Apakah Shalat Itu Ibadah Berdoa Kepada Allah SWT?

Dialog Seri 12: 8

 

Tilmidzi: “Apakah ibadah shalat menyembah Allah SWT itu juga ibadah meminta (berdoa) kepada-Nya?”

 

Mudariszi: “Shalat itu kewajiban ibadah menyembah Allah SWT bagi manusia selama menjalani hidupnya di dunia guna mengingat Dia sebagai Tuhannya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa 14)

 

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al Hijr 98-99)

 

Tapi, shalat menyembah Allah SWT itu juga ibadah berdoa (meminta) kepada-Nya, karena Al Faatihah yang dibaca di setiap raka’at shalat berisikan permintaan kepada-Nya, yaitu sebagai berikut:

 

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 5-7)

 

Dan Allah SWT menjelaskan tentang Al Faatihah yang wajib dibaca di setiap raka’at shalat, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Barangsiapa mengerjakan shalat tetapi ia tidak membaca Ummul Qur’an di dalam shalatnya, maka shalatnya itu kurang, (tiga kali) tidak semp­urna. Dikatakan kepada Abu Hurairah: Kami bermakmum. Ia berkata: Bacalah dalam hatimu, karena aku pernah mendengar Rasululla­h SAW bersabda: Allah Taala berfirman: Aku bagi shalat (Faa­tihah) antara Aku dan hambaKu separuh-separuh, dan hambaKu boleh meminta apa saja. Apabila seorang hamba membaca: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Allah Taala berfirman: HambaKu bersyukur­ kepadaKu; ketika ia membaca: Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Allah Taala berfirman: HambaKu memujiKu; waktu ia membaca: Yang menguasai hari pembalasan, Allah berfirman: HambaKu mengagungkanKu (di lain ketika Dia berfirman: HambaKu pasrah kepadaKu); kapan ia membaca: Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan, Allah berfirman: Ini antara Aku dan hambaKu, dan hambaKu boleh meminta apa­ saja; apabila ia membaca: Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat, Allah berfirman: Ini untuk hambaKu, dan hambaKu boleh meminta apa saja.” (HR Muslim)

 

Allah SWT berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku boleh meminta apa saja, dalam sunnah Rasulullah di atas, menunjukkan bahwa shalat menyembah-Nya itu juga merupakan ibadah berdoa kepada-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah selain doa dalam Al Faatihah terdapat bacaan doa lain yang diucapkan oleh Rasulullah SAW ketika mengerjakan shalat?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW membenarkan umat Islam membaca ayat-ayat Al Qur’an setelah membaca Al Faatihah ketika shalat, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Atha, ia berkata: Abu Hurairah berkata: Di dalam setiap shalat ada bacaannya. Jadi, apa yang diperdengarkan Rasulullah SAW kepadaku, aku perdengarkan pula kepadamu; dan apa yang disamarkannya dariku, aku samarkan pula darimu. Barangsiapa membaca Ummul Kitab, demikian itu sudah cukup baginya; dan barangsiapa menambahi, hal itu lebih utama. (HR Muslim)

 

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Masud Al Anshari, dia berkata: Rasu­lullah SAW bersabda: Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada suatu malam, maka hal itu akan menangkal­nya dari kejahatan dan hal-hal yang tidak disukai.” (HR Muslim)

 

Adapun dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah itu adalah sebagai berikut:

 

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-Rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdo’a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali. (Al Baqarah 285)

 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkau-lah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (Al Baqarah 286)

 

Dua ayat terakhir Al Baqarah (firman-Nya di atas) itu mengandung doa kepada Allah SWT. Selain itu, Rasulullah SWT, setelah takbir (memulai shalat) dan sebelum membaca Al Faatihah, membaca doa berikut ini:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW diam di an­tara takbir dan bacaan (Al Faatihah) sejenak. Saya berkata: Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, apakah yang engkau baca di kala engkau diam antara takbir dan bacaan (Al Faatihah)?” Beliau bersabda: Saya membaca: (yang artinya) Ya Allah, jauhkanlah antara saya dan kesalahan saya sebagaimana Engkau menjauhkan antara barat dan timur. Ya Allah, bersihkanlah saya dari kesalahan-kesalahan sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, basuhlah kesalahan-kesalahan saya dengan air, es dan embun. (HR Bukhari)

 

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa bacaan dalam shalat banyak mengandung doa kepada Allah SWT, sehingga shalat itu juga merupakan ibadah berdoa kepada-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah selain berdoa pada waktu berdiri, Rasulullah SAW juga berdoa pada waktu duduk atau rukuk atau sujud ketika shalat?”

 

Mudariszi: “Pada waktu duduk dalam shalat, Rasulullah SAW berdoa kepada-Nya, misal ketika duduk di antara dua sujud beliau berdoa ini:

 

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata: “Rasulullah SAW di antara dua sujud biasa mengucapkan: (yang artinya) Wahai Allah, ampunilah saya, kasihanilah saya, tamballah (kekurangan) saya, berilah saya petunjuk dan berilah rizqi. (HR Tirmidzi)

 

Demikian pula pada waktu duduk terakhir, Rasulullah SAW berdoa kepada-Nya (tasyahud) termasuk bershalawat (berdoa) kepada beliau, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Syaqiq bin Salamah, ia berkata: Abdullah berkata: Ke­tika kami shalat di belakang Rasulullah, kami ucapkan: Keselamatan atas Allah, keselamatan atas Jibril dan Mikail, keselamatan atas Fulan dan Fulan.” Rasulullah SAW menoleh kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyelamat, maka apabila salah seorang di antara­mu shalat bacalah: (yang artinya) Kehor­matan bagi Allah, demikian juga berkah dan kebaikan. Semoga kese­lamatan tetap atas engkau wahai Nabi, demikian pula rahmat dan ber­kah-Nya. Semoga keselamatan tetap atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang baik (shalih).” Beliau bersabda: Sesungguhnya apabila kamu mengucapkannya, maka sampai kepada setiap hamba Allah yang shalih baik di langit maupun di bumi. Selanjutnya bacalah: (yang artinya) Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya. (HR Bukhari)

 

Sebelum salam (pada waktu duduk terakhir), Rasulullah SAW juga berdoa kepada-Nya sebagai berikut:

 

Dari Muhammad bin Abu Aisyah, sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah SAW ber­sabda: Apabila salah seorang kamu selesai dari tasyahhud akhir, maka hendaklah dia memohon perlindungan dari empat parkara, dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan serta ke­matian, dan dari kejahatan al masih dajjal. (HR Muslim)

 

Pada waktu rukuk dan sujud, Rasulullah SAW memuji dan mengagungkan Allah SWT. Tetapi, karena rukuk dan sujud itu merupakan gerakan tunduk kepada-Nya, maka beliau juga berdoa kepada-Nya, contohnya sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW mengatakan dalam rukuk dan sujudnya: (yang artinya) Maha Suci Engkau. Ya Allah, Tuhan kami! Dan segala puji untuk-Mu. Ya Allah, ampunilah aku. (HR Bukhari)

 

Keadaan umat Islam pada waktu sujud adalah keadaan yang paling dekat dengan Dia, karena itu Rasulullah SAW juga berdoa kepada-Nya, seperti dijelaskan berikut ini:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bers­abda: Paling dekatnya jarak antara hamba dan Tuhannya adalah ke­tika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah doa. (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW melarang umatnya membaca Al Qur’an ketika rukuk dan sujud, tetapi beliau menyuruh untuk memperbanyak doa dengan sungguh-sungguh ketika sujud agar dikabulkan-Nya. Hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW me­nyingkap tirai, sementara orang-orang berjajar di belakang Abu Bakar, kemudian beliau bersabda: Hai orang-orang, sesungguhnya tidak ada yang tersisa dari kabar gembira mengenai kenabian kecuali mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya. Ingat! Sesungguhnya aku dilarang membaca Al Quran pada waktu rukuk atau sujud. Tentang rukuk, maka agungkanlah Tuhan pada waktu itu; dan mengenai sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, dengan demikian wajarlah jika doamu dikabulkan.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah umat Islam dapat berdoa sebelum salam ketika shalat wajib berjama’ah?”

 

Mudariszi: “Umat Islam yang shalat berjamaah memang agak sulit berdoa untuk dirinya sebelum salam karena dia harus mengikuti imam. Shalat itu bermunajat atau berbicara langsung kepada Allah SWT, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang di antara kalian mendirikan shalatnya, maka dia adalah bermunajat pada Tuhannya.” (HR Bukhari)

 

Sehingga umat yang berdoa kepada-Nya ketika shalat adalah yang paling baik karena umat langsung berbicara dan berhadapan dengan-Nya ketika itu. Agar umat dapat berdoa kepada Allah SWT untuk dirinya sendiri melalui shalat sebelum salam, Rasulullah SAW memerintahkan umat mengerjakan shalat sunat di rumah masing-masing, sebagai berikut:

 

Dari Ziad bin Tsabit, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Se­sungguhnya sebaik-baiknya shalat seseorang adalah di dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan.” (HR Bukhari)

 

Melalui shalat sunnat, umat dapat berdoa kepada-Nya sebanyak-banyaknya menurut keinginannya atau mengikuti doa-doa yang diajarkan oleh Al Qur’an atau Rasulullah SAW. Misalnya doa ini:

 

Dari Abu Bakar Ash Shiddiq, bahwa ia berkata ke­pada Rasulullah SAW: Ajarkanlah kepadaku doa yang saya baca dalam shalatku. Beliau bersabda: Ucapkanlah: (yang artinya) Wahai Allah, sesungguhnya saya sangat banyak menganiaya terhadap diri saya, dan yang mengampuni doss-dosa hanyalah Engkau, maka ampunilah saya dengan ampunan dari sisi-Mu dan sayangilah saya, karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, bahwasanya Rasulullah SAW se­lalu berdoa dalam shalat: (yang artinya) Wahai Allah, sesungguhnya saya belindung kepada-Mu dari siksa kubur. Saya berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal. Dan sesungguhnya saya belindung kepada-Mu dari dosa dan hutang. Lalu seseorang berkata ke­pada Rasulullah SAW: Alangkah banyaknya engkau mohon perlindungan dari hutang. Beliau bersabda: Sesungguhnya seseorang apabila ber­hutang, bila bercakap-cakap maka berdusta dan bila berjanji maka menyelisihi.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah di antara shalat sunnat itu ada yang dianjurkan oleh Allah SWT untuk dikerjakan?”

 

Mudariszi: “Shalat tahajud atau shalat malam adalah shalat sunnat yang dianjurkan oleh Allah SWT untuk dikerjakan. Allah SWT berfirman:

 

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al Israa’ 79)

 

Ketika umat itu bangun di tengah malam untuk mengerjakan shalat tahajud, maka Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Ubadah bin Shamit, bahwasanya Rasulullah SAW bersab­da: “Barangsiapa yang bangun di malam hari dan mengucapkan: “Tiada Tuhan melainkan Allah, sendirian tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongan Allah.” Kemudian ia mengucapkan: “Wahai Allah, ampunilah saya” atau ia berdoa, maka ia dikabulkannya. Jika ia wudlu dan shalat, maka diterima (shalatnya). (HR Bukhari)

 

Dan ketika umat itu mengerjakan shalat tahajud, maka Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersab­da:Tuhan kami Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun ke langit dunia setiap malam ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dengan berfir­man: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan; ba­rangsiapa yang minta kepadaKu, maka Aku beri; dan barangsiapa yang mohon ampunan kepada-Ku, maka Aku ampuni.” (HR Bukhari)

 

Dengan demikian, setiap umat dapat berdoa kepada Allah SWT pada waktu shalat sunat, dan shalat tahajud (shalat malam) merupakan shalat sunnat yang paling baik untuk berdoa kepada-Nya, selain umat itu akan ditinggikan kedudukannya. Berdoa melalui shalat merupakan cara berdoa kepada-Nya yang paling benar dan paling baik untuk dikabulkan-Nya karena umat langsung berbicara (bermunajat) kepada-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT untuk umatnya melalui shalat berjamaah?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW melakukannya dengan membaca doa qunut seperti dijelaskan berikut ini:

 

Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW selama satu bulan selalu membaca doa qunut sesudah rukuk dalam sembahyang Shubuh. Beliau mendoakan celaka atas orang yang suka menghujat dan orang yang jahat. Beliau bersabda: Mereka adalah orang-orang yang durhaka kepada Allah dan RasulNya. (HR Muslim)

 

Dari Khuffaf bin Ima Al Ghifari, dia berkata: Rasulullah SAW berdoa dalam suatu sembahyang: Ya Allah, lak­natilah Bani Lihyan (orang-orang yang suka mencela), Bani Rila (orang-orang yang suka menghujat), Bani Dzikwan (orang-orang yang suka berlaku jahat) dan Bani Ushayyat (orang-orang yang suka berlaku durhaka). Mereka semua memang suka berbuat durhaka kepada Allah dan RasulNya. Kepada Bani Ghiffar mudah-mudahan Allah berkenan mengampuninya, dan kepada Bani Aslam mudah-mudahan Allah ber­kenan memberikan keselamatan.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT untuk umat manusia melalui shalat berjamaah?”

 

Mudariszi: “Ya! Contoh Rasulullah SAW mengerjakan shalat Istisqa yaitu shalat meminta kepada Allah SWT agar Dia menurunkan hujan termasuk meminta agar hujan tersebut dihentikan-Nya. Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Syihab, beliau berkata: Abbad bin Tamiem Al Maziniy menceritakan kepadaku, bahwa dia pernah mendengar pa­mannya (yakni Abdullah bin Zaid bin Ashim Al Maziniy) yang terma­suk salah seorang sahabat Rasulullah, berkata: Rasulullah SAW keluar pada suatu hari untuk meminta hujan. Beliau menyuruh kaum muslimin berdiri di belakang beliau. Beliau berdoa kepada Allah, meng­hadap kiblat dan memindahkan selendangnya, kemudian melakukan shalat dua rakaat. (HR Muslim)

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Bahwa seorang lelaki masuk ke mesjid pada hari Jumat dari pintu yang menuju ke arah Darul Qadla (semula rumah Umar bin Al Khaththab). Pada waktu itu Rasulullah SAW sedang berdiri berkhutbah. Orang itu menghadap Rasulullah SAW sambil berdiri, kemudian berkata: Ya Rasulullah! Harta benda (ternak) menjadi binasa dan jalan-jalan terputus. Karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia berkenan menurunkan hujan. Rasulullah SAW lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa: (yang artinya) Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Kata Anas: Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat di langit ada mega atau gumpalan awan. Di antara kami dengan gunung tidak ada rumah atau perkampungan (yang bisa menghalangi pandangan kami untuk melihat sebab-sebab terjadinya hujan). Tiba-tiba dari balik gunung muncul mega bagaikan perisai. Ketika telah berada di tengah-­tengah langit, mega itu menebar, kemudian menurunkan hujan. Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat matahari sepotong. Pada hari Jumat berikutnya, masuk pula seorang lelaki dari pintu yang sama ketika Ra­sulullah SAW sedang berdiri berkhutbah. Orang itu menghadap beliau sambil berdiri, lalu berkata: Ya Rasululah, harta-harta pada binasa dan jalan-jalan terputus! (Kali ini karena terlampau banyak hujan). Oleh sebab itu, berdoalah kepada Allah, agar Dia berkenan menahan hujan dari kami. Rasulullah SAW pun meng­angkat kedua tangannya, kemudian berdoa: (yang artinya) Ya Allah! Berkenanlah Engkau menurunkan hujan di sekitar kami dan jangan merugikan kami. Ya Allah! Berkenanlah Engkau menurunkannya di atas gunung-gunung dan perbukitan, di perut-perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan. Hujanpun reda. Dan kami dapat keluar, berjalan di bawah sinar matahari. (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW meminta diturunkan-Nya hujan karena semua makhluk termasuk umat manusia memerlukan air ketika menjalani hidupnya di bumi. Demikian pula ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, Rasulullah SAW mengerjakan shalat gerhana secara berjamaah meminta kepada-Nya agar matahari dan bulan dapat kembali beredar menurut ketetapan-Nya. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Bakrah, ia berkata: “Kami di sisi Rasulullah SAW, lalu terjadi gerhana matahari. Rasulullah SAW berdiri dengan mengenakan selendang sehingga beliau masuk ke masjid, lalu kami masuk, dan beliau shalat dua raka’at bersama kami sehingga matahari jelas. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana kare­na meninggalnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbukalah apa yang ada (gerhana) yang terjadi padamu.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Matahari ger­hana pada masa Rasulullah SAW. Beliau shalat bersama orang-orang, berdiri lama kemudian ruku’ lama, berdiri lama yaitu mendekati berdiri yang pertama, ruku’ lama yaitu mendekati ruku’ yang pertama. Kemu­dian beliau sujud lama. Beliau lakukan dalam raka’at kedua seperti apa yang beliau perbuat dalam raka’at pertama. Kemudian beliau pergi dan matahari telah jelas. Beliau berkhutbah kepada orang-orang, lalu memu­ji Allah dan bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, tidak gerhana karena meninggalnya tidak pula karena hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka berdo’alah kepada Allah. Bertakbirlah, shalatlah dan bersedekah.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai umat Muhammad, demi Allah tidak ada seseorangpun yang lebih cemburu dari pada Allah terhadap perzi­naan seseorang hamba laki-laki atau wanita. Wahai Umat Muhammad, demi Allah seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kamu sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW mengerjakan shalat gerhana agar bumi tidak menjadi seperti yang diperingatkan-Nya ini:

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al Qashash 71-73)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT untuk seorang umat saja?”

 

Mudariszi: “Orang yang berdoa kepada Allah SWT dapat melakukan sendiri tanpa perantara melalui shalat sunnat (seperti yang telah dijelaskan di atas), karena Allah SWT berfirman:

 

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (Al Mu’min 60)

 

Meminta kepada Allah SWT melalui Rasulullah SAW memang akan lebih diterima-Nya daripada orang biasa yang meminta langsung kepada-Nya. Tapi Rasulullah SAW tidak hidup abadi di dunia, karena itu umat sebaiknya berdoa (meminta) langsung kepada Allah SWT. Meskipun demikian, Rasulullah SAW juga berdoa bagi setiap umat, tapi bagi umat yang wafat, yaitu melalui shalat jenazah dengan berjama’ah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Samurah, ia berkata: Saya shalat di belakang Rasulullah SAW atas seorang wanita yang meninggal dalam nifasnya, lalu beliau berdiri di tengah-tengahnya. (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah Ibnu Abbas, bahwa putera Abdullah bin Abbas meninggal dunia di Qudaid atau di Ushfan. Ibnu Abbas ber­kata: Hai Kuraib! Coba lihat, apakah orang-orang sudah berkumpul untuk menyembahyanginya! Aku (Kuraib) keluar, ternyata orang-orang telah berkumpul. Akupun melapor kepada beliau. Beliau bertanya: Apakah mereka ada empat puluh orang? Aku menjawab: Ya! Beliau berkata: Keluarkanlah dia (keluarkan jenazah anakku)! Karena, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Setiap orang Islam meninggal dunia, lalu ada empat-puluh orang berdiri menyembahyangi­nya, mereka tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, pasti Allah menerima syafaat mereka terhadap orang itu.” (HR Muslim)

 

Dengan demikian, semua doa kepada Allah SWT yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah melalui shalat, karena shalat itu bermunajat kepada-Nya, sehingga merupakan ibadah yang paling benar untuk meminta (berdoa) kepada-Nya dan yang paling baik untuk dikabulkan-Nya.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply