Dialog Seri 10: 15
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ayyub juga termasuk Rasul Allah?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Ayyub termasuk hamba-Nya yang diberikan wahyu oleh Allah SWT. Nabi yang menerima wahyu daripada-Nya adalah Rasul-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (Al Anbiyaa’ 7)
Nabi Ayyub merupakan salah satu anak cucu dari Nabi Ya’qub (Israil) atau Nabi dari Bani Israil. Nabi Ayyub termasuk Rasul yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. (Al An’aam 84)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ayyub itu hamba-Nya yang sabar?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Shaad 44)
Tilmidzi: “Bagaimana kesabaran dan ketaatan Nabi Ayyub tersebut?”
Mudariszi: “Syaitan yang mengetahui Nabi Ayyub adalah Rasul Allah yang menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada umatnya (kaumnya), lalu menggoda beliau ketika terkena penyakit, tujuannya agar beliau meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT. Penyakit Nabi Ayyub tak kunjung sembuh-sembuh, sehingga syaitan menggodanya terus menerus. Godaan syaitan yang tanpa henti-hentinya itu membuat pikiran dan hati Nabi Ayyub terguncang. Kesabaran beliau diuji oleh Allah SWT dengan godaan syaitan itu. Dan karena hanya Allah SWT saja yang dapat membantu manusia dari godaan syaitan, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al A’raaf 200)
Maka Nabi Ayyub selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT ketika digoda oleh syaitan, sebagai berikut:
Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.” (Shaad 41)
Di samping itu, penyakit Nabi Ayyub yang berlangsung lama dan tidak kunjung sembuh-sembuh itu telah menguras hartanya hingga membuat beliau ditinggalkan oleh keluarganya. Allah SWT menguji pula Nabi Ayyub dengan harta yang mudah diperolehnya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Ayyub sedang mandi dengan telanjang, berguguran kepadanya sekelompok belalang emas, lalu dia mengambilnya dan melemparkannya dari bajunya. Lalu Tuhan berseru kepadanya: “Hai Ayyub, bukankah Aku membuat kaya kepadamu dengan (belalang) yang kamu lihat itu?” Ayyub berkata: “Ya wahai Tuhanku, tetapi aku tidak membutuhkan kebaikan (kesejahteraan dari)-Mu.” (HR Bukhari)
Nabi Ayyub menolak pemberian dari Allah SWT (seperti dalam sunnah Rasulullah di atas), karena bukan harta yang dibutuhkan oleh beliau tapi kesembuhan daripada-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ayyub selalu meminta kepada Allah SWT agar disembuhkan dari penyakitnya?”
Mudfariszi: “Nabi Ayyub selalu meminta kepada Allah SWT agar disembuhkan dari penyakitnya. Tetapi beliau mengetahui agama-Nya dan telah diberikan-Nya petunjuk, sehingga beliau mengetahui jika Allah SWT telah menetapkan takdir atasnya, yaitu takdir sakit dan takdir lamanya sakit. Karena itu beliau menghadapi semua itu dengan sabar dan tetap meminta kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Al Anbiyaa’ 83)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Ayyub tersebut?”
Mudariszi: “Pada waktu yang Allah SWT telah tetapkan (takdirkan), Dia akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Ayyub, yaitu menyembuhkan penyakitnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka Kami-pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya. (Al Anbiyaa’ 84)
Allah SWT menghilangkan penyakit Nabi Ayyub tersebut, sebagai berikut:
(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (Shaad 42)
Sembuhnya Nabi Ayyub dari penyakitnya menunjukkan bahwa beliau telah lulus dari ujian-Nya, dan syaitan pula telah gagal membuat Nabi Ayyub mengkhianati Allah SWT.”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ayyub kemudian kembali kepada keluarganya setelah sembuh?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT lalu mengembalikan Nabi Ayyub kepada keluarganya setelah seluruh penyakitnya hilang. Tetapi ketika Nabi Ayyub menderita sakit, keluarga beliau telah meninggalkan beliau hingga membuat hati beliau sakit, dan hal itu lalu membuat beliau bersumpah akan menghukum keluarganya jika beliau disembuhkan oleh Allah SWT. Keluarga Nabi Ayyub menyakiti hati beliau karena terhasut oleh syaitan, keluarga beliau tidak sesabar Nabi Ayyub. Sumpah Nabi Ayyub itu merupakan sumpah yang sungguh-sungguh dan Allah SWT mengetahuinya, padahal Dia telah melarang manusia untuk bersumpah, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Al Baqarah 225)
Karena Allah SWT mengetahui kesungguhan sumpah Nabi Ayyub dan karena Dia tidak menghendaki beliau sebagai Rasul melanggar sumpahnya, maka Dia perintahkan beliau untuk tetap menghukum keluarganya dengan jalan sebagai berikut:
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. (Shaad 44)
Setelah menjalankan tugasnya, Nabi Ayyub lalu kembali berkumpul dengan keluarganya dan beliau diberikan rezeki dari sisi-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al Anbiyaa’ 84)
Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpukan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shaad 43)
Wallahu a’lam.