Apakah Iblis Menjadi Musuh Manusia Hingga Kiamat?

Dialog Seri 20: 3

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan bagaimana Iblis akan menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya berikut ini:

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Al Hijr 39-40)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al A’raaf 16-17)

 

Iblis yang ingin menyesatkan manusia hingga kiamat itu menjadikan manusia mendapat rintangan ketika melaksanakan amanah sebagai khalifah di muka bumi (di dunia) dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya atau mengikuti jalan-Nya yang lurus.”

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis mengetahui kelemahan terbesar manusia karena Iblis nampaknya begitu yakin dapat menyesatkan manusia?”

 

Mudariszi: “Iblis mengetahui manusia memiliki kelemahannya yang terbesar yaitu tidak dapat menahan nafsunya, dan hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkanNya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu. (HR Muslim)

 

Allah SWT juga mengetahui kelemahan manusia tersebut, yaitu sebagai berikut:

 

Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. (Al Baqarah 187)

 

Allah SWT menjelaskan tentang nafsu itu melalui firman-Nya berikut ini:

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)

 

Adapun contoh nafsu yang dirahmati itu adalah sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Tidak dengki kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam ke­benaran, dan seorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah dimana ia memutuskan dan mengajar dengannya. (HR Bukhari)

 

Dengan Iblis mengetahui manusia memiliki nafsu yang tidak dapat ditahannya (dalam sunnah Rasulullah di atas), maka itu menunjukkan bahwa Iblis atau jin dijadikan-Nya juga dengan memiliki nafsu yang tidak dapat ditahannya. Sehingga, jin dan manusia tidak berbeda yaitu sama-sama mempunyai hawa nafsu. Sedangkan perbedaan jin dan manusia, yaitu jin seperti syaitan yang dapat melihat manusia tapi manusia tidak dapat melihat jin dan syaitan, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Iblis dan para pengikutnya menjadi musuh manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT memperingatkan hal itu melalui firman-Nya berikut ini:

 

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)

 

Dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong. (Al Kahfi 51)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjaga dan melindungi manusia dari Iblis (syaitan) itu?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya berikut ini:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Dia menjaga orang-orang yang mengikuti-Nya hingga mereka tidak dapat disesatkan oleh Iblis dan pengikut-pengikutnya (syaitan-syaitan). Tapi Allah SWT tidak menjaga orang-orang yang mengikuti Iblis karena mereka sendiri yang tidak mau dijaga oleh-Nya dan mereka sendiri yang tidak mau mengikuti-Nya. Dan Allah SWT telah menetapkan keputusan-Nya bagi Iblis dan para pengikut Iblis, yaitu sebagai penghuni neraka dalam kehidupan akhirat karena mereka durhaka atau kafir kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga. (Al Israa’ 63-65)

 

Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (Shaad 84-85)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjaga dan melindungi manusia dari Iblis (syaitan)?”

 

Mudariszi: “Salah satu Allah SWT menjaga dan melidungi manusia dari kejahatan Iblis (syaitan), yaitu Dia memberikan ayat-ayat-Nya kepada manusia yang diturunkan kepada Rasul-Rasul-Nya. Ayat-ayat-Nya tersebut menjelaskan tentang Dia, agama-Nya, jalan-Nya yang lurus, tentang syaitan dengan jalan-jalannya yang menuju kepada kejahatan, tentang kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya agar selamat ketika melaksanakan amanah (menjalani hidup) di dunia dan selamat di akhirat. Allah SWT memperingatkan manusia dalam ayat-ayat-Nya tersebut, yaitu sebagai berikut ini:

 

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 168-169)

 

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang Bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong Bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Luqman 33)

 

Tilmidzi: “Apakah jin diciptakan-Nya untuk menyembah-Nya dengan mengikuti agama-Nya dan peraturan agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Jin dan manusia ditetapkan-Nya untuk menyembah-Nya dengan mengikuti agama-Nya dan peraturan agama-Nya yang dijelaskan dalam ayat-ayat-Nya (kitab-Nya), misalnya Al Qur’an yang dijelaskan-Nya sebagai berikut:

 

Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Shaad 87)

 

Dan Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (Al Qalam 52)

 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Abiyaa’ 107)

 

Semesta alam atau seluruh umat (di semesta alam) dalam firman-Nya di atas yaitu seluruh umat dari semua makhluk di semesta alam, termasuk umat jin dan umat manusia.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah di antara jin-jin itu ada jin yang beriman kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Bukan tidak mungkin kebanyakan dari jin-jin itu kafir kepada Allah SWT. Dan kafirnya jin-jin itu mungkin karena Iblis yang ingin agar mereka menjadi pembantu Iblis dalam menyesatkan manusia. Contoh jin-jin kafir tersebut dijelaskan oleh jin-jin beriman dalam firman-Nya berikut ini:

 

Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. (Al Jin 4)

 

Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekkah) bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (Rasul)pun. (Al Jin 7)

 

Ucapan jin-jin kafir yang melampaui batas terhadap Allah SWT tersebut berbeda dengan ucapan jin-jin yang beriman terhadap-Nya, yaitu seperti firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. (Al Jin 5)

 

Karena itu, di antara jin-jin terdapat jin yang beriman dan yang kafir kepada Allah SWT, seperti yang dijelaskan oleh jin-jin beriman dalam firman-Nya berikut ini:

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (Al Jin 14)

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al Jin 11)

 

Dengan menyembah Allah SWT dan beriman kepada Al Qur’an, jin-jin itu berarti beriman kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Al Jin 2-3)

 

Jin-jin yang beriman itu takut kepada Allah SWT karena mereka mengetahui kekuasaan-Nya. Dan hal itu dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

 

Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari. (Al Jin 12)

 

Jin-jin yang beriman mengetahui bahwa mereka hanya diuji dengan kehidupan dunia. Mereka mengetahui bahwa Allah SWT menghendaki jin-jin mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidup di dunia. Mereka mengetahui perbuatannya di dunia akan menentukan tempatnya di surga atau di neraka. Allah SWT berfirman:

 

Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Al Jin 16)

 

Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al Jin 17)

 

Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (Al Jin 15)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply