Mengapa Allah SWT Menurunkan Kitab Injil (Ayat-Ayat-Nya)?

Dialog Seri 9: 5

 

Tilmidzi: “Apakah umat Nabi Musa menyampaikan Taurat dan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa kepada manusia?’

 

Mudariszi: “Allah SWT mewariskan Taurat kepada Bani Israil (kaum Nabi Musa) karena mereka merupakan orang-orang yang paling dekat dengan Nabi Musa ketika beliau menjelaskan Taurat dan mengajarkan agama-Nya. Di antara mereka itu ada yang menyampaikan Taurat dan agama-Nya kepada manusia, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil. (Al Mu’min 53)

 

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Al A’raaf 159)

 

Tapi hanya sebagian kecil dari Bani Israil yang menyampaikan Taurat dan agama-Nya itu kepada manusia, yaitu Bani Israil yang taat mengikuti syariat agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al Baqarah 83)

 

Tilmidzi: “Mengapa hanya sebagian kecil dari Bani Israil yang menjelaskan Taurat dan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Karena kebanyakan dari Bani Israil tidak menyukai agama-Nya,  mereka seringkali melanggar syariat agama-Nya. Mereka adalah Bani Israil yang menyukai (mencintai) kehidupan dunia, karena itu mereka tidak mau menyampaikan Taurat dan agama-Nya kepada orang lain. Mereka mengatakan Allah SWT tidak menurunkan apapun untuk manusia. Mereka menyembunyikan ayat-ayat Taurat yang berkaitan dengan syariat agama-Nya agar mereka dapat berbuat (beramal) menurut keinginannya tanpa ada larangan agama-Nya. Mereka ingin keuntungan dan kesenangan dalam kehidupan dunia dengan tanpa ada larangan agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya”, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Ali ‘Imran 187)

 

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya). (Al An’aam 91)

 

Karena itulah Allah SWT kemudian melaknat Bani Israil yang kafir tersebut melalui firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. (Al Baqarah 159)

 

Tilmidzi: “Jika sebagian ayat-ayat Taurat disembunyikan, bukankah agama-Nya dan syariat agama-Nya menjadi tidak lagi seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa?”

 

Mudariszi: “Ya! Disembunyikannya sebagian ayat-ayat Taurat membuat agama-Nya dan syariat agama-Nya menjadi tidak lagi seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa. Akibatnya sebagian umat Nabi Musa menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa, dan itu menimbulkan perselisihan di antara umat Nabi Musa yang beriman dengan yang kafir. Perselisihan di antara umat Nabi Musa khususnya Bani Israil menjadi bertambah luas, karena Bani Israil yang menyukai kehidupan dunia itu lalu merubah (menafsirkan) pula sebagian ayat-ayat Taurat menurut keinginan hawa nafsunya masing-masing. Akibatnya timbul golongan-golongan dalam beragama di antara Bani Israil (di antara umat Nabi Musa), dan keadaan itu membuat agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa menjadi terpecah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. (Al Jaatsiyah 16-17)

 

Terpecahnya agama Allah yang diajarkan oleh Nabi Musa akibat dari disembunyikan dan dirubahnya ayat-ayat Taurat oleh Bani Israil yang kafir, membuat orang-orang yang lahir kemudian sulit untuk mengetahui agama-Nya yang benar, dan itu dapat membuat mereka menjadi sesat.”

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT mengatasi keadaan tersebut di atas?”

 

Mudariszi: “Allah SWT lalu mengutus Nabi-Nabi dari Bani Israil kepada Bani Israil dengan diberikan ayat-ayat-Nya guna menjelaskan perselisihan di antara mereka agar diketahuinya hingga mereka kembali kepada agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa. Contoh Nabi-Nabi Bani Israil yang diutus-Nya tersebut, yaitu sebagai berikut:

 

Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, ‘Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (Al An’aam 84-85)

 

Tapi karena kebanyakan Bani Israil mencintai kehidupan dunia, maka setiap Nabi utusan-Nya membawa ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, ayat-ayat-Nya itu disembunyikannya atau Nabi tersebut dibunuhnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al Maa-idah 70-71)

 

Tilmidzi: “Apakah ada Bani Israil yang menegakkan agama-Nya dengan berjihad (berperang) di jalan Allah?”

 

Mudariszi: “Di antara Bani Israil (umat Nabi Musa) ada yang berjihad (berperang) di jalan Allah guna menegakkan agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa. Tapi di antara Bani Israil yang telah berjanji itu, ada yang mengingkari janjinya tersebut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang Raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. (Al Baqarah 246)

 

Tilmidzi: “Apakah ada Bani Israil yang dijadikan-Nya sebagai Raja?”

 

Mudariszi: “Di antara Bani Israil tersebut ada yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai Raja, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi Rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi Rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. (Al Baqarah 247-248)

 

Dari firman-Nya di atas terlihat perilaku sebagian Bani Israil yang tidak menyukai keputusan Allah, karena mereka ingin keputusan-Nya itu sesuai dengan keinginan mereka. Tapi mereka harus menerima keputusan-Nya tersebut karena mereka mengetahui kekuasaan-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah di antara Nabi-Nabi Bani Israil yang diutus-Nya itu ada yang dijadikan-Nya sebagai Raja?”

 

Mudariszi: “Setelah Thalut menjadi Raja (seperti firman-Nya di atas), Thalut diperintahkan oleh Allah SWT untuk berperang di jalan-Nya memerangi penguasa yang zalim. Bani Israil yang ikut berperang telah diperingatkan oleh Thalut bahwa mereka diuji oleh Allah SWT dalam peperangan tersebut. Tapi hanya sebagian kecil dari Bani Israil yang mengikuti perintah Raja (Thalut), karena sebagian besar Bani Israil suka menuruti hawa nafsunya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (Al Baqarah 249-251)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa setelah Thalut (Raja) wafat, Nabi Daud lalu dijadikan-Nya sebagai Raja menggantikan Thalut. Bahkan Nabi Sulaiman, putera Nabi Daud juga dijadikan-Nya sebagai Raja menggantikan Nabi Daud. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi. (Shaad 26)

 

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud. (An Nam 16)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman memerintah rakyatnya termasuk memerintah Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Allah SWT memberikan kitab Zabur kepada Nabi Daud dan Dia menundukkan syaitan dari golongan jin kepada Nabi Sulaiman. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)

 

Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu. (Al Anbiyaa’ 82)

 

Nabi Daud dan Nabi Sulaiman diberikan-Nya hikmah dan pengetahuan tentang agama-Nya dan hukum (syariat) agama-Nya dalam memerintah rakyatnya (termasuk Bani Israil), mengadili dan mengatasi perselisihan di antara umat manusia termasuk perselisihan di antara Bani Israil (umat Nabi Musa). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman. (An Naml 15)

 

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (Shaad 20)

 

Nabi Daud dan Nabi Sulaiman mengadili umat manusia (termasuk Bani Israil) dengan syariat (hukum-hukum) agama-Nya secara adil. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad 26)

 

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. (Al Anbiyaa’ 78-79)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan Bani Israil terhadap kedua Raja mereka (Nabi Daud dan Nabi Sulaiman) itu?”

 

Mudariszi: “Bani lsrail yang menyukai kehidupan dunia tidak dapat berbuat banyak di masa kedua Nabi tersebut. Tetapi mereka tidak menyukai ayat-ayat Zabur yang memerintah rakyat (manusia) dengan adil, karena itu tidak sesuai dengan hawa nafsu keinginan mereka. Nabi Daud yang mengetahui perilaku mereka lalu melaknat mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud. (Al Maa-idah 78)

 

Allah SWT menundukkan syaitan-syaitan dari golongan jin kepada Nabi Sulaiman agar Bani Israil mengetahui kejahatan syaitan terhadap manusia, sehingga mereka tidak lagi mudah terhasut oleh syaitan. Tetapi kebanyakan dari Bani Israil tidak mengambil pelajaran tersebut. Setelah Nabi Sulaiman wafat dan syaitan-syaitan dari golongan jin itu bebas, syaitan-syaitan tersebut berhasil menghasut Bani Israil dengan mengatakan Nabi Sulaiman itu penyihir. Padahal Nabi Sulaiman sama sekali tidak melakukan sihir, tapi syaitan-syaitan itu yang melakukan sihir dan yang mengajarkan sihir kepada Bani Israil. Syaitan mudah menipu Bani Israil itu karena syaitan mengetahui Bani Israil menyukai kehidupan dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir), mereka mengajarkan sihir kepada manusia. (Al Baqarah 102)

 

Bani Israil itu mengerjakan sihir untuk memperoleh keuntungan dunia, padahal Allah SWT telah melarang Bani Israil (melalui Taurat) untuk mempelajari dan melakukan sihir. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah 102)

 

Akibatnya, perselisihan di antara umat Nabi Musa tidak juga teratasi dan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa tetap terpecah. Umat Nabi Musa yang beriman makin berkurang karena kalah pengaruh dengan yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa. Orang-orang yang lahir kemudian sulit mengetahui agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa.”

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT mengatasi perkara tersebut?”

 

Mudariszi: “Hanya Allah SWT yang mengetahui berapa banyak Dia telah mengutus Nabi-Nabi dari Bani Israil kepada umat Nabi Musa khususnya kepada Bani Israil agar agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa tetap tegak dan agar anak cucu mereka dan orang-orang yang lahir kemudian tidak tersesat dengan mengikuti agama-Nya yang tidak benar. Setelah sekian banyak Nabi-Nabi dari Bani Israil yang diutus-Nya kepada Bani Israil, Allah SWT lalu mengutus Nabi ‘Isa kepada Bani Israil. Dan hal tersebut dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam. (Al Maa-idah 46)

 

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil , sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu. (Ash Shaff 6)

 

Allah SWT memberikan Injil kepada Nabi ‘Isa, seperti firman-Nya ini:

 

Dan Kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam dan Kami berikan kepadanya Injil. (Al Hadiid 27)

 

Berkata ‘Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (Maryam 30)

 

Injil berisikan ayat-ayat-Nya yang membenarkan Taurat yang diturunkan-Nya kepada Nabi Musa dan menjelaskan apa yang umat Nabi Musa, khususnya Bani Israil, perselisihkan akibat dari disembunyikannya dan dirubahnya sebagian ayat-ayat Taurat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil , sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat. (Ash Shaff 6)

 

Karena Injil terkait dengan Taurat dan menjelaskan perselisihan di antara umat Nabi Musa, Allah SWT lalu mengajarkan Taurat dan Injil kepada Nabi ‘Isa sehingga Injil menjadi tidak berbeda dengan Taurat, yaitu sebagai petunjuk bagi manusia termasuk bagi umat Nabi ‘Isa dan umat Nabi Musa. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (Ali ‘Imran 48)

 

Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Al Maa-idah 46)

 

Tilmidzi: “Apakah perselisihan di antara umat Nabi Musa yang dijelaskan oleh Nabi ‘Isa itu yang berkaitan dengan agama-Nya dan syariat (hukum-hukum) agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan tatkala ‘Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku.” (Az Zukhruf 63)

 

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran 50-51)

 

Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (Az Zukhruf 61)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan umat Nabi Musa khususnya Bani Israil atas seruan (ajaran) Nabi ‘Isa dan Injil?”

 

Mudariszi: “Bani Israil yang kafir tidak menyukai Nabi ‘Isa, mereka tidak menyukai ayat-ayat Injil yang disampaikan oleh Nabi ‘Isa karena tidak sesuai dengan keinginannya. Akibatnya, di antara umat Nabi Musa dan di antara Bani Israil menjadi makin berselisih. Allah SWT berfirman:

 

Dan tatkala ‘Isa datang membawa keterangan, dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). (Az Zukhruf 63-65)

 

Bani Israil yang kafir tidak menyukai ayat-ayat Injil tersebut karena tidak sesuai dengan hawa nafsu keinginannya yang menyukai kehidupan dunia. Karena itu sebagian Bani Israil yang kafir ingin membunuh Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-Rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al Baqarah 87)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa mengetahui keingkaran dan niat jahat Bani Israil yang kafir tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena itu Nabi ‘Isa melaknat Bani Israil yang kafir itu, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al Maa-idah 78)

 

Nabi ‘Isa mengajak pengikutnya yang beriman untuk menegakkan agama-Nya dengan memerangi orang-orang kafir termasuk Bani Israil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil), berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Ali ‘Imran 52)

 

Nabi ‘Isa mengajak pengikutnya yang beriman untuk menegakkan agama Allah, karena beliau diutus-Nya untuk menjelaskan perselisihan di antara umat Nabi Musa akibat dari berubahnya ayat-ayat Taurat dan berubahnya agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa. Jika Nabi ‘Isa juga diingkari oleh Bani Israil yang kafir bahkan ingin dibunuhnya, maka agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa akan menjadi lenyap. Akibatnya, tidak akan ada lagi agama Allah di muka bumi, dan manusia (orang-orang) yang lahir kemudian menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan menjadi sesat (kafir). Karena itu Allah SWT menjadikan Nabi ‘Isa dan pengikutnya mengalahkan Bani Israil yang kafir, dan Dia tidak membiarkan Nabi ‘Isa dibunuh oleh Bani Israil yang kafir. Allah SWT lalu mengangkat Nabi ‘Isa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata. (Al Maa-idah 110)

 

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. (Ali ‘Imran 54-55)

 

Tilmidzi: “Apakah umat Nabi ‘Isa lalu menegakkan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa dan Injil setelah beliau diangkat kepada-Nya?”

 

Mudariszi: “Nabi ‘Isa meninggalkan pengikutnya yang beriman ketika beliau diangkat kepada-Nya. Umat Nabi ‘Isa yang beriman itu lalu menyampaikan agama-Nya yang diajarkan oleh Injil dan Nabi ‘Isa kepada manusia. Tapi Bani Israil yang kafir tidak menyukai agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa itu. Mereka lalu mengatakan Nabi ‘Isa telah dibunuhnya dengan disalib, padahal mereka sendiri meragukannya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan karena kekafiran mereka (terhadap ’Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 156-158)

 

Nabi ‘Isa disalib oleh Bani Israil yang kafir itu dipercayai oleh sebagian umat Nabi ‘Isa, sehingga timbul ajaran baru dalam agama-Nya yang tidak diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Kemudian mereka mengatakan pula Nabi ‘Isa anak Tuhan karena beliau dilahirkan tanpa Bapak. Ucapan itupun dipercayai oleh sebagian umat Nabi ‘Isa, sehingga timbul ajaran baru dalam agama-Nya yang tidak diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Bahkan mereka mengatakan orang-orang alim di antara umat Nabi ‘Isa itu sebagai tuhan selain Allah SWT. Ucapan itu pula dipercayai oleh sebagian umat Nabi ‘Isa, sehingga timbul lagi ajaran baru dalam agama-Nya yang tidak diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah”, dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Taubah 30-31)

 

Untuk membenarkan ucapan tersebut di atas, Bani Israil yang kafir itu lalu menyembunyikan dan merubah sebagian ayat-ayat Injil. Ayat-ayat Injil yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, juga disembunyikan dan dirubah. Akibatnya, Injil dan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa menjadi berubah (menjadi tidak benar); sebagian umat Nabi ‘Isa yang mempercayainya dan mengikutinya menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Umat Nabi ‘Isa menjadi berselisih karena banyak umat Nabi ‘Isa yang menafsirkan ayat-ayat Injil menurut hawa nafsunya masing-masing, sehingga timbul golongan-golongan dalam agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Keadaan itu membuat agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa terpecah menjadi beberapa golongan. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-53)

 

Anak cucu umat Nabi ‘Isa dan orang-orang yang lahir kemudian kesulitan untuk mengetahui agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Anak cucu umat Nabi Musa dan orang-orang yang lahir kemudian juga kesulitan untuk mengetahui agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa. Mereka semua yang lahir kemudian itu dapat menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, sehingga dapat menjadi sesat dan kafir. Allah SWT berfirman:

 

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT tidak membinasakan umat Nabi Musa dan Nabi ‘Isa karena merubah agama-Nya yang dapat membuat orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir?”

 

Mudariszi: “Umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa (atau Ahli Kitab) yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa itu menjadi sesat dan kafir. Ahli Kitab yang beriman tidak banyak dan cenderung berkurang karena kalah pengaruh dari Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT seharusnya telah membinasakan Ahli Kitab yang kafir itu agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi sesat (kafir) karena mengikuti agama-Nya yang tidak benar. Tapi karena telah ada ketetapan-Nya terdahulu, Allah SWT tidak membinasakan Ahli Kitab yang kafir itu seperti Dia tidak membinasakan Bani Israil yang kafir (umat Nabi Musa). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. (Asy Syuura 14)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply