Bagaimana Kisah Nabi Ya’qub Dengan Keluarganya?

Dialog Seri 10: 12

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub itu Rasul Allah?”

 

Mudariszi: “Nabi Ya’qub merupakan putera Nabi Ishaq dan cucu dari Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman:

 

Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub. (Huud 71)

 

Berita gembira tentang kelahiran Nabi Ishak dalam firman-Nya di atas itu berita gembira bagi Nabi Ibrahim. Nabi Ya’qub tidak berbeda dengan Nabi Ishaq (Bapaknya) dan Nabi Ibrahim (kakeknya), yaitu sama-sama Rasul Allah; itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi Nabi. (Maryam 49)

 

Ketiga Nabi tersebut menerima wahyu-wahyu-Nya (ayat-ayat-Nya) dan ketiganya juga diberikan hikmah, ilmu dan petunjuk oleh Allah SWT. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah. (Al Anbiyaa’ 72-73)

 

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. (Shaad 45-47)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menganugerahkan anak kepada Nabi Ya’qub yang juga menjadi Rasul?”

 

Mudariszi: “Nabi Ya’qub dianugerahkan oleh Allah SWT sejumlah anak laki-laki. Di antara putera Nabi Ya’qub itu ada yang dijadikan-Nya sebagai Rasul-Nya, yaitu Nabi Yusuf. Allah SWT mengajarkan sebagian dari takbir mimpi-mimpi kepada Nabi Yusuf, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari takbir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang Bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Yusuf 4-6)

 

Nabi Ya’qub memahami maksud dari mimpi Nabi Yusuf, tapi beliau melarang Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudaranya.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Nabi Ya’qub melarang Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudaranya?”

 

Mudariszi: “Karena Nabi Ya’qub mengetahui saudara-saudara Nabi Yusuf tidak menyukai Nabi Yusuf. Nabi Ya’qub memiliki dua isteri yang melahirkan anak-anaknya tersebut. Nabi Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) dari Ibu yang sama, tapi keduanya tidak disukai oleh saudara-saudaranya dari Ibu yang lain. Mereka (saudara-saudara Nabi Yusuf) merasa Nabi Ya’qub lebih menyayangi kedua saudaranya tersebut, terutama Nabi Yusuf. Karena itu mereka lalu berencana untuk memisahkan Nabi Yusuf dari Nabi Ya’qub. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat. (Yusuf 8-10)

 

Tilmidzi: “Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf menjalankan rencananya?”

 

Mudariszi: “Ya! Mereka meminta izin kepada Nabi Ya’qub untuk membawa Nabi Yusuf bermain bersama. Di awalnya Nabi Ya’qub tidak mengizinkan karena beliau mengetahui perilaku anak-anaknya itu, tapi lalu diizinkannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama-sama kami besok pagi agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya. Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala sedang kamu lengah daripadanya. Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. (Yusuf 11-14)

 

Setelah itu, mereka lalu menjalankan rencananya, yaitu sebagai berikut:

 

Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia). (Yusuf 15)

 

Mereka lalu kembali ke rumah dengan berbohong kepada Nabi Ya’qub atas apa yang telah terjadi dengan Nabi Yusuf sambil memberikan bukti yang mereka ada-adakan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami adalah orang-orang yang benar. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. (Yusuf 16-18)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub mempercayai penjelasan anak-anaknya tersebut?

 

Mudariszi: “Nabi Ya’qub sebagai seorang Rasul meragukan kebenaran cerita anak-anaknya, tapi beliau tidak dapat menghukum mereka karena beliau tidak memiliki bukti. Beliau hanya bersabar sambil meminta pertolongan-Nya dan beliau mengatakan kepada anak-anaknya, sebagai berikut:

 

Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf 18)

 

Nabi Ya’qub diajarkan oleh Allah SWT dengan ilmu-ilmu yang tinggi, mengetahui jika anak-anaknya telah terhasut oleh syaitan. Ucapan beliau, yaitu: sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan yang buruk itu (seperti firman-Nya di atas), menunjukkan beliau mengetahui mereka berbohong, beliau mengetahui ucapan dan perbuatan anak-anaknya karena terhasut oleh bisikan syaitan. Allah SWT menjelaskan tentang syaitan yang selalu menyesatkan manusia, sebagai berikut:

 

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi. (Al Hijr 39)

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Syaitan berhasil merusak hubungan kekeluargaan antara orang tua dan anak-anaknya dan antara anak-anaknya, karena dalam keluarga tersebut terdapat Rasul-Rasul yang menyampaikan ayat-ayat-Nya, agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus kepada manusia. Syaitan selalu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya lurus agar mereka tersesat, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah). (Al ‘Ankabuut 38)

 

Karena itu, tidak ada jalan lain bagi Nabi Ya’qub kecuali bersabar dalam menghadapi kejadian atau takdir tersebut sambil beliau meminta pertolongan-Nya, karena hanya Dia saja yang dapat membantu beliau dan keluarganya dari gangguan syaitan.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Ya’qub menjalani hidupnya bersama anak-anaknya yang tanpa Nabi Yusuf?”

 

Mudariszi: “Meskipun Nabi Ya’qub mengetahui perilaku anak-anaknya yang kurang baik, beliau tetap memelihara mereka dengan mengikuti syariat agama-Nya. Nabi Ya’qub mengharap mereka berubah hingga ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus. Di lain pihak, Nabi Ya’qub selalu teringat kepada Nabi Yusuf; berpuluh-puluh tahun beliau berada dalam kesedihan dan kesabaran karena memikirkan Nabi Yusuf. Pada waktunya, takdir Allah menetapkan terjadi musim kering (musim panas) yang panjang di negeri Mesir. Keadaan itu membuat penduduk menjadi kekurangan makanan. Penguasa atau Raja negeri Mesir bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya, sehingga dia mempersiapkan makanan yang cukup. Bendahara negeri Mesir yang diangkat oleh Raja ketika itu adalah Nabi Yusuf. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan Raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf 54-56)

 

Keluarga Nabi Ya’qub ikut terkena kekurangan makanan, sehingga beliau lalu mengirim anak-anaknya ke Bendahara negeri (Nabi Yusuf) dengan membawa barang penukar guna mendapatkan makanan. Allah SWT menjelaskan ketika saudara-saudara Nabi Yusuf itu mendatangi dan menjumpai beliau sebagai berikut:

 

Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya. (Yusuf 58)

 

Nabi Yusuf lalu memberikan makanan kepada mereka sebanyak barang penukar, dan beliau meminta agar mereka membawa Bunyamin jika ingin mendapatkan makanan lagi. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah padaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi daripadaku dan jangan kamu mendekatiku. Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya. (Yusuf 59-61)

 

Bersamaan dengan itu, Nabi Yusuf perintahkan pegawainya untuk memasukkan kembali barang penukar saudara-saudaranya ke karung-karung mereka secara diam-diam, dengan tujuan sebagai berikut:

 

Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: “Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi. (Yusuf 62)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub mengizinkan anak-anaknya membawa Bunyamin ketika mereka ingin mendapatkan makanan lagi?”

 

Mudariszi: “Ketika makanan mulai berkurang dan mereka harus mendapatkan makanan kembali dari Nabi Yusuf, saudara-saudara Nabi Yusuf meminta izin kepada Nabi Ya’qub untuk membawa Bunyamin. Pada awalnya Nabi Ya’qub tidak mengizinkannya karena beliau teringat kejadian yang menimpa Nabi Yusuf. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya’qub) mereka berkata: “Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya. Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (Yusuf 63-64)

 

Tapi Nabi Ya’qub lalu mengizinkannya setelah mengetahui barang penukar makanan sebelumnya telah dikembalikan kepada mereka, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi Raja Mesir). (Yusuf 65)

 

Tapi, karena Nabi Ya’qub tidak ingin terjadi seperti Nabi Yusuf, maka beliau mengizinkan mereka membawa Bunyamin dengan perjanjian. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Ya’qub berkata: “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.” Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini). (Yusuf 66)

 

Tilmidzi: “Mengapa Nabi Ya’qub mengatakan kecuali jika dikepung musuh dalam firman-Nya di atas?”

 

Mudariszi: “Maksudnya, yaitu jika hal itu terjadi karena takdir-Nya yang tidak diketahui oleh siapapun. Sehingga, agar mereka semua tidak dikepung oleh musuh (jika takdir-Nya itu terjadi), maka Nabi Ya’qub lalu menasehati mereka sebagai berikut:

 

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri. (Yusuf 67)

 

Nasehat Nabi Ya’qub itu tidak harus benar, karena beliau tidak mengetahui takdir yang Allah SWT telah tetapkan atas anak-anaknya dan atas musuh anak-anaknya. Nasehat Nabi Ya’qub itu hanyalah usahanya agar anak-anaknya selamat dari takdir Allah yang buruk sehingga anak-anaknya itu selamat pula sampai ke tempat tujuannya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari cobaan yang berat, mendapat celaka, buruknya qadha (ketentuan dari Allah).” (HR Bukhari)

 

Nabi Ya’qub mengetahui perkara takdir karena beliau telah diajarkan oleh Allah SWT. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Yusuf 68)

 

Tilmidzi: “Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf sampai ke Nabi Yusuf?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan ketika Nabi Yusuf bertemu Bunyamin, sebagai berikut:

 

Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Yusuf 69)

 

Setelah makanan dipenuhi sebanyak barang penukar mereka, Nabi Yusuf tiba-tiba menahan Bunyamin, karena dia didapati mencuri barang kerajaan yang disimpan dalam karungnya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri. Mereka menjawab sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: “Barang apakah yang hilang dari kamu?” Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala Raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya. Saudara-saudara Yusuf menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri. Mereka berkata: “Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta?” Mereka menjawab: “Balasannya ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya). Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala Raja itu dari karung saudaranya. (Yusuf 70-76)

 

Saudara-saudara Nabi Yusuf meminta kepada beliau agar mengganti Bunyamin dengan salah satu dari mereka, tapi permintaan mereka itu ditolak oleh beliau, sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu. Mereka berkata: “Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik. Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim. (Yusuf 77-79)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan saudara-saudara Nabi Yusuf yang mempunyai perjanjian dengan Bapaknya (Nabi Ya’qub) setelah mengetahui Bunyamin ditahan?”

 

Mudariszi: “Saudara-saudara Nabi Yusuf menjadi gelisah karena mereka mempunyai perjanjian dengan Nabi Ya’qub. Sebagian dari mereka tidak ingin kembali ke rumahnya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (Yusuf 80)

 

Saudara-saudara Nabi Yusuf memang tidak bersalah dan semua itu karena takdir yang Dia tetapkan atas mereka. Takdir-Nya itupun tidak terpikirkan oleh Nabi Ya’qub karena hanya Dia saja yang mengetahui takdir atas manusia. Sehingga Nabi Yusuf kemudian menasehati saudara-saudaranya untuk mengatakan kepada Bapaknya (Nabi Ya’qub), sebagai berikut:

 

Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri; dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. (Yusuf 81-82)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Ya’qub setelah mengetahui Bunyamin tidak kembali kepadanya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Ya’qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (Yusuf 83-84)

 

Nabi Ya’qub bersabar dan menahan amarahnya karena perbuatan anak-anaknya itu. Sulit bagi Nabi Ya’qub menerima penjelasan anak-anaknya itu karena pengalamannya dengan Nabi Yusuf, meskipun anak-anaknya telah mengatakan dengan sebenarnya. Kesedihan dan kesabaran Nabi Ya’qub selama berpuluh-puluh tahun itu telah membuat matanya memutih hingga tidak dapat melihat lagi. Perasaan hati Nabi Ya’qub tidak dipahami oleh keluarganya, karena keluarganya hanya melihat dari luarnya saja tanpa mengetahui isi hatinya dan pikirannya tentang Nabi Yusuf. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa. (Yusuf 85)

 

Nabi Ya’qub tidak menyalahkan ucapan keluarganya (seperti firman-Nya di atas) karena mereka memang tidak memahaminya. Karena itu beliau menasehati mereka sebagai berikut:

 

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir. (Yusuf 86-87)

 

Tilmidzi: “Bagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf mencari Nabi Yusuf dan Bunyamin?”

 

Mudariszi: “Saudara-saudara Nabi Yusuf tidak mengetahui keberadaan Nabi Yusuf, dan mereka hanya mengetahui keberadaan Bunyamin, yaitu di penguasa negeri. Karena itu, ketika mendapatkan makanan dari Nabi Yusuf, mereka meminta beliau agar melepaskan Bunyamin. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah. (Yusuf 88)

 

Saudara-saudara Nabi Yusuf menceritakan kesulitan keluarganya termasuk Bapaknya (Nabi Ya’qub) yang kehilangan dua anaknya. Akhirnya Nabi Yusuf menceritakan kepada mereka tentang dirinya, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Yusuf berkata: “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?” Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf 91)

 

Saudara-saudara Nabi Yusuf mengakui kesalahannya, lalu meminta maaf kepada beliau dan mengatakan kepada beliau sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (Yusuf 88-93)

 

Nabi Yusuf lalu memaafkan mereka semua dan memerintahkan mereka agar kembali ke rumah dengan membawa bajunya agar Bapaknya (Nabi Ya’qub) dapat melihat kembali, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku. (Yusuf 91-93)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Ya’qub setelah menemukan Nabi Yusuf?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku). (Yusuf 94)

 

Nabi Ya’qub mengatakan seperti firman-Nya di atas karena beliau adalah Rasul; beliau mengetahuinya karena telah diwahyukan-Nya. Tapi keluarganya tidak memahami beliau karena mereka tidak memahami ilmu dan pengetahuan Nabi Ya’qub. Karena itu keluarganya lalu mengatakan kepada beliau sebagai berikut:

 

Keluarganya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu. (Yusuf 95)

 

Ketika rombongan anak-anaknya sampai di rumah, mereka lalu meletakkan baju gamis Nabi Yusuf di wajah Nabi Ya’qub menuruti perintah Nabi Yusuf, yaitu sebagai berikut:

 

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkatalah Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.

 

Keluarganya lalu meminta maaf kepada Nabi Ya’qub dan meminta beliau untuk berdoa kepada Allah SWT agar dosa-dosa mereka diampuni-Nya, dan beliau melakukannya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yusuf 96-98)

 

Tilmidz: “Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf membawa orang tua mereka kepada Nabi Yusuf?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf; Yusuf merangkul Ibu Bapaknya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman. (Yusuf 99)

 

Nabi Ya’qub dengan kesabarannya akhirnya dapat berkumpul kembali dengan Nabi Yusuf yang terpisah berpuluh-puluh tahun. Ketika Nabi Ya’qub kedatangan tanda-tanda ajalnya, beliau lalu mewasiati anak-anaknya, sebagai berikut:

 

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (Al Baqarah 133)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub itu adalah Bapak dari Bani Israil?”

 

Mudariszi: “Ya! Nabi Ya’qub juga dipanggil Israil, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. (Ali ‘Imran 93)

 

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil. (Maryam 58)

 

Keturunan Israil dalam firman-Nya di atas adalah keturunan Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub dikaruniakan anak oleh Allah SWT sebanyak dua belas anak laki-laki. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. (Yusuf 4)

 

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 (dua belas) orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-Rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Ku-masukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Al Maa-idah 12)

 

Sebelas bintang dalam firman-Nya di atas adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, sehingga jumlah anak Nabi Ya’qub menjadi dua belas dengan Nabi Yusuf. Selain itu, Allah SWT telah mengangkat Nabi dan Rasul dari keturunan Nabi Ya’qub (Israil) dan dikatakan dari Bani Israil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa’ 163)

 

Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Al ‘Ankabuut 27)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply