Apakah Dan Bagaimanakah Jalan Allah Yang Lurus Itu?

Dialog Seri 9: 9

 

Tilmidzi: “Apakah jalan Allah itu?”

 

Mudariszi: “Jalan Allah adalah jalan yang lurus, dan jalan yang lurus itu adalah sebagai berikut:

 

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 5-7)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa jalan yang lurus itu adalah jalan yang tidak membuat manusia menjadi sesat, atau jalan yang Allah SWT tetapkan bagi manusia agar manusia tidak menjadi sesat ketika menjalani hidupnya di dunia.”

 

Tilmidzi: “Mengapa manusia harus meminta petunjuk kepada Allah SWT (seperti firman-Nya di atas) untuk menempuh jalan yang lurus itu?”

 

Mudariszi: “Karena Allah SWT terhadap jalan yang lurus itu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Huud 56)

 

Dan Allah SWT menjelaskan pula petunjuk-Nya itu sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. (Al An’aam 71)

 

Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)

 

Kemudian Allah SWT menjelaskan pula melalui firman-Nya berikut ini:

 

Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. (Al Lail 12)

 

Allah SWT berkewajiban memberikan petunjuk (seperti firman-Nya di atas), karena Dia berkewajiban menjaga (melindungi) orang-orang beriman (yang mengikuti-Nya atau mengikuti agama-Nya) dari syaitan agar tidak tersesat ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Kekuasaan bagimu dalam firman-Nya di atas yaitu kekuasaan bagi Iblis (syaitan). Sehingga, karena kewajiban seperti dalam firman-Nya di atas, Allah SWT lalu menghendaki manusia agar meminta petunjuk kepada-Nya supaya Dia menunjukinya kepada jalan yang lurus ketika menjalani hidupnya hingga tidak tersesat.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang yang tersesat atau yang dimurkai-Nya itu adalah orang-orang yang mengikuti syaitan?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena itu mereka mendurhakai Allah SWT atau mengingkari ayat-ayat-Nya ketika menjalani hidupnya. Padahal Allah SWT telah menjelaskan dalam ayat-ayat-Nya bahwa Iblis (syaitan) itu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus agar manusia tersesat (berdosa), sebagai berikut:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Syaitan menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus, yaitu dengan mengada-adakan jalan-jalan yang bengkok, dan syaitan ingin agar jalan-jalannya itu diikuti oleh manusia ketika menjalani hidupnya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan jalan-Nya yang lurus dan jalan-jalan yang bengkok yang diada-adakan oleh syaitan itu?”

 

Mudariszi: “Karena Allah SWT berkewajiban menjaga manusia dari kejahatan syaitan dan berkewajiban memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti-Nya (mengikuti agama-Nya), Dia lalu menjelaskan kepada manusia jalan-Nya dan jalan-jalan yang diada-adakan oleh syaitan melalui ayat-ayat-Nya (kitab-Nya), yaitu sebagai berikut:

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (A Nahl 9)

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)

 

Jalan kebajikan (kebaikan) itu adalah jalan Allah, karena Dia berfirman:

 

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan. (An Nahl 30)

 

Jalan kebaikan adalah jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan yang benar, jalan untuk berbuat kebajikan dan keadilan, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (Al Ahzab 4)

 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan yang keji, kemungkaran dan permusuhan. (An Nahl 90)

 

Sedangkan jalan kejahatan adalah jalan yang bengkok yang diada-adakan oleh syaitan. Syaitan ingin agar manusia mengikuti jalan-jalannya supaya manusia berbuat keji dan jahat ketika menjalani hidupnya hingga mereka menjadi tersesat, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Allah SWT menjelaskan pula dalam ayat-ayat-Nya (Al Qur’an) jalan kebaikan yaitu jalan yang lurus yang ditempuh oleh orang-orang yang bertakwa, dan jalan kejahatan yaitu jalan yang bengkok yang ditempuh oleh orang-orang yang berdosa. Tujuannya agar manusia dapat mengetahui (memahami) kedua jalan itu hingga mereka mengambil jalan yang terbaik untuk dirinya ketika menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)

 

Tilmidzi: “Apakah orang yang ingin menempuh jalan yang lurus dan ingin ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus itu harus memeluk agama Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Bagaimana Allah SWT akan menunjuki seseorang kepada jalan-Nya yang lurus sedangkan dia tidak membaca ayat-ayat-Nya (Al Qur’an) karena dia tidak memeluk agama Islam (agama-Nya). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (An Nahl 104)

 

Orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat-Nya atau Al Qur’an (dalam firman-Nya di atas) adalah orang yang tidak memeluk agama Islam. Itu berarti dia memeluk agama selain agama-Nya, yaitu agama yang menyembah tuhan selain Allah SWT. Bagaimana Allah SWT akan menunjuki seseorang kepada jalan yang lurus sedangkan dia menyembah tuhan selain Dia, padahal agama Islam (agama-Nya) itu agama tauhid dan penyembahan kepada Dia itu merupakan jalan yang lurus. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. (Az Zukhruf 64)

 

Orang yang beragama menyembah tuhan selain Allah SWT itu justru dilarang oleh agama-Nya yang lurus, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus. (Yusuf 40)

 

Dengan orang itu menyembah tuhan selain Allah SWT, berarti dia telah menyekutukan Allah SWT dengan tuhannya itu. Allah SWT murka jika disekutukan dengan tuhan lain dan Dia tidak akan memaafkan dosa orang yang menyekutukan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Karena itulah Allah SWT tidak memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus bagi orang-orang yang tidak memeluk agama Islam.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah jika seseorang memeluk agama Islam berarti dia telah mendapat petunjuk?”

 

Mudariszi: “Ya! Di antara orang-orang yang beragama selain dari agama-Nya, terdapat orang-orang yang sungguh-sungguh ingin mengetahui Tuhan dan agama-Nya yang benar. Allah SWT mengetahui mereka, sehingga pada waktunya Dia membuat mereka memeluk agama-Nya, agama Islam. Dengan mereka memeluk agama Islam, mereka berarti telah diberikan-Nya petunjuk, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)

 

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (Al An’aam 125)

 

Sedangkan orang-orang yang dibiarkan-Nya tetap beragama menyembah tuhan selain Dia itu tidak akan ditunjuki-Nya hingga mereka menjadi sesat. Mereka menjadi sesat bukan karena Allah SWT tidak hendak membuatnya memeluk agama-Nya, tapi karena mereka sendiri yang tidak mau mengetahui Tuhan dan agama-Nya yang benar. Syaitan membuat mereka menganggap benar agama yang dipeluknya itu dan membuat mereka menganggap benar tuhan selain Dia yang disembahnya. Sehingga mereka akan menjalani hidupnya dengan mengikuti jalan yang bengkok yang diada-adakan oleh syaitan itu hingga menjadi sesat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

 

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 30)

 

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al An’aam 125)

 

Allah SWT mengetahui keadaan orang-orang yang beriman dan yang menyembah tuhan selain Dia, karena Dia adalah sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al Qalam 7)

 

Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Al Mulk 13)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus tersebut kepada semua pemeluk agama Islam?”

 

Mudariszi: “Tidak demikian! Seseorang memeluk agama Islam itu terjadi karena Allah SWT, baik dia terlahir sebagai muslim atau memeluk agama Islam kemudian. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Katakanlah (kepada mereka): “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar. (Al Hujuraat 16-17)

 

Dengan memeluk agama Islam, maka orang itu baru tunduk kepada Islam, sedangkan hatinya belum tunduk kepada Allah SWT. Itu menunjukkan dia belum beriman menurut yang dikehendaki-Nya. Orang itu beriman dengan benar jika dia taat mengikuti perintah dan larangan yang Allah SWT dan Rasulullah SAW tetapkan dalam syariat agama Islam ketika dia menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. (Al Hujuraat 14)

 

Jika orang itu tetap beragama Islam dengan taat mengikuti syariat agama Islam ketika menjalani hidupnya, maka Allah SWT akan menunjukinya kepada jalan yang lurus, karena Dia telah mengetahui kesungguhannya dan ketaatannya dalam mengikuti syariat agama Islam. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Ali ‘Imran 101)

 

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)

 

Taat mengikuti syariat agama Islam itu termasuk taat mengikuti petunjuk Rasulullah atau sunnah Rasulullah, karena Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raaf 158)

 

Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An Nuur 54)

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Masa aku diutus dan hari kiamat itu ha­nyalah seperti kedua jari ini! Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: Sesudah apa yang tersebut, maka ketahuilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang di­sebut bidah). Dan setiap bidah pasti sesat.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah petunjuk Rasulullah tidak berbeda dengan petunjuk Allah?”

 

Mudariszi: “Berbeda antara petunjuk Allah dengan petunjuk Rasulullah, dan perbedaan itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah hanya Allah SWT saja yang dapat memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus?”

 

Mudariszi: “Ya! Manusia termasuk Rasulullah SAW atau Rasul-Rasul tidak dapat memberikan petunjuk kepada manusia; hanya Allah SWT yang dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al Qashash 56)

 

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah 272)

 

Tilmidzi: “Apakah ada pemeluk agama-Nya yang tidak diberikan-Nya petunjuk kepada jalan yang lurus?”

 

Mudariszi: “Ya! Mereka adalah orang-orang munafik. Orang-orang munafik dijelaskan-Nya sebagai berikut:

 

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)

 

Perbuatan mereka yang berkali-kali seperti firman-Nya di atas itu menjadikan Allah SWT murka kepada mereka, karena Dia telah memberikan petunjuk melalui ayat-ayat-Nya, tetapi didustakan oleh mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)

 

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Muhammad 25)

 

Syaitan telah membuat orang-orang munafik itu kembali kepada kekafiran setelah mereka mengetahui petunjuk-Nya melalui ayat-ayat-Nya (Al Qur’an). Bahkan mereka menjadi seperti Iblis, yaitu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 1-2)

 

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)

 

Mereka menjadi syaitan-syaitan dari golongan manusia yang membantu syaitan-syaitan dari golongan jin dalam menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus agar menjadi sesat seperti mereka. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)

 

Karena itu Allah SWT tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang munafik, dan akibatnya mereka akan tersesat dan tidak ada siapapun yang dapat membuat mereka kembali bertaubat kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (An Nisaa’ 88)

 

Karena orang-orang munafik itu tidak diberikan-Nya petunjuk, mereka menjadi selalu terombang-ambing dalam kesesatannya dan mereka tidak dapat ditunjuki oleh siapapun sekalipun diingatkan dengan ayat-ayat-Nya (Al Qur’an). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (Al A’raaf 186)

 

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (Ar Ruum 53)

 

Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An Nisaa’ 143)

 

Tilmidzi: “Apakah orang yang ditunjuki atau disesatkan oleh Allah SWT itu hanya terjadi pada orang itu saja?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri; dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri. (Az Zumar 41)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menunjuki hamba-hamba-Nya kepada jalan yang lurus tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat. (Al Qashash 43)

 

Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi). (Al Maa-idah 46)

 

Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (Al Jaatsiyah 20)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa ketiga kitab-Nya (Taurat, Injil, Al Qur’an) itu merupakan petunjuk bagi manusia. Dengan demikian, ayat-ayat-Nya dalam ketiga kitab-Nya itu juga merupakan petunjuk bagi manusia. Sehingga Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia dengan kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) tersebut. Dan orang-orang yang ditunjuki-Nya itu adalah orang-orang yang meyakini ayat-ayat-Nya tanpa mengingkarinya. Contoh, Allah SWT menunjuki Rasulullah SAW ke jalan yang lurus dengan Al Qur’an, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)

 

Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. (Az Zumar 23)

 

Petunjuk Allah yang diberikan kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an itu menjadikan beliau berada di jalan yang lurus dan menjadikan beliau dapat memberikan petunjuk kepada umatnya dengan Al Qur’an. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy Syuura 52)

 

Demi Al Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-Rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus. (Yaasiin 2-6)

 

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (Az Zukhruf 43)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah seseorang yang ingin ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, maka dia dapat membaca dan mempelajari Al Qur’an (ayat-ayat-Nya)?”

 

Mudariszi: “Ya! Seseorang yang bertaubat dan memperbaiki dirinya dan ingin ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, dia akan membaca dan mempelajari Al Qur’an. Itu dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al Insaan 29)

 

Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (At Takwiir 27-28)

 

Allah SWT akan menunjukinya kepada jalan yang lurus setelah Dia mengetahui kesungguhannya bertaubat dan ketaatannya mengikuti syariat agama Islam ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al Insaan 30)

 

Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (Al Baqarah 142)

 

Allah SWT lalu menunjukinya dengan Al Qur’an, yaitu dengan menjadikannya berada di jalan yang lurus dan membuatnya tidak akan dapat disesatkan oleh siapapun (termasuk oleh syaitan). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (Al An’aam 39)

 

Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yunus 107)

 

Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. (Az Zumar 37)

 

Allah SWT menjelaskan bahwa yang memerlukan kebaikan itu adalah manusia dan bukan Dia. Allah SWT telah menjelaskan dalam Al Qur’an semua perkara yang terkait dengan keperluan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia, dan semua penjelasan-Nya itu untuk kebaikan dan keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Faathir 15)

 

Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. (Ali ‘Imran 108)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply