Apakah Allah SWT Memberikan Petunjuk Kepada Manusia?

Dialog Seri 20: 56

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengajarkan agama-Nya dan menunjuki ke jalan-Nya yang lurus kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengajarkan agama-Nya dan menujuki ke jalan-Nya yang lurus kepada manusia dengan Al Qur’an. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak dia ketahui. (Al ‘Alaq 1-5).

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)

 

Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus. (Al Israa’ 9)

 

Orang yang telah diajarkan agama-Nya dan ditunjuki-Nya ke jalan yang lurus hingga dia menjalani hidupnya dengan taat mengikuti syariat agama-Nya, maka Allah SWT akan menyediakannya surga. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 126-127)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengajarkan agama-Nya dan menunjuki jalan-Nya yang lurus kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW sebelum menerima Al Qur’an tidak mengetahui agama-Nya, jalan-Nya dan iman kepada-Nya. Tapi setelah menerima Al Qur’an dan diangkat-Nya menjadi Rasul-Nya, Rasulullah SAW kemudian memahami dan mengetahui semua perkara tersebut. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini: 

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy Syuura 52)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memahami agama-Nya dan berada di atas jalan-Nya yang lurus hingga beliau memberikan (menyampaikan) petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus, setelah beliau diajarkan oleh Allah SWT dengan Al Qur’an. Dan Allah SWT lalu menjelaskan kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 43-44)

 

Rasulullah SAW berada di jalan-Nya yang lurus karena beliau tetap memegang teguh agama-Nya (Islam), yaitu beliau taat menjalankan (mengikuti) syariat dan hukum-hukum agama-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an ketika menjalani hidup di dunia.”

 

Tilmidzi: “Apakah seseorang juga dapat diajarkan agama-Nya dan ditunjuki kepada jalan-Nya yang lurus oleh Allah SWT dengan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Tapi karena orang itu bukan Nabi, pengajaran dan petunjuk Allah SWT kepadanya berbeda dengan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW diajarkan agama-Nya dan ditunjuki ke jalan-Nya yang lurus oleh Allah SWT (melalui Jibril) dengan Al Qur’an, karena beliau juga bertugas menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya itu kepada manusia dengan Al Qur’an. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)

 

Karena itu orang yang mau diajarkan agama-Nya dan ditunjuki kepada jalan-Nya yang lurus oleh Allah SWT dengan Al Qur’an, maka dia diperintahkan-Nya untuk belajar dari Rasulullah SAW, yaitu dengan taat mengikuti Allah SWT atau Al Qur’an dan Rasulullah SAW ketika dia menjalani hidupnya, yaitu sebagai berikut:

 

Dan Al Qur’an itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Al An’aam 155)

 

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raaf 158)

 

Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. (An Nuur 54)

 

Jika orang itu taat mengikuti Al Qur’an dan Rasulullah SAW ketika menjalani hidupnya hingga berada di jalan-Nya yang lurus, maka itu bukan berarti dia di jalan-Nya yang lurus karena Rasulullah SAW. Tapi itu karena Allah SWT yang memberikannya petunjuk kepada jalan yang lurus. Tiada siapapun yang dapat memberikan petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus kepada manusia kecuali hanya Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah 272)

 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al Qashash 56)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang yang ditunjuki-Nya itu menjadi orang yang bertakwa?”

 

Mudariszi: “Agar orang yang ditunjuki-Nya itu bertakwa kepada Allah SWT, yaitu taat mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalani hidupnya, maka dia diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah. (At Taghaabun 16)

 

Diceritakan oleh Abu Salamah bin Abdurrahman dan Said bin Al Musyyab, keduanya berkata: Abu Hurairah pernah bercerita, bahwa sesungguhnya dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Apa saja yang aku larang dari kalian, maka tinggalkanlah. Dan apa saja yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah sebatas kemam­puan kalian.” (HR Muslim)

 

Orang yang bertakwa kepada Allah SW atau taat mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalani hidupnya adalah orang yang memegang teguh agama-Nya. Hal itu akan membuatnya selalu berada dalam petunjuk-Nya di jalan yang lurus hingga ajalnya dan lalu sampai ke surga. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan umat Islam yang mengikuti Al Qur’an tapi dia tidak mau mengikuti Rasulullah SAW, apakah dia dapat sampai ke surga?”

 

Mudariszi: “Umat Islam yang mengikuti Allah SWT (atau Al Qur’an) tapi dia tidak mau mengikuti Rasulullah SAW ketika menjalani hidupnya, maka dia berarti mendurhakai beliau. Dengan mendurhakai Rasulullah SAW, berarti umat itu mendurhakai Allah SWT, karena Dia telah menetapkan hukum agar umat Islam taat mengikuti Rasulullah SAW. Durhakanya umat itu kepada Rasulullah SAW telah membuatnya menjadi sesat. Dan sesatnya umat itu membuat dia tidak sampai ke surga. Allah SWT berfirman:

 

Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An Nisaa’ 80)

 

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang umat beliau yang menjalani hidupnya di dunia dengan tidak mau mengikuti beliau, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu? Beliau bersabda: Barangsiapa yang taat kepadaku tentu dia akan masuk surga. Barangsiapa yang durhaka kepadaku, itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)

 

Dengan umat itu tidak mau ke surga karena durhaka kepada Rasulullah SAW atau tidak mau mengikuti beliau, maka dia berarti akan ke neraka, karena dalam kehidupan akhirat itu hanya ada dua tempat yaitu surga dan neraka.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan agama-Nya kepada manusia sebagai berikut:

 

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat. (Ar Ra’d 30)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri. (Az Zumar 11-12)

 

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman, dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (Yunus 104-107)

 

Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan jalan-Nya yang lurus kepada manusia sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. (Al Mu’minuun 73)

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)

 

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. (Fushshilat 6-8)

 

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang Ibu Bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan; Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi; dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al An’aam 151-153)

 

Tilmidzi: “Apakah manusia dapat mengetahui seseorang yang ditunjuki oleh Allah SWT kepada jalan-Nya yang lurus atau yang dapat sampai ke surga?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan orang yang telah ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus atau orang yang dapat sampai ke surga itu dapat diketahui sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (syaitan, yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Az Zumar 17-18)

 

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (Qaaf 32-34)

 

Demikian itulah berita gembira dari Al Qur’an atau dari Allah SWT yang disampaikan (dijelaskan) oleh Rasulullah SAW kepada umat manusia.”

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply