Dialog Seri 9: 10
Tilmidzi: “Apakah ayat-ayat-Nya dalam kitab-Nya itu merupakan pelajaran bagi manusia?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, Al Qur’an yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW, ayat-ayat Al Qur’an itu mengandung pelajaran bagi manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran. (Yaasiin 69)
Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al Qur’an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (Al Qashash 51)
Allah SWT mengajarkan manusia dengan ayat-ayat-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. (Al Baqarah 231)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)
Dan Allah SWT menghendaki agar manusia memikirkan ayat-ayat-Nya supaya mereka mendapat pelajaran. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)
Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shaad 29)
Karena itu Allah SWT menjelaskan kepada manusia tentang ayat-ayat-Nya dalam Al Qur’an, sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar 17)
Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Qur’an). (Al Muddatstsir 55)
Tilmidzi: “Apakah dalam kitab-Nya itu ada ayat-ayat-Nya yang menjelaskan karunia-Nya yang menjadi keperluan manusia dalam menjalani hidupnya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi guna melaksanakan amanah yang telah bersedia dipikulnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir 39)
Salah satu dari amanah itu, manusia dijadikan-Nya sebagai berikut:
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Karena amanah itu, Allah SWT lalu menundukkan semua yang ada di langit dan di bumi untuk manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Dengan Allah SWT menundukkan semua yang ada di langit dan di bumi (dari firman-Nya di atas) untuk kepentingan manusia, maka yang ditundukkan-Nya itu menjadi karunia-Nya bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia (di bumi) sebagai khalifah. Karunia-Nya itu menjadi keperluan hidup manusia, karena itu manusia sudah seharusnya akan dijelaskan dan diajarkan oleh Allah SWT tentang karunia-Nya tersebut. Karunia-Nya itu akan menjadi sia-sia bagi manusia jika Allah SWT tidak menjelaskan dan mengajarkannya, karena manusia memang tidak mengetahuinya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali ‘Imran 190-191)
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shaad 27)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa sebagian ayat-ayat-Nya (ayat-ayat Al Qur’an) menjelaskan dan mengajarkan tentang karunia-Nya bagi manusia, tetapi hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat memikirkannya. Allah SWT berfirman:
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl 90)
Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah 269)
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar 9)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi dalam kitab-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan bahwa langit dan bumi itu dijadikan dari asap yang awalnya bersatu padu. Allah SWT lalu memisahkan keduanya, yaitu bumi diasingkan tapi tetap dalam ruang asap langit. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat 11)
Langit dan bumi yang awalnya bersatu padu dan berupa asap (dalam firman-Nya di atas) itu menunjukkan bahwa asap langit dan bumi tersebut mengandung partikel-partikel dan partikel-partikel turunannya yang jumlahnya (termasuk jumlah partikel turunannya) hanya diketahui oleh Allah SWT saja. Allah SWT hanya menjelaskan bahwa partikel yang terkecil yaitu zarrah dan Dia mengetahui keberadaan zarrah tersebut, melalui firman-Nya ini:
Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Saba’ 3)
Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah di bumi atau di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 61)
Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (Ali ‘Imran 5)
Dari partikel-partikel asap itulah Allah SWT lalu membangun langit, meninggikannya, meluaskannya dan menyempurnakannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. (An Naazi’aat 27-28)
Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Adz Dzaariyaat 47)
Allah SWT lalu menjadikan langit dengan tujuh lapis (tingkatan) yang seimbang, tanpa tiang, tanpa retak, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Yang telah menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. (Al Mulk 3)
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat. (Ar Ra’d 2)
Dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? (Qaaf 6)
Allah SWT lalu menjadikan bintang-bintang, matahari dan bulan di setiap lapis langit itu, seperti firman-Nya ini:
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (Al Furqaan 61)
Kemudian dari partikel-partikel asap itu pula Allah SWT menciptakan bumi yang berada dalam ruangan langit termasuk menciptakan makhluk-makhluk penghuni bumi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. (Ath Thalaaq 12)
Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (Al Hijr 19)
Tilmidzi: “Jika langit dan bumi beserta penghuni-penghuninya diciptakan dari partikel-partikel asap, apakah Dia telah menetapkan ketentuan atas partikel-partikel asap tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Al Qamar 3)
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (Adz Dzaariyaat 49)
Segala sesuatu atau tiap-tiap sesuatu (urusan) dalam firman-Nya di atas itu termasuk setiap partikel asap (langit dan bumi). Dan karena Allah SWT yang menciptakan partikel-partikel asap dan Dia di luar partikel-partikel asap itu, maka Dia sama sekali bukan dari partikel-partikel asap (langit dan bumi), sehingga Dia berbeda sama sekali dengan semua makhluk dan semua urusan yang Dia ciptakan dari partikel-partikel asap itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al Ikhlash 4)
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (Asy Syuura 11)
Tilmidzi: “Ketentuan apakah yang Allah SWT tetapkan dalam penciptaan langit dan bumi beserta apa yang ada di langit dan di bumi hingga dapat dipelajari oleh manusia?”
Mudariszi: “Ketentuan penciptaan langit dan bumi, yaitu sebagai berikut:
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (Ar Ruum 8)
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Ketentuan yang Allah SWT tetapkan atas segala sesuatu tersebut termasuk ketentuan menumbuhkan dan membesarkan setiap partikel yang bertemu dengan partikel lainnya. Dan dalam menetapkan ketentuan atas segala sesuatu itu, Allah SWT menetapkan pula perhitungan terhadap segala sesuatu tersebut, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (An Nisaa’ 86)
Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al Jin 28)
Penjelasan-Nya dan ketetentuan-Nya atas segala sesuatu dalam penciptaan langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi itu menunjukkan bahwa manusia dapat mempelajari segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi karena segala sesuatu itu dari partikel-partikel asap yang Dia telah tetapkan jenisnya (fitrahnya) dan ukurannya serta telah pula Dia perhitungkan jumlahnya.”
Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui partikel-partikel di langit memiliki persamaan dengan partikel-partikel di bumi yaitu dari partikel-partikel asap?”
Mudariszi: “Contohnya, cahaya bintang dan bulan di malam hari dan cahaya matahari di siang hari yang sampai ke bumi, yaitu cahaya seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (Al Furqaan 61)
Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (Ath Thaariq 2-3)
Jika di bumi tidak ada partikel-partikel cahaya, maka cahaya bintang, matahari dan bulan tidak dapat diterima oleh bumi dan penghuni bumi. Cahaya dari ketiga makhluk itu bukan saja dapat diterima oleh bumi, tapi bermanfaat pula bagi bumi dan penghuni bumi. Itu menunjukkan di langit dan di bumi terdapat persamaan partikel, contoh partikel cahaya, yang merupakan turunan partikel asap.”
Tilmidzi: “Jika Allah SWT menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan perhitungan, apakah manusia dapat menghitung pergerakan semua makhluk yang ada di langit?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan peredaran makhluk-makhluk di langit sebagai berikut:
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang. (Al Ma’aarij 40)
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Ibrahim 33)
Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (Al Anbiyaa’ 33)
Beredarnya semua makhluk di langit, yaitu di orbitnya masing-masing, menunjukkan bumi juga beredar di orbitnya. Jika bumi tidak beredar di orbitnya, maka bumi yang ada dalam ruang langit tersebut akan hancur pada suatu waktu karena terkena makhluk-makhluk di langit yang beredar dengan tetap. Peredaran bumi, bintang-bintang, matahari dan bulan di orbitnya masing-masing itu dijadikan-Nya beredar menurut waktu dan perhitungan yang tetap. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. (Az Zumar 5)
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar Rahmaan 5)
Akibat dari ketentuan-Nya atas semua makhluk di langit itu, manusia dan penghuni bumi yang terkena dampak dari peredaran makhluk-makhluk di langit lalu dapat menghitung waktu-waktu bagi kehidupannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus 5)
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. (At Taubah 36)
Tilmidzi: “Apakah perhitungan itu bermanfaat bagi kehidupan manusia?”
Mudariszi: “Ya! Dengan manusia dapat membuat angka-angka untuk memperhitungkan waktu, manusia dapat membuat perencanaan di masa depannya, misal memperhatikan perubahan musim dari peredaran matahari dan bulan yang terus menerus. Perubahan musim berdampak kepada makhluk-makhluk di bumi termasuk manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, dimana sebagian binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut menjadi keperluan hidup manusia. Selain itu, peredaran matahari dan bulan membuat terjadinya waktu malam dan waktu siang yang berguna bagi manusia dan makhluk-makhluk hidup di bumi untuk bekerja dan beristirahat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). (Yunus 67)
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al Qashash 73)
Tilmidzi: “Apakah ada pelajaran dan manfaat lainnya bagi kehidupan manusia dari peredaran semua makhluk yang ada di langit tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan malam dan siang di bumi pada waktu-waktu yang tetap akibat dari peredaran bumi, bulan dan matahari yang Dia telah tetapkan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Dia menjadikan malammya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. (An Naazi’aat 29)
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar. (Yunus 5)
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Yaasiin 38)
Terjadinya waktu siang dan malam di bumi menimbulkan tekanan udara yang teratur di bumi bagi kehidupan penghuni bumi. Pemanasan di bumi akibat dari sinar matahari tersebut membuat udara di atas bumi memuai (merenggang), sehingga partikel-partikel yang ringan dan kecil (tidak terlihat) bergerak naik ke atas (udara). Di antara partikel-partikel itu ada partikel-partikel air yang berasal dari penguapan air laut karena dipanasi oleh sinar matahari. Pergerakan udara itu menimbulkan angin yang terasa oleh manusia ketika terlintas, dan pergerakan angin itu pula membawa partikel-partikel air yang kemudian membentuk awan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)
Partikel-partikel air laut yang naik ke atas terus bertambah (selama laut disinari oleh matahari) dan partikel-partikel air itu bersatu dengan awan-awan karena terbawa oleh angin. Awan yang mengandung atau membawa partikel-pertikel air itu pada suatu waktu tidak dapat lagi menahan beban air yang sangat banyak. Ketika awan tidak lagi dapat menahan bebannya, air dari awan akan jatuh ke bumi sebagai hujan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan awan yang mengandung hujan. (Adz Dzaariyaat 2)
Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (Al Jaatsiyah 5)
Hujan akan turun di daerah yang dilalui oleh awan yang terbawa oleh angin, itu dijelaskan firman-Nya ini:
Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. (Ar Ruum 48)
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nuur 43)
Penjelasan Allah di atas menunjukkan bahwa manusia dapat mempelajari terjadinya air hujan dari ayat-ayat-Nya dalam Al Qur’an. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. (An Nuur 44)
Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (Al Furqaan 62)
Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat). (Al Furqaan 50)
Selain itu, manusia dapat pula mengambil pelajaran lainnya dari air hujan yang jatuh ke bumi dari ayat-ayat-Nya (Al Qur’an), karena semua makhluk hidup di bumi memerlukan air untuk kehidupannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)
Semua keadaan di atas terjadi karena dari partikel-partikel asap langit dan bumi yang di awalnya bersatu padu. Ketentuan Allah menjadikan partikel-partikel itu dengan turunan-turunan partikelnya berada di langit dan di bumi dengan ukurannya masing-masing yang telah diperhitungkan-Nya, hingga kemudian membentuk (menjadikan) makhluk-makhluk di langit dan di bumi beserta urusan-urusannya masing-masing.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT mengajarkan manusia tentang karunia-Nya di langit dan di bumi melalui ayat-ayat-Nya (Al Qur’an)?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengajarkan manusia tentang karunia-Nya di langit dan di bumi melalui ayat-ayat-Nya (Al Qur’an) dan Dia menghendaki manusia agar memikirkan perkara yang Dia jelaskan (ajarkan) itu. Contoh ayat-ayat-Nya tersebut adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)
Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al A’raaf 57)
Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Az Zumar 21)
Wallahu a’lam.