Peringatan Apakah Yang Dijelaskan Dalam Al Qur’an?

Dialog Seri 20: 57

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW seperti Rasul-Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada umat Rasul (manusia) sebagai pemberi peringatan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang tugas Rasul-Rasul-Nya sebagai berikut:

 

Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-Rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Al Kahfi 56)

 

Dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (Rasul-Rasul) di kalangan mereka. (Ash Shaaffaat 72)

 

Allah SWT menjelaskan tentang Rasulullah SAW yang merupakan salah satu dari Rasul-Rasul-Nya, sebagai berikut:

 

Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. (An Najm 56)

 

Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. (Al A’raaf 184)

 

Allah SWT menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada manusia dengan Al Qur’an, yaitu sebagai berikut::

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam; dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa’ 192-195)

 

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)

 

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kepada manusia bahwa Rasulullah SAW itu adalah pemberi peringatan bagi mereka?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan bahwa Dia perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman-Nya berikut ini kepada manusia:

 

Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan apabila mereka diberi peringatan. (Al Anbiyaa’ 45)

 

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu. (Al Hajj 49)

 

Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan. (Al Hijr 89)

 

Karena itu Rasulullah SAW lalu memperingatkan manusia dengan Al Qur’an yang dimulai dari kaum beliau atau penduduk Mekkah hingga ke penduduk negeri-negeri di sekitar Mekkah dan penduduk negeri-negeri di luar Mekkah. Allah SWT berfirman:

 

Tidak diwahyukan kepadaku melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata. (Shaad 70)

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Asy Syuura 7)

 

Tilmidzi: “Peringatan apakah yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW kepada umat manusia?”

 

Mudariszi: “Peringatan adanya kehidupan akhirat selain kehidupan dunia bagi manusia, dan mereka akan mendatanginya setelah kematiannya di dunia. Allah SWT memperingatkan manusia bahwa kehidupan akhirat itulah kehidupan yang kekal bagi manusia dan bukan kehidupan dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)

 

Dalam kehidupan akhirat itu hanya terdapat dua tempat bagi manusia, yaitu surga dan neraka, yang setiap tempat akan dihuni oleh orang-orang yang sebagai berikut:

 

(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, maka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 81-82)

 

Penghuni neraka itu adalah orang-orang yang berdosa, yaitu orang-orang yang ketika di dunia berbuat (beramal) dengan tidak mengikuti (atau mengingkari) agama-Nya dan syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dan Rasul-Nya. Sebaliknya, penghuni surga itu adalah orang-orang yang ketika di dunia berbuat (beramal) dengan taat mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah memperingatkan manusia tentang orang-orang yang akan menjadi penghuni surga dan menjadi penghuni neraka tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah memperingatkan manusia tentang hal tersebut di atas dengan firman-Nya ini:

 

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (Al A’raaf 35-37)

 

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (ke bahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)

 

Tilmidzi: “Apakah penyebab orang-orang itu berbuat dosa ketika hidup di dunia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya kepada manusia yang harus diikutinya ketika mereka menjalani hidupnya di dunia agar selamat di dunia dan di akhirat. Allah SWT telah pula menjelaskan kepada manusia tentang Iblis (syaitan) yang berjanji akan menyesatkan manusia hingga kiamat agar mamusia tidak mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya supaya mereka berdosa. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Al Hijr 39)

 

Syaitan menyesatkan manusia dari Allah SWT (agama-Nya dan jalan-Nya) dengan menggunakan kehidupan dunia yang dipenuhi dengan kenikmatan (kesenangan) dan itu disukai oleh manusia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)

 

Manusia yang menyukai kehidupan dunia itu telah pula diperingatkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (Al Qiyaamah 20-21)

 

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)

 

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At Takaatsur 1-8)

 

Manusia yang tidak menyadari jika mereka menyukai kehidupan dunia itu (karena ulah syaitan), mereka lalu diperingatkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya ini:

 

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang Bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong Bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Luqman 33)

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply