Bagaimana Kisah Nabi Syu’aib Dengan Kaumnya?

Dialog Seri 10: 16

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Syu’aib juga Rasul Allah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-Rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (At Taubah 70)

 

Nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada penduduk Mad-yan dalam firman-Nya di atas, yaitu Nabi Syu’aib, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. (Huud 84)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Syu’aib itu Rasul Allah.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Nabi Syu’aib diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya (kaum Mad-yan)?”

 

Mudariszi: “Agama kaum (penduduk) Mad-yan atau kaum Nabi Syu’aib ketika itu adalah menyembah tuhan (patung) berhala; mereka menyekutukan Allah SWT dengan tuhan (patung) berhala. Allah SWT melarang penyembahan tersebut, karena itu Dia mengutus Nabi Syu’aib kepada mereka agar mereka menyembah Dia saja dengan mengikuti Rasul-Nya (Nabi Syu’aib) dan ayat-ayat-Nya yang disampaikan dan dijelaskan oleh Rasul-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (Asy Syu’araa’ 177-179)

 

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. (Al A’raaf 85)

 

Bukti nyata dari Tuhan dalam firman-Nya di atas adalah ayat-ayat-Nya atau keterangan-keterangan-Nya yang disampaikan oleh Nabi Syu’aib. Salah satu keterangan-Nya (ayat-ayat-Nya) yaitu keterangan tentang Tuhan dan agama-Nya. Dalam keterangan-Nya (ayat-ayat-Nya) itu tidak ada keterangan tentang penyembahan yang dilakukan oleh kaum Mad-yan. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. (Al Hajj 71)

 

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan Bapak-Bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An Najm 23)

 

Dengan demikian agama kaum Mad-yan itu adalah agama yang diada-adakan oleh mereka sendiri atau yang diada-adakan oleh Bapaknya atau nenek moyangnya tanpa mereka teliti kebenarannya. Mereka tidak mengetahui jika penyembahannya itu dari syaitan, dimana syaitan tidak ingin mereka menyembah Allah SWT, karena syaitan ingin agar mereka tersesat hingga menjadi bersama-sama dengan syaitan di neraka, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti Bapak-Bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Luqman 21)

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Karena itu Nabi Syu’aib kemudian menyeru kaum Mad-yan dengan ayat-ayat-Nya, yaitu sebagai berikut:

 

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir.” (Al ‘Ankabuut 36)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum Mad-yan atas seruan Nabi Syu’aib tersebut?”

 

Mudariszi: “Nabi Syu’aib menjelaskan kepada kaumnya, sebagai berikut:

 

Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (Al A’raaf 87)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa di antara kaum Mad-yan tersebut ada yang beriman dan ada yang kafir kepada Allah SWT. Kaum Mad-yan yang kafir itulah yang mengikuti syaitan dan mereka itu telah dikuasai oleh syaitan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka. (Muhammad 3)

 

Sehingga tidak aneh jika kaum Mad-yan yang kafir itu lalu menuduh Nabi Syu’aib dengan berbagai tuduhan keji, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. (Asy Syu’araa’ 185-186)

 

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh Bapak-Bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.(Huud 87)

 

Para pemuka kaum Mad-yan yang kafir juga menyeru orang-orang yang telah beriman agar kembali kepada agama nenek moyangnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi. (Al A’raaf 90)

 

Tilmidzi: “Mengapa para pemuka kaum Mad-yan mengatakan kaum yang beriman itu akan merugi?”

 

Mudariszi: “Para pemuka kaum Mad-yan memiliki harta yang banyak yang diperoleh dari karunia-Nya di bumi. Mereka memperoleh hartanya dengan mengikuti peraturan yang mereka tetapkan sendiri tanpa memperhatikan hak orang-orang yang lemah atau yang tidak mampu dalam bekerja mengusahakan karunia-Nya. Karena itulah Nabi Syu’aib lalu menjelaskan kepada mereka, sebagai berikut:

 

Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Huud 85)

 

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya. (Asy Syu’araa’ 181-183)

 

Mengambil harta yang bukan haknya merupakan perbuatan yang salah (berdosa) dan hal itu akan menimbulkan kerusakan dalam masyarakat mereka sendiri, misalnya akan terjadi kemiskinan, kebodohan, kejahatan di antara mereka. Agama-Nya menetapkan orang-orang kaya wajib membantu orang-orang yang miskin dan lemah agar tidak terjadi kebodohan dan kejahatan. Dengan berbuat demikian, akan terjadi kehidupan masyarakat yang baik, adil dan sejahtera. Dan itulah yang diseru oleh Nabi Syu’aib kepada kaum Mad-yan termasuk kepada para pemuka kaum, yaitu sebagai berikut:

 

Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. (Al A’raaf 85)

 

Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat). (Huud 84)

 

Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu. (Huud 86)

 

Nabi Syu’aib memberikan contoh kepada mereka, yaitu beliau tidak mengambil upah dari mereka ketika menyampaikan ayat-ayat-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (Asy Syu’araa’ 180)

 

Tapi, penjelasan Nabi Syu’aib itu lalu dianggap oleh pemuka kaum Mad-yan sebagai larangan bagi mereka dalam mengusahakan karunia-Nya di bumi dan dalam menggunakan hartanya. Sehingga hal itu membuat mereka makin tidak menyukai Nabi Syu’aib dan ayat-ayat-Nya (agama-Nya).”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan peraturan agama-Nya bagi manusia dalam mengusahakan karunia-Nya di bumi ketika mereka menjalani hidupnya di dunia?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan tentang manusia dan bumi melalui firman-Nya berikut ini:

 

Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)

 

Dalam menjalani hidupnya di bumi, manusia lalu dikaruniakan-Nya semua apa yang ada di bumi sebagai kebutuhan (keperluan) hidupnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)

 

Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)

 

Manusia dalam firman-Nya di atas yaitu semua orang yang hidup atau dilahirkan di bumi (di dunia), sehingga karunia-Nya di bumi itu diperuntukkan-Nya bagi semua orang yang hidup di dunia. Ketika menjalani hidupnya dengan karunia-Nya, manusia lalu diwajibkan-Nya untuk mengikuti peraturan agama-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

Agama-Nya dan syariat agama-Nya tersebut dijelaskan oleh Rasul-Nya atau Nabi yang diutus-Nya kepada manusia melalui kaum-kaumnya. Dalam syariat (peraturan) agama-Nya itu, manusia diwajibkan untuk berbuat baik dan berlaku adil serta dilarang berbuat kejahatan terhadap manusia dan terhadap makhluk lain yang ada di bumi ketika mereka menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al Hadiid 25)

 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan yang keji, kemungkaran dan permusuhan. (An Nahl 90)

 

Contoh berlaku adil dan berbuat kebaikan dalam syariat agama-Nya atas karunia-Nya di bumi itu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang tidak mendapat bahagian. (Adz Dzaariyaat 19)

 

Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al Hasyr 7)

 

Adanya orang-orang miskin atau yang tidak mampu dalam mencari karunia-Nya di bumi, karena Allah SWT menciptakan manusia itu berbeda-beda. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat. (Al An’aam 165)

 

Dari Thawus, sesungguhnya dia berkata: Aku men­dapati beberapa orang dari sahabat Rasulullah pernah mengata­kan: Segala sesuatu itu karena takdir. Aku juga pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Segala sesuatu itu karena takdir, termasuk juga ketidak mampuan dan kecer­dikan, atau kecerdikan dan ketidak mampuan.” (HR Muslim)

 

Peraturan (syariat) agama-Nya tersebut tidak terdapat dalam peraturan kaum Mad-yan (yang dibuatnya sendiri), karena itu mereka berlaku tidak adil dengan sesama kaumnya ketika mereka mencari karunia-Nya di bumi dan ketika mereka menggunakan hartanya.”

 

Tilmidzi: “Apakah selain mengambil hak orang-orang lain, kaum Mad-yan juga berbuat jahat kepada kaumnya?”

 

Mudariszi: “Ya! Mereka juga berbuat jahat kepada kaumnya sendiri khususnya kepada orang-orang yang mengikuti Nabi Syu’aib. Kaum Mad-yan yang kafir itu bukan saja tidak berlaku adil kepada orang-orang beriman tapi juga menakut-nakuti mereka. Sehingga Nabi Syu’aib lalu menasehati mereka, sebagai berikut:

 

Dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.(Al ‘Ankabuut 36)

 

Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Asy Syu’araa’ 183)

 

Kaum Mad-yan yang kafir menakut-nakuti orang-orang yang beriman dan menghalang-halangi mereka dari jalan-Nya yang lurus agar mereka kembali kepada agama kaumnya. Nabi Syu’aib lalu menasehati kaumnya yang kafir itu, sebagai berikut:

 

Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. (Al A’raaf 86)

 

Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al A’raaf 86)

 

Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu. (Asy Syu’araa’ 184)

 

Mereka menghalang-halangi kaumnya dari mengikuti agama-Nya, karena mereka telah dikuasai oleh syaitan. Iblis dan syaitan tidak ingin manusia mengikuti agama-Nya, dan mereka selalu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Iblis dan syaitan ingin agar kaum Mad-yan yang kafir tetap tersesat dengan agamanya yang menyembah tuhan-tuhan berhala. Kaum Mad-yan yang kafir itu telah menjadi syaitan dari golongan manusia, sehingga mereka bersama-sama dengan syaitan dari golongan jin lalu menghalang-halangi kaum Mad-yan dari mengikuti agama-Nya dan menghalang-halangi orang-orang yang telah beriman dari mengikuiti jalan-Nya yang lurus. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)

 

Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)

 

Orang-orang kafir yang telah menjadi syaitan dari golongan manusia ketika mendengar ayat-ayat-Nya dari orang beriman, akan bertindak seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (Al Hajj 72)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah pemuka-pemuka kaum Mad-yan tidak menyukai seruan Nabi Syu’aib yang telah membuat sebagian kaumnya menjadi beriman kepada-Nya?”

 

Mudariszi: “Para pemuka kaum Mad-yan khawatir dengan adanya orang-orang beriman akan mengganggu penguasaan mereka terhadap karunia-Nya yang ada di negerinya. Mereka tidak memahami agama-Nya yang menghendaki agar setiap orang berhak atas kehidupan yang baik dari karunia-Nya. Syaitan pula menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan dan kehilangan kekuasaan jika agama-Nya diikuti oleh kaumnya, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)

 

Padahal Nabi Syu’aib dan orang-orang beriman tidak bertujuan mengambil kekuasaan mereka dalam mengusahakan karunia-Nya, tapi hanya mengajak mereka agar mengikuti agama-Nya dan berbuat adil dengan mengikuti syariat agama-Nya. Nabi Syu’aib memahami kekhawatiran mereka sehingga beliau lalu menjelaskannya sebagai berikut:

 

Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (Huud 88)

 

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (Huud 90)

 

Nabi Syu’aib menasehati mereka sambil memperingatkan mereka dengan azab-Nya atas kaum-kaum sebelum mereka yang telah mendustakan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sebagai berikut:

 

Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Huud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. (Huud 89)

 

Kaum Mad-yan mengetahui kaum-kaum terdahulu yang Dia telah azab yang dijelaskan oleh Nabi Syu’aib itu.”

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Mad-yan menerima nasehat Nabi Syu’aib itu?”

 

Mudariszi: “Nabi Syu’aib telah menyeru kaumnya berkali-kali dan berlangsung dalam waktu yang lama. Kaum Mad-yan, melalui pemuka-pemuka kaumnya, berkali-kali pula menolak seruan Nabi Syu’aib dengan berbagai alasan. Alasan-alasan pemuka-pemuka kaum selalu dapat dipatahkan oleh Nabi Syu’aib. Tetapi pada puncaknya, pemuka-pemuka kaum itu mengatakan kepada Nabi Syu’aib sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.(Huud 91)

 

Tapi Nabi Syu’aib lalu menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:

 

Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan.(Huud 92)

 

Syu’aib berkata: “Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Asy Syu’araa’ 188)

 

Penjelasan Nabi Syu’aib di atas itu benar, karena yang harus dihormati dan diikuti yaitu Allah SWT dan bukan orang tua atau nenek moyang atau siapapun yang telah membuat mereka menjadi pandai, kaya atau berhasil dalam kehidupan dunianya. Pemuka kaum mengatakan itu karena mereka tidak memahami agama-Nya dan hanya menuruti hawa nafsunya. Dan karena selalu gagal membuat Nabi Syu’aib mengikuti mereka, mereka lalu mengancam beliau, sebagai berikut:

 

Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.(Al A’raaf 88)

 

Nabi Syu’aib menjawab ancaman kaumnya itu sebagai berikut:

 

Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami) kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah jika kami kembali kepada agamamu sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya kecuali jika Allah, Tuhan kami, menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. (Al A’raaf 88-89)

 

Hingga akhirnya mereka menantang atau meminta kepada Nabi Syu’aib agar dijatuhkan azab-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (Asy Syu’araa’ 187)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Syu’aib menerima tantangan kaumnya itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (Al A’raaf 93)

 

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu. (Huud 93)

 

Nabi Syu’aib lalu meminta kepada Alah SWT sebagai berikut:

 

Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkau-lah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. (Al A’raaf 89)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menurunkan azab-Nya kepada kaum Mad-yan yang kafir?”

 

Mudariszi: “Kaum Mad-yan telah mengingkari Allah SWT dan Rasul-Nya karena menolak untuk menyembah Dia dan mengingkari ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Penduduk Aikah (Mad-yan) telah mendustakan Rasul-Rasul. (Asy Syu’araa’ 176)

 

Kaum Mad-yan meminta pula untuk didatangkan azab-Nya. Allah SWT telah mengetahui keinginan kaum Mad-yan yang kafir itu dan Dia tidak menghendaki orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir pula. Allah SWT lalu mengazab kaum Mad-yan itu setelah Dia menyelamatkan Nabi Syu’aib dan orang-orang beriman. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh suatu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa. (Huud 94-95)

 

Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar. (Asy Syu’araa’ 189)

 

Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. (Al ‘Ankabuut 37)

 

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al A’raaf 91-92)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan kerasnya azab-Nya itu, dan Dia meninggalkan bekas-bekas azab-Na tersebut sebagai pelajaran bagi orang-orang yang lahir kemudian agar tidak menjadi kafir kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (Asy Syu’araa’ 190)

 

Dan sesungguhnya adalah penduduk Aikah (kaum Syu’aib) itu benar-benar kaum yang zalim, maka Kami membinasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang. (Al Hijr 78-79)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply