Dialog Seri 17: 2
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengajarkan Iman, agama-Nya (Islam) dan jalan-Nya kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an hingga beliau menyampaikan dan menjelaskanya kepada manusia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW seperti manusia lainnya pada awalnya, yaitu tidak mengenal Allah SWT, Al Qur’an, Iman, agama-Nya (Islam) dan jalan-Nya yang lurus. Sejak diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, beliau diajarkan Al Qur’an oleh Allah SWT melalui utusan-Nya dari malaikat yaitu Jibril, sampai beliau beriman kepada Allah SWT, berilmu agama Islam dan menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus. Dengan demikian, Rasulullah SAW menjadi orang pertama yang mengetahui (memahami) Al Qur’an dan agama Islam. Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (Asy Syuura 52)
Demi Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam Induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (Az Zukhruf 2-4)
Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 26)
Pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an melalui Jibril menjadikan beliau memahami Al Qur’an yang mengandung banyak hikmah hingga beliau beriman dan berilmu dengan membenci kekafiran, kefasikan, kedurhakaan. Allah SWT berfirman:
Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. (Al ’Ankabuut 49)
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Al Hujuraat 7)
Iman dan ilmu Rasulullah SAW menjadikan beliau menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus tanpa mau mengikuti jalan-jalan kekafiran, kefasikan, kezaliman dan kedurhakaan. Allah SWT berfirman:
Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (Az Zukhruf 43)
Demi Al Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-Rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus. (Yaasiin 2-6)
Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW untuk mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam dengan hikmah kepada umat manusia serta menyeru mereka kepada jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya melalui penjelasan dan perbuatan beliau (As Sunnah). Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (yaitu) jalan Allah. (Asy Syuura 52-53)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)
Rasulullah SAW benar-benar memberi petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus dalam firman-Nya di atas yaitu menjelaskan kepada jalan-Nya yang lurus dengan ucapan dan perbuatan beliau. Rasulullah SAW tidak dapat membuat manusia mendapat petunjuk. Petunjuk hanya diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang mau ditunjuki-Nya dan dikehendaki-Nya ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah 272)
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al Qashash 56)
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW memberikan petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus kepada manusia?”
Mudariszi: “Di antara manusia yang menjalani hidupnya di dunia, ada orang-orang yang tidak tersesat (karena mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya) dan ada yang tersesat (karena tdak mengikuti agama-Nya). Orang-orang yang tersesat itu menjalani hidupnya dengan mengikuti jalan kepercayaannya (agamanya) yang bukan jalan-Nya yang lurus. Rasulullah SAW tidak mengetahui kedua golongan itu. Rasulullah SAW menunjuki atau mengajarkan mereka kepada jalan-Nya yang lurus bersamaan dengan ketika beliau mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada mereka. Dengan demikian Rasulullah SAW menunjuki mereka melalui penjelasan dan perbuatan beliau (As Sunnah) yang dilakukannya secara bertahap. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al Jumu’ah 2-3)
Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (Al Israa’ 106)
Allah SWT lalu perintahkan manusia untuk mengikuti Rasulullah SAW (As Sunnah) ketika menjalani hidupnya di dunia supaya Dia menunjukinya kepada jalan-Nya yang lurus dengan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)
Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)
Tilmidzi: “Apakah pemeluk agama Islam itu belum ditunjuki-Nya?”
Mudariszi: “Orang yang memeluk agama Islam itu telah mendapat petunjuk dari Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. (Al Baqarah 137)
Orang-orang yang belum memeluk agama Islam berarti mengikuti selain dari Allah SWT yaitu Iblis yang ingin menyesatkan manusia dari Dia dan agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)
Jika di antara orang-orang yang belum memeluk agama-Nya itu ada yang merasa sulit untuk mengetahui perkara yang baik dan yang buruk (jahat) ketika menjalani hidupnya dan dia ingin kebaikan bagi dirinya, maka dia akan mencari jalan Tuhannya (agama-Nya). Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al Insaan 29)
Dan jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi orang itu, maka Dia akan menunjukinya jalan kepada agama-Nya agama Islam hingga dipeluknya. Allah SWT berfirman:
Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al An’aam 125)
Dengan demikian, orang yang memeluk agama Islam itu adalah orang yang diberikan-Nya petunjuk.”
Tilmidzi: “Apakah pemeluk agama Islam itu baru ditunjuiki-Nya kepada agama Islam dan belum ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus?”
Mudariszi: “Ya! Jika pemeluk agama Islam tidak membaca (mempelajari) Al Qur’an ketika menjalani hidupnya, dia berarti belum beriman kepada Al Qur’an. Sehingga dia tidak ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, karena Allah SWT berfirman:
Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (At Takwiir 27-28)
Jika dia tidak mengikuti Rasulullah SAW (As Sunnah) dalam beribadah ketika menjalani hidupnya, dia berarti belum beriman kepada Rasulullah SAW. Sehingga dia tidak ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, sekalipun dia mengatakan mencintai-Nya. Allah SWT berfirman:
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. (Al Hasyr 7)
Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An Nisaa’ 80)
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali ‘Imran 31)
Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An Nuur 54)
Pemeluk agama Islam itu berarti masih beriman tipis yaitu imannya kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW masih lemah, karena tidak mentaati Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah). Imannya yang tipis itu terlihat dari perbuatannya yang tidak di jalan-Nya yang lurus tapi banyak perbuatannya di jalan-jalan yang dilarang oleh agama Islam. Allah SWT berfirman:
Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu.” (Al Hujuraat 14)
Jika dia taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) atau memegang teguh agama Islam dengan taat menjalankan syariat agama Islam, maka Allah SWT akan menunjukinya ke jalan yang lurus ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Ali ‘Imran 101)
Tilmidzi: “Bagaimanakah jalan Allah yang lurus itu?”
Mudariszi: “Jalan Allah tersebut dijelaskan firman-Nya ini:
Jalan yang lurus (yaitu) jalan Allah. (Asy Syuura 52-53)
Jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 6-7)
Jalan orang-orang yang dimurkai-Nya dan jalan orang-orang yang sesat (dalam firman-Nya di atas) adalah jalan-jalan yang bengkok yang diada-adakan oleh syaitan dari golongan jin dan manusia (para pengikut Iblis). Tujuannya untuk menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika mereka menjalani hidupnya di dunia agar mereka tersesat. Allah SWT berfirman:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Allah SWT berjanji akan menjaga dan melindungi orang-orang yang mengikuti-Nya agar mereka tidak dapat disesatkan oleh Iblis (syaitan). Itu berarti Iblis (syaitan) hanya dapat menyesatkan orang-orang yang mengikutinya atau yang tidak mengikuti Allah SWT dan agama-Nya (agama Islam). Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Allah SWT menjaga orang-orang yang mengikuti-Nya yaitu dengan melindungi mereka dari syaitan dan memberikan petunjuk termasuk petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. (Al Lail 12)
Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (A Nahl 9)
Allah SWT menjelaskan jalan-Nya yang lurus kepada manusia dan Dia menunjuki mereka kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 126-127)
Karena itu Allah SWT lalu menyeru manusia ke Darusalam (surga). Jika ada orang-orang yang mengikuti seruan-Nya itu karena keimanannya, maka Allah SWT akan menunjukinya hingga mereka menjalani hidupnya di dunia dengan menempuh jalan-Nya yang lurus. Tapi jika ada orang-orang yang tetap menempuh jalan-jalan yang bengkok (bukan jalan-Nya yang lurus) ketika menjalani hidupnya, maka mereka tidak sampai ke surga tapi ke neraka. Allah SWT berfirman:
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al An’aam 116)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah umat Islam harus mentaati Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) agar ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Orang-orang beriman yang memegang teguh kepada agama Islam (dalam firman-Nya di atas) adalah orang-orang yang mentaati Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Mereka menjalani hidupnya dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus karena ketaatan mereka mengikuti syariat agama Islam (yang berupa perintah dan larangan) yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Ketaatan mereka itu karena keimanannya sehingga Allah SWT lalu menunjuki mereka kepada jalan yang lurus dan melindungi mereka dari syaitan. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (Al An’aam 71)
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (Az Zumar 14)
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Al Faatihah 5-6)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang beriman yang taat dan menjalani hidupnya di jalan-Nya itu orang-orang yang berilmu dan beriman?”
Mudariszi: “Pengajaran dan petunjuk Allah kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an melalui Jibril telah menjadikan beliau berilmu dan beriman hingga beliau berada di jalan yang lurus ketika beliau menjalani hidupnya, dan menjadikan beliau dapat menjelaskan dan mengajarkan agama Islam dan Al Qur’an dengan hikmah. Allah SWT menjelaskan akhlak dan perbuatan Rasulullah setelah diajarkan-Nya dengan Al Qur’an sebagai berikut:
Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al Qalam 3-4)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab 21)
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (At Taubah 128)
Rasulullah SAW menjalankan perintah Allah yaitu menjelaskan agama Islam dan Al Qur’an (dengan hikmah) kepada kaumnya (manusia) yang tidak mengikuti dan tidak mengetahui agama-Nya (Islam), serta beliau menunjuki mereka kepada jalan-Nya yang lurus dengan Al Qur’an. Mereka, yang lalu menjadi sahabat beliau, kemudian berilmu dan beriman. Allah SWT berfirman:
Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al Baqarah 150-152)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. (Al Mujaadilah 22)
Ilmu dan iman para sahabat itu lalu membuat mereka menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus yaitu dengan membantu Rasulullah SAW dalam menyampaikan Al Qur’an dan dalam menegakkan agama Islam dengan harta dan jiwa mereka. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujuraat 15)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah 16)
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Allah SWT membenarkan iman dan perbuatan para sahabat yang di jalan-Nya itu dan Dia lalu menepati janji-Nya dengan membantu mereka di dunia, sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak. (At Taubah 25)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 100)
Dengan demikian, jika Allah SWT mengajarkan dan menunjuki Rasulullah SAW dengan Al Qur’an dan Jibril hingga beliau berilmu, beriman dan berada di jalan-Nya yang lurus, maka Dia mengajarkan dan menunjuki umat manusia dengan Al Qur’an dan Rasulullah SAW (As Sunnah) hingga mereka berilmu, beriman dan berada di jalan-Nya yang lurus. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah 231)
Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW menjelaskan dan mengajarkan umat Islam yang berbeda-beda itu?”
Mudariszi: “Dalam menjalani hidupnya di dunia, Allah SWT menjadikan manusia (laki-laki dan perempuan) sebagai khalifah atau pemimpin dengan diberikan tanggung jawab sebagai berikut:
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Faathir 39)
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggauta keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap mereka. Seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin bagi harta suruhannya, dan dia juga akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan ingat, setiap kamu adalah pemimpin. Setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang kamu pimpin.” (HR Muslim)
Setiap pemimpin atau khalifah diwajibkan-Nya untuk mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalankan tugasnya dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk dalam menghadapi masalahnya (perkaranya) yang besar atau yang kecil. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Dan Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus dengan kata-kata yang singkat tapi padat isinya.” (HR Bukhari)
Dari Hudzaifah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amanat itu turun dari langit di dalam lubuk hati para pemimpin. Dan Al Qur’an telah turun. Mereka membaca Al Qur’an dan mengetahui As-sunnah.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW, selain sebagai pemimpin umat Islam, juga sebagai pemimpin negeri (pemerintahan) Islam, hakim negeri, pemimpin perang, pemimpin harta, pemimpin keluarga ketika beliau menjalani hidupnya. Sehingga pengajaran dan petunjuk Rasulullah SAW (As Sunnah) itu sangat banyak yang mencakup semua aturan dalam kepemimpinan manusia. Allah SWT dan Rasulullah SAW menghendaki umat Islam mentaati syariat agama Islam semampunya dalam beribadah dan berbuat (beramal) ketika mereka menjalani hidupnya sebagai berikut:
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah. (At Taghaabun 16)
Diceritakan oleh Abu Salamah bin Abdurrahman dan Sa’id bin Al Musyyab, keduanya berkata: “Abu Hurairah pernah bercerita, bahwa sesungguhnya dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apa saja yang aku larang dari kalian, maka tinggalkanlah. Dan apa saja yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah sebatas kemampuan kalian.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, istri Rasulullah SAW. Sesungguhnya ia berkata: “Setiap kali Rasulullah SAW disuruh memilih dua hal, maka beliau akan mengambil yang paling ringan di antara keduanya selama itu tidak dosa. Jika yang paling ringan itu ternyata dosa, maka beliau menjauhinya pula. Rasulullah SAW tidak pernah membalas untuk diri sendiri, kecuali jika kehormatan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung diinjak-injak.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW melarang umat Islam banyak bertanya atas penjelasan dan amal ibadah (perbuatan) beliau, sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Jangan hiraukan aku tentang sesuatu yang aku telah membiarkannya terhadap kalian. Sejatinya binasanya orang-orang yang sebelum kalian adalah disebabkan pertanyaan dan pertentangan mereka terhadap para Nabinya. Maka jika aku telah melarang kalian tentang sesuatu, jauhilah ia. Dan jika aku telah perintah kepada kalian untuk mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah ia selama kalian mampu.” (HR Bukhari)
Dari Amir bin Sa’ad dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sebesar-besarnya dosa orang Islam terhadap orang Islam lainnya ialah orang yang bertanya tentang sesuatu yang semula tidak diharamkan atas orang-orang Islam lalu diharamkan atas mereka disebabkan pertanyaannya.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW melarang umat Islam melakukan ibadah atau perbuatan menurut yang disukainya, yaitu sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Apabila Rasulullah menyuruh mereka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampuan. Maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan Engkau wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni engkau terhadap dosa yang terdahulu dan terkemudian.” Lalu beliau marah sehingga kemarahan itu diketahui (tampak) di wajah beliau, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling tahu tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah berbuat sesuatu pekerjaan, namun beliau kemudian memberikan keringanan. Ketika hal itu didengar oleh sebagian dari sahabat-sahabatnya, mereka seolah-olah tidak suka pada tindakan beliau tersebut dan berlagak sok tahu. Reaksi mereka itu sampai kepada beliau. Beliau lalu berdiri dan berpidato: “Apa pedulinya orang-orang itu? Mereka mendengar berita tentang diriku yang memberikan kemurahan terhadap sesuatu. Mereka lalu tidak menyukainya dan berlagak sok tahu. Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling tahu dan paling bertakwa kepada Allah daripada mereka.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah mengerjakan sesuatu hal setelah adanya dispensasi. Ada sekelompok kaum yang menjauhi hal tersebut, ternyata berita itu sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau memuji Allah seraya bersabda: “Apa pedulinya kaum-kaum itu menjauhi dari sesuatu yang aku sendiri mengerjakannya. Demi Allah, aku lebih tahu tentang Allah dan lebih takut kepada-Nya daripada mereka.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW melarang umat Islam berbuat bid’ah atau mengada-adakan ibadah yang baru dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh beliau, sebagai berikut:
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: “Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore!” Kala itu beliau bersabda: “Masa aku diutus dan hari kiamat itu hanyalah seperti kedua jari ini!” Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: “Sesudah apa yang tersebut, maka ketahuilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang disebut bid’ah). Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR Muslim)
Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agamaku, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami tanpa ada dasarnya, maka sesuatu itu tertolak.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk mengikuti beliau dalam urusan agama tetapi mengizinkannya untuk tidak mengikuti beliau dalam urusan kehidupan dunia, sebagai berikut:
Dari Rafi’ bin Khadij, dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW tiba di Madinah. Orang-orang sedang merawat pohon kurma. Mereka tengah mengawinkan kurma. Melihat itu beliau bertanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Kami biasa mengerjakannya.’ Lalu beliau bersabda: “Barangkali kalau kalian tidak mengerjakannya, hal itu akan lebih baik.” Mereka lalu meninggalkan pekerjaan tersebut. Namun hasil kebon kurma mereka menjadi berkurang. Kemudian mereka menuturkan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Jika aku memerintahkan tentang urusan agama kalian, maka ikutilah. Tetapi kalau aku memerintahkan kepada kalian tentang urusan kehidupan dunia, maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana jika ada umat Islam yang tidak mau mengikuti Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku tentu dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)
Dan Allah SWT lalu memperingatkan umat Islam yang mendurhakai-Nya dan mendurhakai Rasulullah SAW melalui firman-Nya berikut ini:
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Wallahu a’lam.