Dialog Seri 20: 55
Tilmidzi: “Apakah tugas Rasulullah SAW setelah menerima Al Qur’an dari Allah SWT?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kami tidak mengutus seorang Rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim 4)
Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An Nuur 54)
Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)
Amanat Allah yang diwajibkan-Nya kepada Rasulullah SAW dalam firman-Nya di atas, adalah Al Qur’an yang untuk manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Kemudian Allah SWT mewajibkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan agama-Nya yang terdapat dalam Al Qur’an (dalam firman-Nya di atas), yaitu agama-Nya dengan syariat (peraturan) agama-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an, sebagai berikut:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Agama Allah itu memiliki syariat (peraturan) dan hukum-hukum agama-Nya, termasuk memiliki hak dan kewajiban manusia atas Allah SWT, serta hak dan kewajiban Allah SWT atas manusia, ketika manusia menjalani hidupnya di dunia dan di akhirat. Hak dan kewajiban manusia itu menjadikan adanya keuntungan dan kerugian bagi manusia di dunia dan di akhirat. Keuntungan dan kerugian manusia di alhirat akan diketahui oleh manusia pada hari kiamat setelah perbuatan manusia (di dunia) dihisab oleh Allah SWT. Allah SWT tidak memperoleh apapun setelah Dia menghisab manusia, karena dunia dan akhirat milik-Nya, dan itu berarti pula bahwa Dia tidak akan dihisab. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Faathir 15)
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al Anbiyaa’ 23)
Semua perkara tersebut di atas dijelaskan dalam Al Qur’an. Sehingga, Rasulullah SAW, selain menjelaskan amanat-Nya (Al Qur’an) dan agama-Nya, beliau dengan Al Qur’an bagi manusia itu menjadi sebagai berikut:
Dan Kami turunkan (Al Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Israa’ 105)
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan. (Al Baqarah 119)
Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’ 28)
Rasulullah SAW dengan Al Qur’an itu menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (seperti firman-Nya di atas) kepada orang-orang yang sebagai berikut:
Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi khabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (Maryam 97)
Dan sebelum Al Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Qur’an) adalah Kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al Ahqaaf 12)
Firman-Nya di atas itulah bukti Allah SWT menurunkan agama-Nya dengan kitab-Nya (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW) setelah agama-Nya yang untuk manusia (melalui Bani Israil) yang dijelaskan oleh Rasul-Nya (Nabi Musa dari Bani Israil) dan kitab-Nya (Taurat) berubah karena ulah Bani Israil yang kafir. Agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Musa itu tidak juga kembali ke aslinya setelah diturunkan-Nya agama-Nya dengan kitab-Nya (Injil) dan Rasul-Nya (Nabi ‘Isa dari Bani Israil) yang membenarkan Taurat dan agama-Nya, karena agama-Nya yang agama tauhid yang dijelaskan oleh Injil dan Nabi ‘Isa berubah menjadi agama musyrik.”
Tilmidzi: “Kabar gembira apakah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada umat manusia dengan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 25)
Surga-surga (dalam firman-Nya di atas) itu hanya ada di kehidupan akhirat yang akan didatangi oleh manusia setelah kematiannya di dunia. Surga-surga itu hanya dimasuki oleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT (dengan taat mengikuti agama-Nya) dan yang berbuat baik ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Karena itu Allah SWT menyeru manusia yang menjalani hidupnya di dunia, sebagai berikut:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menyeru kepada manusia seperti firman-Nya di atas?”
Mudariszi: “Karena manusia itu seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT berikut ini:
Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (Al Qiyaamah 20-21)
Tilmidzi: “Bagaimanakah kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dua kehidupan tersebut, sebagai berikut:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan manusia itu menyukai kehidupan dunia?”
Mudariszi: “Karena adanya Iblis (syaitan) yang ingin membuat manusia menjadi sesat ketika menjalani hidup di dunia. Syaitan menggunakan kehidupan dunia dalam menipu manusia agar manusia menyukainya hingga mereka melupakan dan mengingkari Allah SWT (ayat-ayat-Nya) dengan tidak mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia melalui firman-Nya ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Peringatan Allah di atas menjadi berita gembira bagi manusia, dan peringatan-Nya itu pula merupakan bagian dari janji-Nya kepada manusia, yaitu janji Dia akan melindungi manusia dari kejahatan syaitan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka; dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga. (Al Israa’ 65)
Tapi janji Allah di atas hanya berlaku bagi orang-orang yang mengikuti-Nya saja, karena tidak mungkin Dia melindungi orang-orang yang tidak mau mengikuti-Nya. Orang-orang yang tidak mau mengikuti Allah SWT (atau mengikuti agama-Nya) itulah orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mengingkari (mendustakan) ayat-ayat-Nya karena mereka mengikuti syaitan.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT menyeru manusia ke surga dengan menempuh jalan-Nya yang lurus ketika manusia menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)
Allah SWT menunjuki orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (dalam firman-Nya di atas), yaitu orang yang ingin ke surga, karena Dia tidak mungkin menunjuki orang yang tidak ingin ke surga. Orang yang tidak ingin ke surga itulah orang kafir, yaitu orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya (Al Qur’an) karena dia memilih mengikuti syaitan. Maka dia akan ke neraka dengan azab-Nya yang pedih ketika di akhirat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (An Nahl 104)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 39)
Tilmidzi: “Apakah orang yang ingin ditunjuki oleh Allah SWT kepada jalan-Nya yang lurus itu harus memeluk agama-Nya (agama Islam)?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Huud 56)
Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa hanya orang-orang beriman yang ditunjuki-Nya ke jalan yang lurus. Untuk beriman, orang itu harus memeluk (mengikuti) agama-Nya, agama Islam, yaitu agama yang diridhai-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ‘Imran 19)
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)
Tilmidzi: “Apakah pengikut Nabi Musa dan pengikut Nabi ‘Isa itu termasuk orang yang beriman atau orang-orang Islam?”
Mudariszi: “Pengikut Nabi Musa beragama Yahudi dan pengikut Nabi ‘Isa beragama Nasrani dan kedua pengikut tersebut dipanggil Ahli Kitab. Ahli Kitab itu mengikuti Taurat dan Injil, tapi Taurat dan Injil yang sudah berubah, sehingga mereka berarti telah mengikuti agama-Nya yang berubah yang tidak lagi menjelaskan agama-Nya dan syariat agama-Nya yang benar. Allah SWT berfirman:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Dengan demikian, agama Yahudi dan agama Nasrani itu bukan agama Allah, sehingga pengikut Nabi Musa dan pengikut Nabi ‘Isa itu bukan orang-orang beriman (Islam). Karena itu mereka harus memeluk agama Islam dulu supaya ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT akan mengajarkan manusia ke jalan-Nya yang lurus”
Mudariszi: “Jika Allah SWT menghendaki untuk menunjuki orang itu ke jalan-Nya yang lurus agar dia dapat ke surga sesuai keinginannya, maka Dia akan mengajarkan agama-Nya kepada orang itu, yaitu agama Islam. Allah SWT berfirman:
Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (Al An’aam 125)
Wallahu a’lam.