Dialog Seri 9: 11
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengaruniakan semua apa yang ada di bumi untuk manusia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. (Al Baqarah 22)
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Di antara semua yang ada di bumi yang dikaruniakan-Nya untuk manusia itu, ada yang dijadikan-Nya sebagai keperluan hidup manusia. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Allah SWT mengaruniakan semua apa yang ada di bumi untuk manusia itu merupakan bagian dari ketetapan-Nya atas manusia, sebagai berikut:
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Tilmidzi: “Bagaimana contoh Allah SWT menundukkan semua apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan hidup manusia di dunia (dari firman-Nya di atas)?”
Mudariszi: “Contoh semua yang ada di langit untuk kepentingan manusia, yaitu matahari dan bulan bercahaya yang cahaya kedua makhluk langit tersebut menyinari bumi dan kedua cahaya itu bermanfaat bagi semua makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Di samping itu, peredaran matahari dan bulan yang tetap dengan cahayanya mengakibatkan terjadinya hujan, dimana air hujan yang berasa tawar itu diperlukan oleh semua makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Allah SWT berfirman:
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)
Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan 48)
Dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar. (Al Mursalaat 27)
Contoh semua yang ada di bumi untuk kepentingan manusia, yaitu sebagian makhluk hidup di bumi merupakan makanan dan minuman bagi manusia atau sebagai keperluan hidup manusia. Air hujan yang turun dari langit bermanfaat bagi semua makhluk hidup di bumi yang sebagiannya menjadi keperluan hidup manusia. Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya). Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (An Nahl 10-13)
Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. (Thaahaa 53-54)
Tilmidzi: “Apakah manusia dapat mempelajari dan memelihara semua makhluk hidup yang menjadi keperluan hidupnya tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan semua makhluk di langit dan di bumi dari partikel-partikel asap dengan ukuran dan jenisnya (fitrahnya) masing-masing, dan manusia dapat mempelajari jenis (fitrah) partikel-partikel yang ada pada setiap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Selain itu, Allah SWT menjadikan binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan berkembang biak, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. (Asy Syuura 11)
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al Hijr 22)
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Luqman 10)
Kemudian, Allah SWT telah menjadikan beberapa binatang ternak untuk keperluan hidup manusia. Binatang ternak itu dijadikan-Nya dengan berbagai macam manfaat untuk manusia. Dengan mengetahui (mempelajari) ukuran dan sifat (fitrah) dari setiap binatang itu, manusia dapat memelihara termasuk mengembang biakkan binatang tersebut untuk keperluan hidupnya. Allah SWT menjelaskan beberapa sifat (fitrah) dari binatang ternak yang dapat dipelajari oleh manusia, contohnya sebagai berikut:
Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, (An Nahl 5-7)
Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu. Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan, dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut. (Al Mu’minuun 21-22)
Demikian pula dengan mengetahui ukuran dan fitrah pada setiap jenis tumbuh-tumbuhan, manusia dapat bercocok tanam sayur mayur atau buah-buahan yang menjadi keperluan hidupnya. Allah SWT menjelaskan beberapa contohnya, sebagai berikut:
Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah. (Al An’aam 141)
Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu. (‘Abasa 25-32)
Semua ayat-ayat-Nya di atas merupakan contoh pelajaran bagi manusia, dan Allah SWT menghendaki manusia agar mempelajarinya supaya manusia dapat mengusahakan dan memelihara makhluk-makhluk hidup yang menjadi keperluan hidupnya tersebut. Allah SWT berfirman:
Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya. (Al Hadiid 17)
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (As Sajdah 27)
Tilmidzi: “Mungkinkah bumi akan kekurangan air karena telah terpakai oleh semua makhluk hidup di bumi dan juga karena hujan tidak turun?”
Mudariszi: “Ketetapan Allah atas peredaran bumi, matahari dan bulan itu membuat hujan tidak selalu turun pada setiap waktu. Agar air selalu tersedia di bumi karena tidak turunnya hujan, Allah SWT lalu menjadikan mata air-mata air, danau-danau, sungai-sungai dan penyimpanan air dalam tanah guna menyimpan air hujan yang masuk ke dalam tanah. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. (Ar Ra’d 17)
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air. (Al Qamar 12)
Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (Al Hijr 22)
Dengan adanya tempat-tempat penyimpanan air di bumi tersebut, maka semua makhluk hidup di bumi menjadi tidak akan kekurangan air.”
Tilmidzi: “Siapakah yang memelihara binatang dan tumbuh-tumbuhan yang tidak dipelihara oleh manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT yang memelihara semua makhluk hidup di bumi yang tidak dipelihara oleh manusia. Sebagian dari air yang ada di bumi itu digunakan-Nya untuk memelihara makhluk-makhluk tersebut. Allah SWT berfirman:
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (Al ‘Ankabuut 60)
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Huud 6)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Al An’aam 59)
Tilmidzi: “Apakah manusia dapat mengetahui apa yang ada di atas bumi dan di dalam bumi (tanah)?”
Mudariszi: “Pada waktu terjadi mendung atau hujan, di udara (di atas bumi) terjadi kilat dengan cahayanya dan guntur dengan suaranya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. (Ar Ra’d 13)
Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. (Ar Ra’d 12)
Terjadinya kilat dan guntur di udara itu menunjukkan ada partikel cahaya dan partikel suara, tetapi partikel-partikel itu sangat kecil sehingga tidak terlihat. Kilat dan guntur itu sampai ke bumi dan diterima oleh penghuni bumi; itu menunjukkan setiap makhluk di bumi memiliki partikel cahaya dan partikel suara pula. Manusia dan makhluk hidup lainnya dapat mati jika terkena kilat atau mendengar suara guntur yang sangat keras; itu menunjukkan setiap makhluk di bumi memiliki partikel listrik juga. Manusia dapat mempelajari semua itu, karena Allah SWT telah menjadikan segala sesuatu menurut ukuran yang tetap. Manusia dapat pula mengetahui apa yang ada di dalam tanah dan di dalam laut, karena semua itu terjadi dari partikel-partikel asap. Perbedaan antara partikel-partikel yang di atas bumi dengan yang di dalam bumi (tanah), yaitu partikel yang di atas bumi telah terurai hingga tidak terlihat, sedangkan partikel yang di dalam bumi telah memadat sehingga harus diuraikan melalui penelitian untuk diketahuinya. Allah SWT berfirman:
Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. (Az Zalzalah 2)
Partikel-partikel dalam tanah atau dalam laut yang menjadi benda-benda padat tersebut ada yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, contoh besi atau perhiasan seperti yang dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu), (Al Hadiid 25)
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya. (Faathir 12)
Tilmidzi: “Apakah ada persamaan partikel antara yang ada di atas bumi dengan yang ada di dalam tanah?”
Mudariszi: “Di antara partikel-partikel di atas bumi itu ada partikel yang sama dengan partikel-partikel di dalam tanah, contoh partikel air yang berasal dari hujan atau atas bumi lalu masuk ke dalam tanah. Ada pula partikel-partikel di dalam tanah yang sama dengan partikel-partikel di bumi (daratan), contoh firman-Nya ini:
Dan laut yang di dalam tanahnya ada api. (Ath Thuur 6)
Adanya api di dalam tanah (dari firman-Nya di atas) itu menunjukkan adanya partikel-partikel api dan cahaya di daratan bumi dan di dalam tanah. Api dalam tanah itu akan memuaikan semua benda yang terkena panasnya hingga menguap menjadi partikel gas. Ringannya partikel gas membuatnya naik ke atas (udara) melalui puncak bumi (gunung-gunung) yang terlihat sebagai asap, dan lalu menyatu dengan partikel-partikel gas lain di udara. Itu menunjukkan adanya persamaan partikel antara yang ada di dalam tanah dengan yang ada di atas bumi. Dengan demikian, ada banyak partikel-partikel di atas bumi dan dalam tanah yang bermanfaat untuk keperluan hidup manusia, dan manusia dapat mempelajarinya untuk memperolehnya. Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia akan mengeluarkan karunia-Nya yang terpendam di atas bumi dan di dalam bumi (tanah) itu pada waktu yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:
Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi. (An Naml 25)
Tilmidzi: “Apakah manusia dapat mengambil pelajaran tentang dirinya dari ayat-ayat-Nya (Al Qur’an)?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui Al Qur’an sebagai berikut:
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? (Ar Ruum 8)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia dapat mempelajari kejadian dirinya melalui ayat-ayat-Nya (Al Qur’an). Manusia itu merupakan salah satu makhluk hidup di bumi, dengan demikian manusia termasuk makhluk yang dijadikan oleh Allah SWT dari turunan partikel-partikel asap, yaitu dari partikel tanah. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Al Hijr 26)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani. (Al Mu’minuun 12-13)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia bermula dari partikel tanah dan partikel air, karena manusia dari tanah lumpur. Partikel-partikel itu lalu dijadikan-Nya sebagai air mani, yang jika bercampur dengan partikel-partikel lain, air mani dalam rahim Ibu itu akan tumbuh membentuk tubuh manusia dengan organ-organnya menurut ukuran yang Dia tetapkan. Partikel-partikel yang ada pada makanan yang masuk ke tubuh Ibu itu pula sesuai dengan partikel-partikel yang ada pada tubuh manusia dalam rahim. Partikel-partikel yang ada pada makanan itu berasal dari binatang atau tumbuh-tumbuhan yang keduanya memiliki partikel tanah dan partikel air. Tumbuhnya tubuh manusia seperti tumbuhnya makhluk-makhluk di langit yang berasal dari partikel-partikel asap. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan kejadian manusia itu sebagai berikut:
Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan; dari air mani, apabila dipancarkan. (An Najm 45-46)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Mu’minuun 12-14)
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (As Sajdah 7-9)
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud), dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang dari kamu penciptaannya dikumpulkan dalam perut Ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu empat puluh hari. Kemudian menjadi sepotong daging seperti itu empat puluh hari. Kemudian (sesudah membentuk), Allah mengutus malaikat dan diperintahkan dengan empat kalimat dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalnya, rezkinya, ajalnya dan celaka atau bahagia”, kemudian ditiupkan roh kepadanya.“ (HR Bukhari)
Allah SWT juga menjelaskan tentang pertumbuhan manusia dari keadaannya sejak dilahirkan ke dunia hingga kepada keadaannya menjelang kematiannya, sebagai berikut:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah), sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. (Al Hajj 5)
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (Al Mu’min 67)
Semua penjelasan Allah dan Rasulullah di atas dapat menjadi pelajaran bagi manusia dalam mempelajari keadaan dirinya hingga kemudian memelihara dirinya.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan bagaimana manusia harus memelihara dirinya ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia dengan memakan makanan ketika menjalani hidupnya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al Anbiyaa’ 8)
Makanan manusia diperoleh dari karunia-Nya di bumi, yaitu binatang dan tumbuh-tumbuhan. Kedua makhluk hidup itu memiliki persamaan partikel dengan manusia, yaitu adanya partikel tanah dan partikel air, dimana tumbuh-tumbuhan tumbuh dari tanah dan hewan memakan tumbuh-tumbuhan, seperti manusia. Allah SWT berfirman:
Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. (Al An’aam 118)
Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al An’aam 141)
Makanan yang masuk ke dalam perut manusia itu untuk memelihara makhluk-makhluk (organ-organ atau sel-sel) yang ada dalam tubuh manusia agar tetap hidup dan bekerja menurut ketetapan-Nya. Makhluk-makhluk dalam tubuh manusia itu dapat menjadi rusak jika tidak diberikan makanan. Kerusakan itu dapat membuat manusia menjadi sakit hingga membawanya kepada kematian. Agar manusia memelihara dirinya, Allah SWT kemudian menetapkan syariat (aturan) agama-Nya bagi manusia dalam memakan makanan yang halal dan baik dari karunia-Nya di bumi. Syariat agama-Nya itu mendorong manusia untuk mempelajari makanannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah 168)
Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (Al An’aam 119)
Tilmidzi: “Apakah manusia dapat memelihara dirinya dari penyakit?”
Mudariszi: “Allah SWT mengharamkan beberapa makanan dan minuman yang berasal dari binatang atau tumbuh-tumbuhan, contoh seperti firman-Nya dan sunnah Rasulullah ini:
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (Al Maa-idah 3)
Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (An Nahl 67)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Khamer itu berasal dari kedua pohon ini: kurma dan anggur.” (HR Muslim)
Penjelasan Allah dan Rasulullah di atas menunjukkan adanya makhluk-makhluk yang membawa kerusakan bagi makhluk-makhluk (organ-organ) dalam tubuh manusia yang masuk lewat makanan atau minuman atau ketika bernafas. Kerusakan pada organ itu akan membuat manusia merasakan sakit, dan makhluk yang merusak organ tubuh manusia itu adalah kuman yang tidak terlihat. Rasulullah SAW menjelaskan tentang kuman itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada istilah menular, tidak benar cacing perut itu mendatangkan bencana, dan tidak benar roh orang yang sudah mati itu bisa menjelma”, maka seorang desa bertanya: “Ya Rasulullah! Lalu bagaimana dengan unta yang berada di padang yang semula bagaikan kijang kemudian didatangi oleh unta berkudis dan setelah bergabung, maka semua unta menjadi ketularan berkudis?” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu siapakah yang menularkan pertama kali?” (HR Muslim)
Karena tidak adanya istilah menular dalam penyakit, maka orang yang menjadi sakit itu bukan karena tertular dari orang yang sakit, tapi karena kuman yang beterbangan dan hinggap di makanan atau minuman. Dan karena itu pula Rasulullah SAW lalu menjelaskan sebagai berikut:
Dari Usamah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sampar ini merupakan siksa yang pernah ditimpakan kepada orang-orang yang hidup sebelum kalian atau kepada Bani Israil. Jadi, apabila itu terjadi di suatu daerah, maka janganlah kalian keluar dari daerah itu untuk menghindarinya. Dan kalau berjangkit di suatu daerah, maka janganlah kalian memasuki daerah tersebut.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah setiap penyakit itu ada obat penyembuhnya?”
Mudariszi: “Kuman penyakit itu merupakan makhluk yang juga berasal dari turunan partikel-partikel asap. Tetapi karena ukurannya yang sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata manusia, maka manusia tidak dapat menghindar daripadanya. Jika kuman itu dari turunan partikel asap yang merusak, maka akan ada pula makhluk kecil yang tidak terlihat dari turunan partikel asap yang merupakan lawan dari kuman penyakit itu. Karena Allah SWT menjadikan segala sesuatunya dengan berpasang-pasangan, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan. (Adz Dzaariyaat 49)
Dengan demikian, di dalam tubuh manusia akan terdapat partikel-pertikel kuman penyakit dan partikel-partikel penyembuhnya. Hal itu seperti tubuh (sayap) lalat yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila ada seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang dari kamu, maka hendaknya kamu tenggelamkan seluruh tubuhnya kemudian buanglah, karena pada salah satu sayapnya terdapat obat sedang pada sayapnya yang lain terdapat penyakit.” (HR Bukhari)
Semua penjelasan tersebut di atas menunjukkan bahwa setiap penyakit ada obatnya, dan itu dijelaskan pula oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Jabir dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Setiap penyakit itu ada obatnya. Karena itu, apabila obat tepat mengena pada penyakit, maka penyakitpun sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR Muslim)
Obat penyembuh penyakit manusia itu dapat diperoleh dari karunia-Nya di bumi, contoh seperti firman-Nya ini:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (An Nahl 68-69)
Karena madu yang diperoleh lebah itu berasal dari buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan, maka itu menunjukkan bahwa ada buah-buahan atau tumbuh-tumbuhan lain yang juga mengandung khasiat yang dapat menyembuhkan penyakit manusia, tetapi setiap jenis tumbuh-tumbuhan itu harus diteliti atau dipelajari lebih dulu. Beberapa contoh tumbuhan itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dari Sa’id bin Zaid dari Rasulullah SAW yang bersabda: “Cendawan itu sebangsa Manna yang dulu diturunkan Allah kepada Nabi Musa, sedangkan airnya bisa digunakan sebagai obat mata.” (HR Muslim)
Diceritakan oleh Abu Hurairah, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat dari segala macam penyakit, kecuali kematian.” (HR Muslim)
Di samping itu, bukan lebah saja yang memakan tumbuh-tumbuhan dalam memelihara dirinya, binatang lain juga memakan tumbuh-tumbuhan. Sehingga binatang yang lain pula mengandung khasiat yang dapat menyembuhkan penyakit manusia, misalnya seperti firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An Nahl 66)
Semua apa yang dikeluarkan oleh setiap jenis binatang atau tumbuh-tumbuhan itu tidak akan berubah karena Allah SWT telah menciptakan mereka menurut ukuran dan fitrahnya masing-masing. Dengan demikian, manusia dapat mempelajari binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut untuk kebaikan dirinya.”
Wallahu a’lam.