Dialog Seri 20: 17
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub itu Rasul Allah?”
Mudariszi: “Nabi Ya’qub merupakan putera Nabi Ishaq dan cucu Nabi Ibrahim; beliau tidak berbeda dengan orang tuanya yaitu sama-sama Rasul Allah yang menerima wahyu-wahyu-Nya (ayat-ayat-Nya). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub. (Huud 71)
Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi Nabi. (Maryam 49)
Dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub. (An Nisaa’ 163)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub dianugerahkan-Nya seorang putera yang menjadi Rasul?”
Mudariszi: “Nabi Ya’qub dianugerahkan oleh Allah SWT sejumlah anak laki-laki. Seorang di antara mereka dijadikan-Nya sebagai Rasul-Nya, yaitu Nabi Yusuf. Allah SWT mengajarkan sebagian tabir mimpi kepada Nabi Yusuf. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari tabir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang Bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Yusuf 4-6)
Nabi Ya’qub memahami maksud dari tabir mimpi Nabi Yusuf tersebut, dan beliau lalu melarang Nabi Yusuf menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya.”
Tilmidzi: “Bagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf tersebut?”
Mudariszi: “Suatu waktu saudara-saudara Nabi Yusuf meminta izin kepada Nabi Ya’qub untuk membawa Nabi Yusuf bermain bersama. Awalnya Nabi Ya’qub tidak mengizinkan karena mengetahui perilaku anak-anaknya itu terhadap Nabi Yusuf; tapi beliau lalu mengizinkannya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama-sama kami besok pagi agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.” Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala sedang kamu lengah daripadanya.” Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi.” (Yusuf 11-14)
Sekembali ke rumah, mereka sambil menangis berbohong kepada Nabi Ya’qub atas apa yang menimpa Nabi Yusuf dengan memberikan bukti yang mereka ada-adakan, yaitu baju gamis Nabi Yusuf yang berlumuran darah palsu, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.” Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. (Yusuf 16-18)
Sebagai Rasul, Nabi Ya’qub meragukan kebenaran cerita anak-anaknya itu, tapi beliau tidak mengambil tindakan apapun terhadap mereka karena beliau tidak memiliki bukti. Beliau hanya bersabar sambil meminta pertolongan kepada-Nya dan beliau mengatakan kepada anak-anaknya itu, sebagai berikut:
Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf 18)
Nabi Ya’qub diajarkan oleh Allah SWT dengan ilmu-ilmu yang tinggi, beliau mengetahui anak-anaknya telah terhasut oleh syaitan. Ucapan beliau (seperti dalam firman-Nya di atas), menunjukkan beliau mengetahui mereka berbohong dan beliau mengetahui ucapan dan perbuatan anak-anaknya itu karena hasutan (bisikan) syaitan. Allah SWT telah menjelaskan tentang syaitan yang selalu menyesatkan manusia, sebagai berikut:
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi.” (Al Hijr 39)
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Syaitan berhasil merusak hubungan antara orang tua dan anak-anaknya dan hubungan antara anak-anaknya, karena dalam keluarga itu ada dua Rasul yang menyampaikan ayat-ayat-Nya, agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus kepada manusia. Syaitan selalu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya lurus agar mereka tersesat, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah). (Al ‘Ankabuut 38)
Nabi Ya’qub mengetahui perkara syaitan itu, sehingga beliau hanya bersabar supaya permusuhannya dengan anak-anaknya tidak makin meruncing dan beliau menerima takdirnya itu sambil meminta pertolongan kepada-Nya.”
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Ya’qub menjalani kehidupannya bersama anak-anaknya yang lain setelah kehilangan Nabi Yusuf?”
Mudariszi: “Meskipun Nabi Ya’qub mengetahui perilaku anak-anaknya yang kurang baik, beliau tetap memelihara mereka dengan mengikuti syariat agama-Nya agar mereka berubah hingga ditunjuki-Nya. Nabi Ya’qub selalu teringat kepada Nabi Yusuf; berpuluh-puluh tahun beliau berada dalam kesedihan dan kesabaran karena memikirkan Nabi Yusuf. Pada waktunya, Allah SWT menetapkan takdir musim kering (musim panas) yang panjang. Keadaan itu membuat penduduk negeri Mesir menjadi kekurangan makanan. Raja negeri Mesir bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya, dan Raja mengangkat Bendahara untuk melaksanakan tugas itu. Bendahara lalu mempersiapkan makanan yang cukup untuk rakyatnya. Keluarga Nabi Ya’qub ikut terkena kekurangan makanan. Beliau menugaskan anak-anaknya pergi ke Bendahara negeri dengan membawa barang-barang penukar untuk mendapatkan makanan. Mereka mendapatkan makanan dan sekembalinya ke rumah, mereka terkejut melihat barang-barang penukar makanan dikembalikan kepada mereka. Allah SWT berfirman:
Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi Raja Mesir).” (Yusuf 65)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub menugaskan lagi anak-anaknya ke Bendahara Negeri Mesir untuk mendapatkan makanan?”
Mudariszi: “Ketika makanan mereka mulai berkurang, maka mereka harus mendapatkan makanan kembali dari Bendahara negeri. Tapi Bendahara telah mensyaratkan kepada anak-anak Nabi Ya’qub untuk membawa Bunyamin. Di awal Nabi Ya’qub tidak mengizinkan karena teringat kejadian yang menimpa Nabi Yusuf. Allah SWT berfirman:
Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya’qub) mereka berkata: “Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (Yusuf 63-64)
Tapi, karena mengetahui barang-barang penukar makanan sebelumnya telah kembali kepada mereka, maka Nabi Ya’qub lalu mengizinkan mereka membawa Bunyamin tapi dengan perjanjian yang teguh atas nama Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Ya’qub berkata: “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.” Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).” (Yusuf 66)
Tilmidzi: “Mengapa Nabi Ya’qub mengatakan kecuali jika kamu dikepung musuh (dalam firman-Nya di atas)?”
Mudariszi: “Maksud Nabi Ya’qub mengatakan seperti dalam firman-Nya di atas, yaitu jika itu terjadi karena takdir-Nya yang tidak diketahui oleh siapapun. Sehingga, agar mereka semua tidak dikepung oleh musuh (jika takdir-Nya itu terjadi), maka Nabi Ya’qub lalu menasehati mereka sebagai berikut:
Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (Yusuf 67)
Nasehat Nabi Ya’qub itu tidak harus benar, karena beliau tidak mengetahui takdir yang Allah SWT telah tetapkan atas anak-anaknya dan atas musuh anak-anaknya. Nasehat Nabi Ya’qub itu hanyalah usahanya agar anak-anaknya selamat dari takdir Allah yang buruk sehingga anak-anaknya itu akan selamat pula sampai ke tempat tujuannya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari cobaan yang berat, mendapat celaka, buruknya qadha (ketentuan dari Allah).” (HR Bukhari)
Nabi Ya’qub mengetahui perkara takdir karena beliau telah diajarkan oleh Allah SWT. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Yusuf 68)
Takdir yang dijelaskan oleh Nabi Ya’qub itu tidak terjadi, tapi yang terjadi justru takdir yang membuatnya tidak menyukainya, yaitu Bunyamin tidak kembali ke rumah bersama saudara-saudaranya.”
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Ya’qub setelah mengetahui Bunyamin tidak kembali?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ya’qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (Yusuf 83-84)
Nabi Ya’qub yang sabar dan menahan amarahnya karena perbuatan anak-anaknya itu. Sulit bagi Nabi Ya’qub menerima penjelasan anak-anaknya itu karena pengalamannya dengan Nabi Yusuf, meskipun anak-anaknya telah mengatakan yang benar. Kesedihan dan kesabaran Nabi Ya’qub selama berpuluh-puluh tahun itu telah membuat matanya memutih hingga tidak dapat melihat lagi. Perasaan hati Nabi Ya’qub tidak dipahami oleh keluarganya, karena keluarganya melihat beliau dari luarnya saja tanpa mengetahui isi hatinya dan apa yang dipikirkannya tentang Nabi Yusuf. Allah SWT berfirman:
Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.” (Yusuf 85)
Nabi Ya’qub tidak menyalahkan ucapan keluarganya (seperti firman-Nya di atas) karena mereka memang tidak memahaminya. Beliau hanya menasehati mereka sebagai berikut:
Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf 86-87)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub mendapat berita dari anak-anaknya tentang Nabi Yusuf dan Bunyamin?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (Yusuf 94)
Nabi Ya’qub mengatakan seperti firman-Nya di atas karena beliau adalah Rasul; beliau mengetahuinya karena telah diwahyukan-Nya. Tapi keluarganya tidak memahami beliau karena mereka tidak memahami ilmu dan pengetahuan Nabi Ya’qub. Karena itu keluarganya lalu mengatakan kepada beliau sebagai berikut:
Keluarganya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” (Yusuf 95)
Ketika rombongan anak-anaknya sampai di rumah, mereka lalu meletakkan baju gamis Nabi Yusuf di wajah Nabi Ya’qub sehingga beliau dapat melihat kembali. Nabi Ya’qub lalu mengatakan kepada keluarganya, sebagai berikut:
Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkatalah Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Yusuf 96)
Keluarganya lalu meminta maaf kepada Nabi Ya’qub dan meminta beliau untuk berdoa kepada Allah SWT agar dosa-dosa mereka diampuni-Nya. Allah SWT berfirman:
Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf 97-98)
Tilmidz: “Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf membawa orang tuanya ke Nabi Yusuf?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf; Yusuf merangkul Ibu Bapaknya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman.” Dan ia menaikkan kedua Ibu Bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata: “Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.” (Yusuf 99-100)
Syaitan kembali gagal merusak hubungan keluarga Nabi Ya’qub kecuali beberapa tahun, karena ketakwaan dan kesabaran Bapak dan anak yang keduanya merupakan Rasul.”
Tilmidzi: “Apakah anak-anak Nabi Ya’qub tetap mengikuti agama Nabi Ya’qub?”
Mudariszi: “Ketika Nabi Ya’qub kedatangan tanda-tanda ajalnya, beliau lalu mewasiati anak-anaknya, sebagai berikut:
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al Baqarah 133)
Dengan demikian, anak-anak Nabi Ya’ub tetap mengikuti agama beliau hingga ajalnya.”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub itu adalah Bapak dari Bani Israil?”
Mudariszi: “Ya! Nabi Ya’qub juga dipanggil Israil, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. (Ali ‘Imran 93)
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil. (Maryam 58)
Keturunan Israil dalam firman-Nya di atas adalah keturunan Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub dikaruniakan oleh Allah SWT sebanyak dua belas anak laki-laki. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf 4)
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 (dua belas) orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-Rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Ku-masukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Al Maa-idah 12)
Sebelas bintang dalam firman-Nya di atas adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, sehingga jumlah anak Nabi Ya’qub menjadi dua belas dengan Nabi Yusuf. Selain itu, Allah SWT telah mengangkat banyak Nabi dan Rasul dari keturunan Nabi Ya’qub (Israil) dan yang dikatakan dari Bani Israil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)
Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Al ‘Ankabuut 27)
Wallahu a’lam.