Apakah Rasulullah SAW Pemberi Peringatan Bagi Semesta Alam?

Dialog Seri 20: 59

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an itu peringatan untuk manusia saja?”

 

Mudariszi: “Al Qur’an bukan peringatan untuk manusia saja, tapi juga peringatan bagi:

 

Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Shaad 87)

 

Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat. (Al An’aam 90)

 

Tilmidzi: “Jika Al Qur’an diberikan kepada Rasulullah SAW, maka apakah Allah SWT menugaskan beliau untuk memberi peringatan kepada semesta alam?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. (Al Furqaan 1-2)

 

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Shaad 65-66)

 

Allah SWT menjelaskan Al Qur’an tersebut sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (Asy Syu’araa’ 192)

 

Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu telah dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. (Ad Dukhaan 2-5)

 

Dan Al Qur’an ini adalah suatu Kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. (Al Anbiyaa’ 50)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW itu sebagai pemberi peringatan dan rahmat bagi semesta alam?”

 

Mudariszi: “Semesta alam adalah semua ciptaan Allah yang ada di dunia dan di akhirat dan semua itu merupakan milik-Nya. Contoh ciptaan-Nya di dunia, yaitu langit dan bumi dan semua apa yang ada di langit dan di bumi. Contoh makhluk ciptaan-Nya di akhirat, yaitu surga dan neraka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu. (Al Mu’min 62)

 

Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)

 

Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)

 

Semua yang ada di langit dan di bumi itu mengikuti agama-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia. Mereka semua bertasbih dan bersujud menyembah Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)

 

Manusia diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi dengan tujuan sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (Al Baqarah 30)

 

Sebagai khalifah yang melaksanakan amanat di bumi, Allah SWT lalu menetapkan bagi manusia, sebagai berikut:

 

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)

 

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)

 

Selain itu, sebagai khalifah, manusia juga diberikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya) oleh Allah SWT yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya dari golongan manusia. Karena semua yang ada di langit dan di bumi ditundukkan-Nya untuk manusia, maka ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) yang Dia turunkan untuk manusia itu juga untuk mereka, karena semuanya menjalani hidup di semesta alam yang sama dan saling bergantungan. Sehingga Al Qur’an itu menjadi termasuk untuk semua yang ada di langit dan di bumi atau yang ada di semesta alam, dan menjadi peringatan bagi semesta alam. Dan Rasulullah SAW yang menerima Al Qur’an dan menjelaskannya kepada semua yang ada di semesta alam itu dengan sendirinya menjadikan beliau sebagai rahmat bagi semesta alam, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Anbiyaa’ 107)

 

Tilmidzi: “Apakah maksud dari Al Qur’an itu peringatan untuk segala umat?”

 

Mudariszi: “Di antara semua ciptaan dan milik Allah di semesta alam atau di langit dan di bumi itu, ada makhluk-makhluk yang hidup di langit dan di bumi, baik makhluk yang nyata maupun yang ghaib. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Allah Pencipta langit dan bumi. (Al Baqarah 117)

 

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)

 

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)

 

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi. (Huud 123)

 

Contoh makhluk-makhluk yang nyata di bumi, yaitu manusia, binatang. Dan contoh makhluk-makhluk yang ghaib di langit, yaitu malaikat, jin. Sebagai ciptaan-Nya, semua makhluk itu tidak berbeda, yaitu sebagai umat makhluk-makhluk ciptaan-Nya, contoh umat manusia atau umat binatang atau umat malaikat atau umat jin. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun. (Al An’aam 38)

 

Semua makhluk itu mengikuti agama Allah ketika menjalani hidupnya di dunia. Mereka bertasbih dan bersujud menyembah Allah SWT menurut caranya masing-masing. Tapi manusia tidak mengetahui cara sembahyang mereka. Allah SWT berfirman:

 

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)

 

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. (An Nuur 41)

 

Karena semua makhluk mengikuti agama-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an, dan Al Qur’an menjelaskan kebenaran untuk semua makhluk, seperti firman-Nya ini:

 

Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. (Al A’raaf 203)

 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran. (Al Maa-idah 48)

 

Maka semua umat makhluk-makhluk itu menjadi termasuk yang diperingatkan dengan Al Qur’an. Dan mereka pada hari kiamat akan dihadirkan oleh Allah SWT sebagai saksi ketika Allah SWT menghisab perbuatan manusia di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Huud 103)

 

Tilmidzi: “Apakah ada makhluk ciptaan-Nya yang tidak mau tunduk kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Ada, tapi yang tidak mau tuntuk pada manusia itu hanya sebagian dari makhluk ciptaan-Nya yaitu Iblis dari golongan (umat) jin. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)

 

Tilmidzi: “Apakah penyebab Iblis tidak mau tunduk atau sujud kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. (Al A’raaf 12)

 

Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shaad 75)

 

Karena perbuatannya itu, Iblis lalu menjadi termasuk ke dalam golongan orang-orang kafir, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al Baqarah 34)

 

Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (Shaad 73-74)

 

Kemudian Iblis tidak memohon ampunan kepada-Nya tapi Iblis malah memohon agar kematiannya ditangguhkan hingga kiamat supaya Iblis dapat menyesatkan manusia dan lalu menjadi bersama-sama dengan Iblis di neraka. Allah SWT berfirman”

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (Shaad 82-83)

 

Dalam menjalankan tujuannya itu, Iblis akan menggunakan pengikut-pengikutnya yang dari golongan jin dan yang dari golongan manusia. Iblis akan menyesatkan bukan umat manusia saja tapi juga umat jin untuk menjadi pengikutnya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT tidak membantu manusia dari penyesatan Iblis?”

 

Mudariszi: “Allah SWT berjanji akan menjaga manusia dari penyesatan Iblis:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Dia akan menjaga orang-orang yang mengikuti-Nya atau orang-orang yang beriman. Dengan demikian Dia tidak akan menjaga orang-orang yang mengikuti Iblis yaitu orang-orang kafir. Kemudian Allah SWT menjelaskan sebagai berikut:

 

Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga. (Al Israa’ 63-65)

 

Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (Shaad 84-85)

 

Dan Allah SWT lalu memperingatkan manusia melalui firman-Nya ini:

 

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply