Mengapa Allah SWT Menurunkan Kitab Al Qur’an (Ayat-Ayat-Nya)?

Dialog Seri 9: 6

 

Tilmidzi: “Apakah umat Nabi ‘Isa menyampaikan Injil dan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa setelah Nabi ‘Isa diangkat kepada-Nya?”

 

Mudariszi: “Karena agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa untuk manusia, umat Nabi ‘Isa yang beriman menyampaikan Injil dan agama-Nya kepada manusia setelah Nabi ‘Isa diangkat kepada-Nya. Bani Israil yang kafir tidak menyukai agama-Nya yang diajarkan Nabi ‘Isa itu, sehingga mereka lalu menyembunyikan dan merubah ayat-ayat Injil. Akibatnya agama-Nya itu tidak lagi seperti yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Selain itu, Bani Israel bekerja sama dengan penguasa yang kafir mengancam umat Nabi ‘Isa agar tidak menyampaikan agama-Nya. Keadaan itu membuat sebagian umat Nabi ‘Isa yang beriman menyelamatkan diri dan menyelamatkan agama-Nya. Di antara umat Nabi ‘Isa yang beriman yang menyelamatkan diri dan agama-Nya adalah beberapa pemuda yang bersembunyi di gua. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (Al Kahfi 10-16)

 

Keadaan itu membuat jumlah umat Nabi ‘Isa yang beriman makin berkurang, dan makin bertambah banyak orang-orang yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bukankah cepat atau lambat agama-Nya akan lenyap dan manusia tidak beragama dengan agama-Nya benar lagi?”

 

Mudariszi: “Makin bertambah banyak orang-orang yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, membuat orang-orang beriman semakin berkurang. Orang-orang musyrik penyembah berhala juga semakin bertambah karena mereka tidak menerima penjelasan agama-Nya yang benar. Sehingga, cepat atau lambat, agama-Nya yang benar akan lenyap dan manusia di bumi termasuk orang-orang yang lahir kemudian menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan menjadi sesat (kafir). Agar hal itu tidak terjadi, Allah SWT lalu mengutus Nabi Muhammad (Rasulullah) SAW kepada manusia dengan diberikan Al Qur’an, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa’ 192-195)

 

Tilmidzi: “Bukankah Rasulullah SAW dan Al Qur’an membawa agama-Nya yaitu agama Islam untuk umat Islam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengutus Rasulullah SAW kepada manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)

 

Al Qur’an yang diberikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW adalah untuk manusia. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)

 

Manusia dalam firman-Nya di atas adalah semua orang yang lahir dan hidup di bumi (di dunia) termasuk orang-orang yang lahir kemudian. Manusia di bumi ketika Al Qur’an diturunkan-Nya kepada Rasulullah SAW, hanya terdiri dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ketika Rasulullah SAW menerima Al Qur’an pertama kali dari Allah SWT, beliau tidak mengetahui Al Qur’an dan iman, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Asy Syuura 52)

 

Dengan demikian, Rasulullah SAW tidak mengetahui agama Islam ketika menerima Al Qur’an, sehingga beliau ketika itu belum menjadi umat Islam. Sehingga, Al Qur’an itu bukan untuk umat Islam, tapi untuk manusia, yaitu Ahli Kitab, orang-orang musyrik dan umat Islam. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dari Iyaadl bin Himar Al Mujasyiiy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu. Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, ke­cuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)

 

Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya dalam keadaan muslim semua (dalam sunnah Rasulullah di atas) sesuai dengan firman-Nya ini:

 

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini. (Al Hajj 78)

 

Demikian pula syaitan menyimpangi manusia (atau umat Rasul) dari agama-Nya (dalam sunnah Rasulullah di atas) sesuai dengan firman-Nya ini:

 

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (An Nahl 63)

 

Sedangkan orang-orang beriman yang tersisa (dalam sunnah Rasulullah di atas) yaitu dari Ahli Kitab. Karena itu Allah SWT mengutus Rasulullah SAW dan menurunkan Al Qur’an untuk manusia, termasuk untuk Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. (Al An’aam 156)

 

Kamu dan kami dalam firman-Nya di atas adalah orang-orang musyrik.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Rasulullah SAW menjelaskan Al Qur’an tersebut kepada Ahli Kitab?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an kepada Ahli Kitab mengikuti perintah-Nya ini:

 

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)

 

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-Rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Maa-idah 19)

 

Dan Allah SWT memerintahkan pula Ahli Kitab untuk beriman kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an, yaitu melalui firman-Nya berikut ini:

 

Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. (An Nisaa’ 47)

 

(Kami terangkan yang demikian itu) supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. (Al Hadiid 29)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an menjelaskan perkara-perkara yang diperselisihkan oleh Ahli Kitab?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa Al Qur’an itu membenarkan Taurat dan Injil seperti yang dijelaskan firman-Nya di atas dan firman-Nya ini:

 

Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. (Ali ‘Imran 3-4)

 

Maksud Al Qur’an membenarkan Taurat dan Injil, yaitu Allah SWT, melalui Al Qur’an, menjelaskan bahwa Dia benar telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa dan Injil kepada Nabi ‘Isa, tapi bukan Taurat atau Injil seperti yang ada sekarang di tangan Ahli Kitab. Taurat dan Injil yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Musa dan Nabi ‘Isa adalah wahyu-wahyu-Nya dalam bahasa Nabi Musa dan bahasa Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:

 

Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. (Al Anbiyaa’ 7)

 

Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim 4)

 

Sedangkan sebagian ayat-ayat Taurat dan ayat-ayat Injil yang ada sekarang adalah penjelasan manusia dan sebagian lagi lenyap karena disembunyikan oleh Bani Israil yang kafir. Berubahnya Taurat dan Injil itu menimbulkan perselisihan di antara umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa (Ahli Kitab), karena agama-Nya menjadi berubah, yaitu tidak lagi seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa. Hal itu menjadikan sebagian Ahli Kitab tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Al Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah SAW menjelaskan perselisihan di antara Ahli Kitab itu, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Al Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (An Naml 76)

 

Dengan beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, Ahli Kitab dapat mengetahui perselisihan itu dan memperbaiki dirinya dalam beragama dengan agama-Nya yang benar. Jika masih tetap ragu-ragu terhadap Taurat atau Injil (setelah dijelaskan) tapi tetap mau mengikuti agama-Nya yang benar, maka Ahli Kitab itu dapat memeluk agama Islam. Karena semua agama yang diajarkan oleh Nabi Musa, Nabi ‘Isa dan Rasulullah SAW adalah agama yang satu yaitu agama Allah; ketiga Rasul itupun utusan Allah; dan ketiga kitab yaitu Taurat, Injil dan Al Qur’an, itu dari Allah SWT.”

 

Tilmidzi: “Apakah ada Ahli Kitab yang memeluk agama Islam setelah mendapat penjelasan daripada Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur’an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israel mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Ahqaaf 10)

 

Adapun Bani Israil yang beriman (dalam firman-Nya di atas) dan kemudian memeluk agama Islam itu adalah Abdullah bin Salam, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas, dia berkata: “Sampailah kepada Abdullah bin Salam (dari Bani Israil) khabar kedatangan (hijrah) Rasulullah SAW ke Madinah. Lalu ia datang kepada beliau dan berkata: “Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Kemudian Abdullah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi itu suatu kaum pendusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka (tentang diriku), maka mereka mendustakan saya terhadap engkau.” Lalu datanglah orang-orang Yahudi dan Abdullah masuk rumah. Rasulullah SAW bersabda: “Laki-laki macam apakah Abdullah bin Salam di kalanganmu?” Mereka menjawab: “Orang yang terpandai di antara kami dan anak yang terpilih di antara kami.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimanakah pendapatmu jika Abdullah bin Salam masuk Islam (adakah kalian masuk Islam juga)?” Mereka menjawab: “Semoga Allah melindunginya dari yang demikian.” Lalu Abdullah keluar kepada mereka dan mengucapkan: “Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” Maka mereka berkata: “(Abdullah adalah) orang yang terburuk di antara kami dan anak orang yang terburuk di antara kami.” Dan mereka mencaci maki kepadanya (Abdullah bin Salam).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Ahli Kitab tersebut beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Di antara Ahli Kitab itu ada yang beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, dan mereka adalah Ahli Kitab yang beriman. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. (Ali ‘Imran 199)

 

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri), seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” (Al Maa-idah 83-84)

 

Tapi kebanyakan dari Ahli Kitab tidak mau beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW dan mereka adalah Ahli Kitab yang kafir. Mereka itu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya). Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan. (Al An’aam 91)

 

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh Nabi-Nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (Al Baqarah 91)

 

Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). (Al Baqarah 100-101)

 

Kekafiran mereka terbukti karena mereka tidak mau mengakui Al Qur’an dan Rasulullah SAW, padahal mereka mengetahui Al Qur’an dan Rasulullah SAW tersebut terdapat atau dijelaskan dalam Taurat dan Injil, bahkan ulama Bani Israil yang memeluk agama Islam telah mengakuinya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israel mengetahuinya? (Asy Syu’araa’ 196-197)

 

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqarah 146)

 

Tilmidzi: “Apakah ada orang-orang musyrik yang beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW dan kemudian memeluk agama Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an itu kepada kaumnya di Mekkah yang hampir semuanya merupakan orang-orang musyrik yang menyembah patung-patung berhala. Tapi di antara mereka ada yang lalu beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW hingga beragama Islam dan menjadi umat Islam. Allah SWT berfirman:

 

Dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekkah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. (Al ’Ankabut 47)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT mengutus Nabi (Rasul) dari Arab dan bukan dari Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Hak Allah menetapkan Rasul-Nya seperti Dia menetapkan Nabi Musa dari Bani Israil menjadi Rasul-Nya atau Dia menetapkan Nabi-Nabi dari Bani Israil. Manusia tidak berhak mencampuri ketetapan-Nya. Allah SWT menetapkan Rasul-Nya yang menerima Al Qur’an bukan dari Bani Israil, mungkin karena telah banyak Nabi-Nabi dari Bani Israil yang menerima kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) tapi tidak berhasil mengatasi perselisihan di antara umat Rasul. Bahkan umat Rasul itu membuat agama-Nya menjadi terpecah, sehingga membuat orang-orang yang lahir kemudian akan menjadi sesat karena tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Jika ada Ahli Kitab yang tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW karena beliau bukan dari Bani Israil, maka itu hanya karena rasa dengkinya. Mereka lebih takut kepada kaumnya daripada kepada Allah SWT (perintah-Nya). Mereka seperti Iblis yang dengki kepada manusia karena lebih takut kepada asal ciptaannya daripada kepada Allah SWT (perintah-Nya). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (Al Baqarah 90)

 

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? (An Nisaa’ 54)

 

Tidak maunya mereka beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW karena Allah SWT mengutus Rasul-Nya bukan dari Bani Israil, tidak akan berakibat apapun bagi Allah SWT, tapi justru makin merugikan mereka ketika di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Kahfi 29)

 

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Faathir 39)

 

Dengan demikian, Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW itu makin menambah kekafiran bagi Ahli Kitab, khususnya Bani Israil yang kafir. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. (Al Maa-idah 64)

 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya), dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu. (Al Maa-idah 48)

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu (Al Maa-idah 68)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT mengutus Rasulullah SAW dari Arab karena Dia menghendaki agama-Nya yang untuk manusia itu bukan lagi melalui Rasul dari Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Ya! Bukan tidak mungkin Allah SWT menghendaki agama-Nya yang untuk manusia (termasuk untuk orang-orang yang lahir kemudian) itu melalui Rasul dari Arab, karena kebanyakan Bani Israil itu kafir. Allah SWT berkehendak dengan Dia mengutus Rasulullah SAW kepada manusia dengan diberikan Al Qur’an tersebut, yaitu sebagai berikut:

 

Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (Al Anfaal 7-8)

 

Orang-orang kafir dalam firman-Nya di atas, yaitu Ahli Kitab yang kafir dan orang-orang musyrik. Allah SWT berkehendak menegakkan agama-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)

 

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Ash Shaff 8)

 

Karena itu, Allah SWT menjadikan umat Rasulullah sebagai umat yang adil, pilihan dan terbaik, karena mengikuti agama Islam, yaitu agama-Nya yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Al Baqarah 143)

 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali ‘Imran 110)

 

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maa-idah 8)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT akan memenangkan agama-Nya (Islam) di atas agama-agama lain?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai, (At Taubah 33)

 

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Al Fath 28)

 

Karena itu Allah SWT menyeru umat Islam yang beriman agar menegakkan agama Islam (agama-Nya) seperti yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa dengan pengikut-pengikutnya yang beriman, melalui firman-Nya berikut ini:

 

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff 14)

 

Allah SWT memenangkan agama Islam di atas semua agama itu melalui Rasulullah SAW yang lalu dilanjutkan oleh sahabat beliau, yaitu orang-orang beriman yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau menyampaikan Al Qur’an dan menjelaskan agama Islam hingga agama Islam itu diridhai-Nya menjadi agama untuk Rasulullah SAW dan untuk umat beliau. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)

 

Allah SWT memenangkan dan menguatkan agama-Nya, agama Islam, melalui sahabat Rasulullah dan orang-orang beriman itu dijelaskan melalui firman-Nya berikut ini:

 

Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Al Fath 9)

 

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya), serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya), dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min, dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Fath 18-21)

 

Allah SWT menjadikan orang-orang kafir selalu kalah ketika memerangi umat Islam sebagai ketetapan-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong, sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya). (Al Fath 22-23)

 

Karena itu, dalam masa kurang lebih seratus tahun setelah Rasulullah SAW wafat, umat Islam dapat mengalahkan kerajaan Parsi (musyrik) dan kerajaan Romawi (Ahli Kitab), dan agama Islam (agama-Nya) tegak dan kuat di bumi yaitu dari belahan timur hingga ke belahan barat karena dipeluk oleh penduduk di belahan bumi tersebut.”

 

Tilmidzi: “Apakah agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an itu akan menjadi agama-Nya bagi manusia hingga kiamat?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT menjelaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan Nabi terakhir yang diutus-Nya ke bumi, melalui firman-Nya ini:

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)

 

Dengan tidak ada lagi Nabi yang diutus-Nya setelah Rasulullah SAW, maka tidak ada lagi Rasul yang diutus-Nya yang menjelaskan agama-Nya, sehingga tidak ada agama-Nya bagi manusia selain agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an, sampai kiamat.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika ayat-ayat Al Qur’an disembunyikan atau dirubah oleh orang-orang kafir seperti ayat-ayat Taurat atau ayat-ayat Injil disembunyikan dan dirubah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak akan membiarkan ayat-ayat Al Qur’an disembunyikan atau dirubah seperti yang terjadi dengan ayat-ayat Taurat dan ayat-ayat Injil. Al Qur’an tidak akan dapat dirubah oleh siapapun karena Allah SWT berfirman:

 

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)

 

Dan firman-Nya di atas membuktikan, yaitu ayat-ayat Al Qur’an dari sejak diturunkan-Nya kepada Rasulullah SAW hingga sekarang, tidak ada yang hilang atau tidak ada yang berubah.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply