Mengapa Rasulullah SAW Melarang Umatnya Buat Bid’ah?

Dialog Seri 17: 4

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW melarang umatnya berbuat bid’ah?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: “Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore!” Kala itu beliau bersabda: “Masa aku diutus dan hari kiamat itu hanyalah seperti kedua jari ini!” Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: “Sesudah apa yang tersebut, maka keta­huilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang di­sebut bid’ah). Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR Muslim)

 

Setiap bid’ah pasti sesat dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan Rasulullah SAW melarang umatnya berbuat bid’ah yaitu siapapun yang berbuat bid’ah dan yang mengikuti bid’ah akan membawa dirinya kepada kesesatan. Sehingga berbuat bid’ah dan mengikuti bid’ah itu merupakan perbuatan yang berdosa. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka dan beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan. (Al ‘Ankabuut 12-13)

 

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (An Nahl 25)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Dan barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka baginya menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti ajakannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka itu. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah bid’ah itu?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan (dalam sunnah beliau di atas) bahwa bid’ah itu menjalankan agama yang diperbarui, yaitu menjalankan ibadah agama yang diada-adakan (dibuat) sendiri dengan menambah atau mengurangi (memotong) ibadah agama yang telah ditetapkan (diajarkan) oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Rasulullah SAW menjelaskan (dalam sunnahnya di atas) bahwa bid’ah itu merupakan pelaksanaan urusan agama yang paling buruk, padahal ucapan yang paling baik adalah Kitab Allah (Al Qur’an) dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Muhammad (As Sunnah). Karena itu Rasulullah SAW menjelaskan bahwa amalan dari bid’ah itu tidak akan diterima-Nya, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agamaku, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami tanpa ada dasarnya, maka sesuatu itu tertolak.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah hanya ibadah dalam agama Islam yang ditetapkan (diajarkan) oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW (As Sunnah) saja yang harus diikuti?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT telah menyempurnakan Al Qur’an yang Dia turunkan kepada Rasulullah SAW dengan tanpa ada siapapun yang dapat merubah ayat-ayat Al Qur’an seperti Taurat atau Injil, dan Dia telah menyempurnakan dan meridhai agama Islam yang disampaikan, dijelaskan, diajarkan oleh Rasulullah SAW dengan Al Qur’an itu. Allah SWT berfirman:

 

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)

 

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)

 

Sehingga, ibadah dan hukum-hukum beragama dalam syariat agama Islam yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak dapat dirubah (diada-adakan) dengan ditambah atau dipotong (dikurangi). Allah SWT berfirman:

 

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’ 59)

 

Tilmidzi: “Apakah bid’ah berlaku atas perbuatan dalam kehidupan dunia?”

 

Mudariszi: “Perbuatan dalam kehidupan dunia tidak berhubungan dengan ibadah dalam urusan agama sekalipun manusia menjalani hidup di dunia dengan keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan lingkungan di masa Rasul-Nya ketika menyampaikan agama Allah. Dengan demikian, perbuatan umat Islam yang berkaitan dengan kehidupan dunia yang berbeda dengan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, maka itu bukan bid’ah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Rafi’ bin Khadij, dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW tiba di Madinah. Orang-orang sedang merawat pohon kurma. Mereka tengah mengawinkan kurma. Melihat itu beliau ber­tanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Kami biasa mengerjakannya.’ Lalu beliau bersabda: “Barangkali kalau kalian tidak mengerjakannya, hal itu akan lebih baik.” Mereka lalu meninggalkan pekerjaan tersebut. Namun hasil kebon kurma me­reka menjadi berkurang. Kemudian mereka menuturkan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Jika aku memerintahkan tentang urusan agama kalian, maka ikutilah. Tetapi kalau aku memerintahkan kepada kalian tentang urusan ke­hidupan dunia, maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang umat Islam di masa berikutnya, sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari Kiamat itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu bila telah ada budak perempuan melahirkan majikannya, jika engkau telah melihat orang-orang yang tadinya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kam­bing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan.” (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan keadaan fasilitas (lingkungan) dalam kehidupan dunia di masa berikutnya lebih baik karena perkembangan ilmu pengetahuan dunia, sehingga umat Islam di masa itu berlumba-lumba memperindah bangunan. Itu berarti keadaan fasilitas kehidupan umat Islam di masanya tidak sama dengan di masa Rasulullah SAW. Perubahan fasilitas itu terjadi karena perbuatan manusia di masanya karena perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Sehingga perbuatan umat Islam di masanya ketika menjalani hidupnya tidak akan selalu sama dengan perbuatan Rasulullah SAW di masanya. Dan perbuatannya itu berurusan dengan ilmu pengetahuan dalam kehidupan dunia dan bukan dengan ibadah agama. Ilmu pengetahuan dunia akan berkembang karena manusia selalu ingin yang lebih baik dan mudah dalam kehidupannya. Allah SWT pula menyuruh manusia untuk memikirkan (mempelajari) tentang dirinya dan semua makhluk ciptaan-Nya di langit dan di bumi yang Dia ciptakan dengan tujuan dan hikmah untuk manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?  Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. (Ar Ruum 8)

 

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. (Shaad 27)

 

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. (Fushshilat 53)

 

Tilmidzi: “Apakah umat Rasul sebelum Rasulullah SAW ada yang pernah melakukan bid’ah?”

 

Mudariszi: “Ya! Contoh umat Nabi Musa yang mengada-adakan ibadah dengan merubah perintah Nabi Musa sepert dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.” Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik. (Al Baqarah 58-59)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bersabda Rasulullah SAW: Dikatakan kepada Bani Israil: Masukilah pintu gerbang (negeri Baitul Maqdis) dengan bersujud (menunduk), dan katakanlah: Bebaskanlah kami dari dosa.” Lalu mereka mengganti (sujud dengan merangkak), dan mereka masuk seraya merangkak dengan (mendahulukan) pantat dan mereka berkata: Satu biji dari sehelai rambut (kalimat tidak ber­makna, untuk penghinaan, sekadar pengganti kalimat yang diperintahkan). (HR Bukhari)

 

Contoh umat Nabi ‘Isa yang mengada-adakan ibadah dalam urusan agama Allah yang tidak ditetapkan (diajarkan) oleh Injil dan Nabi ‘Isa, sebagai berikut:

 

Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rasul-Rasul Kami dan Kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rabbaniyyah (tidak kawin dan mengurung diri dalam biara), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (Al Hadiid 27)

 

Dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Taubah 30-31)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah agama Allah yang diajarkan oleh Rasul-Nya menjadi berubah karena umat Rasul berbuat bid’ah?”

 

Mudariszi: “Umat Rasul yang buat bid’ah dengan menambah atau memotong (mengada-adakan) ibadah dalam urusan agama Allah, akan menjadikan agama-Nya itu tidak lagi seperti yang ditetapkan (diajarkan) oleh Rasul-Nya dan Kitab-Nya. Jika bid’ah yang dilakukan umat Rasul itu diikuti oleh orang-orang, maka terbentuk golongan yang beragama tidak seperti golongan yang beragama dengan agama-Nya (yang benar) yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Jika ada umat Rasul lain yang menyelisihinya, maka dia akan buat bid’ah pula dan memiliki pengikut hingga lalu terbentuk golongannya yang beragama berbeda. Jika terjadi banyak bid’ah karena umat Rasul terus berselisih, maka terbentuk banyak golongan dalam beragama, dan pengikut dari setiap golongan bangga dengan golongannya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-54)

 

Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu dalam firman-Nya di atas yaitu umat Rasul yang beragama tidak dengan agama-Nya yang benar karena mengikuti golongannya yang berbuat bid’ah. Sehingga firman-Nya di atas itu sesuai dengan dijelaskan oleh Rasulullah SAW di atas, yaitu setiap bid’ah itu (pasti) sesat. Selain itu, mereka bukan saja tidak beragama dengan agama-Nya (yang benar), tapi mereka juga memecah agama-Nya yang dilarang-Nya sebagai berikut:

 

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (Asy Syuura 13)

 

Tilmidzi: “Apakah umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa yang buat bid’ah itu telah memecah agama-Nya?” 

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa (Ahli Kitab) terpecah menjadi beberapa golongan, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Ummat Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tujuh puluh dua golongan, dan ummat Nashara terpecah belah seperti ummat Yahudi.” (HR Tirmidzi)

 

Setiap golongan (dari Ahli Kitab) berusaha mendapatkan pengikut dengan berbagai cara, termasuk menafsirkan ayat-ayat Taurat atau ayat-ayat Injil mengikuti nafsunya serta merubah dan menyembunyikan ayat-ayat-Nya itu. Akibatnya orang-orang yang lahir kemudian yang mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa itu meragukan kemurnian (keaslian) Taurat dan Inil. Allah SWT berfirman:

 

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak (pula yang) dibiarkannya. (Al Maa-idah 15)

 

Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu. (Asy Syuura 14)

 

Akibatnya setiap golongan dari umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa tidak lagi beragama dengan agama-Nya (yang benar) yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

:

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyinah 4-5)

 

Umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa (Ahli Kitab) yang beragama dengan mengikuti golongannya menjalani hidupnya di jalan agama golonganya dan bukan di jalan-Nya yang lurus, sehingga itu menjadikan mereka sesat. Orang-orang yang lahir kemudian yang mengikuti agama itu juga akan menjadi sesat karena mereka menjalani hidupnya bukan di jalan-Nya yang lurus. Agar mereka tidak menjadi sesat, Allah SWT lalu menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW yang menjelaskan agama-Nya (yang benar) dan jalan-Nya yang lurus. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam ke­adaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah ten­tang itu.” Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, ke­cuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: “Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)

 

Itulah mengapa Rasulullah SAW mengatakan setiap bid’ah itu sesat hingga beliau melarang umat Islam berbuat dan mengikuti bid’ah, yaitu akan memecah agama Allah dan membuat manusia tidak beragama dengan agama-Nya Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan membuatnya menjalani hidupnya di dunia tidak di jalan-Nya yang lurus hingga menjadi sesat.”

 

Tilmidzi: “Apakah bid’ah dari syaitan yang ingin menyesatkan manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya?”

 

Mudariszi: “Iblis (syaitan) ingin menyesatkan manusia hingga kiamat dengan menghalang-halanginya dari jalan-Nya yang lurus agar mereka menjadi sesat. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)

 

Jalan-Nya yang lurus (dalam firman-Nya di atas) adalah jalan Allah untuk manusia ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Adapun jalan-Nya yang lurus itu sebagai berikut:

 

Jalan yang lurus (yaitu) jalan Allah. (Asy Syuura 52-53)

 

Jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 6-7)

 

Jalan mereka yang dimurkai dan jalan mereka yang sesat (dalam firman-Nya di atas) yaitu jalan-jalan yang diada-adakan oleh Iblis guna menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus agar mereka tersesat. Jalan yang diada-adakan oleh Iblis dan pengikutnya syaitan-syaitan dari golongan jin dan manusia itu adalah jalan-jalan yang bengkok. Allah SWT berfirman:

 

Dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (A Nahl 9)

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)

 

Iblis dan syaitan menipu manusia melalui bisikan-bisikan jahatnya dengan menimbulkan angan-angan dan menjanjikan yang indah-indah dari kehidupan dunia hingga manusia ingin mencapainya walaupun melalui jalan yang dilarang-Nya. Syaitan lalu menipu mereka lagi dengan membuat mereka memandang baik perbuatannya yang buruk (yang berdosa) itu. Sehingga mereka tidak ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)

 

Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (At Taubah 37)

 

Allah SWT tidak menghendaki manusia tersesat ketika menjalani hidupnya di dunia, karena Dia telah berjanji akan menjaganya dari Iblis dan syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus. (A Nahl 9)

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)

 

Allah SWT berjanji menjaga (melindungi) orang-orang yang mengikuti-Nya (atau agama-Nya). Mereka itu orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk diberikan petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus dan dilindungi dari syaitan hingga syaitan tidak dapat menyesatkannya. Iblis dan syaitan hanya dapat menyesatkan orang-orang yang mengikutinya saja, dan mereka tidak dilindungi-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)

 

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)

 

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)

 

Orang-orang yang dikehendaki-Nya dalam firman-Nya di atas adalah orang-orang yang mengikuti Allah SWT dan memegang teguh agama-Nya atau orang-orang yang beriman. Mereka menempuh jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia untuk sampai ke Darussalam, yaitu tempat yang tidak diinginkan oleh Iblis dan syaitan dimasuki oleh manusia karena Iblis dan syaitan ingin manusia di neraka bersama mereka. Allah SWT berfirman:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Tilmidzi: “Apakah sahabat berbuat bid’ah di masa Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Umat-umat Rasul sebelum Rasulullah SAW banyak bertanya kepada Rasul-Nya hingga mereka berbuat bid’ah. Umat Rasul itu seharusnya taat kepada perintah Rasul-Nya karena perintah Rasul-Nya itu dari Allah SWT. Karena itu Rasulullah SAW memperingatkan umatnya sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Jangan hiraukan aku tentang sesuatu yang aku telah membiarkannya terhadap kalian. Sejatinya binasanya orang-orang yang sebelum kalian adalah disebabkan pertanyaan dan pertentangan mereka terhadap para Nabinya. Maka jika aku telah melarang kalian tentang sesuatu, jauhilah ia. Dan jika aku telah perintah kepada kalian untuk mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah ia selama kalian mampu.” (HR Bukhari)

 

Dari Amir bin Sa’ad dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sebesar-besarnya dosa orang Islam terhadap orang Islam lainnya ialah orang yang bertanya ten­tang sesuatu yang semula tidak diharamkan atas orang-orang Islam lalu diharamkan atas mereka disebabkan pertanyaannya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW melarang umatnya melakukan ibadah (perbuatan) yang menurutnya bagus dan disukainya tapi ibadah itu tidak dilakukan oleh beliau, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Apabila Rasulullah menyuruh me­reka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampu­an. Maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan Engkau wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni engkau ter­hadap dosa yang terdahulu dan terkemudian.” Lalu beliau marah se­hingga kemarahan itu diketahui (tampak) di wajah beliau, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling tahu tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah berbuat sesuatu pekerjaan, namun beliau kemudian memberikan ke­ringanan. Ketika hal itu didengar oleh sebagian dari sahabat-sahabat­nya, mereka seolah-olah tidak suka pada tindakan beliau tersebut dan berlagak sok tahu. Reaksi mereka itu sampai kepada beliau. Beliau lalu berdiri dan berpidato: “Apa pedulinya orang-orang itu? Mereka men­dengar berita tentang diriku yang memberikan kemurahan terhadap se­suatu. Mereka lalu tidak menyukainya dan berlagak sok tahu. Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling tahu dan paling bertakwa kepada Allah daripada mereka.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah mengerjakan sesuatu hal setelah adanya dispensasi. Ada sekelompok kaum yang men­jauhi hal tersebut, ternyata berita itu sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau memuji Allah seraya bersabda: “Apa pedulinya kaum-kaum itu menjauhi dari sesuatu yang aku sendiri mengerjakannya. Demi Allah, aku lebih tahu tentang Allah dan lebih takut kepada-Nya daripada mereka.” (HR Bukhari)

 

Adanya dispensasi seperti dalam sunnah Rasulullah di atas karena Rasulullah SAW tidak mau umatnya berat (sulit) dalam beribadah. Contoh, seperti ibadah shalat dan puasa sunnat, sebagai berikut:

 

Diceritakan oleh Urwah bin Zubair, sesungguhnya Aisyah pernah bercerita kepadanya, bahwasanya Rasulullah SAW keluar pada tengah malam lantas menunaikan sembahyang di masjid. Beberapa orang lalu ikut sembahyang dengan beliau. Akibatnya, hal itu menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Sebagian besar mereka sepakat untuk turut bergabung. Pada malam yang kedua Rasulullah SAW keluar dan bersembahyang bersama mereka. Esoknya, hal itu menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dan pada malam yang ketiga akibatnya masjid penuh sesak dengan manusia. Beliau keluar dan bersembahyang bersama mereka. Namun pada malam yang keempat, masjid rupanya tidak sanggup menampung jumlah mereka yang terlampau banyak. Dan kali ini Rasulullah SAW enggan keluar kepada mereka. Ada beberapa orang di antara mereka yang memberikan isyarat dengan mengatakan: “Sembah­yang!” Akan tetapi Rasulullah SAW masih belum juga berkenan mene­mui mereka. Baru ketika tiba waktu fajar beliau keluar untuk menunai­kan sembahyang Shubuh. Selesai sembahyang Shubuh, beliau berpaling kepada para jama’ah. Sesudah membaca syahadat, kemudian beliau bersabda: “Seterusnya. Tadi malam sejatinya saya tidak keberatan menemui kalian semua. Hanya saja aku merasa khawatir kalau sampai sembahyang malam akan diwajibkan atas kalian, tentu kalian akan merasa keberatan melakukannya terus.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian berpuasa sambung.” Mereka berkata: “Bukankah Anda sendiri berpuasa sambung?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku bukan seperti kalian. Sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh Tuhan­ku.” Ternyata mereka tidak berhenti dari berpuasa sambung. Rasulullah SAW melangsungkan puasa sambung dengan mereka selama dua hari. Mereka lalu melihat tanggal. Rasulullah SAW bersahda: “Kalau saja tanggal itu tertunda, niscaya aku akan menambahi kalian.” Beliau seolah mengancam atau mengingkari mereka.” (HRB Bukhari)

 

Rasulullah SAW menjalankan ibadah dalam beragama sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, istri Rasulullah SAW. Sesungguhnya ia ber­kata: “Setiap kali Rasulullah SAW disuruh memilih dua hal, maka beliau akan mengambil yang paling ringan di antara keduanya selama itu tidak dosa. Jika yang paling ringan itu ternyata dosa, maka beliau men­jauhinya pula. Rasulullah SAW tidak pernah membalas untuk diri sen­diri, kecuali jika kehormatan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung diinjak-injak.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bukankah Khalifah Umar melakukan bid’ah setelah Rasulullah SAW wafat?”

 

Mudariszi: “Umar ketika menjadi Khalifah meyatukan kelompok-kelompok yang mengerjakan shalat sunnat Rawatib di mesjid di bulan Ramadhan ke dalam satu jama’ah dengan satu imam, sebagai berikut:

 

Dari Abdurrahman bin Abdul Qari’, bahwasanya ia berkata: “Saya keluar bersama Umar bin Khaththab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid. Tiba-tiba orang-orang sama berkelompok-kelompok tetapi berpisah-pisah dan setiap orang shalat untuk dirinya sendiri, sedangkan jika sudah ada yang shalat, misalnya satu orang, kemudian yang datang di belakangnya itu terus ikut ber­makmun kepadanya sehingga menjadi keiompok tersendiri. Maka Umar lalu berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai pendapat bagaimanakah seandainya semua orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca Al Qur’an tentu lebih utama. Se­telah Umar mempunyai azam, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu dan di antara mereka ada yang diangkat menjadi imam, yaitu Ubay bin Ka’ab. Kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, sedang para manusia sama shalat dengan imam yang ahli membaca Al Qur’an. Umar berkata: “Ini adalah sebagus-bagus bid’ah dan orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam adalah lebih utama dari pada orang yang mendirikannya”, dan yang dimaksudkan olehnya ialah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu sama mendirikannya pada permulaan malam.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW tidak pernah mengerjakan shalat sunnat malam (Rawatib) di mesjid dengan jama’ah sepanjang malam selama bulan Ramadhan, karena khawatir shalat sunnat itu menjadi kewajiban bagi umatnya dan itu akan memberatkan umatnya, seperti yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah di atas. Hal itu yang membuat umat Islam shalat sunnat Rawatib di mesjid dengan kelompoknya masing-masing. Umar lalu menyatukan mereka ke dalam satu jama’ah dengan satu imam, karena Rasulullah SAW selalu melakukan shalat sunnat malam di mesjid dengan satu imam. Dengan demikian Umar meluruskan shalat sunnat Rawatib dan menghilangkan bid’ah. Sehingga Umar tidak melakukan bid’ah sekalipun dikatakannya itu sebagus-bagus bid’ah. Tidak ada bid’ah yang baik karena Rasulullah SAW mengatakan bid’ah itu sesat dan Umar sangat memahami perkara bid’ah itu.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT dan Rasulullah SAW perintahkan kepada umat Islam agar agama Islam dan umat Islam tidak terpecah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW perintahkan kepada umat Islam sebagai berikut:

 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Ali ‘Imran 103)

 

Dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mempersekutukan umatku (atau bersabda: umat Muhammad) dalam kesesatan. Tangan Allah itu atas jamaah (persatuan) dan barangsiapa memisahkan dari (jamaah umat Islam), maka dia memisahkan diri di dalam neraka.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Abu Burdah dari Ayahnya, dia berkata: Selesai sembahyang Maghrib bersama dengan Rasulullah SAW, kami berkata: Kita duduk disini saja menunggu supaya kita bisa bersembahyang Isya bersama dengan beliau lagi. Kami pun duduk. Tak lama kemudian keluarlah Rasulullah SAW bergabung dengan kami. Beliau bertanya: Kalian masih disini? Kami menjawab: Wahai Rasulullah, kami tadi ikut sembahyang Maghrib bersama Anda. Kami duduk menunggu disini supaya bisa bersembahyang Isya sekalian bersama Anda lagi. Rasulullah SAW bersabda: Bagus dan benar kalian. Selanjutnya beliau mengangkat kepalanya ke atas langit lama sekali. Lalu beliau bersabda: Bintang-bintang adalah jaminan bagi keberadaan langit. Apabila bintang-bintang itu sudah tidak ada, maka kiamatlah yang terjadi. Aku adalah jaminan keamanan bagi sahabat-sahabatku. Apabila aku sudah tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bidah yang mengancam persatuan mereka. Dan para sahabatku adalah jaminan keamanan bagi ummatku. Apabila para sahabatku tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bidah yang mengancam persatuan mereka.” (HR Muslim)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply