Bagaimana Allah SWT Mengazab (Binasakan) Kaum Nabi Luth?

Dialog Seri 20: 16

 

Tilmidzi: “Bagaimana para malaikat mendatangi kota Sodom negeri kaum Nabi Luth?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan ketika para malaikat yang berupa manusia sempurna berbentuk laki-laki itu mendatangi kota Sodom negeri kaum Nabi Luth. Para malaikat itu mendatangi rumah Nabi Luth, tapi mereka tidak dikenal oleh Nabi Luth. Kejadian itu membuat Nabi Luth menjadi susah karena perilaku kaumnya. Allah SWT berfirman:

 

Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth beserta pengikut-pengikutnya. (Al Hijr 61)

 

Ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.(Al Hijr 62)

 

Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit. (Huud 77)

 

Para malaikat mengetahui kegelisahan Nabi Luth sehingga mereka menenangkannya dengan menjelaskan tujuan kedatangannya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.(Al Hijr 63-65)

 

Penjelasan malaikat itu membuat Nabi Luth mengetahui bahwa kaumnya akan diazab-Nya, dan itu berarti permintaan beliau dikabulkan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. (Al Hijr 66)

 

Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. (Al Qamar 38)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kaum Nabi Luth yang tahu Nabi Luth didatangi oleh laki-laki?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Luth yang menyukai sesama jenis dan mengetahui ada laki-laki ke rumah Nabi Luth, lalu mereka mendatangi rumah Nabi Luth. Allah SWT berfirman:

 

Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. (Al Hijr 67)

 

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. (Huud 78)

 

Nabi Luth mengetahui maksud kedatangan kaumnya, karena itu beliau melarang mereka dari mendekati tamu-tamunya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku, maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina. (Al Hijr 68-69)

 

Bahkan Nabi Luth menawarkan puteri-puterinya agar mereka tidak mengganggu tamu-tamunya yang membuatnya malu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeri)ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (Huud 78)

 

Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri)ku, (kawinilah dengan mereka) jika kamu hendak berbuat (secara yang halal). (Al Hijr 71)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Luth menuruti permintaan Nabi Luth itu?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Luth menolak permintaan Nabi Luth. Allah SWT berfirman:

 

Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (Al Hijr 70)

 

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.(Huud 79)

 

Kaum Nabi Luth yang menyukai sesama jenis ketika itu telah dikuasai oleh hawa nafsunya setelah melihat wajah tamu-tamu Nabi Luth, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan). (Al Hijr 72)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana dengan Nabi Luth sendiri ketika menghadapi keadaan itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang Nabi Luth ketika itu sebagai berikut:

 

Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka. (Al ‘Ankabuut 33)

 

Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat, (tentu aku lakukan).(Huud 80)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Luth berhasil menguasai tamu-tamu tersebut?”

 

Mudariszi: “Para malaikat yang mengetahui nafsu keinginan kaum Nabi Luth itu, lalu menyuruh Nabi Luth untuk segera meninggalkan rumahnya dengan membawa bersama keluarganya kecuali isterinya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan mereka berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. (Al ‘Ankabuut 33-34)

 

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (Huud 81)

 

Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu. (Al Hijr 63-65)

 

Setelah menjelaskan kepada Nabi Luth, para malaikat itu lalu mengazab kaum Nabi Luth. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al Qamar 37)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Luth, keluarganya dan orang-orang beriman lalu pergi ke tempat yang diperintahkan-Nya?”

 

Mudariszi: “Setelah itu, Nabi Luth bersama keluarganya dan orang-orang beriman pergi meninggalkan negerinya ke tempat yang diperintahkan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. (Adz Dzaariyaat 35-36)

 

Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Al Qamar 34-35)

 

Allah SWT selamatkan Nabi Luth dan keluarganya kecuali isterinya, sebagai berikut

 

 

(Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua, kecuali seorang perempuan tua (isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal. (Ash Shaaffaat 134-135)

 

Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (Al A’raaf 83)

 

Allah SWT tidak menyelamatkan isteri Nabi Luth karena dia mengkhianati Nabi Luth ketika beliau menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya. Isteri Nabi Luth bukannya membantu suaminya yang seorang Rasul, tapi justru memihak kepada kaumnya yang berbuat keji, sehingga dia termasuk mendustakan ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). (At Tahriim 10)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengazab  kaum Nabi Luth yang kafir itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (Al Hijr 73-74)

 

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. (Huud 82-83)

 

Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka). (Al Qamar 34)

 

Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. (Asy Syu’araa’ 173)

 

Allah SWT memusnahkan negeri itu dan semua kaum Nabi Luth yang kafir dengan azab yang sangat keras agar perbuatan mereka yang sangat keji itu tidak ditiru (dilakukan) oleh orang-orang yang lahir kemudian. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (Al A’raaf 84)

 

Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab yang besar yang menimpanya. (An Najm 53-54)

 

Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al Qamar 39)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meninggalkan bekas-bekas dari azab-Nya tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (Asy Syu’araa’ 174)

 

Sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal. (Al ‘Ankabuut 35)

 

Bukti-bukti yang nyata dalam firman-Nya di atas itu adalah bukti-bukti dari bekas-bekas azab-Nya atas kaum Nabi Luth yang kafir itu, dan manusia dapat menyaksikan bekas-bekas azab-Nya itu sampai sekarang. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). (Al Hijr 76)

 

Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Ash Shaaffaat 137-138)

 

Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekkah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu? (Al Furqaan 40)

 

Bukti-bukti nyata atau bekas-bekas azab-Nya itu ditinggalkan-Nya untuk orang-orang yang lahir kemudian agar mereka berfikir untuk tidak melakukan perbuatan keji tersebut dan agar mereka beriman kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. (Al Hijr 75)

 

Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut siksa yang pedih. (Adz Dzaariyaat 37)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meninggikan derajat Nabi Luth?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:

 

Dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. Dan Kami masukkan dia kedalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh. (Al Anbiyaa’ 74-75)

 

Dan Isma’il, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (Al An’aam 86)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply