Bagaimana Kisah Nabi Musa Dipelihara Oleh Fir’aun?

Dialog Seri 10: 17

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kisah Nabi Musa dalam Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? (Thaahaa 9)

 

Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? (An Naazi’aat 15)

 

Dan Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kisah Nabi Musa itu kepada manusia, melalui firman-Nya ini:

 

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang Rasul dan Nabi. (Maryam 51)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa itu juga Rasul Allah?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan dalam firman-Nya di atas. Nabi Musa merupakan salah satu dari anak cucu Nabi Ya’qub atau dari Bani Israil. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (Al Baqarah 136)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kisah Nabi Musa tersebut?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa dilahirkan-Nya di masa Fir’aun, penguasa negeri Mesir, itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kami membicarakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. (Al Qashash 3)

 

Allah SWT menjelaskan tentang Fir’aun yang memerintah negeri Mesir tersebut, yaitu sebagai berikut:

 

Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak) yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. (Al Fajr 10-12)

 

Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 4)

 

Di antara golongan yang ditindas oleh Fir’aun hingga anak laki-lakinya dibunuh, yaitu golongan dari Bani Israil, kaumnya Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu. (Al A’raaf 141)

 

Tilmidzi: “Jika setiap anak laki-laki Bani Israil yang lahir akan dibunuh, lalu mengapa Allah SWT melahirkan Nabi Musa di masa tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. (Al Qashash 5-6)

 

Sesungguhnya Fir’aun dan Hamman berserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Al Qashash 8)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT melahirkan Nabi Musa di masa itu untuk mengajak Fir’aun dan pembantunya (tentaranya) agar kembali kepada jalan-Nya yang lurus dalam memerintah negeri dan rakyatnya. Tapi jika Fir’aun tidak juga mau bertaubat, maka Allah SWT akan menghancurkan mereka melalui Nabi Musa dan lalu menjadikan Bani Israil sebagai pengganti mereka.”

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT selamatkan Nabi Musa ketika lahir?”

 

Mudariszi: “Ibu Nabi Musa yang melahirkan anak laki-laki (Nabi Musa) menjadi khawatir anaknya akan dibunuh oleh Fir’aun. Allah SWT mengetahui kekhawatiran Ibu Musa itu, sehingga Dia lalu memberikan ilham kepadanya, sebagai berikut:

 

Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul. (Al Qashash 7)

 

Seseorang yang diberikan ilham oleh Allah SWT akan segera mengerjakan perintah ilham-Nya itu. Ilham-Nya adalah perbuatan yang menyuruh kepada kebaikan bagi penerima ilham. Penerima ilham tidak dapat menolak pelaksanaan ilham-Nya, sekalipun disadarinya dapat terjadi perkara yang buruk ketika melaksanakannya. Hal itulah yang terjadi dengan Ibu Nabi Musa, yaitu dia melaksanakan ilham-Nya dengan rasa khawatir. Untuk mengatasi kekhawatirannya, Ibu Nabi Musa lalu meminta saudara Nabi Musa untuk mengikuti bayinya ketika terbawa oleh arus sungai Nil. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan berkatalah Ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia.” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh sedang mereka tidak mengetahuinya. (Al Qashash 11)

 

Tilmidzi: “Kemana arus sungai Nil membawa bayi (Nabi Musa)?”

 

Mudariszi: “Bayi (Nabi Musa) terbawa arus sungai hingga merapat ke istana Fir’aun. Isteri Fir’aun melihatnya dan lalu mengambilnya. Isteri Fir’aun meminta kepada Fir’aun agar tidak membunuh bayi itu karena akan dipeliharanya. Fir’aun menyetujui tanpa mengetahui jika bayi itu akan menjadi musuhnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tidak menyadari. (Al Qashash 9)

 

Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. (Al Qashash 8)

 

Saudara Nabi Musa yang memperhatikan beliau dari jauh, lalu mengabarkan berita itu kepada Ibunya, sehingga hati Ibu Nabi Musa menjadi tenang. Allah SWT berfirman:

 

Dan menjadi kosonglah hati Ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa seandainya tidak Kami teguhkan hatinya supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (Al Qashash 10)

 

Tilmidzi: “Siapa yang menyusui Nabi Musa ketika dipelihara oleh Fir’aun?”

 

Mudariszi: “Karena Nabi Musa itu dilahirkan oleh Allah SWT untuk dijadikan sebagai Nabi dan Rasul-Nya, maka Dia tidak membiarkan beliau disusui oleh orang lain kecuali Ibunya sendiri. Saudara Nabi Musa lalu mengabari isteri Fir’aun tentang Ibu dari bayi itu, hingga isteri Fir’aun lalu menyetujui Nabi Musa disusui langsung oleh Ibunya sendiri. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” Maka Kami kembalikan Musa kepada Ibunya supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Al Qashash 12-13)

 

Di lain pihak, isteri Fir’aun adalah wanita yang beriman yang tidak menyukai kezaliman Fir’aun dan dia tidak pula menyekutukan-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim. (At Tahriim 11)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang isteri Fir’aun sebagai berikut:

 

Dari Abu Musa, dia berkata: Bersabda Rasulullah SAW: Banyak orang sempurna dari kaum laki-laki, dan tidak sempurna dari kaum wanita kecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam putri Imran.” (HR Bukhari)

 

Di negeri Mesir ketika itu masih ada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi Yusuf ketika beliau menjadi bendahara negeri Mesir. Isteri Fir’aun merupakan salah satu di antara orang-orang yang beriman tersebut. Dengan demikian, Nabi Musa dipelihara oleh orang yang beriman sekalipun beliau tumbuh dewasa dalam lingkungan Fir’aun yang kafir dan sangat zalim.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Musa menjalani hidupnya bersama Fir’aun?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa tumbuh dewasa dan kuat dalam keluarga istana, beliau menjalani hidupnya mengikuti kehidupan istana dibawah asuhan isteri Fir’aun. Ketika Nabi Musa telah dewasa dan dapat berfikir dengan baik, beliau lalu diajarkan hikmah dan ilmu agama oleh Allah SWT, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al Qashash 14)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa telah mengetahui dirinya dari Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa telah mengetahui dirinya seorang Bani Israil dari isteri Fir’aun yang dijelaskan oleh Ibu Nabi Musa ketika menyusui beliau. Fir’aun pula sudah mengetahui hal itu, tapi didiamkannya karena Fir’aun berpendapat Nabi Musa berada dalam pengawasannya. Suatu ketika Nabi Musa pergi ke kota dan beliau mendapati adanya perkelahian antara seorang dari Bani Israil dengan seorang dari kaum Fir’aun. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).(Al Qashash 15)

 

Nabi Musa meninju kaum Fir’aun hingga mati (dalam firman-Nya di atas) hanya karena dorongan nafsunya untuk menolong kaumnya tanpa meneliti lebih dulu sebab perkelahian tersebut. Nafsu menolong sesama kaum itu dari syaitan karena syaitan selalu menyuruh kepada permusuhan dan kejahatan. Karena itu Nabi Musa menyadari jika perbuatan membela kaumnya hingga meninju itu karena syaitan, sehingga jelas baginya jika syaitan itu merupakan musuh yang nyata. Allah SWT menjelaskan tentang syaitan dan nafsu tersebut melalui firman-Nya berikut ini

 

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan. (Al Maa-idah 91)

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji. (Al Baqarah 169)

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)

 

Menyadari kesalahannya yang telah membunuh manusia, Nabi Musa lalu meminta maaf kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan berbuat dosa lagi. Allah SWT mengampuninya karena beliau memang tidak berniat untuk membunuh tapi karena terbatasnya pengetahuan agama-Nya dan karena tenaganya yang kuat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Musa mendo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa. (Al Qashash 16-17)

 

Perbuatan Nabi Musa hingga membunuh manusia karena menuruti nafsunya akibat dari hasutan syaitan itu merupakan pelajaran dari Allah SWT yang dapat diambil hikmah dan ilmu pengetahuan oleh Nabi Musa.”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa dihukum oleh penguasa karena membunuh?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa yang telah membunuh manusia itu merasa bersalah dan takut, yaitu takut akan dihukum oleh penguasa negeri. Hati beliau tidak tenang, sehingga beliau lalu kembali ke kota tersebut. Ketika berada di kota, Nabi Musa melihat kembali perkelahian antara kaumnya yang telah ditolongnya kemarin dengan seseorang dari kaum Fir’aun. Kaum Nabi Musa itu kembali meminta tolong kepada Nabi Musa; beliau lalu mendatanginya dan mengatakan kepadanya sebagai berikut:

 

Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya).(Al Qashash 18)

 

Nabi Musa bukan menolong kaumnya seperti beliau menolongnya kemarin, tapi beliau justru memarahinya karena dia merupakan penyebab permusuhan, perkelahian dan pembunuhan. Nabi Musa memegang kaumnya itu erat-erat seperti hendak meninjunya hingga membuat kaumnya itu takut dan mengatakan kepada Nabi Musa sebagai berikut:

 

Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian. (Al Qashash 19)

 

Tapi bersamaan dengan kejadian itu, tiba-tiba seseorang datang kepada Nabi Musa sambil mengatakan kepada beliau sebagai berikut:

 

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. (Al Qashash 20)

 

Pembesar negeri berunding untuk membunuh Nabi Musa (seperti firman-Nya diatas) itu menunjukkan penguasa negeri berdasarkan peraturan negeri Mesir telah menetapkan Nabi Musa harus dihukum bunuh karena perbuatannya yang telah membunuh manusia.”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa mengikuti nasehat orang tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Nabi Musa mengikuti saran orang yang menasehatinya agar keluar meninggalkan kota, dan beliau meninggalkan Mesir dengan rasa takut menuju Mad-yan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Mad-yan, ia berdo’a (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar. (Al Qashash 21-22)

 

Sejak saat itu, Nabi Musa tidak lagi tinggal bersama keluarga Fir’aun. Allah SWT telah menetapkan Nabi Musa harus berpisah dari Fir’aun.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply