Siapakah Syaitan & Apakah Syaitan Itu Musuh Manusia?

Dialog Seri 8: 1

 

Tilmidzi: “Apakah dan bagaimanakah syaitan itu?

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang syaitan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam 44)

 

Dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al Israa’ 27)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa syaitan adalah makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang durhaka (ingkar) kepada Tuhannya yaitu Allah SWT. Durhaka (ingkar) kepada Allah SWT merupakan perbuatan mendurhakai (mengingkari) Allah SWT. Sehingga perbuatan makhluk yang durhaka (ingkar) kepada Allah SWT adalah perbuatan syaitan. Contoh perbuatan syaitan itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah 90)

 

Orang-orang beriman yang meminum khamar atau berkorban untuk berhala atau mengundi nasib (dalam firman-Nya di atas) ketika itu adalah syaitan, karena mereka ketika itu tidak beriman sehingga melakukan perbuatan syaitan. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seseorang berzina, ketika dia sedang berzina, dalam keadaan beriman; tidak mencuri, ketika dia mencuri, dalam keadaan beriman; tidak meminum khamr, ketika dia meminumnya, dalam keadaan beriman. Dan taubat boleh disampaikan sesudah itu. (HR Muslim)

 

Tidak dalam keadaan beriman ketika seseorang sedang berzina atau mencuri atau minum khamar dalam sunnah Rasulullah di atas adalah keadaan orang itu sedang berbuat durhaka (ingkar) kepada Allah SWT atau melakukan perbuatan syaitan. Tapi setelah itu dia dapat bertaubat dengan memperbaiki dirinya (kesalahannya) tanpa mengulangi lagi perbuatan syaitan tersebut.”

 

Tilmidzi: “Apakah perbuatan syaitan itu perbuatan yang berdosa?”

 

Mudariszi: “Rasululah SAW menjelaskan dosa sebagai berikut:

 

Dari Nawwas bin Saman Al Anshari, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai soal kebajikan dan dosa. Beliau bersabda: Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesuatu yang merisaukan hatimu dimana kamu merasa tidak suka apabila hal itu sampai dilihat oleh orang lain.” (HR Muslim)

 

Contoh orang berbuat dosa hingga perbuatannya itu merisaukan hatinya dan tidak suka diketahui oleh orang lain adalah Nabi Musa ketika beliau memukul musuhnya hingga mati, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Qashash 15-16)

 

Sekalipun Nabi Musa meninju musuhnya hingga mati (dalam firman-Nya di atas) tanpa niat ingin membunuh musuhnya, tapi ketika itu beliau tetap telah membunuh orang, dan itu berdosa, itu perbuatan yang dilarang agama-Nya (ayat-ayat-Nya). Karena itu Nabi Musa lalu meminta ampun kepada Allah SWT dan beliau diampuni-Nya (dalam firman-Nya di atas). Dan Allah SWT lalu menjelaskan orang berdosa itu sebagai berikut:

 

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (As Sajdah 22)

 

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (Asy Syuura 42)

 

Dengan demikian perbuatan dosa itu adalah perbuatan yang mengingkari ayat-ayat-Nya (yang mendurhakai-Nya), sehingga perbuatan dosa itu merupakan perbuatan syaitan.”

 

Tilmidzi: “Apakah di antara keinginan manusia itu ada keinginan yang merupakan keinginan syaitan?”

 

Mudariszi: “Manusia berbuat karena mau mencapai keinginan hatinya. Hal tersebut dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)

 

Hal itu menunjukkan bahwa perbuatan manusia merupakan kelanjutan dari keinginan hatinya. Dengan demikian, perbuatan manusia yang jahat terjadi karena keinginan hatinya yang jahat, yaitu keinginan hati yang mengingkari agama-Nya (ayat-ayat-Nya) atau keinginan hati yang berdosa. Contoh, menyembunyikan kesaksian yang benar atau rencana (makar) jahat, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah 283)

 

Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras dan rencana jahat mereka akan hancur (Faathir 10)

 

Keinginan hati yang mengingkari agama-Nya (ayat-ayat-Nya) itu merupakan keinginan hati yang mengingkari perintah-Nya (mendurhakai-Nya), dan itu berarti keinginan syaitan. Dengan demikian, di antara keinginan hati manusia itu ada keinginan hatinya yang merupakan keinginan syaitan. Dan karena itu pula Allah SWT menghisab hati manusia selain menghisab perbuatan manusia pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Israa’ 36)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah menetapkan dalam agama-Nya jika perbuatan syaitan itu merupakan perbuatan yang berdosa?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT adalah Tuhan semesta alam, yaitu Tuhan yang menciptakan semesta alam atau langit dan bumi beserta apa yang ada di langit dan di bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)

 

Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu. (Al Mu’min 62)

 

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)

 

Dengan demikian, semua yang ada di semesta alam merupakan kepunyaan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)

 

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi. (Huud 123)

 

Firman-Nya di atas menjadikan hanya Allah SWT saja yang berhak dalam memerintah, memutuskan dan menetapkan hukum ketika Dia memelihara dan mengurus semua ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya tersebut. Allah SWT berfirman:

 

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Al A’raaf 54)

 

Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)

 

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (Al An’aam 57)

 

Dalam menetapkan hukum bagi semua ciptaan-Nya termasuk semua makhluk ciptaan-Nya, Allah SWT menetapkan agama-Nya dengan syariat (peraturan) agama-Nya, yaitu semua makhluk wajib berserah diri dengan tunduk patuh kepada-Nya mengikuti syariat (peraturan) agama-Nya yang berupa perintah dan larangan. Allah SWT berfirman:

 

Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (Ar Ruum 26)

 

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)

 

Sehingga, jika ada makhluk yang tidak mematuhi perintah agama-Nya (ayat-ayat-Nya), maka dia mendurhakai (mengingkari) perintah-Nya atau larangan-Nya, sehingga dia mendurhakai-Nya. Allah SWT menetapkan dalam agama-Nya bahwa perbuatan mendurhakai-Nya itu merupakan perbuatan syaitan.”

 

Tilmidzi: “Apakah ada makhluk yang mendurhakai Allah SWT (perintah-Nya) sehingga dia menjadi syaitan?”

 

Mudariszi: “Syaitan terkait dengan manusia bermula dari Iblis yang mendurhakai Allah SWT ketika Dia menciptakan manusia pertama, yaitu Nabi Adam. Allah SWT berfirman:

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (Al Baqarah 30)

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali Iblis. Ia membangkang. (Thaahaa 116)

 

Iblis membangkang dalam firman-Nya di atas adalah dia mengingkari perintah-Nya, yaitu tidak mau bersujud kepada Nabi Adam, atau mendurhakai perintah-Nya. Iblis itu sendiri berasal dari makhluk jin, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)

 

Dengan Iblis mendurhakai Allah SWT, maka Iblis telah melakukan perbuatan syaitan dan Iblis menjadi syaitan, yaitu syaitan dari makhluk (golongan) jin. Iblis menjadi syaitan pertama sejak manusia diciptakan-Nya. Selain menjadi syaitan, Iblis yang mendurhakai Allah SWT juga menjadi kafir, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (Shaad 71-74)

 

Sehingga, jika Iblis mendurhakai Allah SWT lalu menjadi syaitan dan juga menjadi kafir kepada-Nya, maka makhluk (jin) yang kafir kepada Allah SWT tersebut adalah syaitan.”

 

Tilmidzi: “Bukankah Iblis dapat bertaubat setelah melakukan perbuatan kekafiran itu?”

 

Mudariszi: “Berdasarkan sunnah Rasulullah di atas, Iblis dapat bertaubat jika dia tidak ingin dihukum-Nya (ditetapkan-Nya) sebagai kafir atau syaitan. Tetapi Iblis tidak mau bertaubat, Iblis justru bersumpah ingin menyesatkan manusia hingga kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil. (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (Shaad 82-83)

 

Keinginan Iblis di atas merupakan pengkhianatan (pendurhakaan) Iblis terhadap Allah SWT. Dan untuk mencapai tujuannya itu, Iblis lalu meminta kepada Allah SWT agar menunda kematiannya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Berkata Iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. (Al Hijr 36)

 

Allah SWT mengabulkan permintaan Iblis, tapi bukan seperti yang diinginkannya. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. (Al Hijr 37-38)

 

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat). (Shaad 80-81)

 

Tujuan Iblis di atas menunjukkan bahwa keinginan dan perbuatan Iblis itu merupakan keinginan (niat) dan perbuatan yang mendurhakai Allah SWT hingga kiamat. Karena itu Iblis dihukum (ditetapkan) oleh Allah SWT sebagai syaitan dan kafir hingga kiamat, dan Dia membuktikannya dengan Dia mengutuk Iblis sampai kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. (Al Hijr 34-35)

 

Dengan demikian, Iblis menjadi syaitan pertama yang berkaitan dengan manusia, dan Iblis itu adalah syaitan dan kafir hingga kiamat.”

 

Tilmidzi: “Apakah dengan Iblis menjadi berdosa, lalu Iblis akan ditempatkan oleh Allah SWT di neraka?”

 

Mudariszi: “Dengan Iblis menjadi syaitan, maka Iblis menjadi selalu berdosa, karena dia akan melakukan perbuatan dosa atau melakukan kekafiran hingga kiamat. Perbuatan Iblis itu tidak disukai-Nya, karena Dia menjelaskan sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An Nisaa’ 36)

 

Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar. (Ar Ruum 45)

 

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. (Al Baqarah 276)

 

Siapa yang selalu berbuat dosa atau melakukan kekafiran atau melakukan perbuatan dosa, maka dia adalah sesat di dunia, dan Allah SWT menetapkan tempat baginya di neraka di hari kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (Thaahaa 74)

 

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (Al Qamar 47)

 

Neraka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai tempat bagi makhluk-makhluk yang berdosa, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Neraka berdebat dengan surga, maka neraka berkata: Aku dimasuki orang-orang yang zalim dan takabur. Surga berkata: Aku dimasuki orang-orang yang lemah dan miskin. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman kepada neraka: Kamu adalah siksaKu. Aku gunakan kamu untuk menyiksa siapapun yang Aku kehendaki (terkadang berfirman: Aku gunakan kamu untuk menimpakan bencana terhadap orang yang Aku kehendaki). Dan Dia berfirman kepada surga: Kamu adalah rahmatKu. Aku beri rahmat dengan kamu siapapun yang Aku kehendaki. Dan masing-masing akan Kuisi sampai penuh. (HR Muslim)

 

Dengan demikian, Iblis yang syaitan, kafir, sombong dan takabur itu akan menjadi penghuni neraka di hari kiamat atau di kehidupan akhirat.”

 

Tilmidzi: “Apakah dengan Iblis ingin menyesatkan manusia, lalu Iblis atau syaitan menjadi musuh manusia?”

 

Mudariszi: “Karena Iblis ingin menyesatkan manusia hingga kiamat, maka Iblis menjadi musuh manusia. Dan karena Iblis adalah syaitan, maka syaitan pula menjadi musuh manusia. Manusia harus berhati-hati dengan Iblis atau syaitan ketika menjalani hidupnya di dunia agar tidak menjadi pengikut Iblis (syaitan) dan agar tidak menjadi sesat. Dan itu diperingatkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi 50)

 

Tilmidzi: “Apakah Iblis atau syaitan memiliki pengikut-pengikut?”

 

Mudariszi: “Ya! Iblis tidak dapat mencapai tujuannya dengan hanya sendiri. Iblis berusaha menghasut dan menipu jin dan manusia agar menjadi pengikutnya. Jin dan manusia yang mengikuti Iblis (syaitan) menjadi pengikut-pengikut Iblis atau menjadi syaitan-syaitan seperti firman-Nya ini:

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)

 

Tilmidzi: “Apakah para pengikut Iblis (syaitan-syaitan dari jin dan manusia) itu juga ditetapkan-Nya di neraka?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena para pengikut Iblis menjadi seperti Iblis yaitu akan menyesatkan manusia, sehingga mereka juga akan ditempatkan di neraka oleh Allah SWT bersama-sama dengan Iblis. Allah SWT berfirman:

 

Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (Al Israa’ 63-64)

 

Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya.” (Shaad 84-85)

 

Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Huud 119)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjaga (melindungi) manusia dari penyesatan Iblis dan syaitan-syaitan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT berjanji akan menjaga (melindungi) manusia dari Iblis dan syaitan-syaitan, tapi Dia hanya menjaga orang-orang yang mengikuti-Nya. Tidak mungkin Allah SWT menjaga (melindungi) pengikut Iblis atau syaitan, karena mereka mendurhakai-Nya dan mereka tidak mau dilindungi-Nya; mereka telah memiliki pelindungnya sendiri, yaitu Iblis dan syaitan yang diikutinya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka; dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga. (Al Israa’ 65)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply