Dialog Seri 16: 3
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW telah mengetahui Allah SWT sebelum beliau menerima Al Qur’an?”
Mudariszi: “Dengan Rasulullah SAW tidak mengetahui Al Qur’an dan Iman kepada Allah SWT, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Asy Syuura 52)
Maka Rasulullah SAW tidak dapat dikatakan telah mengetahui Allah SWT, terlebih lagi Dia tidak terlihat (ghaib). Allah SWT berfirman:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 103)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW tidak pernah melihat Allah SWT?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak pernah melihat Allah SWT, dan beliau menjelaskan perkara itu ketika beliau melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj untuk menerima perintah shalat lima waktu sehari semalam langsung dari Allah SWT, sebagai berikut:
Dari Abu Dzarr, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Beliau menjawab: “Ada nur, bagaimana aku bisa melihat-Nya.” (HR Muslim)
Isteri Rasulullah SAW yang diajarkan oleh Rasulullah SAW menjelaskan perkara tersebut sebagai berikut:
Dari Masruq, katanya: “Saya berkata kepada Aisyah: “Wahai Ibu, apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Aisyah berkata: “Dan siapa saja berbicara (bercerita) kepadamu bahwa Muhammad SAW melihat Tuhannya, maka ia benar-benar bohong.” Kemudian Aisyah membaca: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat apa saja yang kelihatan; dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (surat Al An’am ayat 103). “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir.” (surat Asy Syuraa ayat 51).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW mengetahui keberadaan Allah SWT?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW dapat mengetahui keberadaan Allah SWT yaitu dengan adanya Al Qur’an yang beliau terima dari Jibril. Dalam Al Qur’an ada pula bukti keberadaan-Nya, misalnya Ka’bah (Baitullah) di Mekkah yang merupakan milik-Nya. Allah SWT berfirman:
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Quraisy 1-4)
Bukti lain keberadaan Allah SWT yang ghaib yang diketahui oleh Rasulullah SAW yaitu dari semua ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi yang dapat dilihat adalah milik-Nya dan semua itu dijelaskan dalam Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. (As Sajdah 4)
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. (Asy Syuura 29)
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Allah SWT menurunkan kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) kepada Rasul-Rasul-Nya sebagai berikut:
Allah memilih utusan-utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. (Al Hajj 75)
Allah SWT memilih utusan-utusan-Nya menurut kehendak-Nya. Dalam menurunkan Al Qur’an, Allah SWT memilih Jibril dari malaikat sebagai utusan-Nya yang menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW dari manusia sebagai utusan (Rasul) pilihan-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Asy Syuura 51)
Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengajarkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: ”Allah SWT mengajarkan Al Qur’an, Iman dan agama-Nya (Islam) kepada Rasuluillah SAW dengan Al Qur’an itu sendiri, yaitu melalui Jibril ketika Jibril menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada beliau hingga beliau berilmu (memahami) dan beriman (tertanam di hatinya). Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (Al Insaan 23)
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 5-6)
Janganlah kamu (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. (Al Qiyaamah 16-19)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah melihat Jibril yang ghaib?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW dapat mengetahui beberapa perkara yang ghaib karena diizinkan oleh Allah SWT, itu dijelaskan firman-Nya ini:
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah.” (An Naml 65)
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)
Karena itu Rasulullah SAW dapat melihat dan berbicara dengan Jibril termasuk beliau mengetahui bentuk (rupa) asli Jibril, sebagai berikut:
Dari Masruq, dia berkata: “Aku berkata kepada Aisyah: “Lalu di mana kedudukan firman Allah: “Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi; maka jadilah dia dekat sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi; lalu dia menyampaikan kepada hamba–Nya apa yang telah Dia wahyukan.” (surat An Najm ayat 8-10). Aisyah berkata: “Sesungguhnya itu adalah Jibril. Biasanya Jibril datang kepada beliau dalam bentuk manusia. Tetapi, kali ini dia datang dalam bentuk aslinya sehingga memenuhi cakrawala langit.” (HR Muslim)
Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. (At Takwiir 22-24)
Dari Zirr bin Hubaisy mendengar Abdullah bin Mas’ud yang membaca (surat An Najm ayat 18): “Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” Abdullah berkata: “Rasulullah SAW telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki enam ratus sayap.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW melihat Jibril dalam bentuk (rupa) aslinya ketika beliau menerima ayat-ayat Al Qur’an di awal dan ketika beliau melakukan Israa’ Mir’aj hingga di atas langit ke tujuh untuk menerima perintah shalat 5 (lima) waktu sehari semalam dari Allah SWT. Hal itu penting bagi Rasulullah SAW untuk meyakini keberadaan Allah SWT dan Jibril yang ghaib, kebenaran perintah-Nya, kebenaran Al Qur’an atau wahyu-wahyu-Nya yang diturunkan-Nya melalui Jibril, agar mudah bagi beliau menjelaskan kepada umat manusia.”
Tilmidzi: “Mengapa Jibril menyampaikan Al Qur’an ke dalam dada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Dada dalam firman-Nya di atas yaitu hati. Manusia diberikan akal dan hati oleh Allah SAW untuk memikirkan perkara yang tidak diketahuinya hingga dipahaminya. Allah SWT berfirman:
Ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 46)
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Al Baqarah 266)
Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). (Al A’raaf 179)
Perkara yang tidak diketahui oleh manusia itu lalu dijelaskan oleh ayat-ayat Al Qur’an. Rasulullah SAW juga memikirkan ayat-ayat Al Qur’an atau memikirkan perkara yang tidak diketahuinya hingga beliau lalu memahaminya setelah dijelaskan oleh Jibril dengan ayat-ayat Al Qur’an. Ilmu pengetahuan dan pemahaman Rasulullah terhadap Al Qur’an atas perkara yang tidak diketahuinya itu lalu menjadi ilmu dan iman yang tertanam (tersimpan) di hati beliau. Allah SWT berfirman:
Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (Al ’Ankabuut 49)
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Al Hujuraat 7)
Karena itu Allah SWT menjelaskan kepada manusia tentang Al Qur’an tersebut sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus 57)
Tilmidzi: “Penyakit apakah dalam dada (hati) manusia seperti yang dijelaskan firman-Nya di atas?”
Mudariszi: “Yaitu penyakit yang timbul di hati manusia karena mereka suka melakukan perbuatan buruk yang dipikirnya benar. Mereka berbuat itu karena menuruti hawa nafsunya di hatinya yang ghaib (yang hanya dapat dirasakannya) tanpa dipikirkannya dengan benar karena ingin mencapai keinginan hatinya. Mereka menuruti hawa nafsunya yang tidak dapat ditahannya. Allah SWT berfirman:
Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. (Al Anfaal 24)
Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)
Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. (Al Baqarah 187)
Mereka harus menjalani hidupnya dengan hatinya yang berpenyakit tersebut, dan itu dapat berpengaruh dan berakibat buruk kepada organ-organ tubuhnya. Jika itu terjadi, maka mereka menambah penyakit pada dirinya. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: “Aku mendengar (sambil memegang kedua telinganya) Rasulullah SAW bersabda: “Ingat! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging; apabila ia baik, baik pula seluruh tubuh; dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh; itulah hati.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang itu dapat melakukan perbuatannya itu hingga hatinya berpenyakit?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hawa nafsu itu sebagai berikut:
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)
Hawa nafsu manusia itu timbul karena syaitan yang menyuruh manusia untuk berbuat jahat dan syaitan mengetahui manusia tidak dapat menahan hawa nafsunya. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan-Nya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu.” (HR Muslim)
Syaitan membangkitkan hawa nafsu manusia dengan membisikkan kejahatannya ke dalam dadanya (hatinya) berupa janji-janji yang indah padahal itu hanya tipuan saja, ketika syaitan mengetahui manusia sedang berkeinginan. Allah SWT berfirman:
Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. (Al Hajj 52)
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)
Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)
Manusia tidak mengetahui hatinya karena dibatasi oleh Allah SWT dan mereka tidak dapat melihat syaitan. Orang-orang yang tidak beriman dan yang beriman tipis menyukai janji-janji syaitan karena dirasakan indah oleh hatinya, sehingga syaitan lalu membuat mereka memandang bagus dugaan di hatinya itu. Hal itu yang membangkitkan hawa nafsunya hingga mereka lalu mengerjakannya. Allah SWT berfirman:
Dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu prasangkaan itu. (Al Fath 12)
Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. (Al Hajj 53)
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (Al An’aam 113)
Syaitan kemudian membuat mereka memandang baik perbuatannya yang buruk itu hingga menghalang mereka dari membaca ayat-ayat-Nya (Al Qur’an). Allah SWT berfirman:
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)
Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (Al ‘Ankabuut 38)
Tilmidzi: “Bagaimana Al Qur’an dapat menyembuhkan orang-orang yang hatinya berpenyakit tersebut?”
Mudariszi: “Orang-orang yang hatinya berpenyakit itu hidup bersama-sama dengan orang-orang yang beriman ketika menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi. Mereka melihat perbedaan dalam berusaha dan menikmati karunia-Nya dengan orang-orang beriman, hingga ada di antara mereka yang memikirkannya dengan benar hingga mereka meragukan kebenaran perbuatannya. Mereka mendapati firman-Nya ini:
Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maa-idah 100)
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah 216)
Mereka lalu membaca Al Qur’an dan mempelajarinya karena mereka ingin menyembuhkan hatinya dengan berbuat kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang bertaubat kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al Insaan 29)
Allah SWT mengetahui keinginan hatinya dan mengetahui perbuatan syaitan, karena itu Dia melindunginya dari godaan syaitan dengan menguatkan ayat-ayat Al Qur’an di hatinya yang dibaca, dipelajari dan dipahaminya. Al Qur’an mengajarkan mereka berbuat (beramal) di jalan yang lurus ketika menjalani hidupnya hingga mereka mengetahui baik buruk keinginannya dan mengetahui akibat dari perbuatan mau mencapai keinginannya. Mereka berlindung kepada-Nya agar terhindar dari keinginan dan perbuatan yang buruk. Allah SWT berfirman:
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al A’raaf 200)
Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al Hajj 52)
Karena kesungguhan mereka dalam bertaubat, maka Allah SWT akan terus menunjuki mereka kepada jalan-Nya yang lurus dengan Al Qur’an itu. Allah SWT berfirman:
Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy Syams 9-10)
Pada waktunya, hati mereka akan bersih dari penyakit-penyakit karena hatinya telah dipenuhi oleh ayat-ayat Al Qur’an dengan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah jiwa manusia yang tidak terlihat (ghaib) itu?”
Mudariszi: “Jiwa adalah manusia, jiwa telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum menjadi manusia yang bertubuh dan berbentuk. Jiwa itulah yang berjanji kepada Allah SWT bahwa Dia adalah Tuhannya sebelum jiwa itu dijadikan manusia. Allah SWT berfirman:
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? (Maryam 67)
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)
Jiwa menjadi manusia setelah Allah SWT berikan tubuh dengan organ-organ tubuhnya, roh ciptaan-Nya, penglihatan, pendengaran dan hati. Jiwa dengan roh ciptaan-Nya, pengihatan, pendengaran, hati dan organ-organ dalam tubuh itu lalu menjadi ghaib karena tertutup oleh tubuh manusia. Allah SWT berfirman:
Yang demikian itu ialah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (As Sajdah 6-9)
Pada waktu manusia mati, maka jiwa dengan roh ciptaan-Nya, penglihatan, pendengaran dan hati dicabut oleh malaikat maut keluar dari tubuhnya hingga yang tinggal di bumi hanya tubuhnya dengan organ-organ dalam tubuhnya. Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Ali ‘Imran 185)
Karena itu jiwa atau manusia itu tetap hidup ketika di alam barzakh dan mereka akan diberikan tubuh yang baru setelah dibangkitkan pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al Baqarah 154)
Dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). (At Takwiir 7)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah bertemu dengan jin yang ghaib (tidak terlihat)?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa di antara jin-jin itu ada yang beriman dan yang kafir (yang tertipu oleh syaitan-syaitan dari golongan jin). Allah SWT berfirman:
Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. (Al Jin 4-5)
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (Al Jin 14)
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al Jin 11)
Al Qur’an diturunkan oleh Allah SWT untuk semesta alam, untuk semua makhluk, karena itu Dia pertemukan Rasulullah SAW dengan jin-jin agar beliau menyampaikan Al Qur’an kepada mereka supaya mereka beriman kepada-Nya, Al Qur’an, Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Shaad 87)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Abiyaa’ 107)
Dari Amir, ia berkata: “Aku bertanya kepada Alqamah, apakah Ibnu Mas’ud bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu?” Ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud, demikian: “Apakah ada seseorang dari kamu yang bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu?” Ia (Ibnu Mas’ud) menjawab: “Tidak ada. Tetapi pada suatu malam kami pernah bersama Rasulullah SAW lalu kami kehilangan beliau. Beliau bersabda: “Aku didatangi jin yang mengajakku pergi, maka aku pergi bersamanya, kemudian aku membacakan Al Qur’an kepada mereka.” Lalu beliau berangkat bersama kami. Beliau memperlihatkan kepada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka, dan mereka minta bekal kepada beliau. Beliau bersabda (kepada mereka): “Bagimu setiap tulang yang disebut nama Allah padanya yang ada di tanganmu, menyempurnakan sesuatu yang asalnya daging. Dan setiap kotoran binatang adalah makanan bagi ternakmu.” Kemudian beliau bersabda (kepada kami): “Oleh sebab itu, janganlah kamu beristinja dengan kedua benda tadi, karena kedua-duanya adalah makanan saudaramu.” (HR Muslim)
Dari Ma’n, ia berkata: “Aku mendengar ayahku berkata: “Aku pernah bertanya kepada Masruq, siapakah yang memberitahu Rasulullah SAW tentang kedatangan jin pada malam mereka mendengarkan Al Qur’an? Ia berkata: “Ayahmu (yakni Ibnu Mas’ud) bercerita kepadaku, bahwa yang memberitahu beliau adalah sebuah pohon.” (HR Muslim)
Jin-jin yang telah beriman itu lalu menyeru kawan-kawannya agar beriman kepada Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Al Ahqaaf 29-32)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah melihat orang-orang yang telah mati di alam barzakh?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW bertemu dengan beberapa Nabi di setiap langit dari tujuh langit ketika beliau melakukan Israa’ Mi’raj, itu berarti beliau melihat orang-orang yang telah mati ketika di alam barzakh. Selain itu, Allah SWT menjadikan Rasulullah SAW bermimpi dibawa oleh Jibril dan Mikail melihat keadaan orang-orang yang mati di alam barzakh yang nantinya mereka semua akan memasuki surga atau neraka. Mereka di alam barzakh sampai hari mereka dibangkitkan pada hari kiamat. Hal itu semua dijelaskan sebagai berikut:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (Al Mu’minuun 99-100)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW berrabda: “Ketika aku diisra’kan, aku bertemu Musa. (Lalu beliau menyifati/melukiskannya). Ternyata dia seorang lelaki yang tinggi kurus dan berombak rambutnya, seolah-olah dia seorang lelaki dari Syanu-ah. Aku juga bertemu Isa (beliau melukiskannya), ternyata dia berperawakan sedang, berkulit merah, seakan-akan baru keluar dari pemandian. Akupun bertemu Ibrahim. Akulah keturunannya yang paling mirip dengannya.” (HR Muslim)
Dari Samurah ibn Jundub, dia berkata: “Adalah Rasulullah SAW bersabda pada suatu pagi hari: “Sungguh tadi malam datang kepadaku dua orang (malaikat) yang datang, sungguh keduanya membangkitkan aku dan sungguh keduanya berkata kepadaku, dan aku pergi bersama keduanya. Dan sungguh kami mendatangi seorang laki-laki yang sedang tidur miring dan tiba-tiba (seorang laki-laki) yang lain berdiri di atas laki-laki (pertama) itu dengan (membawa) batu besar, tiba-tiba dia meluncurkan batu itu ke kepala, lalu batu itu menggelinding di sini, maka dia (laki-laki yang berdiri) membuntuti batu itu maka diambilnya, lalu dia tidak kembali kepadanya (laki-laki yang dihantam) hingga kepalanya sehat sebagaimana semula, kemudian dia kembali kepadanya lalu dia bertindak terhadapnya sepadan tindakannya pada kali pertama.” Beliau bersabda: “Aku bertanya kepada keduanya (malaikat Jibril dan Mikail): “Subhaanallah, apakah (urusan) dua orang itu (yang menghantam dengan batu dan yang dihantam)?” Keduanya berkata kepadaku: “Berangkatlah, berangkatlah!” Beliau bersabda: “Maka kami berangkat, lalu kami datang kepada seorang laki-laki yang terlentang dan tiba-tiba (laki-laki) yang lain berdiri di atasnya dengan (membawa) tusukan dari besi (seperti tusukan daging untuk digantungkan), dan tiba-tiba dia (orang yang berdiri) mendatangi satu belahan (separuh) wajahnya maka dia membelah sisi mulutnya sampai tengkuknya, tulang hidungnya sampai tengkuknya dan (membelah) matanya sampai tengkuknya.” Beliau bersabda: “Kemudian dia berpindah ke sisi (mulut) yang lain lalu dia bertindak terhadapnya sepadan tindakannya terhadap sisi yang pertama, maka dia belum rampung dari (pembelahan) sisi ini sehingga sisi itu sehat sebagaimana semula, kemudian dia (orang yang membelah) kembali kepadanya maka dia bertindak sepadan tindakannya pada kali pertama.” Beliau bersabda: “Aku bertanya: “Subhanallah, apakah(urusan) dua orang itu?” Beliau bersabda: “Keduanya (malaikat) itu berkata kepadaku: “Berangkatlah, berangkatlah!” Maka kami berangkat lalu kami mendatangi pada sepadan dapur. (Perawi berkata: “Maka aku menyangka bahwa beliau bersabda: “Maka tiba-tiba di dalamnya terdapat kegaduhan dan suarasuara.”) Lalu kami melihat (melongok) ke dalamnya, tiba-tiba di dalamnya adalah orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan telanjang dan tiba-tiba mereka ditimpa kobaran api dari bawah mereka. Maka ketika kobaran api itu menimpa mereka, mereka memekik.” Beliau bersabda: “Aku bertanya kepada keduanya: “Apakah (urusan dan keadaan) mereka itu?” Beliau bersabda: “Keduanya berkata kepadaku: “Berangkatlah, berangkatlah!” Beliau bersabda: “Maka kami berangkat, lalu kami datang pada sungai (aku/perawi menyangka bahwa beliau bersabda: “Merah seperti darah”) dan tiba-tiba di sungai itu terdapat seorang laki-laki perenang yang sedang berenang, dan tiba-tiba di tepi sungai itu terdapat seorang laki-laki yang mengumpulkan batu-batu yang banyak disandingnya, dan tiba-tiba perenang itu berenang. Kemudian laki-laki yang mengumpulkan batu di sanding itu datang lalu membuka mulutnya (perenang) maka dia menyuapkan batu kepadanya lalu perenang itu pergi (lagi) berenang, kemudian dia kembali kepadanya (pengumpul batu), ketika dia kembali kepadanya, maka dia membuka mulutnya lalu dia menyuapkan batu kepadanya.” Beliau bersabda: “Aku bertanya kepada keduanya: “Apakah (keadaan) dua orang itu?” Beliau bersabda: “Dua malaikat itu mengatakan kepadaku: “Pergilah, pergilah!” Beliau bersabda: “Maka kami berangkat, lalu kami datang pada seorang laki-laki yang tidak menyenangkan dalam pandangan sebagai pandangan yang paling tidak menyenangkan pada laki-laki yang pernah kamu lihat, tiba-tiba di sisinya terdapat api yang sedang dibetulkan dan dia lari-lari di sekeliling api itu.” Beliau bersabda: “Aku bertanya kepada keduanya: “Apakah (keadaan laki-laki) itu?” Beliau bersabda: “Keduanya berkata kepadaku: “Pergilah, pergilah!” Maka kami berangkat lalu kami datang pada taman yang pohon-pohonnya tinggi dan di sana terdapat semua bunga-bunga di musim semi, dan tiba-tiba di tengah taman itu terdapat seorang laki-laki yang tinggi di mana aku hampir tidak bisa melihat kepalanya karena ketinggiannya di atas (langit), dan tiba-tiba di sekeliling laki-laki terdapat anak-anak kecil sejumlah banyak yang tidak pernah aku melihatnya sama sekali.” Beliau bersabda: “Aku bertanya kepada keduanya: “Apakah itu? Apakah mereka (anak-anak) itu?” Beliau bersabda: “Maka keduanya berkata kepadaku: “Pergilah, pergilah!” Beliau bersabda: “Maka kami berangkat lalu kami sampai pada sebuah taman yang besar, sama sekali aku tidak pernah melihat taman sebesar itu pula seindah itu.” Beliau bersabda: “Keduanya berkata kepadaku: “Naiklah pada (pohon) itu!” Beliau bersabda: “Maka kami naik pada pohon itu lalu kami sampai pada kota yang dibangun dengan batu emas dan batu perak, lalu kami datang dipintu kota itu maka kami minta dibukakan, maka pintu itu dibuka untuk kami, lalu kami masuk pintu, maka kami disambut di dalamnya oleh orang-orang lelaki di mana separuh badan mereka adalah sebagai yang paling bagus dari yang pernah kamu melihat dan separoh (yang lain) sebagai yang paling buruk dari yang kamu melihat. Beliau bersabda: “Keduanya berkata kepada mereka: “Pergilah kalian dan turunlah kalian di sungai itu.” Beliau bersabda: “Dan tiba-tiba terdapat sebuah sungai yang melintang, mengalir seakan-akan airnya yang putih adalah air susu (murni), lalu mereka pergi dan menjatuhkan diri ke sungai itu. Kemudian mereka kembali pada kami dengan keadaan buruknya (pandangan) itu telah hilang dari mereka, maka mereka menjadi rupawan-rupawan yang paling bagus.” Beliau bersabda: “Keduanya berkata kepadaku: “(Kota) ini adalah surga ‘Aden dan itu adalah rumahmu.” Beliau bersabda: “Lalu penglihatanku memandangi ke atas, tiba-tiba istana bagai mega putih.” Beliau bersabda: “Keduanya berkata kepadaku: “Itu rumahmu.” Beliau bersabda: “Aku berkata kepada keduanya: “Semoga Allah memberkati kalian berdua. Biarkanlah aku maka aku masuk.” Keduanya berkata: “Adapun sekarang maka tidaklah boleh dan kamu (besok boleh) masuk padanya.” Beliau bersabda: “Aku berkata kepada keduanya: “Sungguh aku benar-benar telah melihat keajaiban sejak malam ini, maka apakah yang aku lihat itu?” Beliau bersabda: “Keduanya berkata kepadaku: “Ingat, sungguh kami hendak memberitakan kepadamu: Adapun laki-laki pertama yang kamu datang kepadanya di mana kepalanya dipecah dengan batu adalah laki-laki itu mengambil Al-Qur’an lalu mencampakkannya dan dia tidur dengan (meninggalkan) shalat fardhu. Adapun laki-laki yang kamu datang kepadanya sedang dibelah sisi mulutnya sampai tengkuknya, tulang hidungnya sampai tengkuknya dan matanya sampai tengkuknya, adalah laki-laki itu berangkat dari rumahnya dipagi hari maka dia berdusta dengan kedustaan yang sampai di ufuk. Adapun orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan telanjang yang di dalam sejenis bangunan dapur adalah mereka itu orang-orang lelaki pezina dan orang-orang perempuan pezina. Adapun laki-laki yang kamu datang kepadanya sedang berenang di sungai dan disuapi batu maka dia adalah pemakan riba. Adapun laki-laki yang tidak menyenangkan dalam pandangan yang di dekat api sedang membetulkannya dan dia lari-lari di lingkungannya adalah dia malaikat menjaga Jahanam. Adapun laki-laki yang tinggi di dalam taman adalah dia Ibrahim. Adapun anak-anak kecil yang berada di sekeliling dia adalah setiap bayi yang meninggal atas fitrah (kesucian iman).” Samurah (perawi) berkata: “Maka sebagian orang-orang Islam berkata: “Wahai Rasulullah, dan anak-anaknya kaum musyrik (termasuk)?” Maka Rasulullah saw menjawab: “Dan anak-anaknya kaum musyrik.” Dan adapun kaum yang separuh dari mereka bagus dan separuh dari mereka buruk, adalah mereka itu kaum yang mencampur perbuatan baik dengan perbuatan buruk. Semoga Allah melewatkan (mengampun dosa) mereka.” (HR Bukhar)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah melihat surga dan neraka?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak pernah melihat surga atau neraka. Rasulullah SAW melakukan Israa’ Mi’raj hingga sampai ke tempat yang paling tinggi di atas lagit ke tujuh yaitu Sidratul Muntaha tempat dimana beliau melihat Jibril dalam bentuk (rupa) aslinya. Sidratul Muntaha itu dekat dengan surga, itu menunjukkan surga yang seluas langit dan bumi tersebut berada di atas langit ke tujuh atau di atas Sidratul Muntaha. Rasulullah SAW melihat keadaan di Sidratul Muntaha ketika itu sebagai berikut:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. (Al Baqarah 29)
Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al Hadiid 21)
Hatinya (Muhammad) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (Musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya (Muhammad)? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (An Najm 11-18)
Dari Anas bin Malik, menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Ka’bah: “Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul Muntaha. Ternyata dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul Muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskannya, karena sangat indahnya.” (HR Muslim)
Semua perkara ghaib yang diperlihatkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW itu merupakan pengetahuan yang dijelaskan dalam Al Qur’an agar beliau mengetahuinya, berilmu dan beriman. Dan semua itu akan memudahkan beliau dalam menjelaskan perkara-perkara yang ghaib yang terdapat dalam Al Qur’an kepada manusia supaya mereka juga menjadi berilmu dan beriman.”
Wallahu a’lam.