Apakah Rasulullah SAW Pemberi Peringatan Bagi Semesta Alam?

Dialog Seri 10: 49

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an itu peringatan untuk manusia saja?”

 

Mudariszi: “Al Qur’an itu bukan peringatan untuk manusia saja, tapi juga peringatan untuk berikut ini:

 

Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Shaad 87)

 

Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat. (Al An’aam 90)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW juga termasuk sebagai pemberi peringatan kepada semesta alam?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. (Al Furqaan 1-2)

 

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Shaad 65-66)

 

Allah SWT menjelaskan Al Qur’an tersebut sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (Asy Syu’araa’ 192)

 

Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu telah dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. (Ad Dukhaan 2-5)

 

Dan Al Qur’an ini adalah suatu Kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. (Al Anbiyaa’ 50)

 

Sehingga Rasulullah SAW sebagai pemberi penjelasan dan peringatan kepada semesta alam dengan Al Qur’an itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Anbiyaa’ 107)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW itu sebagai pemberi peringatan dan rahmat bagi semesta alam?”

 

Mudariszi: “Semesta alam adalah semua ciptaan Allah yang ada di dunia dan di akhirat, dan semua itu merupakan kepunyaan-Nya. Contoh ciptaan-Nya di dunia, yaitu langit dan bumi dan semua apa yang ada di langit dan di bumi. Contoh makhluk ciptaan-Nya di akhirat, yaitu surga dan neraka. Allah SWT berfirman:

 

Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu. (Al Mu’min 62)

 

Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)

 

Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)

 

Semua yang ada di langit dan di bumi itu menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti agama-Nya. Mereka semua bertasbih dan bersujud menyembah Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)

 

Di samping itu, manusia diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi dengan tujuan sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (Al Baqarah 30)

 

Sebagai khalifah yang melaksanakan amanat di bumi, Allah SWT lalu menetapkan bagi manusia dan bagi semua makhluk sebagai berikut:

 

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)

 

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)

 

Sebagai khalifah, manusia diberikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya) oleh Allah SWT yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya. Karena Allah SWT tundukkan semua mahkluk di semesta alam untuk manusia, maka Al Qur’an yang Dia turunkan untuk manusia itu menjadi untuk semua makhluk pula, karena mereka semua menjalani hidupnya di semesta alam yang sama dan mereka hidup saling bergantung. Sehingga, Al Qur’an yang menjadi peringatan bagi manusia itu, menjadi peringatan pula bagi semesta alam. Rasulullah SAW yang menerima Al Qur’an dan menjelaskannya kepada semua makhluk di semesta alam itu, dengan sendirinya menjadi rahmat bagi semesta alam (semua makhluk).”

 

Tilmidzi: “Apakah maksud Al Qur’an itu peringatan untuk segala umat?”

 

Mudariszi: “Di antara semua ciptaan dan milik Allah di semesta alam atau di langit dan di bumi itu, ada makhluk-makhluk yang hidup di langit dan di bumi, baik makhluk yang nyata maupun yang ghaib. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Allah Pencipta langit dan bumi. (Al Baqarah 117)

 

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)

 

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)

 

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi. (Huud 123)

 

Contoh makhluk-makhluk yang nyata di bumi, yaitu manusia, binatang. Dan contoh makhluk-makhluk yang ghaib di langit, yaitu malaikat, jin. Sebagai ciptaan-Nya, semua makhluk itu tidak berbeda, yaitu sebagai umat makhluk-makhluk ciptaan-Nya, contoh umat manusia atau umat binatang atau umat malaikat atau umat jin. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun. (Al An’aam 38)

 

Semua makhluk itu mengikuti agama Allah ketika menjalani hidupnya di dunia. Mereka bertasbih dan bersujud menyembah Allah SWT menurut caranya masing-masing. Tapi manusia tidak mengetahui cara sembahyang mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)

 

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. (An Nuur 41)

 

Karena semua makhluk mengikuti agama-Nya yang dijelaskan dalam Al Qur’an, dan Al Qur’an menjelaskan kebenaran untuk semua makhluk, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Al Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. (Al A’raaf 203)

 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran. (Al Maa-idah 48)

 

Maka semua umat makhluk-makhluk tersebut menjadi termasuk yang diperingatkan dengan Al Qur’an. Dan mereka pada hari kiamat akan dihadirkan oleh Allah SWT sebagai saksi ketika Allah SWT menghisab perbuatan manusia di dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Huud 103)

 

Tilmidzi: “Apakah jin termasuk makhluk yang diperingatkan dengan Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Jin adalah salah satu makhluk ciptaan-Nya, dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (Ar Rahmaan 15)

 

Dan jin juga termasuk makhluk yang ditundukkan-Nya untuk manusia seperti yang dijelaskan sebelumnya di atas. Tapi ada jin yang tidak mau tunduk kepada manusia, yaitu Iblis, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin. (Al Kahfi 50)

 

Iblis bukan saja tidak mau tunduk kepada manusia, tapi juga ingin membuat manusia tersesat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Karena itu Allah SWT kemudian memperingatkan jin dan manusia yang mengikuti Iblis (syaitan) dan pengikut Iblis, sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (Shaad 84-85)

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis ingin agar umat jin dan umat manusia juga tersesat dengan mendurhakai Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Iblis telah mendurhakai Allah SWT (perintah-Nya), yaitu tidak mau bersujud kepada Nabi Adam (manusia). Sehingga jika ada jin dan manusia yang mengikuti Iblis, maka jin dan manusia itu menjadi termasuk mendurhakai Allah SWT pula, karena mereka tidak mau menyembah-Nya (atau tidak mau mengikuti agama-Nya) ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Padahal Allah SWT menciptakan jin dan manusia dengan tujuan sebagai berikut:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Karena itu Allah SWT memperingatkan jin dan manusia sebagai berikut:

 

Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Huud 119)

 

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. (Ar Rahmaan 31)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada umat jin dengan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Amir, ia berkata: Aku bertanya kepada Al­qamah, apakah Ibnu Masud bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Masud, demikian: “Apakah ada seseorang dari kamu yang bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia (Ibnu Mas’ud) menjawab: Tidak ada. Tetapi pada suatu malam kami pernah bersama Rasulullah SAW, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan jalan-jalan setapak. Akhirnya kami berpendapat beliau telah dibawa terbang oleh jin atau telah dibunuh secara mendadak. Kami bermalam dengan seburuk­-buruknya malam yang pernah dialami oleh kaum. Ketika kami bangun pada keesokan harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira. Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami telah men­cari tetapi kami tidak menemukan anda, maka kami bermalam dengan seburuk-buruknya malam yang pernah dialami oleh kaum. Beliau bersabda: Aku didatangi jin yang mengajakku pergi, maka aku pergi bersamanya, kemudian aku membacakan Al Quran kepada mereka. Lalu beliau berangkat bersama kami. Beliau memperlihatkan ke­pada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW dapat mengetahui didatangi oleh jin (dalam sunnah Rasulullah di atas) padahal jin tidak dapat dilihat?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Man, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku pernah bertanya kepada Masruq, siapakah yang memberitahu Rasulullah SAW tentang kedatangan jin pada malam mereka men­dengarkan Al Quran? Ia berkata: Ayahmu (yakni Ibnu Masud) bercerita kepadaku, bahwa yang memberitahu beliau adalah sebuah pohon.” (HR Muslim)

 

Pohon memberitahukan kedatangan jin yang ghaib kepada Rasulullah SAW dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan ketundukan pohon itu kepada beliau. Selain itu, Rasulullah SAW adalah Rasul yang diridhai-Nya, sehingga beliau diizinkan-Nya untuk dapat melihat jin yang ghaib. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)

 

Tilmidzi: “Apakah di antara jin itu ada umat jin yang beriman kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: “Rasulullah SAW berangkat bersama sebagian sahabatnya dengan tujuan pasar Ukazh. Dan benar-benar antara syaitan dan khabar langit terhalang dan mereka (syaitan) karena dilempari oleh bintang-bintang meteor, sehingga syaitan-syaitan itu kembali pulang. Sebagian mereka bertanya: Mengapa kalian pulang? Mereka menjawab: Kami terhalang dari khabar langit dan kami dihantam oleh beberapa bintang meteor. Di antara mereka ada yang berkata: Tidaklah ada yang menghalangimu dari khabar langit kecuali ada sesuatu yang menghalangi. Oleh sebab itu pergilah ke bagian timur bumi dan bagian barat lalu lihatlah apa sesuatu yang telah terjadi ini. Maka mereka (syaitan dari golongan jin) pergi melanglang ke bumi bagian timur dan bumi bagian barat melihat apa sebenarnya perkara yang sedang terjadi ini yang menyebab­kan mereka terhalang untuk mengintip khabar dari langit. Berangkatlah mereka yang ditugaskan menjelajah ke arah Tihamah tepatnya di Nakhlah dimana beliau hendak menuju ke pasar Ukazh. Rasulullah SAW sedang melakukan shalat bersama sahabat-sahabatnya shalat Shubuh (Fajar). Ke­tika mereka mendengar Al Quran, maka mereka saling memperhatikan pendengarannya kepada Rasul. Mereka berkata: Ini rupanya perkara yang menghalangi kalian dari pendengaran langit. Maka dari sanalah me­reka kembali kepada kaumnya, lalu berkata: Wahai kaumku, sesungguh­nya kami telah mendengarkan Al Quran yang mengagumkan dimana ia menunjukkan kepada kebenaran, oleh sebab itu kami beriman kepadanya dan tidak bakal menyekutukan Tuhan kami dengan seorangpun.” Dan Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat-Nya kepada Rasulullah SAW: Katakanlah (hai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar Al Quran yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami.” (surat Al Jin ayat 1-2). Sesungguhnya yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan jin.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah jin-jin yang beriman itu shalat menyembah Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW ketika beliau mengerjakan shalat menyembah-Nya, sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. (Al Jin 18-20)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah umat jin dalam firman-Nya di atas itu umat jin yang beriman kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Dengan jin-jin itu beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka jin-jin itu berarti beriman kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Al Jin 2-3)

 

Jin-jin yang beriman itu takut kepada Allah SWT karena mereka mengetahui kekuasaan-Nya. Dan hal itu dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

 

Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari. (Al Jin 12)

 

Jin-jin yang beriman mengetahui bahwa mereka hanya diuji dengan kehidupan dunia. Mereka mengetahui bahwa Allah SWT menghendaki agar jin-jin mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidup di dunia. Mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka di dunia akan menentukan tempat mereka di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Al Jin 16)

 

Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al Jin 17)

 

Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (Al Jin 15)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan jin-jin itu beriman kepada Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW, lalu mereka berarti memeluk agama Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Mas’ud tentang ayat: “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)” (surat Al Israa’ ayat 57), ia berkata: “Ada sekelompok jin yang masuk Islam, sedang sebelum itu mereka disembah oleh manusia, maka orang-orang yang menyembah itu tetap saja menyembah mereka, sementara mereka (jin) sendiri telah masuk Islam.” (HR Muslim)

 

Dengan demikian, jin tidak berbeda dengan manusia, yaitu sama-sama menerima ayat-ayat-Nya dari Rasul-Nya yang menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya, dan mereka wajib mengikutinya ketika menjalani hidupnya di dunia. Sehingga, di antara jin itu terdapat jin-jin yang beriman dan jin-jin yang kafir kepada Allah SWT, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (Al Jin 14)

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al Jin 11)

 

Yilmidzi: “Apakah jin-jin yang beriman menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada umat jin yang lain?”

 

Mudariszi: “Ya! Jin-jin yang beriman itu juga menyeru kepada umat jin yang lain agar beriman seperti mereka, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahqaaf 29-32)

 

Tilmidzi: “Apakah kebanyakan umat jin itu kafir kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Bukan tidak mungkin kebanyakan umat jin kafir kepada Allah SWT. Kafirnya umat jin itu karena Iblis, yaitu karena Iblis ingin agar dibantu oleh jin-jin dalam menyesatkan manusia dan juga agar jin-jin itu menemani Iblis di neraka. Contoh umat jin yang kafir tersebut dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. (Al Jin 4)

 

Umat jin yang kafir tidak berbeda dengan umat manusia yang kafir sekalipun kedua makhluk itu telah diperingatkan oleh Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya). Itu dapat diketahui ketika kedua makhluk itu di neraka karena kekafirannya, melalui peringatan-Nya (firman-Nya) ini:

 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 179)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply