Dialog Seri 20: 2
Tilmidzi: “Siapakah Iblis itu?”
Mudariszi: “Ketika Allah SWT perintahkan malaikat untuk sujud kepada manusia pertama (Nabi Adam) setelah Dia sempurnakan manusia ciptaan-Nya dari tanah dan Dia tiupkan roh ciptaan-Nya, maka semua malaikat bersujud kepada manusia itu kecuali Iblis, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiaannya dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. (Al Hijr 28-31)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (Al A’raaf 11)
Tilmidzi: “Bukankah malaikat itu makhluk yang patuh dan taat kepada Allah SWT, tapi mengapa Iblis menolak sujud kepada manusia pertama (Nabi Adam) itu?”
Mudariszi: “Malaikat merupakan makhluk ciptaan-Nya yang mulia dan taat kepada-Nya (atau taat kepada perintah-Nya). Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimulyakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. (Al Anbiyaa’ 26-27)
Sedangkan Iblis yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam atau tidak mentaati perintah-Nya itu bukanlah dari golongan malaikat tapi dari golongan jin. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin. (Al Kahfi 50)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT mengatakan Iblis dari golongan malaikat ketika Dia perintahkan malaikat untuk tunduk kepada Nabi Adam dengan bersujud?”
Mudariszi: “Bukan tidak mungkin karena Iblis yang dari golongan jin ketika itu adalah jin yang mulia dan taat kepada-Nya hingga Iblis dihadirkan-Nya bersama-sama dengan para malaikat untuk menyaksikan penciptaan manusia pertama (Nabi Adam). Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiaannya dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr 28-29)
Tunduk dengan bersujud kepada Nabi Adam oleh kedua makhluk ciptaan-Nya (malaikat dan jin) itu merupakan ketetapan-Nya bagi semua makhluk ciptaan-Nya untuk tunduk kepada manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Tilmidzi: “Apakah penyebab Iblis menolak perintah-Nya agar sujud kepada Nabi Adam?”
Mudariszi: “Allah SWT menanyakan hal tersebut kepada Iblis, dan Iblis menjawabnya sebagai berikut:
Allah berfirman: “Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Al Hijr 32-33)
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al A’raaf 12)
Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shaad 75)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam karena Iblis merasa lebih baik daripada Nabi Adam karena dia diciptakan-Nya dari api yang lebih baik dari tanah.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjadikan api itu lebih baik daripada tanah?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan perkara itu dalam sunnah beliau ini:
Dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, maka ia bergerak, lalu Dia menciptakan gunung, kemudian Dia berfirman: “Tetaplah kamu di atasnya.” Lalu bumi tetap (tidak bergerak), kemudian malaikat-malaikat kagum terhadap hebatnya gunung, lalu mereka berkata: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada gunung?” Allah berfirman: “Ya, ia adalah besi.” Lalu mereka berkata: “Wahai Tuhan, apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada besi?” Allah berfirman: “Ya, api.” Mereka berkata: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada api?” Allah berfirman: “Ya, air.” Mereka berkata: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih hebat daripada air?” Allah berfirman: “Ya, angin.” Mereka bertanya: “Apakah dalam ciptaan-Mu ada yang lebih baik daripada angin?” Dia berfirman: “Ya, ia adalah anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya yang ia rahasiakan dengan tangan kirinya.” (HR Tirmidzi)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa manusia (atau orang yang bersedekah) yang diciptakan-Nya dari tanah itu lebih baik daripada Iblis (jin) yang diciptakan-Nya dari api. Dengan demikian, alasan Iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam hanyalah alasan yang diada-adakannya saja. Alasan yang benar yaitu Iblis iri, dengki, tidak terima kalau Nabi Adam (manusia) lebih dimuliakan oleh Allah SWT daripada dirinya (menurut persangkaannya).”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menciptakan makhluk jin dari api setelah Dia menciptakan langit dan bumi?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menciptakan jin setelah Dia menciptakan langit dan bumi. Dengan demikian jin tidak mengetahui penciptaan langit dan bumi dan penciptaan jin. Allah SWT berfirman:
Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri. (Al Kahfi 51)
Allah SWT menciptakan jin dari api yang sangat panas sebelum Dia menciptakan manusia. Allah SWT berfirman:
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (Ar Rahmaan 15)
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Al Hijr 27)
Tilmidzi: ”Apakah Iblis telah berdosa kepada-Nya karena menolak perintah-Nya?”
Mudariszi: ”Allah SWT menjelaskan perkara itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan. (Al Baqarah 34)
Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali Iblis. Ia membangkang. (Thaahaa 116)
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)
Firman-Nya di atas membuktikan bahwa Iblis telah bersalah karena Iblis enggan melaksanakan perintah-Nya, Iblis membangkang, Iblis mendurhakai perintah-Nya. Dengan demikian Iblis telah berdosa dan menjadi kafir. Allah SWT berfirman;
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku–sempurnakan kejadiaannya dan Ku–tiupkan kepadanya roh (ciptaan)–Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya. Kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (Shaad 71-74)
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al Baqarah 34)
Tilmidzi: “Apakah dengan Iblis menjadi kafir kepada-Nya berarti Iblis menjadi syaitan?”
Mudariszi: “Dengan Iblis mendurhakai perintah-Nya atau mendurhakai Allah SWT, maka Iblis menjadi syaitan. Dengan Iblis menghina ciptaan-Nya, maka Iblis telah mengingkari Allah SWT. Dan dengan mengingkari-Nya, maka Iblis menjadi syaitan. Syaitan itu seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya berikut ini:
Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam 44)
Dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al Israa’ 27)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghukum Iblis karena Iblis mendurhakai-Nya dan mengingkari-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menghukum Iblis dengan firman-Nya ini:
Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (Al A’raaf 13)
Surga dalam firman-Nya di atas itu adalah surga tempat penciptaan manusia pertama (Nabi Adam), dan bukan surga yang akan di masuki oleh penghuni-penghuninya di kehidupan akhirat, yatu oleh orang-orang yang beriman dan taat kepada-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah Iblis meminta maaf atas kesalahannya atau bertaubat kepada-Nya?”
Mudariszi: “Iblis tidak merasa bersalah karena dia beranggapan bahwa Allah SWT telah memuliakan Nabi Adam (manusia) daripada dirinya. Karena itu Iblis tidak mau meminta maaf atau bertaubat kepada-Nya, bahkan Iblis bersumpah dihadapan-Nya ingin menyesatkan manusia hingga kiamat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shaad 82-83)
Karena ingin menyesatkan manusia hingga kiamat, Iblis lalu meminta kepada Allah SWT agar kematiannya ditangguhkan, sebagai berikut:
Berkata Iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” (Al Hijr 36)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis tersebut?”
Muadariszi: “Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis, tapi bukan ditangguhkan seperti waktu yang diinginkan oleh Iblis. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (Al Hijr 37-38)
Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat).” (Shaad 80-81)
Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis dengan menangguhkan kematiannya hingga waktu yang Dia tentukan sebelum kiamat. Allah SWT tidak mengabulkan permintaan Iblis agar kematiannya ditangguhkan hingga manusia dibangkitkan di hari kiamat. Karena, jika permintaan Iblis itu dikabulkan, maka Iblis baru dimatikan ketika manusia dibangkitkan untuk dihisab perbuatannya selama di dunia. Dengan matinya Iblis, maka perbuatan Iblis selama di dunia tidak dapat dihisab-Nya, sehingga Iblis tidak masuk ke neraka.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghukum Iblis karena ingin menyesatkan manusia hingga kiamat?”
Mudariszi: “Karena Iblis telah mendurhakai dan mengingkari Allah SWT, dan lalu ingin menyesatkan manusia hingga kiamat, maka Dia menghukum Iblis bukan dengan hanya mengusirnya dari surga tapi juga dengan mengutuknya hingga hari pembalasan (hari kiamat). Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” (Al Hijr 34-35)
Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (Shaad 77-78)
Kutukan Allah bagi Iblis seperti dalam firman-Nya di atas, menunjukkan kutukan-Nya itu berlaku sampai jin dan manusia menerima balasan dari-Nya setelah perbuatan mereka selama di dunia dihisab-Nya di hari kiamat. Dengan demikian, kutukan-Nya bagi Iblis itu merupakan kutukan yang abadi, yaitu hingga Iblis masuk ke neraka Jahannam.”
Wallahu a’lam.