarkan dari pasukan agar pasukan tetap bersatu dan kuat. Karena itulah Allah SWT berfirman:

 

Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. (An Nuur 11)

 

Walaupun demikian, Allah SWT memperingatkan orang-orang beriman khususnya orang-orang yang berjuang (termasuk berperang) di jalan-Nya dalam menegakkan atau membela agama-Nya (agama Islam) tentang fitnah yang sebenarnya itu berasal dari syaitan, sebagai berikut:

 

Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (An Nuur 21)

 

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). (An Nuur 20)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply