Apakah Rasulullah SAW Ajarkan Manusia Tentang Ilmu Dunia?

Dialog Seri 16: 10

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW mengajarkan ilmu pengetahuan tentang dunia kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang beliau ajarkan kepada manusia dengan Al Qur’an adalah tentang Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, tentang tauhid dan tentang agama Allah, agama tauhid yaitu agama Islam, sebagai berikut:

 

Dari Musa bin Thalhah dari Ayahnya, dia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah SAW dan bertemu dengan sekelompok orang yang sedang berada di pucuk pohon kurma.” Beliau bertanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Mereka sedang mengawinkan mayang (serbuk) kurma, yaitu mengawinkan serbuk laki-laki dengan serbuk perempuan.” Rasulullah SAW bersabda: “Aku kira pekerjaan itu tidak ada faedahnya.” Setelah diberitahu sabda beliau tersebut, mereka lalu menghentikannya. Kemu­dian Rasulullah SAW diberitahu tentang pekerjaan tersebut, beliau ber­sabda: “Jika pekerjaan itu bermanfaat bagi mereka, maka kerjakanlah. Sesungguhnya itu hanya perkiraanku saja. Kalian jangan mengikuti perkiraan itu. Tetapi jika aku berbicara tentang Allah, maka ikutilah. Sesungguhnya aku tidak mungkin berdusta mengenai Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.” (HR Muslim)

 

Dari Rafi’ bin Khadij, dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW tiba di Madinah. Orang-orang sedang merawat pohon kurma. Mereka tengah mengawinkan kurma. Melihat itu beliau ber­tanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Kami biasa mengerjakannya.’ Lalu beliau bersabda: “Barangkali kalau kalian tidak mengerjakannya, hal itu akan lebih baik.” Mereka lalu meninggalkan pekerjaan tersebut. Namun hasil kebon kurma me­reka menjadi berkurang. Kemudian mereka menuturkan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Jika aku memerintahkan tentang urusan agama kalian, maka ikutilah. Tetapi kalau aku memerintahkan kepada kalian tentang urusan ke­hidupan dunia, maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Rasulullah SAW tidak mengajarkan ilmu pengetahuan dunia?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak diwajibkan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dunia kepada manusia, tapi ketika beliau menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam, beliau juga menyampaikan ilmu tersebut. Karena Al Qur’an itu sebagai berikut:

 

Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran. (Yaasiin 69)

 

Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. (Al Baqarah 231)

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)

 

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya dalam firman-Nya di atas yaitu Allah SWT tidak saja mengajarkan agama Islam kepada manusia dengan Al Qur’an tapi juga mengajarkan tentang manusia dan semua makhluk di langit dan di bumi yang terkait dengan manusia akibat dari Dia tundukkan (karuniakan) semua makhluk itu untuk kepentingan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)

 

Karunia-Nya yang untuk kehidupan manusia di bumi itu berakibat kepada manusia yaitu kepada keinginan dan perbuatan manusia. Dan di antara karunia-Nya tersebut ada yang bermanfaat dan ada yang menimbulkan penyakit bagi manusia, sehingga itu berakibat kepada keinginan dan perbuatannya. Contoh, Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus 57)

 

Dari Numan bin Basyir, ia berkata: Aku men­dengar (sambil memegang kedua telinganya) Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itu pun jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat yang tidak diketahui oleh orang banyak. Oleh karena itu, barangsiapa men­jaga diri dari perkara syubhat, ia telah terbebas (dari kecaman) untuk agamanya dan kehormatannya. Dan orang yang terjerumus ke dalam syubhat, berarti terjerumus ke dalam perkara haram, seperti penggem­bala yang menggembala di sekitar cagar alam, maka kemungkinan besar gembalaannya akan merumput di cagar alam tadi. Ingat! Sesungguhnya setiap penguasa itu memiliki daerah terlarang. Ingat! Sesungguhnya daerah terlarang milik Allah adalah apa-apa yang diharamkanNya. Ingat! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging; apabila ia baik, baik pula seluruh tubuh; dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh; itulah hati.” (HR Muslim)

 

Rusaknya hati manusia yang merusak seluruh tubuh dalam sunnah Rasulullah di atas yaitu hati manusia yang rusak akan merusak organ-organ tubuhnya. Rusaknya organ-organ tubuh menjadikan manusia sakit dan itu mempengaruhi amalannya (perbuatannya). Itu berarti Al Qur’an dan Rasulullah SAW juga mengajarkan manusia ilmu pengetahuan dunia meskipun Rasulullah SAW tidak menjelaskan terperinci seperti beliau menjelaskan agama Islam. Allah SWT menyeru manusia melalui firman-Nya ini:

 

Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shaad 29)

 

Tilmidzi: “Bagaimana contoh Al Qur’an dan Rasulullah SAW menjelaskan ilmu pengetahuan dunia yang berkaitan dengan manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT (Al Qur’an) menjelaskan penciptaan manusia yang tidak terlihat oleh manusia karena terjadi di dalam tubuh wanita. Allah SWT berfirman:

 

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). (Al Qiyaamah 37)

 

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. (Al Insaan 2)

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Mu’minuun 12-14)

 

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah), sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. (Al Hajj 5)

 

Firmannya-Nya di atas yang menjelaskan manusia diciptakan dari air mani yaitu suatu partikel yang lalu membesar hingga dia menjadi lemah dan wafat, menunjukkan manusia mengandung sejumlah partikel pada organ-organ dalam tubuhnya. Dan Rasulullah SAW menjelaskan pula hal penciptaan manusia dalam tubuh wanita tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abdullah (ibnu Masud), dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya seorang dari kamu penciptaannya dikumpulkan dalam perut Ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu empat puluh hari. Kemudian menjadi sepotong daging seperti itu empat puluh hari. Kemudian (sesudah membentuk), Allah mengutus malaikat dan diperintahkan dengan empat kalimat dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalnya, rezkinya, ajalnya dan celaka atau bahagia, kemudian ditiupkan roh kepadanya. (HR Bukhari)

 

Sehingga penjelasan Al Qur’an dan sunnah Rasulullah di atas itu dapat dipelajari oleh manusia tentang keadaan dalam tubuhnya hingga lalu menjadi ilmu pengetahuan.”

 

Tilmidzi: “Apakah manusia tumbuh membesar karena makanan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia hidup dengan makanan dan makanannya itu terdapat di bumi beserta kebutuhan-kebutuhan hidup yang lain. Allah SWT berfirman:

 

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al Anbiyaa’ 8)

 

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)

 

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa semua yang ada di bumi itu halal untuk manusia, kecuali yang diharamkan-Nya, sebagai berikut:

 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (Al Maa-idah 3)

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah 90)

 

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (An Nahl 67)

 

Dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang khamer sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Khamer itu berasal dari kedua pohon ini: kurma dan ang­gur. (HR Muslim)

 

Dari Said bin Abi Burdah yang bersumber dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW mengirim kakek Said (Abu Musa) dan Muadz ke Yaman. Rasulullah SAW bersabda kepada keduanya: Setiap apa yang memabukkan dari shalat adalah haram. (HR Muslim)

 

Allah SWT mengetahui makanan yang baik untuk pertumbuhan manusia, sehingga Dia perintahkan manusia untuk memakan yang baik dan halal. Allah SWT berfirman:

 

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah 168)

 

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. (Al An’aam 118)

 

Tilmidzi: “Makanan apakah yang disediakan oleh Allah SWT di bumi untuk manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjediakan makanan untuk manusia dari tumbuh-tumbuhan yaitu mahluk hidup ciptaan-Nya. Makanan itu berupa biji-bijian, buah-buah, sayur-sayur dengan berbagai macam rasa. Allah SWT berfirman:

 

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. (Yaasiin 33-35)

 

Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al An’aam 141)

 

Allah SWT juga menjadikan makhluk hidup berupa hewan di darat, di air dan di udara sebagai makanan bagi manusia. Allah SWT memberikan hewan ternak untuk manusia dengan berbagai manfaatnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. (An Nahl 5-7)

 

Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu. Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan, dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut. (Al Mu’minuun 21-22)

 

Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (Faathir 12)

 

Tilmidzi: “Apakah makanan untuk menyembuhkan penyakit juga disediakan oleh Allah SWT di bumi?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Kalau Allah menurunkan suatu penyakit, maka Allah juga menurunkan obatnya.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Setiap penyakit itu ada obatnya. Karena itu, apabila obat tepat me­ngena pada penyakit, maka penyakitpun sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla. (HR Muslim)

 

Allah SWT menjelaskan contoh obat bagi penyakit manusia yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan dari binatang, sebagai berikut:

 

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (An Nahl 68-69)

 

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An Nahl 66)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa ada obat pada tumbuh-tumbuhan dan binatang untuk menyembuhkan penyakit manusia, tapi harus dipelajari dan ditelitinya dahulu. Rasulullah SAW menjelaskan contoh tumbuh-tumbuhan dan binatang yang dapat menyembuhkan penyakit manusia sebagai berikut:

 

Diceritakan oleh Abu Hurairah, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat dari segala macam penyakit, kecuali kematian. (HR Muslim)

 

Dari Said bin Zaid dari Rasulullah SAW yang bersabda: Cendawan itu sebangsa Manna yang dulu diturunkan Allah kepada Nabi Musa, sedangkan airnya bisa digunakan sebagai obat mata. (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Apabila ada seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang dari kamu, maka hendaknya kamu tenggelamkan seluruh tubuhnya kemudian buang­lah, karena pada salah satu sayapnya terdapat obat sedang pada sayapnya yang lain terdapat penyakit.” (HR Bukhari)

 

Semua penjelasan di atas menunjukkan bahwa Al Qur’an dan Rasulullah SAW tidak saja menjelaskan (mengajarkan) agama Islam kepada manusia, tapi juga ilmu pengetahuan tentang dunia.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana pemeliharaan atas kebutuhan makanan (hidup) manusia tersebut di bumi?”

 

Mudarisszi: “Allah SWT menjadikan binatang berpasang-pasangan dan Dia mengembang biakkannya dengan perkawinan seperti manusia. Sehingga binatang ternak dapat diternak (dipelihara) oleh manusia agar terjamin kebutuhan makanannya. Allah SWT berfirman:

 

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. (Asy Syuura 11)

 

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. (Luqman 10)

 

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri lalu mereka menguasainya? (Yaasiin 71)

 

Demkian pula dengan tumbuh-tumbuhan, contoh serbuk kurma yang dikawinkan oleh sahabat Rasulullah, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Musa bin Thalhah dari Ayahnya, dia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah SAW dan bertemu dengan sekelompok orang yang sedang berada di pucuk pohon kurma.” Beliau bertanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Mereka sedang mengawinkan mayang (serbuk) kurma, yaitu mengawinkan serbuk laki-laki dengan serbuk perempuan.” (HR Muslim)

 

Allah SWT pula mengawinkan tumbuh-tumbuhan yang tidak dipelihara oleh manusia dengan meniupkan angin, sebagai berikut:

 

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al Hijr 22)

 

Allah SWT memelihara (mengurus) semua binatang yang tidak dipelihara oleh manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (Al ‘Ankabuut 60)

 

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Huud 6)

 

Dengan demikian, Allah SWT memelihara semua tumbuh-tumbuhan dan binatang yang tidak dipelihara oleh manusia, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Al An’aam 59)

 

Allah SWT memelihara semua tumbuh-tumbuhan dan binatang yang dipelihara-Nya dan yang dipelihara oleh manusia dengan menurunkan air hujan dari langit. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan 48)

 

Allah SWT menjadikan tumbuh-tumbuhan dan binatang seperti manusia, yaitu tumbuh (lahir) dari kecil hingga membesar. Sehingga tumbuh-tumbuhan dan binatang tidak berbeda dengan manusia, yaitu mengandung sejumlah partikel dalam tubuhnya. Itu menjadikan tumbuh-tumbuhan dan binatang dapat dipelajari keadaan tubuhnya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana air hujan itu untuk pertumbuhan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan?”

 

Mudariszi: “Air hujan yang berasa tawar itu untuk makhluk hidup di bumi termasuk untuk manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, karena Allah SWT berfirman:

 

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)

 

Dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar. (Al Mursalaat 27)

 

Allah SWT menumbuhkan (menghidupkan) tumbuh-tumbuhan dengan air hujan yang sebagian tumbuh-tumbuhan itu menjadi makanan bagi manusia dan bagi binatang. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Luqman 10)

 

Adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. (Yunus 24)

 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (As Sajdah 27)

 

Allah SWT menyimpan air hujan dalam tanah sebagai persediaan untuk semua makhluk hidup di bumi pada waktu tidak turun hujan. Air hujan dalam tanah itu dikeluarkan-Nya melalui mata air-mata air dan sungai-sungai untuk mengairi tumbuh-tumbuhan dan untuk keperluan manusia dan binatang. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (Al Hijr 22)

 

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air. (Al Qamar 12)

 

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. (Ar Ra’d 17)

 

Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (An Naazi’aat 30-33)

 

Sehingga, dengan air hujan itulah Allah SWT memelihara dan menumbuhkan manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu. (‘Abasa 25-32)

 

Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (An Nahl 10-11)

 

Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. (Thaahaa 53-54)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kepada manusia tentang turunnya air hujan?”

 

Mudariszi: “Ya! Matahari menyinari bumi termasuk menyinari air di laut, di sungai, di danau, lalu menjadikan air itu menguap seperti mendidihnya air. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar. (Yunus 5)

 

Dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. (Thaahaa 119)

 

Seperti mendidihnya air yang sangat panas. (Ad Dukhaan 46)

 

Penguapan air itu menyebabkan partikel-partikel (ringan) air laut, sungai, danau, naik ke udara. Partikel-partikel air itu lalu bertemu dengan partikel-partikel air laut, sungai, danau yang lainnya karena terbawa oleh angin, sehingga membentuk awan, yaitu awan yang mengandung partikel-partikel air. Allah SWT berfirman:

 

Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)

 

Dan awan yang mengandung hujan. (Adz Dzaariyaat 2)

 

Awan-awan yang terus bertemu karena angin, menjadikan partikel-partikel air di awan bertambah banyak. Jika awan sudah terbebani oleh partikel-partikel air yang banyak dan tidak lagi mampu menahannya, maka partikel-partikel air itu tumpah (jatuh) ke bumi sebagai air hujan. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan. (Faathir 9)

 

Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Ar Ruum 48)

 

Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah. (An Naba’ 14)

 

Allah SWT terus mengirim angin membawa awan-awan ke tempat-tempat yang tinggi, rendah atau tandus agar menumpahkan air hujan di tempat itu. Allah SWT berfirman:

 

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (An Nuur 43)

 

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (ke-Esaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)

 

Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (Al Jaatsiyah 5)

 

Sinar matahari menjadikan udara di bumi mengandung partikel sinar matahari, partikel air dan partikel-partikel lain yang semua itu terkait dengan kehidupan manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang, karena ketiga makhluk itu menghirup dan mengeluarkan udara ketika bernafas. Sehingga keadaan udara dapat dipelajari karena berpengaruh kepada pertumbuhan dan kesehatan manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Manusia dapat menderita sakit jika menghirup udara (partikel) yang tidak diterima (tidak sesuai) oleh partikel-partikel tubuhnya, karena partikel (dari udara) itu dapat merusak sel-sel dan organ-organ dalam tubuhnya. Jika suatu daerah terkena wabah yaitu daerah yang udaranya mengandung partikel-partikel pembawa penyakit, maka Rasulullah SAW perintahkan ini:

 

Dari Usamah, ia berkata: “Rasulullah SAW ber­sabda: “Sesungguhnya sampar ini merupakan siksa yang pernah di­timpakan kepada orang-orang yang hidup sebelum kalian atau kepada Bani Israil. Jadi, apabila itu terjadi di suatu daerah, maka janganlah kalian keluar dari daerah itu untuk menghindarinya. Dan kalau berjangkit di suatu daerah, maka janganlah kalian memasuki daerah ter­sebut.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah hujan itu turun pada waktu-waktu tertentu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT pergilirkan air hujan menurut waktu-waktunya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya). (Al Furqaan 50)

 

Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. (Az Zumar 5)

 

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar Rahmaan 5)

 

Hal tersebut di atas terjadi karena Allah SWT menjadikan matahari, bulan dan bintang-bintang beredar di orbitnya atau di garis edarnya masing-masing, sebagai berikut:

 

Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang. (Al Ma’aarij 40)

 

Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (Al Anbiyaa’ 33)

 

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Ibrahim 33)

 

Peredaran matahari dan bulan yang tetap itu membuat terjadi waktu malam dan waktu siang. Waktu-waktu itu berguna bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. yaitu untuk bekerja mencari nafkah dan beristirahat. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). (Yunus 67)

 

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al Qashash 73)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjadikan semua yang ada di langit dan di bumi menurut perhitungan?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (Ar Ruum 8)

 

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)

 

Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (An Nisaa’ 86)

 

Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al Jin 28)

 

Sehingga manusia dapat menghitung waktu untuk keperluan (kebutuhan) hidupnya. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus 5)

 

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. (At Taubah 36)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW memegang tanganku, lalu bersabda: Allah Azza wa Jalla menciptakan bumi pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung di dalamnya pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan halhal yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan berbagai binatang di bumi pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jumat sesudah Asar di akhir pencipta­an, di penghujung waktu Jumat, yakni antara waktu asar sampai malam. (HR Muslim)

 

Allah SWT menetapkan waktu dan ukuran bagi segala sesuatu (dalam firman-Nya di atas), menunjukkan segala sesuatu (termasuk makhluk-makhluk) memiliki usianya masing-masing. Sehingga manusia dapat mempelajari akibat dari akhir suatu makhluk, karena Dia peringatkan manusia sebagai berikut:

 

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al A’raaf 56)

 

Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al A’raaf 74)

 

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya. (Asy Syu’araa’ 183)

 

Peringatan Allah di atas itu termasuk dalam syariat agama Islam. Tidak membaca Al Qur’an maka tidak akan mengetahuinya, sehingga cenderung akan melanggar peringatan Allah itu. Dengan demikian, Al Qur’an dan Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan agama Islam, tapi juga ilmu pengetahuan tentang dunia. Dan Allah SWT berfirman:

 

Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah 269)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply