Dialog Seri 17: 5
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan menipu manusia dengan fitnah dan bid’ah?”
Mudariszi: “Allah SWT peringatkan manusia yang menjalani hidupnya di dunia tentang musuhnya yaitu syaitan melalui firman-Nya ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Syaitan memperdayakan manusia dengan kehidupan dunia karena syaitan mengetahui Allah SWT menjadikan manusia seperti firman-Nya berikut ini dan manusia tidak dapat menahan nafsunya:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan-Nya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu.” (HR Muslim)
Syaitan lalu membisiki (menipu) manusia dengan janji-janji manis. Orang-orang yang beriman tipis dan tidak beriman menyukai janji-janji syaitan hingga mereka berusaha untuk mencapai janji-janji syaitan itu walaupun dengan jalan-jalan yang dilarang-Nya. Allah SWT berfirman:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (Al An’aam 113)
Di antara mereka ada yang mencapai janji-janji syaitan itu dengan cepat atau lambat. Syaitan lalu menipu mereka lagi dengan membuat mereka menyukainya hingga akhirnya mereka menganggap perbuatan buruknya itu sebagai perbuatan yang baik. Karena mereka seringkali melakukan perbuatan yang dilarang-Nya, mereka berarti telah melupakan Allah SWT dan mengikuti syaitan. Itu menjadikan mereka lalu tidak ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). (Ar Ra’d 33)
Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)
Mereka menjadi kafir karena menjalani hidupnya dengan kerap melakukan perbuatan yang melanggar perintah-Nya. Mereka menyukai kehidupan dunia dan tidak memperdulikan keadaannya di akhirat karena menjalani hidupnya tidak di jalan-Nya yang lurus hingga menjadi sesat. Allah SWT berfirman:
Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil. (Muhammad 3)
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insaan 27)
Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk. (An Nahl 60)
Karena mereka mengikuti syaitan hingga melupakan Allah SWT, maka mereka tidak lagi mengetahui tentang Allah SWT. Akibatnya mereka memiliki sifat-sifat yang buruk karena syaitan yang diikutinya itu selalu menyuruh kepada kejahatan. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)
Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad 2)
Contoh orang-orang yang tertipu oleh syaitan hingga mereka memilih kehidupan dunia dan menjadi kafir yaitu Ahli Kitab, sebagai berikut:
Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al A’raaf 175-176)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka. Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh. (Al Baqarah 174-176)
Ahli Kitab (dalam firman-Nya di atas) telah melupakan atau meninggalkan Allah SWT dan ayat-ayat-Nya karena menyukai kehidupan dunia sehingga mereka tidak lagi mengetahui Dia Tuhannya Yang Maha Esa. Mungkin mereka teringat Tuhannya satu waktu atau mereka mengatakan percaya kepada Tuhan, tapi mereka tidak mengenal-Nya.”
Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT Tuhan manusia dan agama-Nya itu?”
Mudariszi: “Untuk mengetahui Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa (tauhid) dan agama-Nya agama tauhid, penjelasan diuraikan dengan: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa sifat. Penjelasan itu bukan berarti tauhid ada tiga, tapi uraian tersebut hanya untuk memudahkan dalam memahami tauhid, yaitu Allah SWT itu Esa. Karena syaitan menipu manusia dengan berbagai bisikan (tipuan) tentang Allah SWT yang ghaib agar manusia menyekutukan-Nya. Allah SWT berfirman:
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (Maryam 65)
Firman-Nya di atas yang menjelaskan bahwa Allah SWT Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya itu adalah tauhid rububiyah, sedangkan sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya itu adalah tauhid uluhiyah, dan apakah ada seorang yang sama dengan Dia yang patut disembah itu adalah tauhid asma wa sifat.”
Tilmidzi: “Bagaimana penjelasan tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa sifat tersebut?”
Mudariszi: “Tauhid rububiyah dijelaskan melalui firman-Nya ini:
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. (Asy Syuura 29)
Sehingga, semua ciptaan Allah itu merupakan kepunyaan-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. (Al Maa-idah 120)
Semua ciptaan dan kepunyaan Allah itu dipelihara dan diurus oleh-Nya, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 3)
Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. (Al Baqarah 255)
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. (Al Hadiid 4)
Semua penjelasan Allah di atas itu tauhid rububiyah, dan Allah SWT itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)
Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu. (Al Mu’min 62)
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nisaa’ 171)
Semua makhluk ciptaan-Nya itu menyembah Allah SWT dengan mengikuti agama-Nya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Ar Ra’d 15)
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)
Manusia salah satu makhluk ciptaan-Nya diwajibkan-Nya untuk menyembah-Nya dengan taat mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.” Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (Az Zumar 11-14)
Penjelasan Allah di atas itu tauhid uluhiyah. Sedangkan tauhid asma wa sifat itu tauhid tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Tuhan semesta alam. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Dia-lah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaa-ul husna (nama-nama yang baik). (Thaahaa 8)
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dia-lah Allah Yang Maha Perkasa lagi Yang Maha Bijaksana. (Al Hasyr 22-24)
Timidzi: “Lalu bagaimana syaitan menipu manusia tentang Allah SWT Yang Maha Esa (tauhid)?”
Mudariszi: “Syaitan menipu manusia tentang Allah SWT dengan membisikinya ada tuhan selain Dia dalam penciptaan langit dan bumi. Sebagian manusia mempercayainya dan menyembah tuhan itu. Mereka berarti telah menyekutukan-Nya. Allah SWT lalu peringatkan mereka melalui firman-Nya ini:
Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) sebesar zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’ 22)
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi itu atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al Ahqaaf 4)
Syaitan menipu manusia lagi dengan membisiki mereka Tuhan beranak. Sebagian manusia mempercayainya dan di antara mereka ada yang menjadikan hamba-Nya sebagai anak Tuhan. Mereka berarti telah menyekutukan-Nya. Allah SWT lalu peringatkan melalui firman-Nya ini:
Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (Ash Shaaffaat 151-152)
Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. (Az Zukhruf 15)
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah”, dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah 30)
Mereka menetapkan Allah SWT beranak tanpa ilmu dan bukti tapi hanya mengikuti persangkaannya. Allah SWT berfirman:
Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui? (Yunus 68)
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)
Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (ke-Esa-an) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman 20)
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya. (Al Hajj 8)
Allah SWT lalu menjelaskan tentang Dia melalui firman-Nya ini:
Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Al Jin 3)
Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. (Al Ikhlash 3)
Syaitan menipu lagi manusia dengan membisikinya agar mengikuti adat (tradisi) atau suku atau golongan yang semua itu membuat sebagian manusia mengutamakan adat (tradisi) atau golongannya. Mereka berarti telah menjadikan adat atau golongannya sebagai thaghut (tuhan-tuhan selain Dia) karena lebih utama daripada-Nya. Mereka berarti telah menyekutukan-Nya dan Allah SWT peringatkan melalui firman-Nya ini:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al Maa-idah 104)
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti Bapak-Bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Luqman 21)
Syaitan menipu manusia dengan membisikinya agar membaca ayat-ayat-Nya untuk mengetahui Allah SWT. Sebagian manusia lalu membacanya hingga mereka menafsirkan ayat-ayat-Nya itu mengikuti hawa nafsunya. Misalnya mereka membaca ayat-ayat-Nya ini:
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. (As Sajdah 4)
Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?” (Shaad 75)
Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar Rahmaan 27)
Syaitan membuat mereka seolah-olah telah mengetahui Allah SWT. Mereka menafsirkan ayat-ayat-Nya di atas itu hingga mereka menyamakan Dia dengan makhluk-Nya di bumi. Tafsir mereka itu melebar hingga menyamakan kehidupan di luar langit seperti kehidupan di langit dan di bumi. Padahal Allah SWT menjelaskan ayat-ayat-Nya itu hanya untuk memudahkan manusia dalam memahami Dia yang ghaib dan memahami keberadaan-Nya tanpa perlu ada tafsiran lagi, yaitu melalui firman-Nya berikut ini:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. (Al An’aam 103)
Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (An Naba’ 37)
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (Al Ikhlash 2)
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al Ikhlash 4)
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (Asy Syuura 11)
Dan Allah SWT telah peringatkan manusia agar bertanya kepada Rasulullah SAW untuk mengetahui tentang Dia, ayat-ayat-Nya dan agama-Nya, melalui firman-Nya ini:
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dia-lah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (Al Furqaan 59)
Di antara orang-orang yang menafsirkan ayat-ayat-Nya dengan mengikuti hawa nafsunya itu, ada yang sampai mengatakan dirinya mencintai Allah SWT, atau dirinya suci, atau dirinya wali Allah, hingga menyebut nama-nama-Nya sesuka mereka. Padahal Allah SWT telah menjelaskan semua itu melalui firman-Nya berikut ini:
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali ‘Imran 31)
Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An Najm 32)
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus 62-63)
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al A’raaf 180)
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan menipu orang-orang yang menafsirkan ayat-ayat-Nya tentang Allah SWT itu?”
Mudariszi: “Syaitan mengetahui jika seseorang mempunyai suatu keinginan. Syaitan mengetahui orang-orang yang menafsirkan ayat-ayat-Nya tentang Allah SWT menginginkan kebesaran bagi dirinya atau lain-lain keinginan dari ilmu agamanya. Syaitan membisikinya untuk mencapai keinginannya yaitu dengan menafsirkan ayat-ayat-Nya tersebut dan memperdebatkannya dengan mengikuti hawa nafsunya. Allah SWT berfirman:
Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. (Al Hajj 52)
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. (Al Mu’min 56)
Jika keinginannya berhasil dicapai, mereka merasa benar dan bangga karena pendapatnya dipercaya dan dibenarkan oleh orang-orang yang tidak mengerti tentang Allah SWT dan ayat-ayat-Nya. Agar tetap (terus) dipercaya oleh orang-orang, mereka lalu mengatakan telah mendapat petunjuk dari Allah SWT. Padahal itu bukan petunjuk dari Allah SWT tapi dari syaitan yang membuat mereka dapat berbuat hal tersebut tanpa diketahuinya. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)
Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 39)
Pendapat mereka tentang Allah SWT dan ayat-ayat-Nya itu bukan pertunjuk dari Allah SWT, karena Rasulullah SAW menjelaskan orang-orang yang menafsirkan ayat-ayat-Nya tanpa ilmu dan hanya mengikuti pendapatnya sendiri (mengikuti hawa nafsunya), sebagai berikut:
Dari lbnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengatakan tentang Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)
Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa mengatakan di dalam Al Qur’an dengan pendapatnya (sendiri), maka sediakanlah tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)
Allah SWT telah peringatkan manusia untuk berhati-hati terhadap orang-orang yang menafsirkan ayat-ayat-Nya yang hanya dipahami oleh Dia saja, dan Dia tidak perintahkan manusia harus mengetahui ayat-ayat-Nya tersebut, sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW membaca firman Allah: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (surat Ali Imran ayat 7). Setelah membaca firman tersebut Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari Al Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang telah dinamai oleh Allah. Maka waspadalah terhadap mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan menipu orang-orang yang menafsirkan ayat-ayat-Nya tentang Allah SWT hingga mereka menyekutukan-Nya?”
Mudariszi: “Orang-orang yang menafsirkan dan memperdebatkan ayat-ayat-Nya tentang Allah SWT dengan mengikuti hawa nafsunya karena ilmu agamanya yang terbatas, maka syaitan telah membuat mereka menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya karena selalu diikutinya. Dengan demikian mereka telah menyekutukan-Nya dengan hawa nafsunya. Mereka menjadi orang-orang yang sulit dinasehati karena syaitan telah menguasainya melalui hawa nafsunya untuk mencapai keinginannya. Allah SWT berfirman:
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Al Furqaan 43)
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al Mujaadilah 19)
Orang-orang yang mempercayai mereka tentang Allah SWT dan ayat-ayat-Nya lalu menjadi pengikutnya. Syaitan lalu membisiki mereka agar membentuk golongannya masing-masing karena sudah banyak pengikut supaya keinginannya segera tercapai. Syaitan menipu mereka lagi agar berbuat bid’ah dan menetapkan peraturan golongannya dan jalan-jalannya dalam beragama. Mereka melakukan semua itu mengikuti hawa nafsunya. Mereka mudah berbuat bid’ah karena mereka terbiasa menafsirkan ayat-ayat-Nya. Agama-Nya dan syariat agama-Nya yang diajarkan oleh Rasul-Rasul-Nya adalah agama tauhid dan lurus, tapi dirusak oleh mereka dengan golongan dan peraturannya dalam beragama. Allah SWT berfirman:
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-54)
Jika pengikut golongan itu menjalani hidupnya dengan mengikuti syariat (peraturan) golongannya, maka mereka berarti tidak mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Rasul-Nya dan syariat agama-Nya. Mereka berarti lebih mengutamakan dan mencintai golongannya daripada Allah SWT dan agama-Nya. Dengan demikian mereka menyekutukan-Nya dengan golongannya seperti mereka menyekutukan-Nya dengan hawa nafsunya. Mereka menjadi sesat karena menjalani hidupnya tidak di jalan-Nya lurus akibat mengikuti syariat dan jalan-jalan golongannya. Allah SWT peringatkan mereka untuk bertaubat melalui firman-Nya ini:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al Baqarah 165)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar Ruum 30-32)
Tilmidzi: “Apakah syaitan menipu manusia agar mereka tidak menjalani hidupnya di jalan-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Karena syaitan mengetahui agama Islam adalah agama-Nya yang menjelaskan jalan-Nya yang lurus untuk manusia ketika mereka menjalani hidupnya agar selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT tidak menghendaki agama-Nya Islam berubah (rusak) seperti berubahnya agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa, sehingga banyak manusia ketika itu menjadi sesat karena menjalani hidupnya tidak di jalan-Nya yang lurus. Karena itu Allah SWT dan Rasulullah SAW memperingatkan umat Islam sebagai berikut:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Ali ‘Imran 103)
Dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mempersekutukan umatku (atau bersabda: umat Muhammad) dalam kesesatan. Tangan Allah itu atas jama’ah (persatuan) dan barangsiapa memisahkan dari (jama’ah umat Islam), maka dia memisahkan diri di dalam neraka.” (HR Tirmidzi)
Kemudian Rasulullah SAW memperingatkannya umat Islam untuk mengikuti Al Qur’an, As Sunnah dan para sahabat beliau agar mereka selamat dari fitnah dan bid’ah dari syaitan, sebagai berikut:
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: “Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore!” Kala itu beliau bersabda: “Masa aku diutus dan hari kiamat itu hanyalah seperti kedua jari ini!” Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: “Sesudah apa yang tersebut, maka ketahuilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang disebut bid’ah). Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku tentu dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)
Dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata: “Rasulullah SAW menasehati kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh suatu nasehat yang penting yang mana mata menangis dan hati bergetar karenanya. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ini adalah nasehat orang yang akan meninggalkan, maka dalam hal apa saja engkau mengamanatkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu), karena sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kamu tentu akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya perkara-perkara yang baru (bid’ah) itu sesat. Barangsiapa di antara kamu menjumpai hal itu, maka ia harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus yang diberi petunjuk, peganglah sunnah itu dengan kuat-kuat.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah syaitan menipu umat Islam di masa Rasulullah?”
Mudariszi: “Syaitan juga menipu umat Islam di masa Rasulullah SAW hingga mereka memperdebatkan ayat-ayat Al Qur’an. Rasulullah SAW menegur mereka sebagai berikut:
Dari Abu Imran Al Jauni, dia berkata: “Abdullah bin Rabbah Al Anshari berkirim surat kepadaku yang isinya memberitahukan, bahwa Abdullah bin Amer pernah mengatakan: “Suatu pagi aku bersama dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang berselisih mengenai suatu ayat. Rasulullah SAW keluar menemui kami dengan wajah kelihatan murka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadi binasa adalah disebabkan mereka suka berselisih mengenai Al Kitab.” (HR Muslim)
Dari Umar, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah melampaui batas dalam memuji aku, sebagaimana orang-orang Nasrani melampaui batas dalam memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah: “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR Bukhari)
Dari Jarir bin Abdullah, dia berkata: “Beberapa orang dusun datang kepada Rasulullah SAW. Mereka sebenarnya adalah orang-orang sufi. Tetapi karena satu kebutuhan yang menimpa mereka, mereka melakukan suatu hal yang tidak patut bagi predikatnya sebagai sufi, dan hal itu dilihat sendiri oleh Rasulullah SAW. Beliau lalu menganjurkan para sahabatnya untuk memberikan sedekah. Namun para sahabat enggan melakukannya, sehingga tergambar lewat wajah Rasulullah SAW beliau merasa sedih. Kemudian datang seorang lelaki dari kaum Anshar dengan membawa setumpuk uang, lalu disusul yang lain, kemudian seterusnya sampai terlihat kegembiraan pada wajah beliau. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mensunnahkan suatu sunnah kebajikan di dalam Islam, lalu sunnah itu di amalkan sesudahnya, maka dicatat untuknya seperti pahala orang yang melakukannya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mensunnahkan suatu sunnah keburukan di dalam Islam, lalu sunnah itu diamalkan sesudahnya, maka ditimpakan padanya seperti dosa orang-orang yang melakukannya, tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa mereka.” (HR Muslim)
Syaitan menipu umat Islam hingga mereka berlebih-lebihan dalam beribadah (tidak seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW), dan beliau menegurnya sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Apabila Rasulullah menyuruh mereka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampuan. Maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan Engkau wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni engkau terhadap dosa yang terdahulu dan terkemudian.” Lalu beliau marah sehingga kemarahan itu diketahui (tampak) di wajah beliau, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling tahu tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah berbuat sesuatu pekerjaan, namun beliau kemudian memberikan keringanan. Ketika hal itu didengar oleh sebagian dari sahabat-sahabatnya, mereka seolah-olah tidak suka pada tindakan beliau tersebut dan berlagak sok tahu. Reaksi mereka itu sampai kepada beliau. Beliau lalu berdiri dan berpidato: “Apa pedulinya orang-orang itu? Mereka mendengar berita tentang diriku yang memberikan kemurahan terhadap sesuatu. Mereka lalu tidak menyukainya dan berlagak sok tahu. Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling tahu dan paling bertakwa kepada Allah daripada mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah syaitan menipu umat Islam agar terpecah dan tidak menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus seperti menipu Ahli Kitab?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang umat Islam setelah beliau dan para sahabat wafat, sebagai berikut:
Dari Abu Burdah dari Ayahnya, dia berkata: “Selesai sembahyang Maghrib bersama dengan Rasulullah SAW, kami berkata: “Kita duduk disini saja menunggu supaya kita bisa bersembahyang Isya bersama dengan beliau lagi.” Kami pun duduk. Tak lama kemudian keluarlah Rasulullah SAW bergabung dengan kami. Beliau bertanya: “Kalian masih disini?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tadi ikut sembahyang Maghrib bersama Anda. Kami duduk menunggu disini supaya bisa bersembahyang Isya sekalian bersama Anda lagi.” Rasulullah SAW bersabda: “Bagus dan benar kalian.” Selanjutnya beliau mengangkat kepalanya ke atas langit lama sekali. Lalu beliau bersabda: “Bintang-bintang adalah jaminan bagi keberadaan langit. Apabila bintang-bintang itu sudah tidak ada, maka kiamatlah yang terjadi. Aku adalah jaminan keamanan bagi sahabat-sahabatku. Apabila aku sudah tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka. Dan para sahabatku adalah jaminan keamanan bagi ummatku. Apabila para sahabatku tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka.” (HR Muslim)
Fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan jama’ah umat Islam (dalam sunnah Rasulullah di atas) setelah para sahabat Rasulullah wafat itu datang dari syaitan. Syaitan menipu umat Islam seperti syaitan menipu Ahli Kitab. Bahkan syaitan lebih mudah menipu umat Islam karena dibantu oleh syaitan-syaitan dari golongan manusia yang terdiri dari orang-orang musyrik, Ahli Kitab dan orang-orang munafik. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)
Di antara orang-orang kafir dan fasik yang membantu syaitan yaitu Ahli Kitab yang menghalang-halangi umat Islam dari jalan-Nya yang lurus atau mengembalikan umat Islam kepada kekafiran. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)
Di antara umat Islam itu ada orang-orang munafik yang tidak menyukai agama Islam dan menyukai kehidupan dunia. Mereka melupakan Allah SWT dan meninggalkan ayat-ayat Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
Orang-orang munafik itu seperti Ahli Kitab yang fasik dan kafir. Kedua golongan itu bekerja sama dalam menyesatkan umat Islam dengan menghalang-halanginya dari agama Islam dan jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” (Al Maa-idah 52)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umat Islam akan mengikuti orang-orang Yahudi dan Nasrani tahap demi tahap, sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekalipun mereka memasuki sebuah liang biawak tentu kalian pun tetap mengikutinya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari)
Umat Islam yang terpengaruh oleh syaitan hingga mengikuti orang-orang Yahudi atau Nasrani, maka syaitan lalu membuat mereka mudah berangan-angan hingga mudah ditipu oleh syaitan dengan menyukai kehidupan dunia atau mengikuti bid’ah atau golongan. Sehingga umat Islam terpecah seperti terpecahnya umat Nabi Musa (Yahudi) dan umat Nabi ‘Isa (Nasrani). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Muhammad 25)
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ummat Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tujuh puluh dua golongan, dan ummat Nashara terpecah belah seperti ummat Yahudi, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR Tirmidzi)
Satu golongan dari umat Islam yang tidak di neraka itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh akan menimpa atas ummatku apa yang telah menimpa atas Bani Israil (sejajar) satu sandal dengan satu sandal, sehingga jika dari mereka ada orang yang menyetubuhi Ibunya secara terang-terangan, maka dari umatku ada orang yang berbuat demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Abdullah bin Amr bertanya: “Siapa golongan itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Golongan yang (berpegang teguh dengan) apa yang aku lakukan beserta sahabatku.” (HR Tirmidzi)
Allah SWT menjelaskan orang-orang yang memasuki surga itu umat Islam yang menjaga (membela) agama-Nya Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan mereka menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus, yaitu sebagai berikut:
Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (Qaaf 32-34)
Wallahu a’lam.