Dialog Seri 9: 7
Tilmidzi: “Apakah dengan tidak ada lagi Nabi setelah Rasulullah SAW, Allah SWT menghendaki kehidupan baru bagi manusia hingga kiamat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia di bumi sebagai khalifah guna melaksanakan amanah yang telah bersedia dipikulnya. Allah SWT menetapkan manusia melaksanakan amanah itu melalui perjalanan hidupnya di dunia (di bumi) dengan Dia berikan karunia-Nya yang ada pada dirinya dan yang ada di bumi dan di langit, serta Dia berikan pula ayat-ayat-Nya dan agama-Nya sebagai petunjuk baginya ketika menjalani hidupnya. Perbuatan manusia ketika melaksanakan amanah melalui perjalanan hidupnya itu diuji oleh Allah SWT dengan syaitan yang ingin menyesatkannya dari jalan-Nya dan agama-Nya. Dalam melaksanakan amanah itu, manusia dihidupkan oleh Allah SWT di dunia dalam waktu dan lingkungan kehidupan yang tidak sama. Al Qur’an menjelaskan kehidupan dunia bagi manusia itu terbagi sebagai berikut:
- Masa kehidupan bagi manusia dari Nabi Adam hingga Nabi Nuh. Di akhir masa Nabi Nuh terjadi banjir besar yang memusnahkan semua orang kafir di bumi. Setelah itu bumi hanya dihuni oleh orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh.
- Masa kehidupan bagi manusia dari orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh hingga kaum Fir’aun. Di masa itu, semua orang (semua kaum) yang menjadi kafir dimusnahkan-Nya agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir.
- Masa kehidupan bagi manusia dari diturunkan-Nya Taurat kepada Nabi Musa hingga diturunkan-Nya Al Qur’an kepada Rasulullah SAW. Di masa itu, orang-orang (kaum-kaum) yang kafir tidak dimusnahkan-Nya. Dan agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir, Dia mengutus Nabi-Nabi kepada kaum kafir tersebut, dan di antara Nabi-Nabi itu banyak yang dari Bani Israil.
- Masa kehidupan bagi manusia dari diturunkan-Nya Al Qur’an kepada Rasulullah SAW hingga kiamat. Di masa itu, Al Qur’an, Rasulullah SAW (as sunnah) dan agama Islam dijadikan-Nya sebagai pegangan dan petunjuk bagi manusia (termasuk bagi orang-orang kafir dan orang-orang yang lahir kemudian) ketika menjalani hidupnya di dunia.
Kehidupan bagi manusia dari sejak diturunkan-Nya Al Qur’an itu diawali dengan Allah SWT memenangkan agama Islam atas semua agama, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Al Fath 28)
Allah SWT selalu memulai kehidupan baru bagi manusia dengan diawali oleh orang-orang beriman, karena Dia menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al Anbiyaa’ 105)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memenangkan agama Islam atas semua agama tersebut tanpa memusnahkan semua orang kafir?”
Mudariszi: “Dalam memenangkan agama Islam atas semua agama, Allah SWT tidak memusnahkan orang-orang kafir yang ketika itu terdiri dari Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan kaum musyrik yang beragama menyembah tuhan selain Dia. Allah SWT hanya memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengajak orang-orang kafir itu agar memeluk agama Islam melalui firman-Nya ini:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An Nahl 125)
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. (Asy Syuura 15)
Perintah Allah melalui firman-Nya di atas itu adalah untuk kebaikan dan keselamatan orang-orang kafir sendiri ketika hidup di dunia dan di akhirat. Tetapi Allah SWT tidak memaksa mereka harus memeluk agama Islam, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah 256)
Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Kahfi 29)
Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana Rasulullah SAW melaksanakan perintah Allah hingga memenangkan agama-Nya di atas semua agama?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW melaksanakan perintah Allah tersebut di atas dengan memerintahkan sahabat beliau sebagai berikut:
Dari Sahel bin Sa’ad, sesungguhnya menjelang peristiwa pertempuran Khaibar, Rasulullah SAW memberikan bendera itu kepada Ali. Ali mengatakan: “Wahai Rasulullah, akan aku perangi mereka sampai mereka seperti aku.” Rasulullah SAW bersabda: “Laksanakanlah dengan tidak usah terburu-buru. Tenanglah saat kamu berhenti di wilayah mereka. Ajaklah mereka masuk pada agama Islam. Beritahukan kepada mereka tentang hak Allah yang wajib mereka penuhi yang ada dalam ajaran Islam.” (HR Muslim)
Jika orang-orang kafir itu tidak mau memeluk agama Islam, maka mereka diwajibkan untuk membayar jizyah (pajak) kepada pemimpin pemerintahan Islam agar mereka mendapat hak dan perlindungan dari pemimpin pemerintahan Islam. Jizyah itu merupakan hak Allah atas orang-orang kafir karena mereka hidup di bumi-Nya dengan karunia-Nya yang ada di bumi itu. Jika mereka tidak juga mau membayar jizyah, mereka berarti merampas hak-Nya dan melawan perintah-Nya, karena itu mereka berhak diperangi menurut agama-Nya (agama Islam). Allah SWT berfirman:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At Taubah 29)
Orang-orang musyrik tidak berbeda dengan Ahli Kitab, yaitu wajib membayar jizyah, dan akan diperangi jika mereka menolak memeluk agama Islam dan menolak membayar jizyah. Dengan demikian, tidak semua orang kafir dimusnahkan ketika agama Islam dimenangkan atas semua agama.”
Tilmidzi: “Berapa lama setiap masa kehidupan bagi manusia yang telah dijelaskan sebelumnya di atas itu?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan jangka waktu dari setiap masa kehidupan bagi manusia seperti yang telah dijelaskan di atas itu. Rasulullah SAW menjelaskan jangka waktu kehidupan bagi manusia dari sejak Al Qur’an diturunkan-Nya hingga kiamat itu sebagai berikut:
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: “Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore!” Kala itu beliau bersabda: “Masa aku diutus dan hari kiamat itu hanyalah seperti kedua jari ini!” Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW tidak menjelaskan jangka waktu kehidupan manusia itu hingga kiamat (dari sunnah Rasulullah di atas), tapi beliau menjelaskan sejumlah perkara yang akan terjadi dalam kehidupan di masa itu dimana sebagian daripadanya telah terjadi.”
Tilmidzi: “Perkara apa sajakah yang telah terjadi dalam kehidupan sejak Al Qur’an turun hingga kiamat tersebut?”
Mudariszi: “Beberapa perkara yang telah terjadi tersebut, misalnya empat pemimpin (Khalifah) pemerintahan Islam setelah Rasulullah SAW wafat, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, memerintah selama tiga puluh tahun, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Sa’id bin Jumhan, dia berkata: “Safinah menceritakan kepadaku dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Khalifah dalam umatku tiga puluh tahun, kemudian kerajaan setelah itu.” Kemudian Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah dengan jari-jarimu masa Khilafah Abu Bakar.” Kemudian dia berkata: “Dan masa Khalifah Umar dan masa Khalifah Utsman.” Kemudian berkata: “Hitunglah masa Khalifah Ali.” Maka kami jumpainya tiga puluh tahun.” (HR Tirmidzi)
Di bawah keempat Khalifah tersebut, agama Islam dikuatkan dan dibesarkan dengan mengalahkan kerajaan Parsi (musyrik) dan kerajaan Romawi (Ahli Kitab). itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kisra (gelar Raja Persi) telah mati, maka tidak ada Kisra lagi sesudahnya; dan apabila Kaisar (gelar Raja Rum) sudah binasa, maka tidak ada Kaisar lagi sesudahnya. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan–Nya, kekayaan mereka berdua akan diinfakkan untuk sabilillah.” (HR Muslim)
Wafatnya keempat Khalifah itu lalu dilanjutkan oleh sahabat Rasulullah lainnya di bawah pemerintahan Islam. Mereka membesarkan dan menguatkan agama Islam hingga ke Eropah, Afrika, China dan Asia Tenggara. Mereka adalah para sahabat Rasulullah yang berjanji setia di bawah pohon, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Ummu Mubasysyir, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda di samping Hafshah: “Insya Allah di antara sahabat-sahabat pohon, tidak seorang pun yang masuk neraka. Mereka itulah yang pernah melakukan pembai’atan di bawah pohon.” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Mas’ud menceritakan dari ayahnya berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu sekalian menang atas musuh-musuh, memperoleh harta rampasan serta dibukakan negara-negara bagimu. Barangsiapa memperoleh hal itu, maka hendaklah ia takut kepada Allah, hendaklah memerintahkan kepada kebaikan, hendaklah mencegah perbuatan munkar dan barangsiapa berbuat dusta atasku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)
Adapun sahabat-sahabat pohon dalam sunnah Rasulullah di atas adalah para sahabat yang berjanji setia kepada beliau di bawah pohon; mereka berjanji akan menguatkan agama Islam dan Allah SWT menjanjikan kepada mereka negeri-negeri dan harta yang banyak. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Al Fath 9)
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Fath 18-21)
Setelah semua sahabat Rasulullah wafat, pemimpin (Khalifah) pemerintahan Islam masih tetap menguatkan dan meluaskan agama Islam ke seluruh belahan bumi karena agama Islam itu agama-Nya untuk manusia (termasuk untuk orang-orang yang lahir kemudian) ketika menjalani hidupnya. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Imram bin Hushain, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku yang terbaik ialah generasiku, generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutkan sesudah generasinya dua generasi lagi atau tiga.” Kemudian sesudah kalian terdapat kaum yang berhak menjadi saksi tapi tidak dimintai kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai seorang saksi), mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernazar dan tidak dapat menunaikannya, dan tampak pada mereka orang-orang gemuk.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa pemerintahan Islam dipimpin oleh para sahabat beliau dan anak cucu para sahabat beliau. Pemerintahan itu dilanjutkan dengan kepemimpinan berikutnya dan berikutnya (yang terakhir), yaitu kekhalifahan (pemerintahan) Umayyah, Abbasyiyah dan Utsmaniyah, yang telah terjadi selama lebih dari seribu empat ratus tahun. Setelah itu tidak ada lagi pemerintahan (kekhalifahan) Islam.”
Tilmidzi: “Apakah maksud dari umat Rasulullah adalah umat yang terbaik (dalam sunnah Rasulullah di atas)?”
Mudariszi: “Allah SWT menetapkan bahwa umat Rasulullah (umat Islam) tersebut adalah sebagai berikut:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali ‘Imran 110)
Umat Islam merupakan umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (dalam firman-Nya di atas) itu terjadi karena pengajaran agama Islam (agama-Nya) dari Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Pengajaran Rasulullah dan Al Qur’an menjadikan sebagian umat Islam berilmu agama Islam. Mereka mengetahui Allah SWT perintahkan mereka untuk mengajarkan agama Islam kepada manusia untuk diikuti (dijalankan) ketika menjalani hidupnya agar selamat di dunia dan di akhirat. Pengetahuan mereka tentang agama Islam membuatnya setingkat di bawah Rasulullah SAW, mereka sangat bertakwa kepada Allah SWT dan takut kepada-Nya. Mereka itulah ulama seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Faathir 28)
Selain mengajarkan agama Islam kepada manusia, ulama menyeru manusia agar taat mengikuti syariat agama Islam termasuk menyeru agar berbuat kebaikan (ma’ruf) dan menolak kejahatan (mungkar) seperti yang dijelaskan firman-Nya di atas. Amal perbuatan ulama menjadi seperti amal perbuatan para Nabi; tapi karena tidak ada Nabi setelah Rasulullah SAW, ulama itu menjadi pewaris para Nabi, dan itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Qais bin Katsir dari Abu Darda, ia berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya jalan ke surga. Dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya karena ridha terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang pandai dimintakan ampun oleh apa (siapa) yang berada di langit dan di bumi hingga ikan-ikan di air. Keutamaan orang pandai atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil ilmu maka dia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR Tirmidzi)
Ilmu dan pengetahuan ulama tentang agama Islam membuat ulama selalu berlaku adil terhadap siapapun termasuk ketika memutuskan perkara-perkara yang timbul di antara manusia. Sehingga dengan pengetahuan dan perbuatannya itu, ulama lalu ditetapkan oleh Allah SWT akan menjadi saksi atas perbuatan manusia ketika di akhirat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Al Baqarah 143)
Rasulullah SAW menjelaskan umat Islam yang terbaik di antara umat Islam yang terbaik, sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: “Manusia manakah yang terbaik?” Beliau menjawab: “Yang hidup pada kurun dimana aku berada di dalamnya, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga.” (HR Muslim)
Umat Islam yang hidup di masa Rasulullah sebagai umat Islam yang terbaik (dalam sunnah Rasulullah di atas) adalah karena mereka termasuk menguatkan dan membesarkan agama Islam hingga ke berbagai belahan bumi setelah Rasulullah SAW wafat. Demikian pula dengan umat Islam setelah mereka dan umat Islam setelahnya. Jumlah ulama makin berkurang setelah masa-masa itu karena pengaruh kesenangan dunia.”
Tilmidzi: “Apakah penyebab jatuhnya pemerintahan (kekhalifahan) Islam?”
Mudariszi: “Penyebabnya yaitu orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan kaum musyrik yang tidak menyukai agama-Nya (agama Islam) selalu berusaha menjatuhkan pemerintahan Islam. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu). (An Nisaa’ 44-45)
Orang-orang kafir itu selalu kalah ketika memerangi pemerintahan Islam karena Allah SWT telah menetapkan perkara tersebut sebagai berikut:
Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong, sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya). (Al Fath 22-23)
Orang-orang kafir baru berhasil menjatuhkan pemerintahan Islam setelah bekerja sama dengan orang-orang munafik, yaitu umat Islam yang tidak menyukai agama Islam dan merupakan musuh umat Islam yang beriman. Allah SWT berfirman:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. (Al Munaafiquun 4)
Rasulullah SAW pula menjelaskan bahwa umat Islam hanya dapat dihancurkan oleh umat Islam itu sendiri, yaitu sebagai berikut:
Dari Tsauban, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku memohon kepada Tuhan untuk umatku agar Dia tidak menghancurkan umatku dengan paceklik yang merata dan tidak menguasakan musuh terhadap mereka selain diri mereka sehingga musuh tadi akan merampas kemuliaan mereka. Kemudian Tuhan berfirman: “Hai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak dapat ditolak. Sesungguhnya Aku memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak menghancurkan mereka dengan paceklik yang merata dan tidak menguasakan musuh terhadap mereka yang akan merampas kemuliaan mereka selain diri mereka sendiri, meskipun dikepung orang-orang di sekitar mereka, sampai sebagian mereka membinasakan dan menawan sebagiannya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan keadaan umat Islam setelah pemerintahan Islam jatuh?”
Mudariszi: “Ya! Di antara penjelasan Rasulullah tersebut, yaitu di masa itu akan banyak ulama yang wafat sehingga timbul kebodohan dan kekacauan pada umat Islam:
Dari Urwah, dia berkata: “Abdullah bin Amr pernah memberi hujah padaku. Aku lalu mendengar dia mengatakan: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja setelah Allah memberikannya kepada kalian. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dari mereka adalah dengan cara mencabut ulama dan ilmunya sekaligus. Yang tinggal adalah orang-orang bodoh. Saat diminta fatwanya, mereka berfatwa berdasarkan pendapatnya. Mereka menyesatkan dan mereka juga tersesat.” (HR Bukhari)
Pengetahuan agama dari kebanyakan umat Islam sangat terbatas, sehingga mereka cenderung menjadi munafik dan mengikuti musuh-musuhnya (orang-orang kafir dan orang-orang munafik) hingga mereka bekerja sama dengan musuh-musuh umat Islam yang beriman itu. Sebagian dari mereka menjadi pemimpin yang tidak disukai oleh umat Islam, karena mereka lebih memperhatikan musuh-musuh umat Islam. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekalipun mereka memasuki sebuah liang biawak tentu kalian pun tetap mengikutinya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari)
Dari Abdullah, dia mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Sepeninggalanku nanti akan muncul pemimpin-pemimpin yang tidak kamu sukai.” (HR Muslim)
Akibat dari semua itu timbul kekacauan dan fitnah di antara manusia (termasuk di antara umat Islam sendiri). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan–Nya, dunia tidak akan binasa sampai datang suatu zaman dimana orang yang membunuh tidak tahu untuk apa ia membunuh, dan orang yang dibunuh tidak mengerti mengapa ia dibunuh.” Maka ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana keadaan waktu itu?” Beliau bersabda: “Kacau. Yang membunuh dan yang dibunuh semua di neraka.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bergegaslah kalian mengerjakan amal-amal baik, sebelum muncul berbagai fitnah yang bagaikan penggalan-penggalan malam yang gelap; dimana pada waktu pagi seseorang masih beriman, tapi pada waktu sore menjadi kafir, atau pada waktu sore masih beriman dan pada waktu pagi menjadi kafir; dia menjual agamanya dengan harta-benda dunia.” (HR Muslim)
Tidak dijelaskan jangka waktu kekacauan dan fitnah-fitnah itu, hingga fitnah bertambah besar dengan keluarnya Dajjal bersama orang-orang Yahudi. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Abdullah bin Umar berkata: “Pada suatu hari, di depan banyak orang Rasulullah SAW menuturkan tentang Al Masih Dajjal. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu tidaklah buta sebelah mata. Ingatlah, bahwa Al Masih Dajjal itu buta sebelah matanya yang kanan, seakan-akan matanya itu buah anggur yang mengapung.” (HR Muslim)
Dari Ishaq bin Abdullah dari pamannya, Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada tujuh puluh ribu orang Yahudi Ashbahan yang mengikuti Dajjal, mereka memakai thailasan (jubah yang biasa dipakai ulama Persia).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana keadaan agama Islam pada waktu itu?
Mudariszi: “Pada waktu itu agama Islam kembali menjadi asing dan umat Islam yang beribadah seperti berhijrah kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali sebagaimana dia mulai, menjadi asing. Karena itu, berbahagialah orang-orang asing.” (HR Muslim)
Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah dalam suasana kacau itu seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Siapakah yang memerintah (menguasai) umat manusia di bumi setelah pemerintahan Islam jatuh?”
Mudariszi: “Sejak pemerintahan Islam jatuh, penduduk bumi (umat manusia) diperintah oleh musuh-musuh umat Islam. Mereka itu terhadap umat Islam seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (Al Maa-idah 82)
Salah satu penguasa penduduk bumi itu dari Ahli Kitab (Bani Israil), karena Allah SWT menjelaskan Bani Israil di kemudian hari itu sebagai berikut:
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab (Taurat) itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri; dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(-Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al Israa’ 4-8)
Bani Israil yang kafir itu terhadap kehidupan dunia adalah seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sungguh kamu akan mendapati mereka manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. (Al Baqarah 96)
Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? (Al Maa-idah 62-63)
Musuh-musuh umat Islam itu memerangi umat Islam seperti yang diperingatkan-Nya berikut ini:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (Ali ‘Imran 118)
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (Al Baqarah 217)
Tujuan mereka yaitu agar tidak ada lagi umat Islam yang beriman dan umat Islam harus tunduk kepada pemimpin-pemimpin mereka.”
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan tentang agama Islam dan umat Islam yang beriman ketika diperangi oleh musuh-musuhnya?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak akan membiarkan agama Islam lenyap dan tidak membiarkan umat Islam yang beriman dikalahkan oleh orang-orang kafir. Rasulullah SAW menjelaskan umat Islam yang beriman ketika itu terhadap agama Islam dan terhadap orang-orang kafir, sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Syumasah Al Mahri dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Adapun aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang selalu siap berperang membela agama Allah. Mereka akan berlaku keras terhadap musuh-musuh mereka. Mereka tidak merasa gentar terhadap orang yang menyalahi mereka. Dan sampai kiamat kelak sekalipun mereka tetap bersikap begitu.” (HR Muslim)
Dari Jabir bin Samurah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Agama ini akan senantiasa tegak, mengingat ada sekelompok kaum muslimin yang membelanya sampai hari kiamat.” (HR Muslim)
Dan pada waktu yang Allah SWT telah tetapkan, Dia menyatukan kembali umat Islam yang beriman dengan mengarahkan mereka dan musuh-musuhnya berperang di Syam (Suriah). Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Bahz bin Hakim memberitahukan kepada kami dari ayahnya dari kakeknya berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, dimana engkau memerintahkan kepadaku?” Beliau bersabda: “Disana.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah Syam.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bendera-bendera hitam keluar dari Khurasan, maka tidak ada suatu apapun yang dapat menolaknya sehingga ditancapkannya di Iliya.” (HR Tirmidzi)
Setelah melalui perang yang dahsyat melawan Ahli Kitab yang kafir dan sekutunya di Syam, umat Islam memperoleh kemenangan, dan Allah SWT lalu menurunkan Nabi ‘Isa membantu umat Islam. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ketika ia dalam keadaan demikian, mendadak Allah mengutus Al Masih putera Maryam. Beliau turun di menara putih sebelah timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelup za’faran, dan meletakkan telapak tangannya pada sayapnya dua malaikat; apabila beliau menundukkan kepala, airpun menetes; dan jika mengangkat kepala, berluncuranlah air tadi bagaikan mutiara; orang kafir yang mencium bau nafas beliau pasti mati, sedangkan nafas beliau itu dapat mencapai sejauh pandangan mata beliau. (HR Muslim)
Pemimpin umat Islam pada waktu itu meminta Nabi ‘Isa mengimami shalat, tapi beliau menolak karena alasan seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Jabir bin Abdullah berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tak henti-hentinya sekelompok dari ummatku berkelahi berebut kebenaran yang tampaknya sampai hari kiamat. Lalu Isa bin Maryam turun, maka berkatalah pemimpin mereka: “Marilah, do’akanlah kami.” Isa menjawab: “Tidak! Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap ummat ini.” (HR Muslim)
Allah SWT menurunkan Nabi ‘Isa ke bumi karena beliau belum wafat tapi hanya diangkat kepada-Nya, padahal setiap yang bernyawa akan mati. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.” (Ali ‘Imran 55)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Al ‘Ankabuut 57)
Nabi ‘Isa menggunakan syariat agama Islam dalam mengalahkan Ahli Kitab yang kafir, termasuk Bani Israil yang kafir seperti yang dijelaskan firman-Nya dalam surat Al Israa’ 4-8 di atas. Nabi ‘Isa juga membunuh Dajjal, dan semua itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang diriku di tangan–Nya (kekuasaan-Nya), sungguh Isa bin Maryam hampir turun di tengah kamu sebagai hakim yang adil lalu menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus pajak dan harta melimpah ruah sehingga tidak seorang yang menerimanya.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sebelum kaum muslimin berperang dengan Yahudi, maka kaum muslimin dapat mengalahkan mereka sampai ada orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu atau pohon tadi berkata: “Hai muslim, hai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku. Kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad (sejenis pohon berduri), karena ia pohonnya orang Yahudi.” (HR Muslim)
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian beliau mencari Dajjal dan menemukannya di Babu Ludd (daerah dekat Baitul Muqqadas) lalu membunuhnya. Setelah itu beliau didatangi kaum yang telah dijaga Allah dari kejahatan Dajjal, beliau mengusap wajah mereka lalu menceritakan derajat mereka di surga. Ketika beliau dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah memberikan wahyu: “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba–Ku, tiada seorangpun yang mampu membunuhnya, maka jaga dan kumpulkanlah hamba-hamba–Ku di gunung Thur.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah setelah itu tidak ada lagi orang-orang kafir di bumi?”
Mudariszi: “Setelah Nabi ‘Isa membunuh Dajjal dan mengalahkan Ahli Kitab yang kafir, Allah SWT lalu mendatangkan Ya’juj dan Ma’juj yang memerangi Nabi ‘Isa dan orang-orang beriman. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Abdur Rahman bin Jabir dari Yahya bin Jabir dari Abdur Rahman bin Jubair dari ayahnya yaitu Jubair bin Nufair dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka seperti apa yang difirmankan Allah: “Mereka dari setiap tanah yang tinggi berjalan dengan cepat.” (surat Al Anbiyaa’ ayat 96). Beliau bersabda: “Permulaan rombongan mereka melewati laut kecil Athabariyyah lalu meminum air yang ada di dalamnya, kemudian akhir rombongan melewatinya lalu berkata: “Sungguh di tempat ini pernah ada air.” Lalu mereka berjalan sehingga sampai di gunung Baitul Maqdis, lalu berkata: “Sungguh kami telah membunuh orang yang berada di bumi, marilah kita membunuh orang yang ada di langit.” Lalu mereka melemparkan panah mereka ke langit. Kemudian Allah mengembalikan panah mereka kepada mereka dalam keadaan berwarna merah darah. Isa bin Maryam dan teman-temannya dikepung sehingga kepala sapi pada hari itu lebih baik bagi mereka daripada seratus dinar bagi seseorang di antara kamu pada hari ini.” Beliau bersabda: “Lalu Isa bin Maryam dan sahabatnya memohon kepada Allah agar membinasakan mereka.” Beliau bersabda: “Lalu Allah mengirimkan atas mereka (Ya’juj dan Ma’juj) ulat pada leher mereka, lalu pagi-pagi mereka menjadi mangsa binatang buas serta mati seperti matinya satu orang.” (HR Tirmidzi)
Setelah mengalahkan Ya’juj dan Ma’juj, Nabi ‘Isa dan orang-orang beriman lalu turun ke daratan. Manusia pada masa itu menjalani hidupnya dengan bahagia dan sejahtera dengan mengikuti syariat agama Islam. Setelah Nabi ‘Isa wafat, sebagian manusia kembali menjadi kafir. Sehingga pada waktu yang Allah SWT tetapkan, Dia mencabut nyawa semua orang beriman. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Setelah itu manusia tinggal di bumi selama tujuh tahun, tiada rasa permusuhan di antara dua orang. Kemudian Allah mengirim angin yang dingin dari arah Syam, maka tiada seorang pun yang di hatinya terdapat sebiji sawi kebaikan atau iman yang tinggal di bumi melainkan pasti mati, sehingga andai salah seorang di antara kamu masuk ke dalam perut gunung, angin tadi akan masuk pula dan mencabut nyawanya.” (HR Muslim)
Setelah itu yang hidup di dunia hanya orang-orang kafir, dan Ka’bah lalu dirobohkan. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Maka tinggallah manusia-manusia jahat (yang hidup) dalam kesigapan burung dan akal binatang buas, mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Maka setan menjelma (sebagai manusia) di hadapan mereka lalu bertanya: “Tidakkah kalian mau memerintahkan mereka agar menyembah berhala”, sedang pada waktu itu rezeki mereka berlimpah dan kehidupan mereka terjamin.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ka’bah akan dirobohkan oleh orang-orang yang berbetis kecil dari Habasyah (Ethiopia).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah setelah kejadian tersebut di atas lalu kiamat terjadi?”
Mudariszi: “Manusia yang ketika itu tidak lagi menjalani hidupnya dengan mengikuti agama Islam (agama-Nya) dan Ka’bah telah dirobohkan, maka tidak ada lagi agama-Nya di bumi dan tidak ada lagi orang-orang beriman. Bumi hanya dihuni oleh orang-orang jahat dan kafir, sehingga tidak lama kemudian terjadi kiamat. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Abdullah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kiamat hanya terjadi terhadap manusia-manusia jahat.” (HR Muslim)
Dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tidak bakal terjadi sampai tidak dikatakan lagi di bumi: “Allah, Allah.” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Aku menghafal satu hadis dari Rasulullah SAW yang belum pernah aku lupakan. Aku mendengar beliau bersabda: “Tanda-tanda kiamat yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang darat kepada manusia pada waktu dhuha. Mana saja yang muncul lebih dulu, maka yang lain akan menyusul dalam waktu dekat.” (HR Muslim)
Dengan demikian, tidak ada lagi agama Allah setelah agama Islam. Dan setelah agama Islam tidak lagi diikuti oleh manusia, maka kiamat terjadi. Sehingga agama Islam itu akan tetap tegak berdiri di bumi untuk umat manusia sampai kiamat.”
Wallahu a’lam.