Bagaimana Nabi Adam Dan Isterinya Diturunkan Ke Bumi?

Dialog Seri 20: 4

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Adam dan isterinya menjalani kehidupannya?”

 

Mudariszi: “Nabi Adam dan isterinya itu menjalani hidupnya dengan mengikuti perintah Allah, yaitu sebagai berikut:

 

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (Al A’raaf 19)

 

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. (Thaahaa 117-119)

 

Allah SWT telah menjelaskan kepada Nabi Adam (melalui firman-Nya di atas) untuk menjalani hidupnya di surga dengan taat mengikuti perintah dan larangan yang Dia tetapkan dalam agama-Nya, dan menjelaskan tentang Iblis atau syaitan yang ingin menyesatkan manusia (termasuk Nabi Adam dan isterinya) dari jalan-Nya yang lurus.”

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis (syaitan) menggoda Nabi Adam dan isterinya agar tersesat?”

 

Mudariszi: “Iblis telah bersumpah akan menyesatkan manusia, melalui firman-Nya ini:

 

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (Shaad 82-83)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al A’raaf 16-17)

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Al Hijr 39-40)

 

Nabi Adam dan isterinya adalah manusia juga, sehingga keduanya juga termasuk yang akan disesatkan oleh Iblis (syaitan) dengan digodanya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Iblis (syaitan) menggoda Nabi Adam dan isterinya?”

 

Mudariszi: “Iblis menggoda Nabi Adam dan isterinya agar mereka melanggar perintah-Nya yaitu perintah untuk tidak memakan buah dari pohon terlarang. Iblis menggoda manusia agar tersesat dengan jalan seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)

 

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)

 

Iblis (syaitan) memberikan janji-janji manis kepada manusia dengan tujuan agar timbul hawa nafsunya. Iblis mengetahui bahwa manusia tidak dapat menahan nafsunya jika telah timbul, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkanNya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu. (HR Muslim)

 

Karena itu Iblis lalu membujuk keduanya dengan memberikan janji-janji manis. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya. (Al A’raaf 20)

 

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. (Al A’raaf 22)

 

Iblis membujuk keduanya untuk mengetahui pohon terlarang tersebut dengan janji-janji manis yang penuh tipu daya. Allah SWT menjelaskan bujuk rayu dan tipu daya Iblis itu sebagai berikut:

 

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Thaahaa 120)

 

Setelah mengetahui pohon terlarang tersebut, Iblis lalu menggodanya lagi dengan bujuk rayu dan janji-janji manis lainnya, yaitu sebagai berikut:

 

Dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga). (Al A’raaf 20)

 

Iblis membisikkan seperti firman-Nya di atas karena Nabi Adam mengetahui bahwa para malaikat dijadikan-Nya dengan tugas yang tetap. Hasutan Iblis bahwa Allah SWT tidak ingin Nabi Adam menjadi seperti malaikat hanya tipu daya saja sambil menimbulkan rasa ingin memakan buah terlarang. Jika rasa ingin telah timbul, Iblis akan terus menggoda mereka agar timbul hawa nafsunya untuk memakan buah terlarang, sambil meyakinkan keduanya sebagai berikut:

 

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua. (Al A’raaf 21)

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis (syaitan) berhasil menyesatkan Nabi Adam dan isterinya?”

 

Mudariszi: “Syaitan (Iblis) menggoda manusia melalui bisikan-bisikan jahatnya itu tanpa henti-hentinya. Demikian pula dengan Nabi Adam dan isterinya yang digoda oleh Iblis tanpa henti-hentinya meskipun mengambil waktu yang sangat lama hingga mungkin bertahun-tahun. Dan terbukti, pada akhirnya Iblis berhasil menyesatkan Nabi Adam dan isterinya, yaitu keduanya memakan buah terlarang tersebut. Perbuatan mereka itu membuat mereka menjadi durhaka kepada Allah SWT karena melanggar perintah-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (Thaahaa 121)

 

Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al A’raaf 22)

 

Tilmidzi: “Apakah yang membuat Nabi Adam dan isterinya lebih mendengar bisikan Iblis (syaitan) daripada perintah Allah?”

 

Mudarisizi: “Bujuk rayu dan janji-janji manis Iblis (syaitan) itu terasa indah (bagus) oleh Nabi Adam dan isterinya. Bujuk rayu Iblis yang terus menerus tanpa henti-hentinya itu menimbulkan hawa nafsunya, yaitu hawa nafsu ingin merasakan dan memakan buah dari pohon terlarang. Hawa nafsu isteri Nabi Adam boleh jadi timbul pertama kali, dan isteri Nabi Adam itu lalu membujuk Nabi Adam agar bersama-sama memakan buah tersebut. Bujuk rayu isteri Nabi Adam itu menguatkan hawa nafsu beliau sehingga beliau menerima ajakan isterinya.  Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Andaikata Hawa tidak (merayu Adam untuk makan buah di surga), niscaya perempuan tidaklah berkhianat kepada suaminya.” (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa isteri Nabi Adam telah lebih dahulu terhasut oleh bujuk rayu Iblis. Bujukan isteri Nabi Adam itu membantu Iblis dalam menggoda Nabi Adam agar mau memakan buah dari pohon terlarang. Jika hawa nafsu telah menguasai keduanya, mereka berarti telah dikuasai oleh syaitan (Iblis), karena hawa nafsu itu terjadi karena syaitan (Iblis). Dan jika sudah dikuasai oleh syaitan, maka keduanya akan melupakan Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al Mujaadilah 19)

 

Dengan keduanya melupakan Allah SWT, berarti keduanya melupakan perintah-Nya. Itu menunjukkan mereka tidak sungguh-sungguh menjaga perintah-Nya. Jika mereka sungguh-sungguh menjaga perintah-Nya, maka janji-janji manis atau bujuk rayu Iblis yang berkaitan dengan pohon terlarang tersebut akan segera ditinggalkannya atau tidak dipikirkannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Thaahaa 115)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT tidak membantu Nabi Adam dan isterinya pada waktu Iblis menipu (menghasut) keduanya?”

 

Mudariszi: “Karena Allah SWT telah menjelaskan dan memperingatkan Nabi Adam sebelumnya. Di lain pihak, Nabi Adam pula tidak pernah memohon kepada-Nya ketika digoda oleh Iblis. Nabi Adam lebih memikirkan bisikan Iblis (syaitan) dengan janji-janjinya daripada mengingat Allah SWT. Meskipun demikian Allah SWT lalu memaafkan keduanya setelah mereka mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (Al A’raaf 23)

 

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. (Al Baqarah 37)

 

Tetapi Allah SWT tetap menghukum keduanya karena mereka telah mendurhakai-Nya atau mendurhakai perintah-Nya. Keduanya dihukum oleh Allah SWT dengan diturunkan ke bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan. (Al A’raaf 24)

 

Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Al A’raaf 25)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply