Dialog Seri 8: 8
Tilmidzi: “Apakah syaitan mengganggu Nabi-Nabi ketika mereka menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada umatnya?”
Mudariszi: “Syaitan mengetahui bahwa kewajiban Nabi-Nabi (Rasul-Rasul) adalah menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada umatnya (manusia) termasuk menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An Nuur 54)
Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)
Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al Maa-idah 48)
Karena itu syaitan mengganggu Nabi-Nabi ketika menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka salah dalam menjelaskan ayat-ayat-Nya, agama-Nya dan jalan-Nya. Allah SWT membiarkan syaitan mengganggu Nabi-Nabi agar Nabi-Nabi memperoleh pelajaran dari kejahatan syaitan. Pelajaran itu memudahkan Nabi-Nabi ketika menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh bagi orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al Furqaan 31)
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Jika setiap Nabi mempunyai keinginan, syaitan lalu mengganggunya agar Nabi lalai dengan keinginannya itu hingga melupakan tugasnya. Tapi karena para Nabi dilindungi oleh Allah SWT, gangguan syaitan itu dihilangkan-Nya dengan Dia menguatkan hati Nabi dengan ayat-ayat-Nya hingga Nabi memahami ayat-ayat-Nya dan gangguan syaitan itu. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. (Al Hajj 52)
Jika Nabi-Nabi diganggu oleh syaitan ketika menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya, agama-Nya dan jalan-Nya, maka umat Nabi pasti diganggu pula oleh syaitan agar tidak memahami atau tidak mengikuti atau tidak menjalankan agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus.”
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan menjauhkan manusia dari Nabi ketika Nabi menyampaikan ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Syaitan (dari golongan jin) menggunakan kawan-kawannya, yaitu syaitan-syaitan dari golongan manusia, untuk menjauhkan manusia dari Nabi dan dari ayat-ayat-Nya (agama-Nya). Allah SWT berfirman:
Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Orang-orang kafir membantu syaitan (dari golongan jin) dalam menjauhkan manusia dari Nabi-Nabi (Rasul-Rasul), yaitu misalnya dengan mengancam, mengusir, mendustakan, seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka, (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.” Mereka berkata: “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Yaasiin 13-19)
Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-Rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.” (Ibrahim 13)
Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul-Rasul), maka datanglah kepada mereka azab dari arah yang tidak mereka sangka. (Az Zumar 25)
Tilmidzi: “Bagaimana jika Nabi-Nabi tetap menyampaikan ayat-ayat-Nya sekalipun diancam, diusir atau didustakan, apakah syaitan membiarkan Nabi atau Rasul itu tetap menyampaikan ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Jika ancaman tidak membuat Nabi atau Rasul berhenti dari menyampaikan ayat-ayat-Nya, maka orang-orang kafir itu dihasut oleh syaitan (dari golongan jin) untuk mencelakakan Nabi (Rasul). Contoh, Rasulullah SAW disihir oleh orang kafir, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Aisyah, dia berkata: “Rasulullah SAW disihir sehingga terbayang oleh beliau bahwa beliau berbuat sesuatu, padahal beliau tidak berbuat demikian itu, hingga pada suatu hari beliau berdoa dan berdoa, dan kemudian beliau bersabda: “Adakah kamu (Aisyah) tahu bahwa Allah berfatwa (memenuhi doa) kepadaku mengenai kesembuhanku? Telah datang kepadaku dua orang (malaikat: Jibril dan Mikail, dalam mimpi). Seorang (Jibril) dari keduanya duduk di kepalaku dan yang lain (Mikail) di kedua kakiku. Seorang (Mikail) dari keduanya berkata kepada yang lain (Jibril): “Apakah sakitnya laki-laki (Nabi) ini?” Dia (Jibril) menjawab: “Dia disihir.” Dia (Mikail) bertanya: “Dan siapakah yang menyihirnya?” Dia (Jibril) menjawab: “Labid bin A’sham.” Dia (Mikail) bertanya: “Pada apakah?” Dia (Jibril) menjawab: “Pada sisir, serat dan mayang kurma kering yang jantan.” Dia (Mikail) bertanya: “Dimanakah itu?” Dia (Jibril) menjawab: “Di sumur dzarwan.” Kemudian Rasulullah SAW berangkat ke sumur itu, kemudian beliau kembali, lalu beliau bersabda kepada Aisyah ketika kembali: “Pohon kurma (di sisi)nya adalah seperti kepala-kepala setan.” Lalu aku (Aisyah) berkata: “Engkau minta untuk mengeluarkannya?” Beliau bersabda: “Tidak. Adapun aku, telah disembuhkan oleh Allah, dan aku khawatir (bila dikeluarkan) hal itu akan membangkitkan keburukan pada manusia.” Kemudian sumur itu dimatikan.” (HR Bukhari)
Atau syaitan menyuruh (menghasut) orang-orang kafir untuk membunuh Nabi (Rasul) agar ayat-ayat-Nya tidak sampai kepada umatnya. Contoh, syaitan menghasut Ahli Kitab yang kafir agar membunuh Nabi-Nabi yang menyampaikan ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan hawa nafsu keinginan mereka dalam kehidupan (kesenangan) dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu). (Al Maa-idah 70-71)
Tilmidzi: “Apakah syaitan menghasut Ahli Kitab agar mengingkari Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk manusia; itu berarti Al Qur’an juga termasuk untuk Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Dan Allah SWT memerintahkan manusia agar beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW agar mereka selamat di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisaa’ 174)
Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun), karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 170)
Allah SWT menugaskan Rasulullah SAW untuk menjelaskan Al Qur’an kepada Ahli Kitab, karena Ahli Kitab telah tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa akibat dari disembunyikan atau dirubah sebagian ayat-ayat Taurat dan ayat-ayat Injil oleh Ahli Kitab yang kafir. Tujuan penjelasan Rasulullah SAW dan Al Qur’an itu, yaitu agar Ahli Kitab mengetahui agama-Nya yang benar dan memperbaiki dirinya. Karena itu Allah SWT memerintahkan Ahli Kitab agar beriman kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)
Tapi sebagian Ahli Kitab tidak berbeda dengan Ahli Kitab terdahulu yang menyembunyikan ayat-ayat Taurat dan ayat-ayat Injil, yaitu mereka mengingkari Rasulullah SAW dan Al Qur’an, dengan alasan, salah satunya mengatakan sebagai berikut:
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (Al An’aam 91)
Syaitan membuat mereka tidak menyukai ayat-ayat Al Qur’an yang tidak sesuai dengan hawa nafsu keinginan mereka dalam kehidupan dunia, sehingga mereka mengingkari Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Padahal mereka telah mengetahui Rasulullah SAW dari Taurat dan Injil, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqarah 146)
Dengan Ahli Kitab itu mengingkari Rasulullah SAW, maka syaitan berhasil membuat mereka tetap tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Anak cucu mereka yang lahir kemudian cenderung mengikuti agama orang tuanya, sehingga mereka juga tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Akibatnya, Allah SWT tidak memberikan petunjuk kepada mereka ketika menjalani hidupnya di dunia hingga mereka tersesat, kecuali mereka bertaubat.”
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan menjauhkan umat Islam dari Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Syaitan melakukannya dengan menghasut umat Islam agar menyukai kehidupan (kesenangan) dunia hingga mereka tidak menyukai agama Islam dan menjadi orang-orang munafik. Syaitan membuat hati mereka penuh dengan angan-angan dalam kehidupan dunia hingga hati mereka senantiasa menjadi terombang-ambing (berpenyakit) dan lalu melupakan Allah SWT. Kemunafikan mereka dapat diketahui dari perbuatannya, sebagai berikut:
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
Angan-angan orang-orang munafik itu membuat mereka tidak menyukai agama Islam karena adanya syariat (hukum-hukum) agama Islam yang menghalangi atau membatasi pencapaian angan-angan mereka atau hawa nafsu keinginan duniawi mereka. Allah SWT menjelaskan pandangan orang-orang munafik terhadap agama Islam, berikut ini:
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya.” (Al Anfaal 49)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Jika diingatkan dengan ayat-ayat-Nya supaya bertaubat, mereka akan menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya itu dengan mengolok-olokannya. Allah SWT berfirman:
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At Taubah 65)
Syariat agama-Nya dan jalan-Nya yang diketahui oleh mereka juga dijadikannya sebagai bahan mainan dan olok-olokan. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. (Al A’raaf 51)
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. (Luqman 6)
Orang-orang munafik itu lalu menjadi kawan syaitan (dari golongan jin) dalam menjauhkan umat Islam dari Rasulullah SAW (sunnah Rasulullah), dari agama Islam, dari jalan-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah di antara orang-orang munafik itu ada yang mengingkari Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Di antara orang-orang munafik itu, ada yang tidak mengakui Rasululah SAW, yaitu mereka tidak mengakui Al Qur’an itu diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Mungkin mereka berpendapat Al Qur’an itu diturunkan langsung oleh Allah SWT ke bumi kepada setiap orang. Akibatnya, semua sunnah Rasulullah tidak diakuinya, sehingga mereka beribadah menurut jalannya sendiri. Padahal Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al Munaafiquun 1)
Di antara orang-orang munafik itu, ada pula yang hanya mengakui sebagian sunnah Rasulullah, yaitu yang sesuai dengan keinginan atau kepentingan duniawinya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. (An Nuur 47-50)
Tilmidzi: “Apakah syaitan menghasut umat Islam agar menafsirkan sunnah Rasulullah menurut hawa nafsunya atau pendapatnya sendiri?”
Mudariszi: “Di antara umat Islam, ada umat yang menafsirkan ayat-ayat-Nya dan ada pula yang menafsirkan sunnah Rasulullah menurut hawa nafsunya atau pendapatnya sendiri. Umat yang menafsirkan sunnah Rasulullah itu telah terjadi di masa beliau dan beliau tidak menyukainya (melarangnya), karena beliau adalah orang yang paling bertakwa dan paling mengetahui tentang agama Islam. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah berbuat sesuatu pekerjaan namun beliau kemudian memberikan keringanan. Ketika hal itu didengar oleh sebagian dari sahabat-sahabatnya, mereka seolah-olah tidak suka pada tindakan beliau tersebut dan berlagak sok tahu. Reaksi mereka itu sampai kepada beliau. Beliau lalu berdiri dan berpidato: “Apa pedulinya orang-orang itu? Mereka mendengar berita tentang diriku yang memberikan kemurahan terhadap sesuatu. Mereka lalu tidak menyukainya dan berlagak sok tahu. Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling tahu dan paling bertakwa kepada Allah daripada mereka.” (HR Muslim)
Umat Islam yang melakukan itu hanya untuk kepentingannya, yaitu ingin dikenal hingga memiliki pengikut dan harta. Umat itu melakukannya karena terhasut oleh janji manis syaitan. Ada pula umat Islam yang dihasut oleh syaitan hingga mereka berani mengada-adakan atau memalsukan sunnah Rasulullah, yaitu mereka mengada-adakan suatu perkataan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW demi untuk keuntungannya. Perbuatan mereka itu sama saja dengan membuat kebohongan atas nama Rasulullah SAW atau mendustakan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memperingatkan umat Islam yang melakukan itu, sebagai berikut:
Dari Rabi’i bin Hirasy, sesungguhnya dia mendengar Ali pernah berkhutbah: “Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu mendustakan aku, karena sesungguhnya orang yang berani mendustakan aku, maka dia akan masuk neraka.” (HR Muslim)
Diceritakan oleh Muslim bin Yasar, sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Pada akhir zaman nanti, bakal muncul para dajjal yang tukang dusta. Mereka datang kepadamu dengan membawa hadits-hadits dimana kamu dan juga nenek moyangmu belum pernah mendengarnya. Maka jauhilah olehmu mereka. Jangan sampai mereka akan menyesatkan dan menimpakan fitnah kepadamu.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah syaitan menghasut umat Islam agar memuji-muji Rasulullah SAW secara berlebihan?”
Mudariszi: “Di antara umat Islam, ada yang memuji-muji Rasulullah SAW secara berlebih-lebihan, misalnya mereka mengucapkan shalawat secara berlebih-lebihan dan tidak pada tempatnya (jalannya) seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ada pula yang merayakan kelahiran Rasulullah SAW yang beliau tidak pernah ajarkan (lakukan). Hari Raya yang diperintahkan oleh Allah SWT dan diajarkan oleh Rasulullah SAW hanya dua, yaitu Hari Raya setelah melaksanakan puasa Ramadhan dan Hari Raya setelah melaksanakan haji. Mustahil Rasulullah SAW berani mengadakan hari raya kelahirannya yang tidak pernah diperintahkan-Nya, justru Rasulullah SAW mengingatkan umat Islam sebagai berikut:
Dari Umar, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah melampaui batas dalam memuji aku, sebagaimana orang-orang Nasrani melampaui batas dalam memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah: “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW melarang umatnya memuji beliau berlebih-lebihan, karena puji-pujian itu hanya untuk Allah SWT saja. Allah SWT berfirman:
Dan Dia-lah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat. (Al Qashash 70)
Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. (Al Jaatsiyah 36)
Melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW tanpa melebihkan atau mengada-adakan yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, merupakan bagian dari puji-pujian kepada Allah SWT.”
Tilmidzi: “Apakah dengan umat Islam menafsirkan atau memalsukan sunnah Rasulullah lalu menimbulkan agama Islam baru (golongan)?”
Mudariszi: “Semua perbuatan umat Islam (yang dijelaskan di atas) karena hasutan syaitan dengan janji-janji manisnya, berakibat kepada terjadinya amal ibadah (amal perbuatan) umat Islam yang tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Jika amal ibadah itu diikuti oleh sejumlah umat Islam, maka timbul golongan dalam agama Islam (atau agama Islam baru) dengan beberapa ibadah yang berbeda dengan ibadah agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Adanya amal ibadah dari setiap golongan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, menunjukkan golongan itu telah mengada-adakan ajaran agama Islam baru. Pembuat ibadah itu berarti telah mendahului Allah SWT dan Rasulullah SAW, padahal Allah SWT melarang perbuatan itu melalui firman-Nya ini:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. (Al Hujuraat 1)
Agama Islam yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah SAW adalah agama yang telah sempurna dan telah diridhai-Nya, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menambah atau mengurangkannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menerima agama Islam baru dengan ibadahnya yang diada-adakan itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agamaku, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami tanpa ada dasarnya, maka sesuatu itu tertolak.” (HR Muslim)
Timbulnya sejumlah ajaran agama Islam baru (golongan) itu menjadikan agama Islam menjadi terpecah. Syaitan menyukai perkara itu karena membuatnya lebih mudah dalam menyesatkan orang-orang yang lahir kemudian agar mereka tidak mengikuti agama Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.”
Tilmidzi: “Apakah umat Islam yang mengikuti agama Islam baru (yang diada-adakan) itu menjadi sesat?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: “Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore!” Kala itu beliau bersabda: “Masa aku diutus dan hari kiamat itu hanyalah seperti kedua jari ini!” Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: “Sesudah apa yang tersebut, maka ketahuilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang disebut bid’ah). Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku, tentu dia akan masuk surga. Barangsiapa yang durhaka kepadaku, itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)
Umat Islam itu menjadi sesat karena mereka tidak beragama dengan agama Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk taat mengikuti-Nya (Al Qur’an) dan mengikuti Rasulullah SAW (as sunnah). Itu berarti umat Islam dilarang untuk membuat ketetapan ibadah agama yang berbeda dengan yang diajarkan atau ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Jika mereka berbeda pendapat, maka Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’ 59)
Tapi jika umat Islam itu mengabaikan perintah-Nya di atas dengan terus mengada-adakan (membuat) dan mengikuti golongannya (agama Islam baru), maka mereka berarti telah mendurhakai Allah SWT dan Rasulullah SAW, yaitu mendurhakai ketentuan-ketentuan (syariat) agama Islam yang Dia dan Rasulullah SAW telah tetapkan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Dengan mereka mendurhakai Allah SWT dan Rasulullah SAW, mereka berarti telah sesat, dan itu sesuai dengan sunnah Rasulullah di atas yang mengatakan setiap bid’ah (mengada-adakan suatu ibadah atau perbuatan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW) pasti sesat. Akibatnya, Allah SWT tidak akan memberikan petunjuk kepada mereka, kecuali mereka bertaubat.”
Wallahu a’lam.