Dialog Seri 15: 1
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah menetapkan kewajiban haji bagi manusia di bumi?”
Mudariszi: “Allah SWT menetapkan kewajiban haji bagi manusia, dan itu dijelaskan dengan firman-Nya ini:
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. (Ali ‘Imran 97)
Tilmidzi: “Bagaimana manusia mengerjakan kewajiban haji itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran 97)
Tilmidzi: “Apakah Baitullah itu dan dimanakah Baitullah tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan Baitullah tersebut sebagai berikut:
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali ‘Imran 96)
Dengan demikian, Allah SWT menetapkan kewajiban haji bagi manusia di Baitullah di kota Mekkah. Mengerjakan haji yaitu kewajiban beribadah menyembah Allah SWT, Tuhan manusia, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, Tuhan Pencipta segala sesuatu, Tuhan Pencipta langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nisaa’ 171)
Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nahl 22)
Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)
Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu. (Al Mu’min 62)
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. (Asy Syuura 29)
Mengerjakan haji di Baitullah (Ka’bah) itu tidak hanya beribadah menyembah Allah SWT saja tetapi juga termasuk mengerjakan urusan yang berkaitan dengan pelaksanaan manusia mengerjakan haji, misalnya bulan haji, kendaraan, perjalanan, kondisi tubuh, pakaian, bekal, binatang korban, dan lain-lain. Ketetapan Allah itu karena Dia tidak menjadikan (menempatkan) manusia di Mekkah dan di sekitar Mekkah saja, tapi di seluruh belahan bumi yang jauh dari Mekkah. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Allah telah menjadikan Ka’bah rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Maa-idah 97)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Baitullah itu kepunyaan Allah SWT?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Quraisy 1-4)
Orang-orang Quraisy dalam firman-Nya di atas adalah penduduk kota Mekkah. Selain itu, ketika Ka’bah (Baitullah) ingin dihancurkan oleh orang-orang kafir, maka pasukan orang-orang kafir itu bukan dihancurkan oleh penduduk Mekkah, tapi oleh Allah SWT langsung. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Al Fiil 1-5)
Penjelasan Allah di atas bukan saja menunjukkan Baitullah (Ka’bah) itu kepunyaan Allah SWT, tapi juga bukti nyata keberadaan-Nya di dunia. Sehingga bukti nyata tersebut dapat membuat orang-orang yang belum mengenal Allah SWT dengan benar dan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dapat ke Baitullah agar mengenal-Nya dengan benar dan menambah iman kepada-Nya.”
Tilmidzi: “Jika Baitullah (Ka’bah) rumah ibadah pertama yang dibangun oleh Allah SWT untuk manusia, bukankah Nabi Adam manusia pertama di bumi juga seharusnya mengerjakan haji?”
Mudariszi: “Ya! Jika Baitullah di Mekkah itu tempat ibadah yang dibangun oleh Allah SWT untuk manusia guna menyembah-Nya, maka Nabi Adam sebagai manusia pertama di bumi juga mengerjakan haji ke Baitullah. Demikian pula dengan Rasul-Rasul (Nabi-Nabi) setelah Nabi Adam, yaitu mengerjakan haji ke Baitullah di Mekkah. Tetapi semua itu tidak dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Kemudian terjadi banjir besar di masa Nabi Nuh, dan banjir itu memusnahkan semua orang kafir di bumi dan hanya orang-orang beriman yang bersama Nabi Nuh dalam bahteranya yang selamat. Allah SWT berfirman:
Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. (Asy Syu’araa’ 119)
Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)
Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al Haaqqah 11-12)
Banjir besar yang melanda bumi itu bukan tidak mungkin kemudian juga memusnahkan Baitullah di Mekkah, karena tidak ada penjelasan tentang itu dalam Al Qur’an dan As Sunnah.”
Tilmidzi: “Bagaimana Baitullah dapat dibangun kembali setelah musnah?”
Mudariszi: “Sekalipun Ka’bah (Baitullah) telah musnah karena banjir besar, tapi tapak Ka’bah tetap dapat diketahui oleh Pemiliknya yaitu Allah SWT. Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, anak cucu Nabi Nuh yang ditetapkan-Nya sebagai Rasul-Nya, untuk membangun kembali Baitullah (Ka’bah), sebagai berikut:
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (Al Baqarah 125)
Allah SWT meninggalkan tanda (bukti) nyata pembangunan kembali Ka’bah (Baitullah) oleh Nabi Ibrahim tersebut, yaitu sebagai berikut:
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. (Ali ‘Imran 97)
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (Al Baqarah 125)
Maqam Ibrahim dalam firman-Nya di atas yaitu batu berpijaknya (tempat berdirinya) Nabi Ibrahim ketika membangun kembali Ka’bah (Baitullah) yang kemudian dijadikan sebagai tempat shalat menyembah Allah SWT di Baitullah (Ka’bah).”
Tilmidzi: “Apakah Baitullah yang dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim itu untuk manusia agar mengerjakan haji sesuai ketetapan-Nya di awal?”
Mudariszi: “Ya! Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim agar membangun kembali Ka’bah (Baitullah) itu diikuti pula dengan perintah-Nya agar membersihkan rumah-Nya untuk orang-orang yang thawaf, rukuk dan sujud yang semua itu merupakan pelaksanaan ibadah haji dalam menyembah Allah SWT di Baitullah. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Kami memberi tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (Al Hajj 26)
Nabi Ibrahim pula berdoa kepada Allah SWT ketika membangun kembali Baitullah (Ka’bah) yaitu agar diberikan petunjuk dalam melaksanaan haji, sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah 127-128)
Tilmidzi: “Apakah manusia lalu mengerjakan haji mengikuti perintah-Nya kepada Nabi Ibrahim tersebut?”
Mudariszi: “Nabi Ismail yang membantu Bapaknya (Nabi Ibrahim) dalam membangun kembali Ka’bah (Baitullah), mengetahui perintah-Nya tersebut. Karena itu Nabi Ismail bersama-sama dengan kaumnya di Mekkah dan sekitarnya mengerjakan haji di Baitullah. Pelaksanaan haji itu terus berjalan secara turun temurun hingga ribuan tahun. Tetapi pelaksanaan haji oleh penduduk Mekkah dan sekitarnya itu ketika Rasulullah SAW diutus-Nya telah berbeda dengan yang diajarkan oleh Nabi Ismail. Contoh thawaf yang dilakukan oleh penduduk Mekkah dan sekitarnya itu sebagai berikut:
Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (Al Anfaal 35)
Karena itu Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT dengan diberikan Al Qur’an untuk mengajarkan agama-Nya (agama Islam) kepada manusia termasuk kepada penduduk Mekkah, sekitarnya dan di luar Mekkah. Dalam agama Islam ada penjelasan pelaksanaan ibadah haji yang benar. Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT itu merupakan pengabulan doa Nabi Ibrahim ketika membangun kembali Ka’bah, sebagai berikut:
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah 129)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW itu penduduk dan tinggal di Mekkah?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekkah ini. (Al Balad 1-2)
Tilmidzi: “Apakah Rasul-Rasul lain mengetahui kewajiban mengerjakan haji ke Baitullah di Mekkah tersebut?”
Mudariszi: “Nabi Ibrahim sebagai Rasul yang mengetahui kewajiban haji ke Baitullah itu menunjukkan bahwa semua Rasul seharusnya mengetahui juga dan begitu pula dengan umat Rasul-Rasul. Tapi hal itu tidak dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an seperti Dia tidak menjelaskan seluruh Rasul dalam Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)
Selain itu, Nabi Ibrahim mempunyai dua putera yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, yang keduanya dijadikan-Nya sebagai Rasul. Kedua putera Nabi Ibrahim itu sudah seharusnya mengetahui kewajiban haji ke Baitullah yaitu dari beliau sendiri. Nabi Ibrahim bersyukur kepada Allah SWT dengan dikaruniakan kedua puteranya tersebut dan hal itu diucapkannya ketika membangun kembali Ka’bah, sebagai berikut:
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. (Ibrahim 39)
Nabi Ishaq pula dikaruniakan-Nya putera yang dijadikan-Nya sebagai Rasul yaitu Nabi Yaqub. Nabi Yaqub dikarunia-Nya keturunan yang sebagian besar dijadikan-Nya sebagai Rasul, yaitu Rasul-Rasul atau Nabi-Nabi dari Bani Israil. Israil merupakan nama lain dari Nabi Yaqub. Semua Rasul-Rasul itu sudah seharusnya mengetahui kewajiban mengerjakan haji di Baitullah di Mekkah. Allah SWT berfirman:
Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, ‘Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (Al An’aam 84-85)\
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al Baqarah 130-133)
Sedangkan Nabi Ismail, putera Nabi Ibrahim yang membantu Nabi Ibrahim dalam membangun kembali Ka’bah (Baitullah), tinggal di Mekkah dan hanya dikaruniakan-Nya seorang keturunan yang dijadikan-Nya sebagai Rasul yaitu Rasulullah SAW.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa mengetahui Baitullah dan kewajiban mengerjakan haji di Baitullah?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah 144)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasul-Rasul dari keturunan Nabi Yaqub (Bani Israil) dan Nabi Ishaq telah mengetahui tentang Baitullah dan beribadah di Baitullah termasuk kewajiban mengerjakan haji. Tapi karena umat Nabi Musa dan Nabi ‘Isa yang kafir telah menyembunyikan dan merubah ayat-ayat Taurat dan ayat-ayat Injil termasuk merubah hukum-hukum agama-Nya yang dijelaskan-Nya dalam Taurat dan Injil, maka mereka menjadi tidak mengikuti agama-Nya atau tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Anak cucu mereka yang lahir kemudian menjadi tidak mengetahui lagi kebenaran tentang Baitullah dan mengerjakan haji. Allah SWT lalu memperingatkan Ahli Kitab tersebut melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-Rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Maa-idah 19)
Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengutus Rasulullah SAW untuk memperingatkan manusia atas kewajiban mereka mengerjakan haji ke Baitullah di Mekkah?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengutus Rasulullah SAW untuk manusia dengan beliau diberikan Al Qur’an untuk disampaikan kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Manusia dalam firman-Nya di atas itu yaitu umat (orang-orang) Islam, Ahli Kitab (umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa) dan orang-orang musyrik atau orang-orang yang tidak beragama dengan agama-Nya atau orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan berhala. Karena itu Allah SWT memerintahkan Ahli Kitab untuk beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. (An Nisaa’ 47)
(Kami terangkan yang demikian itu) supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. (Al Hadiid 29)
Dan Allah SWT memerintahkan orang-orang musyrik untuk beriman kepada Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW, sebagai berikut:
(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (Al An’aam 156)
Dan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah terdapat penjelasan tentang mengerjakan haji di Baitullah di Mekkah. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Kami memberi tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (Al Hajj 26)
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (Al Hajj 27-29)
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (Al Hajj 30-31)
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Al Hajj 32)
Wallahu a’lam.