Dialog Seri 10: 30
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT melebihkan Bani Israil di masanya?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami selamatkan Bani Israil dari siksaan yang menghinakan dari (azab) Fir’aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas. Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa. Dan Kami telah memberikan kepada mereka di antara tanda-tanda kekuasaan (Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata. (Ad Dukhaan 30-33)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Al Jaatsiyah 16)
Allah SWT melebihkan Bani Israil atas bangsa-bangsa lain di masanya (dalam firman-Nya di atas) itu juga karena Dia berbicara langsung dengan Nabi Musa dan Dia memberikan kitab Taurat kepada Nabi Musa, dimana Taurat itu merupakan petunjuk bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.” (Al A’raaf 144)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat agar mereka ingat. (Al Qashash 43)
Manusia dalam firman-Nya di atas, bukan Bani Israil saja, tapi juga termasuk bangsa-bangsa lain. Kemudian Bani Israil yang bersama Nabi Musa menjadi kaum pertama yang mendapat pengajaran Taurat. Pada waktu pengajaran Taurat, Bani Israil telah diambil janjinya oleh Allah SWT, yaitu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 (dua belas) orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-Rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Ku-masukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Al Maa-idah 12)
Selain diberikan Taurat yang menjadi petunjuk (pedoman) hidup, Bani Israil diberikan pula rezeki oleh Allah SWT untuk kebutuhan hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (Al Baqarah 60)
Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. (Al Baqarah 57)
Dengan demikian, Allah SWT memang telah melebihkan Bani Israil di masanya, dan hal itu dijelaskan pula oleh Nabi Musa, sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-Nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.” (Al Maa-idah 20)
Tilmidzi: “Apakah Bani Israil bersyukur kepada-Nya atas pemberian-Nya itu?”
Mudariszi: “Kebanyakan dari Bani Israil tidak bersyukur kepada Allah SWT, yaitu tidak taat mengikuti Taurat dan Nabi Musa atau tidak taat mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Taurat dan Nabi Musa. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa.” Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi. (Al Baqarah 63-64)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al Baqarah 83)
Tilmidzi: “Apakah kebanyakan Bani Israil itu tetap tidak taat mengikuti syariat agama-Nya (tidak taat mengikuti Taurat dan sunnah Nabi Musa) setelah Nabi Musa wafat?”
Mudariszi: “Kebanyakan Bani Israil tetap tidak taat mengikuti syariat agama-Nya setelah Nabi Musa wafat. Mereka tetap lebih suka menuruti hawa nafsunya atau mengikuti syaitan daripada mengikuti Allah SWT dan agama-Nya (mengikuti Taurat dan Nabi Musa). Bahkan sejak Nabi Musa wafat, kebanyakan Bani Israil menjadi suka dengan kehidupan dunia. Padahal kehidupan dunia itu berbeda dengan kehidupan akhirat, dan hal itu telah dijelaskan firman-Nya ini:
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Syaitan melalui bisikan jahatnya berhasil menipu Bani Israil hingga mereka menyukai kehidupan dunia; syaitan melalui janji-janji manisnya berhasil membuat hawa nafsu mereka selalu timbul, yaitu hawa nafsu ingin mencapai kesenangan (keuntungan) dunia. Jika Bani Israil di masa Nabi Musa berhasil ditipu oleh syaitan tentang Allah SWT hingga menjadi sesat, maka setelah Nabi Musa wafat mereka berhasil ditipu oleh syaitan dengan menggunakan kehidupan dunia hingga mereka menyukainya dan menjadi sesat. Padahal Allah SWT telah memperingatkan tentang syaitan tersebut melalui firman-Nya ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)
Bani Israil yang menyukai kehidupan dunia dan suka menuruti hawa nafsu ingin memperoleh keuntungan dunia itu membuat mereka suka melanggar syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Taurat dan Nabi Musa.”
Tilmidzi: “Apakah ada contoh Bani Israil melanggar syariat agama-Nya karena menyukai kehidupan dunia?”
Mudariszi: “Contoh, mereka mengusir atau membunuh saudaranya sendiri hanya untuk memperoleh harta (keuntungan) dunia, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Al Baqarah 84-85)
Contoh lain, mereka menangkap ikan di hari yang dilarang oleh agama-Nya untuk memperoleh harta (keuntungan) dunia hingga mereka dihukum-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. (Al A’raaf 163)
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.” (Al Baqarah 65)
Tilmidzi: “Apakah di antara Bani Israil ada yang merubah ayat-ayat Taurat untuk mencapai keuntungan dunia?”
Mudariszi: “Bani Israil di masa Nabi Musa suka mengganti perintah Allah dalam Taurat atau perintah Nabi Musa, itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): “Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya dimana saja kamu kehendaki.” Dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.” Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka. (Al A’raaf 161-162)
Setelah Nabi Musa wafat, karena mereka ingin memperoleh kesenangan (keuntungan) dunia, maka mereka lalu menyembunyikan atau merubah ayat-ayat Taurat yang tidak sesuai dengan keinginan mereka tersebut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya).” (Al An’aam 91)
Allah SWT menjelaskan Bani Israil yang merubah atau menyembunyikan ayat-ayat Taurat demi untuk memperoleh kesenangan dalam kehidupan dunia itu sebagai berikut:
Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Al Baqarah 86)
Tilmidzi: “Apakah perubahan ayat-ayat Taurat itu tidak merubah agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa?”
Mudariszi: “Dengan berubahnya ayat-ayat Taurat, maka agama-Nya menjadi tidak benar, yaitu tidak lagi seperti agama-Nya yang dijelaskan dalam Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dan diajarkan oleh Nabi Musa. Syariat agama-Nya menjadi berubah jika ayat-ayat Taurat yang disembunyikan atau dirubah itu adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum perintah dan larangan. Bani Israil atau umat Nabi Musa yang mengikuti Taurat yang berubah itu menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Karena tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, maka Bani Israil atau umat Nabi Musa termasuk anak cucunya atau orang-orang yang lahir kemudian yang mengikuti Taurat yang berubah itu akan menjadi sesat. Karena itu Allah SWT mengutuk Bani Israil yang menyembunyikan atau merubah Taurat itu, sebagai berikut:
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. (Al Maa-idah 13)
Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup.” Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. (Al Baqarah 88)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT sampai harus mengutuk Bani Israil tersebut?”
Mudariszi: “Karena Bani Israil yang merubah ayat-ayat Taurat hingga berubahnya agama Allah yang untuk manusia itu akan membuat orang-orang yang lahir kemudian menjadi tersesat. Mereka menjadi tidak berbeda dengan Iblis yang ingin menyesatkan manusia hingga kiamat dengan menghalang-halanginya dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Karena keinginan Iblis itu, Allah SWT lalu mengutuknya, sebagai berikut:
Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” (Al Hijr 34-35)
Tilmidzi: “Apakah di antara Bani Israil itu ada yang beriman dan bertakwa?”
Mudariszi: “Di antara Bani Israil ada yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, tapi jumlah mereka tidak banyak. Mereka taat mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalani hidup, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (Al A’raaf 164-165)
Bani Israil yang beriman itu ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus dengan Taurat. Dan dengan petunjuk-Nya itu mereka memimpin manusia dengan adil. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (As Sajdah 23-24)
Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Al A’raaf 159)
Bani Israil yang beriman itu memelihara ayat-ayat Taurat dan syariat agama-Nya, dan mereka menggunakannya ketika memutuskan perkara yang dihadapi oleh umat manusia yang dipimpinnya. Mereka tidak menyembunyikan atau merubah ayat-ayat Taurat demi untuk memperoleh keuntungan dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al Maa-idah 44)
Yahudi dalam firman-Nya di atas yaitu anak cucu dari Nabi Ya’qub (Israil).”
Tilmidzi: “Apakah berubahnya ayat-ayat Taurat itu tidak menimbulkan perselisihan di antara Bani Israil atau di antara umat Nabi Musa?”
Mudariszi: “Perubahan ayat-ayat Taurat yang membuat agama Allah tidak lagi seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa itu menimbulkan perselisihan di antara umat Nabi Musa termasuk di antara Bani Israil, khususnya antara mereka yang beriman dan yang tidak beriman. Bahkan di antara yang tidak beriman itupun terjadi perselisihan karena tujuan mereka yang sama, yaitu ingin memperoleh keuntungan dunia. Bani Israil yang mengikuti Taurat yang berubah tidak ingin meninggalkan agama-Nya dan mereka mengatakan Tauratnya itulah yang benar karena Tauratnya itu telah membuat mereka memperoleh keinginannya di dunia. Mereka tidak mau meninggalkan agamanya atau tetap beragama itu hanyalah karena tradisi, yaitu tradisi mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi Bani Israil. Mereka tidak memperhatikan jika agamanya itu adalah agama Allah, karena itu mereka suka mengingkari syariat agama-Nya (mengingkari Taurat dan Nabi Musa). Sedangkan Bani Israil yang beriman kesulitan menyadarkan mereka yang tidak beriman, karena tujuan hidup yang berbeda, yaitu keuntungan dunia dan keuntungan akhirat. Allah SWT akan menyelesaikan perselisihan di antara umat Nabi Musa termasuk di antara Bani Israil itu, sebagai berikut:
Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu. (An Nahl 124)
Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (Yunus 93)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengatasi orang-orang yang lahir kemudian agar tidak tersesat karena mengikuti Taurat yang berubah?”
Mudariszi: “Bani Israil yang kafir itu seharusnya telah dibinasakan oleh Allah SWT seperti Dia binasakan kaum-kaum kafir terdahulu agar anak cucu mereka yang lahir kemudian tidak menjadi kafir. Tapi karena telah ada ketetapan-Nya terdahulu, Bani Israil yang kafir itu tidak dibinasakan-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. (Fushshilat 45)
Karena keputusan-Nya dalam firman-Nya di atas dan untuk mengatasi perselisihan akibat dari perubahan Taurat agar orang-orang yang lahir kemudian tidak tersesat, maka Allah SWT lalu mengutus Nabi-Nabi dari Bani Israil dengan diberikan ayat-ayat-Nya kepada Bani Israil. Tetapi, setiap Nabi Bani Israil yang diutus-Nya dengan membawa ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan Bani Israil itu, Nabi tersebut lalu diingkarinya atau dibunuhnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al Baqarah 87)
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al Maa-idah 70-71)
Karena itu Allah SWT lalu mengambil tindakan terhadap Bani Israil yang kafir tersebut, sebagai berikut:
Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan) disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh Nabi-Nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. (An Nisaa’ 155)
Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al Baqarah 61)
Sedangkan perselisihan di antara umat Nabi Musa termasuk di antara Bani Israil yang tidak juga teratasi, maka perselisihan tersebut akan diselesaikan oleh Allah SWT pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang memberikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. (As Sajdah 25)
Wallahu a’lam.