Mengapa Allah SWT Perintahkan Untuk Ikuti Al Qur’an & As Sunnah?

Dialog Seri 17: 1

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan agama dan peraturan agama-Nya bagi semua makhluk ciptaan-Nya di langit dan di bumi?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah menetapkan agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya bagi semua makhluk ciptaan-Nya di langit dan di bumi ketika mereka menjalani hidupnya di dunia (atau di dalam kehidupan dunia). Allah SWT mewajibkan setiap makhluk menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya juga harus menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

Allah SWT menurunkan dan menjelaskan agama-Nya dan syariat agama-Nya untuk manusia melalui ayat-ayat-Nya (Kitab-Nya) dan Rasul-Rasul-Nya yang menerima ayat-ayat-Nya tersebut. Melalui ayat-ayat-Nya itu, Allah SWT menjelaskan kepada manusia (umat Rasul) untuk mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya ketika mereka menjalani hidupnya di dunia agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT melarang manusia mengikuti selain dari ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) ketika menjalani hidup nya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)

 

Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? (Al Qalam 37-38)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW itu menjelaskan agama-Nya dan syariat agama-Nya kepada umat manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an untuk manusia, dan Dia mengutus Rasulullah SAW kepada seluruh manusia untuk menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an, menjelaskan agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)

 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)

 

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)

 

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW sudah tahu Al Qur’an dan agama-Nya sebelum menerima Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak mengetahui Al Qur’an dan agama Allah sebelum menerima Al Qur’an, bahkan beliau tidak mengetahui Iman kepada Allah SWT. Tapi Allah SWT lalu mengajarkannya dan menunjukinya dengan Al Qur’an itu. Allah SWT menjelaskan kepada Rasulullah SAW tentang hukum syariat agama-Nya dan menunjuki beliau kepada jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan Nabi-Nabi sebelum beliau dan orang-orang saleh dan bertaubat ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:  

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (Asy Syuura 52)

 

Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 26)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada Rasulullah SAW melalui malaikat utusan-Nya, karena Dia seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Asy Syuura 51)

 

Malaikat yang diutus-Nya untuk menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an kepada Rasulullah SAW yaitu malaikat Jibril, dan Jibril itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)

 

Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 4-6)

 

Ketika menyampaikan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur, Jibril diperintahkan-Nya pula untuk mengajarkan Al Qur’an kepada beliau agar ayat-ayat Al Qur’an tersebut dipahami dan tertanam di hati beliau. Allah SWT berfirman:

 

Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (Al Israa’ 106)

 

Janganlah kamu (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. (Al Qiyaamah 16-19)

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)

 

Pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an melalui Jibril itu menjadikan beliau beriman kepada-Nya dan berilmu agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. (Al ’Ankabuut 49)

 

Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Al Hujuraat 7)

 

Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. (Al Mujaadilah 22)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW meyakini Jibril adalah utusan-Nya karena Jibril itu makhluk ghaib?”

 

Mudariszi: “Ketika Rasulullah SAW menerima ayat-ayat Al Qur’an yang pertama di gua Hira, beliau lalu menceritakan kepada Khadijah (isteri Rasulullah) dan bertanya kepada Waraqah seorang Nasrani yang beriman dan berilmu. Waraqah lalu menjelaskan Jibril yang menurunkan ayat-ayat Al Qur’an itu kepada Rasulullah SAW, sebagai berikut.

 

Dari Aisyah, dia menceritakan: ”Kemudian Khadijah mengajak beliau untuk datang kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza, saudara misan Khadijah. Dia adalah seorang yang sudah menjadi Nasrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis dari kitab Injil dengan tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya: Paman, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini.” Waraqah bin Naufal berkata: Hai anak saudaraku, apa yang engkau alami?” Rasulullah SAW menceritakan semua peristiwa yang beliau alami. Mendengar penuturan itu, Waraqah berkata: Ini adalah Namus (Jibril) yang dulu turun kepada Musa. Oh, kalau saja di masa kenabianmu itu aku masih muda belia. Oh, kalau saja aku masih hidup pada saat engkau diusir oleh kaummu.” Rasulullah SAW menegas: Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: Ya! Setiap orang yang datang dengan mengemban tugas sepertimu, pasti dimusuhi. Jika harimu itu sempat kualami, tentu aku akan membelamu mati-matian. (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW mempercayai penjelasan Waraqah, karena semua ayat-ayat Al Qur’an yang beliau terima dari Jibril itu sesuai dengan apa yang terjadi dengan kaumnya yang musyrik ketika mereka diajak kepada agama-Nya dan Al Qur’an. Rasulullah SAW dapat melihat yang ghaib karena Dia berfirman:

 

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik Mekkah menolak Al Qur’an dan agama-Nya karena Al Qur’an itu dari Allah SWT atau Jibril yang ghaib?”

 

Mudariszi: “Kaum musyrik tidak mau mempercayai Al Qur’an karena mereka tidak menyukai agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Allah SWT suatu waktu perintahkan Jibril untuk membawa Rasulullah SAW Israa’ Mi’raj dari Masijidil Haram (Ka’bah) ke Masjidil Aqsha dan ke langit. Dalam perjalanan, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi-Nabi yang telah wafat di setiap langit dari tujuh lapis langit. Itu menunjukkan Rasulullah SAW diizinkan-Nya melihat alam barzakh yang ghaib. Perjalanan Rasulullah SAW hingga ke Sidratul Muntaha yaitu di atas langit yang ke tujuh. Di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW kembali melihat Jibril dalam bentuk aslinya, dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (An Najm 13-18)

 

Dari Zirr bin Hubaisy mendengar Abdullah bin Mas’ud yang membaca (surat An Najm ayat 18): Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” Abdullah berkata: Rasulullah SAW telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki enam ratus sayap. (HR Muslim)

 

Firman-Nya di atas membantah kaum musyrik yang mendustakan Rasulullah SAW sudah melihat Jibril dalam bentuk aslinya ketika Jibril menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada beliau. Alllah SWT berfirman:

 

Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. (At Takwiir 22-24)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha melihat surga?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Abu Dzarr menceri­terakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian Jibril pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan tertutup oleh warna, yang mana yang tidak mengetahui apakah itu sebenarnya. Kemudian saya dimasukkan ke surga, tiba-tiba disana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kas­turi.” (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan Rasulullah SAW diizinkan oleh Allah SWT melihat surga yaitu salah satu tempat bagi manusia dalam kehidupan akhirat, yaitu kehidupan setelah kehidupan dunia musnah karena kiamat.”

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW melihat Allah SWT ketika beliau di Sidratul Muntaha?”

 

Mudariszi: “Sekalipun Rasulullah SAW diizinkan-Nya melihat yang ghaib, tapi beliau tidak dapat melihat Allah SWT yang ghaib karena itu sudah menjadi ketetapan-Nya. Rasulullah SAW tidak melihat Dia karena terhalang oleh cahaya (nur), dan itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Dzarr, dia berkata: “Aku bertanya ke­pada Rasulullah SAW: “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Beliau menjawab: “Ada nur, bagaimana aku bisa melihat-Nya.” (HR Muslim)

 

Dari Masruq, katanya: “Saya berkata kepada Aisyah: Wahai Ibu, apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya? Maka Aisyah berkata: “Dan siapa saja berbicara (bercerita) kepadamu bahwa Muhammad SAW meli­hat Tuhannya, maka ia benar-benar bohong. Kemudian Aisyah membaca: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat apa saja yang kelihatan; dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (surat Al An’am ayat 103). “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir.” (surat Asy Syuraa ayat 51).” (HR Bukhari)

 

Tapi ketika di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT dari belakang tabir yaitu perintah shalat lima waktu sehari semalam, sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Ka’bah: ”Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul-Muntaha. Ternyata dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul-Muntaha diselubungi berbagai macam ke­indahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskannya, saking indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Dia wajibkan kepadaku lima­ puluh shalat dalam setiap sehari semalam. Tatkala aku turun dan ber­temu Nabi Musa, dia bertanya: “Apa yang telah difardhukan oleh Tuhanmu kepada ummatmu?” Aku menjawab: “Lima-puluh shalat.” Musa berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Karena, ummatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku telah pernah mencobanya pada Bani Israil.” Akupun kembali kepada Tuhanku dan berkata: “”Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas ummatku.” Lalu Allah memotong lima shalat dariku. Aku kembali kepada Musa dan berkata: “Allah memotong lima shalat dariku.” Musa berkata: “Ummatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.” Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa, sam­pai Allah berfirman: “Hai Muhammad! Sesungguhnya yang Aku fardhu­kan adalah lima shalat setiap sehari semalam. Setiap shalat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima shalat sama dengan lima-puluh shalat. Dan barangsiapa meniatkan kebaikan tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa meniatkan kejahatan tetapi tidak jadi melaksanakannya, maka tidak se­suatupun dicatat. Kalau dia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan.” Aku turun hingga sampai kepada Musa, lalu aku beritahukan kepada­nya. Dia masih saja berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan.” Aku menyahut: “Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku mera­sa malu kepada-Nya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu sehari semalam langsung dari Allah SWT (dalam sunnah Rasulullah di atas). Itu menunjukkan Rasulullah SAW telah bermunajat kepada-Nya seperti Nabi Musa bermunajat kepada-Nya ketika menerima Taurat. Dengan demikian, sekalipun Rasulullah SAW tidak melihat Allah SWT, tapi beliau telah bermunajat kepada-Nya ketika menerima perintah shalat, maka itu menjadikan tauhid beliau sangat kuat yang sulit dirubah oleh Iblis dan syaitan. Sehingga itu memudahkan Rasulullah SAW menjelaskan tentang Allah SWT, Al Qur’an dan agama-Nya kepada umat manusia.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana terjadi tauhid Rasulullah SAW yang kuat itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menghendaki manusia menyembah-Nya; Dia perintahkan Jibril untuk mengajarkan Rasulullah SAW mengerjakan shalat menyembah-Nya dua raka’at dua raka’at. Pengajaran shalat dari Jibril itu sebelum beliau menerima perintah shalat lima waktu sehari semalam dari Allah SWT. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Allah Taala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat dua rakaat di rumah dan dalam perjalanan. Lalu dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan dan shalat di rumah ditambah dua raka’at lagi. (HR Bukhari)

 

Perintah shalat lima waktu sehari semalam menyembah Allah SWT itu dari Dia langsung tanpa melalui Jibril. Itu menunjukkan Rasulullah SAW menerima perintah shalat dua raka’at dua raka’at dari Jibril adalah dari Allah SWT juga, sehingga Al Qur’an yang beliau terima dari Jibril adalah benar dari Allah SWT. Perintah shalat menyembah-Nya itu bukan dari siapapun dan bukan dibuat oleh siapapun, tapi dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, Tuhan manusia. Perintah shalat dengan bacaan, gerakan dan waktu-waktu shalat yang dari Allah SWT itu telah membuat Rasulullah SAW atau umat beliau ketika mengerjakan shalat tersebut, berarti mereka sedang bermunajat kepada Allah SWT dengan menyembah-Nya (memuji-muji-Nya) dan meminta kepada-Nya. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa 14)

 

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. (Al Faatihah 5)

 

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang di antara kalian mendirikan shalatnya, maka dia adalah bermunajat pada Tuhannya.” (HR Bukhari)

 

Selain itu, Rasulullah SAW melihat bukti-bukti kehidupan setelah mati yaitu alam barzakh dan surga (kehidupan akhirat), yang semua itu ghaib dan dijelaskan dalam Al Qur’an. Hal itu menjadikan Rasulullah SAW makin takut kepada-Nya karena makin meyakini hari kiamat, hari kebangkitan dan kehidupan akhirat. Hal itu semua yang menjadikan tauhid Rasulullah SAW sangat kuat dan itu memudahkan beliau dalam menjelaskan kepada umat manusia, termasuk kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Al Qur’an, yang kafir karena menyekutukan-Nya, dan yang tidak mempercayai hari kebangkitan dan kehidupan akhirat.”

 

Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik Mekkah itu mau beriman?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW lalu menyampaikan kepada kaum musyrik yang menyembah patung-patung berhala dan mengatakan tuhan mempunyai anak dengan nama-nama yang mereka berikan sendiri, seperti firman-Nya ini:

 

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al  Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan Bapak-Bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An Najm 19-23)

 

Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka dalam firman-Nya di atas yaitu Al Qur’an yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW kepada mereka. Tapi mereka tidak mau mempercayai perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah SAW melalui mimpi seperti Nabi Ibrahim yang bermimpi perintah-Nya untuk menyembelih puteranya Nabi Ismail, yaitu sebagai berikut:

 

Maha Suci Allah, Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (Al Israa’ 1)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Itulah mimpi yang tampak oleh mata (dalam keadaan jaga) yang diperlihatkan kepada Rasulullah SAW pada malam hari ketika beliau diperjalankan ke Baitul Maqdis.” (HR Bukhari)

 

Kaum musyrik itu lalu menanyakan tentang Masjidil Aqsha di Palestina kepada Rasulullah SAW karena mereka mengetahui beliau tidak pernah ke Palestina. Allah SWT lalu membantu beliau sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Abdullah, katanya: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Ketika orang-orang Quraisy mendustakanku, maka aku berdiri di Hijir (Ismail), lalu Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis, sehingga mulailah aku memberi khabar kepada mereka tentang tanda-tanda kekuasaan-Nya dan aku melihat kepada tanda-tanda itu.” (HR Bukhari)

 

Kaum musyrik itu tetap tidak mau mempercayainya, sedangkan orang-orang beriman bertambah imannya kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekkah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. (Al ’Ankabut 47)

 

Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (At Taubah 124)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW diizinkan oleh Allah SWT melihat makhluk jin yang ghaib?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan musuh manusia yaitu Iblis dari golongan (makhluk) jin yang ingin menyesatkan manusia hingga kiamat, sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Dan Allah SWT berjanji akan menjaga dan melindungi orang-orang yang mengikuti-Nya, yaitu orang-orang yang tidak mengikuti Ibls yang terdiri dari syaitan dari golongan jin dan golongan manusia, sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)

 

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)

 

Di antara golongan jin dan manusia itu ada yang mengikuti Allah SWT (beriman) dan ada yang mengikuti Iblis (kafir). Yang mengikuti Iblis itu jin dan manusia yang disesatkan oleh Iblis hingga mereka tidak mengikuti Allah SWT. Allah SWT pertemukan Rasulullah SAW dengan jin-jin hingga sebagian jin beriman dan mengikuti-Nya, sebagai berikut:

 

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: ”Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (Al Jin 1-4)

 

Dari Amir, ia berkata: Aku bertanya kepada Al­qamah, apakah Ibnu Masud bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Masud, demikian: “Apakah ada seseorang dari kamu yang bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia (Ibnu Mas’ud) menjawab: Tidak ada. Tetapi pada suatu malam kami pernah bersama Rasulullah SAW lalu kami kehilangan beliau. Beliau bersabda: Aku didatangi jin yang mengajakku pergi, maka aku pergi bersamanya, kemudian aku membacakan  Al Quran kepada me­reka. Lalu beliau berangkat bersama kami. Beliau memperlihatkan ke­pada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka, dan mereka minta bekal kepada beliau. Beliau bersabda (kepada mereka): Bagimu setiap tulang yang disebut nama Allah padanya yang ada di tanganmu, menyempurnakan sesuatu yang asalnya daging. Dan setiap kotoran bina­tang adalah makanan bagi ternakmu. Kemudian beliau bersabda (kepada kami): Oleh sebab itu, janganlah kamu beristinja dengan kedua benda tadi, karena kedua-duanya adalah makanan saudaramu. (HR Muslim)

 

Sehingga, dengan pengetahuan ghaib yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW tersebut di atas, maka beliau memahami Allah SWT Tuhan dan Pelindung manusia, kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, dan Iblis dari makhluk jin yang merupakan musuh manusia yang ingin menyesatkan manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Semua itu dijelaskan dalam Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW berhasil menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama-Nya (Islam) kepada umat manusia?”

 

Mudariszi: “Setelah lebih kurang dua puluh tiga tahun, Rasulullah SAW berhasil menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama-Nya serta menegakkan agama-Nya yaitu agama Islam di bumi dengan mengalahkan kaum kafir di Jazirah Arab. Pada waktu melaksanakan haji Wada, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa beliau telah menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada umat manusia sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW berkhutbah pada hari Nahr, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Hari apa­kah ini?” Para sahabat menjawab: “Hari haram (suci).” Beliau ber­sabda: “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab: “Negeri haram (su­ci).” Beliau bersabda: “Bulan apakah ini?” Mereka menjawab: “Bulan haram (suci).” Beliau bersabda: “Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu adalah suci atasmu semua, sebagaimana kesucian harta­mu ini, negerimu ini dan di bulanmu ini.” Kata-kata itu berulang-ulang diucapkan oleh beliau. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya telah aku sampaikan.” Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Sesungguhnya khutbah beliau itu adalah merupakan wasiat bagi seluruh umatnya.” Rasulullah SAW meneruskan: “Maka karena itu, hendaklah yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir. Dan janganlah kamu menjadi kafir kembali sesudahku, dimana kamu berkelahi sesamamu.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT pula kemudian menetapkan sebagai berikut:

 

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)

 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)

 

Rasulullah SAW menegakkan agama Islam dengan mengalahkan kaum kafir karena dibantu oleh Allah SWT dan para sahabatnya yang berilmu dan beriman. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak. (At Taubah 25)

 

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. (At Taubah 14-15)

 

Tilmidzi: “Apakah para sahabat yang membantu Rasulullah SAW itu beriman dan berilmu karena diajarkan oleh Rasulullah SAW dengan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Setelah Rasulullah SAW menerima Al Qur’an, beriman dan berilmu, beliau lalu diperintahkan-Nya untuk menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an kepada kaum beliau sebagai umat manusia yang pertama. Penjelasan Rasulullah itu juga merupakan pengajaran beliau atau As Sunnah, yaitu pengajaran yang berupa ucapan dan perbuatan beliau yang mengikuti Al Qur’an (hikmah Al Qur’an). Kaum beliau yang tidak mengetahui agama-Nya lalu mendengarkan Rasulullah SAW hingga memahami dan beriman kepada-Nya. Kaum beliau menjadi mengetahui jika agama dan jalan yang mereka tempuh selama itu adalah salah karena bukan di jalan-Nya yang lurus. Sehingga mereka mengakui kesesatannya dan ingin membersihkan jiwanya dari dosa-dosanya. Mereka itulah para sahabat yang lalu mengikuti agama-Nya dan menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)

 

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Ibrahim 1)

 

Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al Jumu’ah 2-3)

 

Allah SWT perintahkan orang-orang beriman (termasuk para sahabat) untuk taat mengikuti Rasulullah SAW (As Sunnah) selama menjalani hidupnya di dunia, sebagai berikut:

 

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. (Al Hasyr 7)

 

Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An Nisaa’ 80)

 

Jika mereka taat mengikuti Rasulullah SAW (As Sunnah) selama menjalani hidupnya, maka mereka ditunjuki oleh Allah SWT dengan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)

 

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raaf 158)

 

Petunjuk Allah itu pengajaran Allah juga. Sehingga, Allah SWT yang mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada sahabat (manusia) dengan Al Qur’an dan As Sunnah hingga mereka bertakwa dan berilmu agama Islam. Allah SWT berfirman:

 

Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah 231)

 

Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al Baqarah 150-152)

 

Jika Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an dan Jibril hingga beliau beriman dan berilmu agama Islam, maka Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada para sahabat (kepada manusia) dengan Al Qur’an dan Rasulullah SAW (As Sunnah) hingga mereka beriman dan berilmu agama Islam. Rasulullah SAW juga menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah para sahabat (manusia) yang bertakwa (beriman) dan berilmu itu menjalani hidupnya di dunia di jalan-Nya yang lurus?”

 

Mudariszi: “Para sahabat (manusia) yang beriman dan berilmu menjadi patuh dan taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dan menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus karena mengikuti firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran 31-32)

 

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maa-idah 92)

 

Taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) itu taat mengikuti syariat dan hukum-hukum agama Islam yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)

 

Para sahabat mengetahui jika mereka memegang teguh agama Islam dengan taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) ketika menjalani hidupnya di dunia, maka dia akan ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus hingga sampai kepada-Nya di surga. Hal itu yang membuat mereka kemudian membantu Rasulullah SAW dalam berjihad menegakkan agama Islam (agama-Nya) di jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)

 

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Al Qiyaamah 22-23)

 

Tapi jika mereka tidak mentaati Al Qur’an atau tidak mentaati Rasulullah SAW, maka mereka tidak akan ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, karena mereka beragama dan beriman tidak seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply