Bagaimana Ketetapan Allah Mengerjakan Haji Di Baitullah?

Dialog Seri 15: 2

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menetapkan mengerjakan haji bagi manusia di Baitullah di Mekkah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan ketetapan-Nya itu sebagai berikut:

 

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran 97)

 

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). (Quraisy 3)

 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali ‘Imran 96)

 

Allah telah menjadikan Ka’bah rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia. (Al Maa-idah 97)

 

Tilmidzi: “Bagaimana manusia mengerjakan haji di Baitullah setelah Baitullah itu dibangun kembali?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk membangun kembali Ka’bah (Baitullah) termasuk membersihkannya, sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail. (Al Baqarah 127)

 

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang rukuk, dan yang sujud. (Al Baqarah 125)

 

Dan (ingatlah), ketika Kami memberi tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. (Al Hajj 26)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan haji dimulai lagi dari Nabi Ibrahim setelah beliau membangun kembali Ka’bah (Baitullah) dan membersihkannya bersama-sama dengan Nabi Ismail. Pelaksanaan haji terdiri dari thawaf, rukuk, sujud dan ibadah lain. Nabi Ibrahim berdoa kepada-Nya agar ditunjuki cara-cara dan tempat-tempat melaksanakan ibadah haji tersebut, yaitu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah 127-128)

 

Selain ibadah shalat, thawaf, rukuk dan sujud, Allah SWT lalu menunjuki Nabi Ibrahim cara-cara dan tempat ibadah haji lainnya yang mana ibadah-ibadah itu berkaitan dengan amal perbuatan Nabi Ibrahim dengan keluarganya (Hajar dan Nabi Ismail), seperti sa’i antara Shafa dan Marwah, pergi ke Arafah, melempar jumrah, menyembelih hewan kurban.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana ibadah-ibadah haji yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim dan keluarganya itu?”

 

Mudariszi: “Itu bermula dari Sarah (isteri Nabi Ibrahim) yang dipanggil oleh Raja hingga beliau dihadiahkan Hajar oleh Raja, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Lalu Raja mengutus kepada Sarah. Ketika Sarah masuk kepada Raja, maka Raja hendak menyentuhnya, lalu Raja tercekik (hingga memukul-mukulkan kakinya seperti keranjingan). Lalu Raja berkata (kepada Sarah): “Doakanlah aku kepada Allah, dan aku tidak berbuat jahat kepadamu.” Sarah berdoa kepada Allah, maka Dia melepaskannya. Kemudian Raja mengulurkan tangannya untuk kedua kali, lalu dia tercekik seperti pada pertama atau lebih berat (daripada pertama), lalu dia berkata: Doakanlah aku kepada Allah, dan aku tidak akan berbuat jahat kepadamu.” Sarah berdoa kepada Allah, lalu Dia melepaskannya. Lalu Raja memanggil sebagian penjaganya, dia berkata: Kalian membawa kepadaku bukan manusia, sungguh yang kalian bawa itu adalah setan (jin jahat).Lalu Raja menghadiahkan Hajar untuk melayani Sarah, lalu Sarah datang kepada Ibrahim yang sedang berdiri shalat, maka beliau berisyarat dengan tangan, yang maknanya: Bagaimana keadaanmu? Sarah berkata: Allah mengembalikan tipudaya orang kafir (orang jahat) pada lehernya (yakni Raja itu tidak mendapatkan keinginannya), dan dia menghadiahkan Hajar. (HR Bukhari)

 

Nabi Ibrahim lalu mengawini Hajar (syariat agama Allah ketika itu membolehkannya). Hajar lalu dikaruniakan-Nya seorang putera (Nabi Ismail) dan Dia perintahkan Nabi Ibrahim agar membawa Hajar dan puteranya ke Mekkah. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan Ismail anaknya yang sedang menyusu sehingga Ibrahim menempatkan keduanya di sisi Baitullah di pohon besar di atas Zamzam di sebelah atas masjid, dan saat itu di Makkah belum ada seorangpun dan juga tidak ada air. Lalu dia menempatkan keduanya (Ismail dan Ibunya) disana, dan dia meletakkan satu gerba berisi kurma dan satu tempat minum berisi air di sisi keduanya, kemudian dia berangkat pulang (ke Syam negerinya). Ibu Ismail mengikutinya dan bertanya: “Hai Ibrahim, kemanakah engkau mau pergi? Dan engkau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada orang dan bahkan tidak ada apa-apa.” Ia berkata kepadanya demikian ini berulangkali sedang Ibrahim tidak me­noleh kepadanya. Lalu Hajar berkata kepadanya: “Apakah Allah memerintahkan engkau demikian ini?” Ibrahim menjawab: “Ya.” Hajar berkata: “Jika demikian, Dia tidak menyia-nyiakan kami.” Kemudian Hajar kembali (ke tempat Ka’bah).” (HR Bukhari)

 

Nabi Ibrahim merasa gelisah dan sedih atas cobaan yang menimpanya dan keluarganya, karena isterinya hanya sendiri di tempat yang tandus memelihara anaknya yang bayi. Tapi Nabi Ibrahim tidak dapat berbuat apapun kecuali patuh dan taat melaksanakan perintah-Nya, beliau lalu menghadap ke Ka’bah meminta kepada-Nya, sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Lalu Ibrahim berangkat, sehingga ketika dia di Tsaniyah sekira keduanya sudah tidak melihatnya, Ibrahim menghadapkan muka ke arah Baitullah kemudian berdoa dengan kalimat-kalimat itu dan mengangkat kedua tangan, dengan ucapannya: Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempat­kan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempu­nyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati se­bagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezki­lah mereka buah-buahan, mudah-mudahan mereka ber­syukur.” (surat Ibrahim ayat 37). (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Hajar menjalani hidupnya dan memelihara anaknya?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Ibu Ismail menyusui Ismail dan ia minum dari air itu, sehingga ketika air yang di dalam tempat itu habis, ia haus dan anaknya (Ismail) haus pula, dilihatnya Ismail bergelimpang-gelimpang (atau beliau bersabda: menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya seolah-olah hendak meninggal). Lalu Hajar pergi karena tidak tega melihat Ismail. Didapatinya Shafa, se­buah gunung yang terdekat di daerah itu, lalu ia berdiri di atasnya, ke­mudian ia menghadap ke lembah itu melihat-lihat apakah ia melihat seseorang, namun ia tidak melihat seorangpun. Lalu ia turun dari Shafa sehingga ketika ia sampai di lembah itu, ia mengangkat ujung bajunya kemudian ia berlari sebagai larinya orang yang berkepayahan sampai ia melewati lembah itu, kemudian sampailah di Marwah, lalu ia berdiri di atasnya dan melihat-lihat, apakah ia melihat seseorang, namun ia tidak melihat seorangpun. Ia mengerjakan demikian (Shafa-Marwah-Shafa) itu tujuh kali.” Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demikian itulah manusia bersa’i di antara keduanya.” Ketika Hajar naik di Marwah, ia mendengar suara, lalu ia berkata: “Diamlah”, kepada dirinya. Kemudian ia berusaha (berkonsentrasi) mendengarkan, lalu ia men­dengar lagi, lalu ia berkata: “Kamu telah memperdengarkan, jika pada kamu ada pertolongan (maka tolonglah).” Tiba-tiba malaikat (Jibril) di tempat Zamzam, lalu malaikat itu menggali dengan tumitnya, atau beliau bersabda dengan sayapnya, hingga keluarlah air, maka Hajar membendungnya dan berbuat dengan tangannya demikian ini. Ia mulai menciduk dari air itu ke dalam tempat minumnya, dan setelah Hajar menciduk, maka air itu memancar. Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah menyayangi Ibu Ismail, seandainya ia meninggalkan Zamzam, atau beliau bersabda, seandainya ia tidak menciduk air, niscaya Zamzam itu menjadi mata air yang mengalir (di permukaan bumi).” Beliau ber­sabda: “Lalu Hajar minum dan menyusui anaknya. Lalu malaikat berkata kepadanya: “Janganlah kamu takut sia-sia karena disinilah Baitullah itu dimana anak ini dan Ayahnya akan membangunnya, sedang Allah tidak menyia-nyiakan keluarganya.” (HR Bukhari)

 

Hajar yang berlari-lari antara Shafa dan Marwah dalam mencari air untuk anaknya (Nabi Ismail) itu kemudian menjadi ibadah haji, yaitu sa’i antara Shafa dan Marwah. Dan dengan air zamzam itulah Hajar dan Nabi Ismail menjalani hidupnya di Mekkah.”

 

Tilmidzi: “Apakah Hajar dan puteranya tinggal di tempat itu dengan hanya berdua saja?”

 

Mudariszi: “Air zamzam yang keluar di tempat Hajar itu mengundang orang-orang dalam perjalanan untuk menyinggahinya karena memerlukan air. Di antara yang singgah tersebut, ada rombongan dari Jurhum yang kemudian mereka menetap di tempat Hajar. Hajar dan Nabi Ismail lalu menjalani hidupnya bersama-sama dengan keluarga-keluarga dari Jurhum hingga tempat itu menjadi kota yaitu kota Mekkah. Hajar lalu wafat di Mekkah dan Nabi Ismail mengawini seorang wanita dari keluarga Jurhum. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Baitullah pada waktu itu di atas tanah tinggi seperti bukit kecil dimana banjir itu lewat di sebelah kanan dan kirinya. Demikianlah (Hajar minum air Zamzam dan menyusui anaknya), hingga satu rombongan persahabatan dari Jurhum (atau keluarga Jurhum) datang dari jalan Kada melewati Hajar. Mereka singgah di bawah Makah, lalu mereka melihat burung melayang-layang (di atas air), mereka berkata: “Sesungguhnya burung ini berputar di atas air. Sungguh kita kenal dengan lembah ini dan padanya tidak ada air.” Lalu mereka melepaskan satu atau dua orang utusan. Ketika mereka (utusan) mendapati air, mereka kembali dan memberitakan tentang air itu, lalu mereka (Jurhum) mendatangi (air). Beliau ber­sabda: “Ibu Ismail berada di tempat air itu.” Maka mereka berkata: “Apakah engkau mengizinkan kami untuk tinggal di tempatmu?” Hajar menjawab: “Ya, tetapi kalian tidak berhak terhadap air itu.” Mereka berkata: “Ya.” Rasulullah SAW bersabda: “Rombongan itu mendapati Ibu Ismail yang senang mendapatkan teman.” Lalu mereka singgah dan mereka mengirim utusan kepada keluarga mereka, kemudian mereka ting­gal bersama (di Makah), sehingga ketika mereka sudah menjadi beberapa rumah-tangga dan Ismail sudah menjadi dewasa dan ia belajar ba­hasa Arab dari mereka serta ia senang kepada mereka dan mereka kagum kepadanya sesudah ia remaja. Ketika ia sudah akil baligh, maka mereka menikahkannya dengan seorang perempuan dari mereka, dan Ibu Ismail meninggal (dalam usia 90 tahun).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT angkat Nabi Ismail sebagai Rasul-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Nabi Ismail diutus (diangkat) oleh Allah SWT kepada bangsa Arab sebagai Rasul-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kepada mereka kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi. Dan ia menyuruh ahlinya (umatnya) untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya (Maryam 54-55)

 

Allah SWT menjelaskan Nabi Ismail itu termasuk orang-orang yang baik, sabar, saleh, melalui firman-Nya ini:

 

Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik. (Shaad 48)

 

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar dan paling baik. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (Al Anbiyaa’ 85-86)

 

Kesabaran, kesalehan (ketaatan) dan kebaikan Nabi Ismail itu dibuktikan salah satunya, yaitu ketika beliau menerima perintah Allah kepada Nabi Ibrahim agar menyembelihnya. Allah SWT berfirman:

 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku meyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (Ash Shaaffaat 102-103)

 

Nabi Ibrahim yang menjalankan perintah Allah itu menunjukkan beliau patuh dan taat kepada-Nya. Nabi Ibrahim takut kepada Allah SWT yang telah mengaruniakannya anak. Syaitan gagal menghasut Nabi Ibrahim agar mengingkari perintah-Nya. Syaitan gagal pula menghasut Nabi Ismail agar tidak menuruti keinginan Bapaknya karena beliau juga takut kepada Allah SWT. Kedua Bapak dan anak itu menjalankan perintah-Nya dengan patuh, ikhlas dan sabar. Allah SWT mengetahui isi hati kedua Bapak dan anak tersebut, sehingga Dia lalu mengganti perintah-Nya itu, sebagai berikut:

 

Dan Kami panggilah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffaat 104-107)

 

Kegagalan syaitan dalam menghasut Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar mengingkari perintah Allah tersebut lalu menjadi ibadah haji, yaitu melempar jumrah. Demikian pula dengan perintah-Nya menyembelih hewan kurban (sebagai pengganti menyembelih Nabi Ismail), lalu menjadi ibadah haji seperti ibadah haji sa’i antara Shafa dan Marwah.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT tidak memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ishaq?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan Nabi Ibrahim yang bersyukur kepada-Nya karena telah mengabulkan doa beliau yaitu menganugerahkan beliau dengan dua putera, sebagai berikut:

 

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. (Ibrahim 39)

 

Ismail diucapkan pertama oleh Nabi Ibrahim dalam firman-Nya di atas menunjukkan Ismail putera pertama Nabi Ibrahim dan Ishaq putera keduanya. Nabi Ismail putera pertama Nabi Ibrahim dari Hajar, karena beliau berdoa kepada-Nya agar dikaruniakan seorang anak setelah beliau pindah ke negeri Syam dan mengawini Hajar hadiah Raja kepada Sarah (seperti dijelaskan di atas). Allah SWT berfirman:

 

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (Ash Shaaffaat 99-101)

 

Sedangkan Nabi Ishaq dikaruniakan oleh Allah SWT pada waktu Nabi Ibrahim dan Sarah (isterinya) telah tua dan mandul. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Berkata Ibrahim: “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?” (Al Hijr 54)

 

Dan isterinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. (Huud 71-72)

 

Kemudian isterinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul. (Adz Dzaariyaat 29)

 

Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. (Huud 73)

 

Jika Nabi Ismail lahir setelah Nabi Ishaq, maka itu berarti Nabi Ibrahim membangun kembali Baitullah bersama-sama dengan Nabi Ismail dalam usianya yang sangat lanjut. Itu terasa ganjil karena tenaga beliau telah berkurang untuk membangun bangunan (Ka’bah). Selain itu, Nabi Ibrahim memohon dikaruniakan anak karena Sarah ketika itu tidak juga hamil. Nabi Ibrahim lalu dikaruniakan anak (Nabi Ismail) setelah beliau mengawini Hajar. Jika perintah-Nya kepada Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ishaq, maka perintah-Nya itu bukan ujian-Nya yang nyata kepada Nabi Ibrahim karena ketika itu beliau telah memiliki putera pertama yaitu Nabi Ismail. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami panggilah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffaat 104-107)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun kembali Baitullah agar dapat digunakan oleh manusia untuk mengerjakan haji?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang rukuk, dan yang sujud. (Al Baqarah 124-125)

 

Dan (ingatlah), ketika Kami memberi tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. (Al Hajj 26)

 

Nabi Ibrahim menjelaskan perintah-Nya itu kepada Nabi Ismail dan beliau meminta puteranya agar membantunya membangun kembali Ka’bah (Baitullah). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian Ibrahim ber­diam jauh dari mereka dalam waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian setelah itu dia datang, dan Ismail sedang meruncingkan anak panah di bawah pohon besar yang dekat Zamzam itu. Ketika Ismail melihatnya, ia berdiri menuju kepadanya, maka keduanya melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya dan anak kepada orang­ tuanya. Kemudian dia berkata: “Hai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku dengan suatu perintah.” Ismail berkata: “Laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu.” Ibrahim berkata: “Dan kamu membantu aku?” Ismail berkata: “Dan aku membantu engkau.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku un­tuk membangun sebuah rumah (bait) disini”, dan Ibrahim menunjuk bukit kecil yang ada di sekitarnya. Beliau (Rasulullah SAW) bersabda: “Ketika itu keduanya meninggikan dasar (tembok) dari rumah itu, dimana Ismail membawa batu-batu sedang Ibrahim membangun, sehingga ketika bangunan itu telah tinggi, maka Ismail membawa batu (maqam Ibrahim) itu dan diletakkan untuk Ibrahim, maka Ibrahim berdiri di atasnya seraya membangun, sedang Ismail mengambili batu-batu. Keduanya sambil mengucapkan: “Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengeta­hui.” (surat Al Baqarah ayat 127). Bersabda beliau (Rasulullah SAW): “Keduanya membangun terus hingga mengitari sekitar Ka’bah, sedangkan keduanya mengucapkan terus doa di atas.” (surat Al Baqarah ayat 127). (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa setelah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun kembali Baitullah, mereka kemudian melakukan ibadah thawaf, shalat, rukuk dan sujud sambil berdoa kepada-Nya, yaitu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Al Baqarah 126)

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah 127-129)

 

Allah SWT lalu menunjukkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji selain thawaf, shalat, ruku’, sujud, yaitu mengerjakaan sa’i, melempar jumrah, menyembelih hewan kurban, seperti yang telah dijelaskan di atas.”

 

Tilmidzi: “Apakah pelaksanaan haji ke Baitullah tersebut dijalankan oleh manusia setelah Baitullah dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: “Ya! Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lalu mengajarkan ibadah haji di Baitullah kepada manusia melalui kaumnya masing-masing. Tetapi dengan berjalannya waktu, syaitan dapat membuat penduduk Mekkah dan sekitarnya menjadi kafir, sehingga ibadah haji mereka menjadi berbeda dengan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Misal, ibadah thawaf mengelilingi Ka’bah orang-orang kafir sebagai berikut:

 

Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (Al Anfaal 35)

 

Mereka melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah untuk Manat tuhan berhala mereka, dan perkara itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Zuhri, ia berkata: “Urwah berkata: “Saya pernah bertanya kepada Aisyah, lalu saya berkata kepadanya: “Bagaimana pendapat anda tentang firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang berhaji ke Baitullah atau berum­rah, tidak ada dosa atasnya untuk bersa’i keduanya.” (surat Al Baqarah ayat 158).  Ia berkata: “Demi Allah, tidak ada dosa atas seseorang dengan tidak melakukan Sa’i antara Shafa dan Marwah.” Aisyah berkata: “Seburuk-buruknya apa yang kamu kata­kan, hai anak saudaraku perempuan. Sesungguhnya ayat ini seandainya seperti apa yang kamu ta’wilkan antara Shafa dan Marwah, tetapi ayat itu diturunkan pada orang-orang Anshar sebelum mereka masuk Islam, mereka membaca Talbiyah untuk Manat si berhala yang mereka sembah di Musyallal. Maka barangsiapa yang membaca Talbiyah, maka ia me­rasa berdosa untuk Sa’i di Shafa dan Marwah. Ketika mereka telah masuk Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal itu: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami merasa berdosa untuk Sa’i antara Shafa dan Marwah?” Maka Allah menurunkan ayat ini, sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah (bacalah ayat-ayat itu), (surat Al Baqarah ayat 158).” Aisyah berkata: “Rasulullah SAW telah menjalankan Sa’i antara Shafa dan Marwah, maka tidak ada seorangpun untuk meninggalkan Sa’i antara keduanya.” (HR Bukhari)

 

Tempat berkumpul haji mereka dari Muzdalifah dan bukan dari Arafah, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Hisyam dari Ayahnya, dia berkata: “Dahulu, orang-orang Arab itu biasa melakukan Thawaf (berkeliling) di Baitullah dengan telanjang bulat, kecuali Al Hums, yaitu sekelompok kaum Qu­raisy dan anak cucu keturunannya. Tetapi terkadang mereka juga mela­kukan hal yang sama, kecuali kalau mereka ada yang memberi pakaian. Yang laki-laki dan yang perempuan saling memberikan pakaian. Ter­nyata orang-orang Al Hums tersebut tidak menuju ke Muzdalifah, me­lainkan ke Arafah. Selanjutnya Hisyam berkata: “Ayahku pernah men­ceritakan kepadaku sebuah hadits yang berasal dari Aisyah yang mengatakan: “Al Hums adalah sekelompok orang banyak, seperti fir­man Allah: “Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang banyak.” (surat Al Baqarah ayat 199). Orang banyak itupun sama bertolak dari Arafah, sementara Al Hums bertolak dari Muzdalifah sambil mengatakan: “Kami tidak bertolak kecuali dari Al Haram.” Ketika ayat berikut ini turun: “Bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang banyak” (surat Al Baqarah ayat 199), maka mereka pun sama kembali ke Arafah.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan Allah SWT mengutus Rasulullah SAW, ibadah haji di Baitullah itu lalu diperbaiki?”

 

Mudariszi: “Ya! Setelah Allah SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai pengabulan doa Nabi Ibrahim, maka mengerjakan haji di Baitullah oleh manusia kemudian diperbaiki dan disempurnakan oleh Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah 129)

 

Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al Jumu’ah 2-3)

 

Dan ini (Al Qur’an) adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan sebelumnya) dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (Al An’aam 92)

 

Allah SWT lalu memerintahkan orang-orang beriman agar memelihara Baitullah dan mengurus urusan haji untuk seluruh manusia yang ingin berhaji dan datang dari berbagai negeri (daerah). Orang-orang kafir tidak dapat memelihara Baitullah dan mengurus haji karena mereka itu najis sebagai akibat dari menyekutukan Allah SWT dengan tuhan lain. Allah SWT berfirman:

 

Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al Anfaal 34)

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 28)

 

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At Taubah 17-18)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply