Dialog Seri 17: 3
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW terhadap Al Qur’an dan agama Islam setelah beliau wafat?”
Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)
Dari Abu Hazim, dia berkata: “Selama lima tahun aku berkawan dengan Abu Hurairah dan aku pernah mendengar dia menceritakan suatu hadits dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Orang-orang Bani Israil itu selalu diatur oleh para Nabi. Seorang Nabi meninggal dunia akan digantikan oleh seorang Nabi yang lainnya. Tetapi sesungguhnya tidak akan ada Nabi sama sekali sesudahku. Dan kelak akan bermunculan para Khalifah.” Para sahabat bertanya: “Lantas apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Rasulullah SAW menjawab: “Penuhilah pembai’atan yang pertama kemudian seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungan jawab terhadap kepemimpinan mereka.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa para sahabat diwajibkan untuk mengangkat pemimpin atau Khalifah di antara mereka untuk menjadi pemimpin umat Islam. Para sahabat lalu menetapkan Khalifah. Adapun Khaliah-Khalifah dari sahabat setelah Rasulullah SAW wafat dimulai dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Mu’awiyah. Khalifah memimpin umat Islam dengan mengikuti peraturan (syariat) agama Islam, sehingga Khalifah itu adalah pemimpin pemerintahan (kekhalifahan) Islam. Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)
Tilmidzi: “Apakah tugas Khalifah dengan kekhalifahan Islam itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tugas Khalifah ketika menjalankan kekhalifahannya sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’ 59)
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nisaa’ 105-106)
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maa-idah 8)
Selain tugas-tugasnya di atas, Khalifah ditugaskan oleh Allah SWT untuk menguatkan dan meluaskan agama-Nya Islam dan membesarkan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Al Fath 8-9)
Firman-Nya di atas diturunkan-Nya di Hudaibiyah ketika para sahabat berjanji setia kepada Rasulullah SAW akan membantu beliau dan tidak lari jika diperangi oleh kaum kafir. Allah SWT meridhai para sahabat karena janjinya kepada Rasulullah SAW yang itu berarti mereka berjanji setia juga kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al Fath 10)
Allah SWT lalu menjanjikan kemenangan bagi mereka dalam waktu dekat dengan harta rampasan yang banyak. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya), serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Fath 18-19)
Allah SWT juga menjanjikan kemenangan bagi mereka atas negeri-negeri yang belum mereka kuasai dengan harta rampasan yang banyak jika mereka memegang janjinya, yaitu menyampaikan Al Qur’an, meluaskan dan menguatkan agama Islam dan membesarkan-Nya (seperti dijelaskan firman-Nya di atas). Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan kepada mereka jika menepati janjinya, sebagai berikut:
Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya), dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min, dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Fath 20-21)
Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya). (Al Fath 22-23)
Dari Abdullah bin Maslud menceritakan dari Ayahnya berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu sekalian menang atas musuh-musuh, memperoleh harta rampasan serta dibukakan negara-negara bagimu. Barangsiapa memperoleh hal itu, maka hendaklah ia takut kepada Allah, hendaklah memerintahkan kepada kebaikan, hendaklah mencegah perbuatan munkar dan barangsiapa berbuat dusta atasku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kisra (gelar Raja Persi) telah mati, maka tidak ada Kisra lagi sesudahnya; dan apabila Kaisar (gelar Raja Rum) sudah binasa, maka tidak ada Kaisar lagi sesudahnya. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan–Nya, kekayaan mereka berdua akan diinfakkan untuk sabilillah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah para sahabat yang dipimpin oleh Khalifah-Khalifah itu lalu menepati janji mereka?”
Mudariszi: “Para sahabat yang dipimpin oleh Khalifah-Khalifah itu lalu menepati janjinya yaitu menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam, meluaskan dan menguatkan agama Islam dan membesarkan Allah SWT, hingga agama Islam meluas dari Timur bumi sampai ke Barat bumi ditambah negeri-negeri di Eropah. Penduduk negeri-negeri itu memeluk agama Islam yang hanya menyembah Allah SWT. Tersebarnya Al Qur’an dan tegaknya agama Islam itu terjadi setelah semua sahabat wafat dalam waktu sebagai berikut:
Dari Salim bin Abdullah dan Abu Bakar bin Sulaiman, sesungguhnya Abdullah bin Umar berkata: “Untuk terakhir kalinya dalam hidupnya, Rasulullah SAW bersembahyang Isya’ bersama kami. Setelah salam, beliau berdiri dan bersabda: “Tahukah kalian apa arti malam ini? Sesungguhnya dalam kurun waktu seratus tahun yang akan datang, sudah tidak ada lagi seorangpun yang masih tersisa di muka bumi ini.” Kata Ibnu Umar: “Rupanya orang-orang salah mengartikan mengenai sabda Rasulullah tersebut. Mereka ramai membicarakan mengenai sabda beliau tersebut, terutama mengenai kalimat seratus tahun. Padahal Rasulullah SAW hanya ingin bersabda: “Bahwa tidak seorangpun dari manusia yang hidup sekarang ini akan tersisa pada kurun waktu seratus tahun yang akan datang. Dengan kata lain kurun waktu itu sudah berlalu.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana para sahabat dapat menyampaikan Al Qur’an dan menguatkan agama Islam hingga dipeluk oleh penduduk negeri-negeri dari Timur sampai ke Barat bumi?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam kepada kaumnya di Mekkah yang ketika itu masih sesat karena mengikuti agama musyrik yang menyembah tuhan selain Dia (menyekutuikan-Nya). Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al Jumu’ah 2-3)
Pengajaran Rasulullah dengan Al Qur’an lalu membuat mereka menjadi berilmu dan beriman dan menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. (Al ’Ankabuut 49)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. (Al Mujaadilah 22)
Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al Baqarah 150-152)
Mereka (kaum Rasulullah) itulah para sahabat Rasulullah SAW. Ilmu dan iman para sahabat lalu membuat mereka membantu agama-Nya Islam dengan membantu Rasulullah SAW dalam menyampaikan (menjelaskan) Al Qur’an dan agama Islam, karena agama-Nya itu untuk kebaikan dan keselamatan manusia (termasuk orang-orang yang lahir kemudian) di dunia dan di akhirat. Mereka membantu Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam dengan berjihad di jalan-Nya yang lurus dengan harta dan jiwa (nyawa) mereka. Allah SWT berfirman:
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujuraat 15)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah 16)
Mereka berjihad di jalan-Nya yang lurus dengan mengalahkan kaum musyrik hingga agama Islam tegak di Jazirah Arab. Mereka dapat melakukan itu karena dibantu oleh Allah SWT yang menepati janji-Nya kepada mereka yang membantu agama-Nya. Pengalaman mereka berjihad di jalan-Nya yang lurus dengan harta dan jiwanya serta pengajaran Allah dengan Al Qur’an dan Rasulullah SAW membuat para sahabat makin beriman dan benci kekafiran. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak. (At Taubah 25)
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Al Hujuraat 7)
Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah 231)
Tilmidzi: “Bagaimana pengajaran dan pertolongan Allah kepada para sahabat hingga mereka beriman dan berjihad di jalan-Nya yang lurus dan mencapai banyak kemenangan?”
Mudariszi: “Contoh pengajaran dan pertolongan Allah kepada sahabat dalam perang Badar. Allah SWT hendak melaksanakan urusan-Nya dan memerintahkan orang-orang beriman memerangi kaum musyrik. Pada awalnya sahabat enggan menjalankan perintah Allah dan Rasulullah itu karena kekuatan yang mereka miliki. Allah SWT mengetahui keadaan mereka dan menolongnya dengan mengirim malaikat yang tidak terlihat. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (Al Anfaal 12)
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. (Al Anfaal 17-18)
Contoh lain, dalam perang Khandaq. Rasulullah SAW dan orang-orang beriman diperangi oleh sepuluh ribu tentara kaum musyrik. Rasulullah SAW dan sahabat hanya berlindung dalam parit yang dalam dan panjang hingga berminggu-minggu. Tiba-tiba kaum Yahudi di Madinah mengkhianati Rasulullah SAW dengan membantu kaum musyrik. Mereka terjepit di dalam parit dengan makanan yang terbatas dalam menghadapi kaum musyrik di hadapannya dan kaum Yahudi di belakangnya. Ketidak jelasan perang akan berakhir, membuat hati mereka bergoncang kuat. Allah SWT yang hanya menguji iman mereka lalu membantunya dengan mengirim angin topan dan tentara yang tidak terlihat (malaikat), hingga kaum musyrik kembali ke Mekkah tanpa hasil. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokkan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (Al Ahzab 10-11)
Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al Ahzab 22)
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Al Ahzab 9)
Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Ahzab 25)
Contoh lain, dalam penaklukan kota Mekkah. Para sahabat menaklukkan kota Mekkah tanpa perlawanan dari kaum musyrik. Setelah itu kaum musyrik Mekkah memeluk agama Islam. Kemenangan itu merupakan salah satu janji Allah kepada mereka ketika Rasulullah SAW menyetujui perjanjian dengan kaum musyrik di Hudaibiyah yang mereka tidak sukai. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Al Fath 27)
Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Fath 24)
Contoh lain, dalam perang Hunain. Setelah penaklukan Mekkah, orang-orang beriman mengajak kaum musyrik di sekitar Mekkah memeluk agama Islam, tapi ditolak hingga terjadi perang. Pasukan orang-orang beriman mengalami kekalahan karena sombong dengan jumlahnya yang banyak. Allah SWT lalu membantu mereka dengan mengirim bantuan yang tidak terlihat (malaikat). Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taubah 25-27)
Contoh lain, dalam pengusiran kaum Yahudi. Kaum Yahudi Nadhir menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW dan kaum Yahudi Quraizhah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah SAW karena membantu kaum musyrik di perang Khandaq. Allah SWT membantu Rasulullah SAW dan para sahabat dengan memasukkan rasa takut ke hati kaum Yahudi hingga mereka takut, dibunuh dan lari meninggalkan kota Madinah. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (Al Hasyr 2)
Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (Al Ahzab 26-27)
Dengan Rasulullah SAW menguasai Masjidil Haram dan disempurnakan-Nya agama Islam, maka Rasulullah SAW telah menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam. Dibantu oleh para sahabat, Rasulullah SAW telah menegakkan agama Islam di Jazirah Arab dengan mengalahkan kaum-kaum kafir yang beragama selain agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)
Semua perang itu dijalankan oleh sahabat dengan ilmu dan iman mereka di jalan-Nya yang lurus dengan taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) atau syariat agama Islam. Pengalaman berjihad di jalan-Nya yang lurus dengan jiwa dan harta dan pengajaran dan petunjuk dari Allah SWT dan Rasulullah SAW itulah para sahabat lalu dapat meluaskan agama Islam dan membesarkan-Nya hingga agama Islam tegak di bumi dan dipeluk oleh penduduk negeri dari Timur sampai ke Barat bumi.”
Tirmidzi: “Bagaimana Allah SWT memandang perbuatan sahabat itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Fath 29)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 100)
Rasulullah SAW menjelaskan sahabat yang mengikuti perang Badar dan berjanji setia kepada beliau di bawah pohon di Hudaibiyah, sebagai berikut:
Dari Ubaidillah bin Abu Rafi, dia berkata: “Aku mendengar Ali berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu, mudah-mudahan Allah memperhatikan para peserta (Ahli) Badar. Maka Dia berfirman: “Berbuatlah kamu sekehendak kamu, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu.” (HR Bukhari)
Dari Jabir dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sungguh orang yang mengikuti bai’at di bawah pohon masuk surga kecuali orang yang memiliki unta merah (yaitu Al-Jadd bin Qais seorang munafiq).” (HR Tirmidzi)
Dan Rasulullah SAW lalu perintahkan umat Islam sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku. Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan–Nya, sekalipun salah seorang kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, maka hal itu tidak mencapai satu atau setengah mud salah seorang mereka (para sahabat).” (HR Muslim)
Dari Abdillah bin Mughaffal, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Takutlah kepada Allah dalam hak para sahabatku, jangan kamu jadikan mereka sasaran cercaan sepeninggalku. Barangsiapa mencintai mereka, maka dia mencintai mereka karena cinta kepadaku. Dan barangsiapa membenci mereka, maka dia membenci mereka karena benci kepadaku. Dan barangsiapa menyakiti mereka, niscaya menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku, niscaya menyakiti Allah dan barangsiapa menyakiti Allah, niscaya Dia segera menyiksanya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Bagaimana umat islam setelah Rasulullah SAW wafat?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan ketetapan Allah atas umat Islam sebagai berikut:
Dari Tsauban, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengumpulkan bumi untukku, maka aku dapat melihat belahan bagian Timur dan bagian Barat, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang dikumpulkan untukku. Dan aku diberi dua simpanan, yaitu merah dan putih (emas dan perak). Aku memohon kepada Tuhan untuk umatku agar Dia tidak menghancurkan umatku dengan paceklik yang merata, dan tidak menguasakan musuh terhadap mereka selain diri mereka sehingga musuh tadi akan merampas kemuliaan mereka. Kemudian Tuhan berfirman: “Hai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak dapat ditolak. Sesungguhnya Aku memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak menghancurkan mereka dengan paceklik yang merata dan tidak menguasakan musuh terhadap mereka yang akan merampas kemuliaan mereka selain diri mereka sendiri, meskipun dikepung orang-orang di sekitar mereka sampai sebagian mereka membinasakan dan menawan sebagiannya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Allah SWT telah menetapkan musuh-musuh Islam itu tidak dapat mengalahkan umat Islam, tapi Islam agama-Nya hanya dapat dilemahkan oleh umat Islam sendiri, yaitu umat Islam saling menjatuhkan dan berbunuhan sesama sendiri. Hal itu terjadi karena umat Islam tidak bersatu akibat dari mengikuti fitnah dan bid’ah dari syaitan yang tidak ingin manusia mengikuti agama-Nya (Islam) dan menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus. Itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Hudzaifah ibn Al-Yaman, dia berkata: “Adalah orang-orang itu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan dan adalah aku bertanya kepada beliau tentang keburukan (fitnah, lemahnya kesatuan Islam, kesesatan yang menguasai dan tersebarnya bid’ah), karena kekhawatiran mengenai diriku. Maka aku berkata kepada Rasulullah SAW: “Sungguh kami dahulu di masa Jahiliyah dan kejahatan, lalu Allah datang kepada kami dengan kebaikan (kerasulan engkau, kekokohan bangunan Islam dan robohnya pilar-pilar kekafiran dan kesesatan) ini. Maka apakah sesudah kebaikan ini terdapat suatu keburukan?” Beliau bersabda: “Ya.” Aku bertanya: “Dan apakah sesudah keburukan itu terdapat suatu kebaikan?” Beliau bersabda: “Ya, dan disana terdapat asap.” Aku bertanya: “Dan apakah asapnya itu?” Beliau bersabda: “Kaum yang menunjukkan tanpa dengan petunjuk, dimana kamu mengenali (kebaikan) dari mereka (maka kamu menerima dan kamu mengenali keburukan) dan kamu mengingkari.” Aku bertanya: “Maka apakah sesudah kebaikan itu terdapat suatu keburukan?” Beliau bersabda: “Ya, para penyeru di pintu-pintu Jahanam. Siapa yang memenuhi (seruan) mereka ke pintu-pintu itu, maka mereka melemparkannya ke dalamnya (neraka).” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sifatkanlah mereka itu kepada kami!” Beliau bersabda: “Mereka itu dari kulit (diri dan keluarga) kita dan mereka berbicara dengan bahasa kita.” Aku berkata: “Maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku apabila aku mengalami demikian itu.” Beliau bersabda: “Kamu pegangi jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku mengatakan: “Maka apabila bagi mereka tidak ada jama’ah pula tidak ada imam?” Beliau bersabda: “Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya dan meskipun kamu harus menggigit pada dasar pohon hingga kamu dihampiri kematian sedangkan kamu dalam keadaan (menggigit) demikian.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah SWT menghendaki umat Islam bersatu seperti para sahabat yang berjanji setia kepada Rasulullah SAW di Hudaibiyah dan itu berarti mereka berjanji setia kepada-Nya sehingga tangan Allah di atas tangan para sahabat yang bersatu. Itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Ibnu Thawus dari Ayahnya dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tangan Allah beserta jama’ah (ummat Islam yang bersatu).” (HR Tirmidzi)
Tirmidzi: “Apakah umat Islam tidak bersatu di kemudian hari?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang umat beliau (Islam) sebagai berikut:
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku yang terbaik ialah generasiku, generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutkan sesudah generasinya dua generasi lagi atau tiga.” Kemudian sesudah kalian terdapat kaum yang berhak menjadi saksi, tapi tidak dimintai kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai seorang saksi). Mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya. Mereka bernazar dan tidak dapat menunaikannya dan tampak pada mereka orang-orang gemuk.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa setelah generasi ketiga atau keempat, umat Islam tidak bersatu lagi di bawah Khalifah dalam kekhalifahan Islam. Umat Islam terpecah sejak dari generasi pertama yang lalu makin bertambah pecah di generasi kedua dan ketiga hingga akhirnya mereka tidak lagi bersatu dalam satu Khalifah. Rasulullah SAW menjelaskan perpecahan itu karena fitnah dan bid’ah, sebagai berikut:
Dari Abu Burdah dari Ayahnya, dia berkata: “Selesai sembahyang Maghrib bersama dengan Rasulullah SAW, kami berkata: “Kita duduk disini saja menunggu supaya kita bisa bersembahyang Isya bersama dengan beliau lagi.” Kami pun duduk. Tak lama kemudian keluarlah Rasulullah SAW bergabung dengan kami. Beliau bertanya: “Kalian masih disini?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tadi ikut sembahyang Maghrib bersama Anda. Kami duduk menunggu disini supaya bisa bersembahyang Isya sekalian bersama Anda lagi.” Rasulullah SAW bersabda: “Bagus dan benar kalian.” Selanjutnya beliau mengangkat kepalanya ke atas langit lama sekali. Lalu beliau bersabda: “Bintang-bintang adalah jaminan bagi keberadaan langit. Apabila bintang-bintang itu sudah tidak ada, maka kiamatlah yang terjadi. Aku adalah jaminan keamanan bagi sahabat-sahabatku. Apabila aku sudah tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka. Dan para sahabatku adalah jaminan keamanan bagi ummatku. Apabila para sahabatku tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka.” (HR Muslim)
Tirmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW perintahkan kepada umat Islam menghadapi keadaan tersebut?”
Mudariszi: “Perjalanan hidup para sahabat dalam berilmu dan beriman hingga mereka menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah merupakan pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam untuk berilmu dan beriman dan menjalani hidupnya dengan agama Islam. Setelah Rasulullah SAW wafat, maka para sahabat lah yang paling mengetahui Al Qur’an, agama Islam dan jalan-Nya yang lurus. Karena itu Rasulullah SAW perintahkan umat Islam untuk tidak berbuat atau mengikuti bid’ah tapi mengikuti Al Qur’an, As Sunnah dan para sahabat, sebagai berikut:
Dari Muhammad bin Suqah dari Abdillah bin Dinar dan Ibnu Urnar, dia berkata: “Umar berkhutbah kepada kami di Al-Jabiyah lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri di tengah-tengah kamu seperti berdirinya Rasulullah SAW di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat kepadamu agar mengikuti jejak para sahabatku kemudian orang-orang yang mengiringi mereka kemudian orang-orang yang mengiringi mereka. Kemudian dusta tersebar sehingga seseorang bersumpah sedang dia tidak diminta sumpah dan seorang menjadi saksi sedangkan dia tidak diminta menjadi saksi. Ingatlah, tidaklah seorang laki-laki melakukan khalwah (menyepi) dengan seorang perempuan lain melainkan yang ketiganya adalah syaitan. Tetaplah bersatu dan jauhilah perpecahan karena sesungguhnya syaitan beserta orang satu dan syaitan beserta dua orang itu lebih jauh. Barangsiapa menghendaki tinggal di tengah surga, maka hendaklah ia selalu bersatu. Barangsiapa yang kebaikannya dapat menyenangkannya dan kejelekannya dapat menyedihkannya, maka dia itu seorang mu’min.” (HR Tirmidzi)
Dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata: “Rasulullah SAW menasehati kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh suatu nasehat yang penting yang mana mata menangis dan hati bergetar karenanya. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ini adalah nasehat orang yang akan meninggalkan, maka dalam hal apa saja engkau mengamanatkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu), karena sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kamu tentu akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya perkara-perkara yang baru (bid’ah) itu sesat. Barangsiapa di antara kamu menjumpai hal itu, maka ia harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus yang diberi petunjuk, peganglah sunnah itu dengan kuat-kuat.” (HR Tirmidzi)
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umat Islam akan terpecah di masa mendatang seperti terpecahnya Bani Israil (umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa), yaitu terpecah menjadi golongan-golongan dalam beragama. Agama Allah yang diajarkan oleh Rasul-Rasul-Nya terpecah karena fitnah dan bid’ah dari syaitan. Dari semua golongan itu hanya satu yang benar, yaitu golongan yang beragama dengan mengikuti Al Qur’an, As Sunnah dan para sahabat, sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ummat Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tujuh puluh dua golongan, dan ummat Nashara terpecah belah seperti ummat Yahudi, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR Tirmidzi)
Dari Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh akan menimpa atas ummatku apa yang telah menimpa atas Bani Israil (sejajar) satu sandal dengan satu sandal, sehingga jika dari mereka ada orang yang menyetubuhi Ibunya secara terang-terangan, maka dari umatku ada orang yang berbuat demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Abdullah bin Amr bertanya: “Siapa golongan itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Golongan yang (berpegang teguh dengan) apa yang aku lakukan beserta sahabatku.” (HR Tirmidzi)
Sunnah Rasulullah di atas sesuai dengan sunnah Rasulullah yang menjelaskan tangan Allah di atas jama’ah umat Islam, dan siapa yang keluar dari jama’ah, maka mereka di dalam neraka, sebagai berikut:
Dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mempersekutukan umatku (atau bersabda: umat Muhammad) dalam kesesatan. Tangan Allah itu atas jama’ah (persatuan) dan barangsiapa memisahkan dari (jama’ah umat Islam), maka dia memisahkan diri di dalam neraka.” (HR Tirmidzi)
Allah SWT tidak menyekutukan umat Islam (dalam sunnah Rasulullah di atas) karena jama’ah umat Islam mengikuti agama Islam yaitu agama Allah yang tauhid dan bersih dari syirik. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)
Sehingga umat Islam yang mengikuti golongan dalam beragama, berarti mereka keluar dari jama’ah umat Islam. Mereka bangga dengan golongannya, bahkan lebih bangga daripada jama’ah umat Islam. Mereka lebih mengutamakan golongannya daripada agama Islam agama-Nya. Mereka mencintai golongannya seperti mencintai Allah SWT, itu berarti mereka telah menjadikan golongannya sebagai tandingan-Nya dan telah menyekutukan-Nya. Allah SWT telah memperingatkan mereka agar bertaubat melalui firman-Nya ini:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. (Al Baqarah 165)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar Ruum 30-32)
Wallahu a’lam.