Bagaimana Bisikan Syaitan Dapat Menyesatkan Manusia?

Dialog Seri 20: 58

 

Tilmidzi: “Bagaimana syaitan itu dapat membuat manusia hingga menyukai dunia dan mengingkari Allah SWT (mendustakan ayat-ayat-Nya, agama-Nya dan jalan-Nya)?”

 

Mudariszi: “Seperti Allah SWT yang ghaib (tidak terlihat), maka syaitan juga ghaib oleh manusia, tapi syaitan dapat melihat manusia. Allah SWT berfirman:

 

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan Ibu Bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

 

Sekalipun Tuhan itu ghaib, tapi Allah SWT menurunkan keterangan-Nya atau ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) kepada manusia melalui Rasul-Nya yang dari golongan manusia. Akibatnya manusia memiliki keterangan dan bukti yang jelas dari Tuhannya (yang ghaib) hingga mereka dapat mengetahui yang benar dan yang salah ketika menjalani hidupnya. Sedangkan syaitan (yang juga ghaib) tidak menurunkan bukti (keterangan) apapun kecuali hanya bisikan-bisikan yang berupa janji-janji manis ke hati manusia. Sehingga manusia tidak dapat mengetahui kebenaran dari bisikan syaitan itu. Allah SWT berfirman:

 

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)

 

Dengan bisikan-bisikan yang berupa janji-janji manis itulah syaitan menipu (menyesatkan) manusia hingga sebagian dari manusia mengikuti syaitan dengan mengingkari Allah SWT dan ayat-ayat-Nya (agama-Nya dan jalan-Nya) ketika menjalani hidupnya hingga mereka berdosa.”

 

Tilmidzi: “Apakah bisikan syaitan berupa janji-janji manis kepada manusia itu termasuk jalan-jalan untuk mencapai janji-janji tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)

 

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)

 

Syaitan membangkitkan angan-angan kosong, menakut-nakuti dengan keimiskinan dan menyuruh untuk berbuat jahat atau kikir (dalam firman-Nya di atas), merupakan jalan-jalan yang diada-adakan (dibisikan) oleh syaitan kepada manusia. Jalan-jalan syaitan itulah jalan-jalan yang bengkok, yaitu jalan-jalan yang mengingkari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, hingga manusia yang mengikuti jalan syaitan yang bengkok itu akan menjadi sesat dan berdosa. Agar manusia mengetahui jalan-Nya yang lurus dan jalan-jalan syaitan yang bengkok, Allah SWT lalu menjelaskan kedua jalan itu kepada manusia sebagai berikut:

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (An Nahl 9)

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)

 

Allah SWT lalu memerintahkan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia itu, sebagai berikut:

 

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)

 

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)

 

Mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin dalam firman-Nya di atas adalah mengambil Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis sebagai pemimpin.”

 

Tilmidzi: “Apakah umat Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW itu ada yang mengikuti jalan-jalan yang bengkok atau mengingkari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus?”

 

Mudariszi: “Ya, banyak umat Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW yang mengikuti jalan syaitan yang bengkok hingga mereka tersesat dan diazab (dimusnahkan) oleh Allah SWT. Contohnya sebagai berikut:

 

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-Rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (At Taubah 70)

 

Allah SWT sekali-kali tidak menganiaya mereka seperti dalam firman-Nya di atas, yaitu Dia tidak mengazab kaum kafir tersebut jika mereka tidak mendustakan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya yang telah diperingatkan kepada mereka. Sehingga mereka sendirilah yang menganiaya dirinya. Allah SWT lalu menyeru orang-orang yang lahir setelah umat Rasul-Rasul itu untuk memperhatikan bekas azab-Nya atas umat Rasul-Rasul itu agar mereka memikirkannya ketika menjalani hidupnya di dunia, yaitu sebagai berikut:

 

Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (Yusuf 109)

 

Tilmidzi: “Apakah semua di atas itu yang kemudian diperingatkan oleh Rasulullah SAW dengan Al Qur’an kepada orang-orang setelah umat Rasul-Rasul itu?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an). Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat. (Thaahaa 99-101)

 

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaahaa 124)

 

Sejak Allah SWT menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, Dia tidak lagi memusnahkan kaum-kaum yang kafir. Kaum Nabi Musa (Bani Israil) yang kafir tidak dimusnahkan-Nya. Allah SWT hanya mengutus Rasul-Rasul yang diberikan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) untuk diperingatkan kepada orang-orang yang lahir kemudian agar mereka beramal (berbuat) shaleh mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya ketika menjalani hidup di dunia. Rasulullah SAW sebagai Nabi terakhir menunjukkan waktu kiamat semakin dekat. Pada hari kiamat, umat Rasulullah menjadi umat yang pertama dihisab-Nya dan Rasulullah SAW menjadi saksi bagi umat manusia. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Kita adalah orang-orang akhir dan orang-orang pendahulu di hari kiamat, hanya saja semua umat menerima Kitab sebelum kita sedang kita me­nerima (Al-Qur’an) sesudah mereka.” (HR Bukhari)

 

Karena itu Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. (Al An’aam 51)

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (Al Kahfi 29)

 

Dan Allah SWT memperingatkan manusia sebagai berikut:

 

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang ada di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 170)

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). (Al Haaqqah 50)

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika Allah SWT tidak memberikan peringatan (penjelasan) kepada umat manusia dengan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dan Rasul-Nya?”

 

Mudariszi: “Jika Allah SWT tidak memberikan peringatan (penjelasan) kepada manusia melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, maka semua orang yang hidup di dunia akan menjadi sesat karena syaitan, sehingga mereka akan mendapatkan azab-Nya di neraka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan. (An Nisaa’ 83)

 

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. (An Nuur 21)

 

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). (An Nuur 20)

 

Orang-orang yang diazab-Nya di neraka itu tidak akan menerima nasibnya tersebut, karena ketika di dunia mereka tidak diberikan penjelasan dan peringatan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Qur’an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (Thaahaa 134)

 

Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mu’min. (Al Qashash 47)

 

Karena itu, dengan Allah SWT mengutus Rasul-Rasul-Nya termasuk Rasulullah SAW dan menurunkan ayat-ayat-Nya termasuk Al Qur’an untuk manusia, maka orang-orang yang diazab-Nya di neraka tidak dapat lagi menyalahkan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

(Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu. (An Nisaa’ 165)

 

Dan di hari kiamat dalam kehidupan akhirat itu, Allah SWT akan memisahkan manusia, yaitu penghuni neraka dari penghuni surga, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mu’min) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (Yaasiin 59-62)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply