Dialog Seri 10: 31
Tilmidzi: “Apakah Nabi Yunus juga termasuk Rasul Allah?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang Rasul. (Ash Shaaffaat 139)
Nabi Yunus merupakan anak cucu keturunan Nabi Ya’qub (Israil), beliau adalah Nabi dari Bani Israil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus. (An Nisaa’ 163)
Tilmidzi: “Kepada kaum apakah Nabi Yunus diutus oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan kaum yang Nabi Yunus diutus kepadanya. Allah SWT hanya menjelaskan, bahwa setelah sekian lamanya Nabi Yunus menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaum tersebut dan mengajak mereka kepada agama Allah, tetapi kaum itu tidak juga mau mengikuti beliau atau tidak mau beriman kepada-Nya. Hal itu membuat Nabi Yunus kecewa dan marah, dan beliau lalu berbuat sebagai berikut:
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). (Al Anbiyaa’ 87)
Firman-Nya di atas menjelaskan bahwa Nabi Yunus mengira tidak akan dihukum oleh Allah SWT dengan beliau meninggalkan kaum tersebut.”
Tilmidzi: “Apakah Rasul wajib mentaati perintah Allah walaupun Rasul dalam keadaan apapun?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah menetapkan hal tersebut bagi semua Rasul-Nya melalui firman-Nya ini:
Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada Nabi-Nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (Al Ahzab 38-39)
Perbuatan Nabi Yunus yang meninggalkan kaumnya tanpa perintah-Nya itu menunjukkan bahwa beliau melawan perintah-Nya dan beliau tidak takut terhadap azab-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Yunus marah hingga meninggalkan kaum tersebut karena syaitan?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan tidak ingin kaum tersebut menerima ayat-ayat-Nya dari Nabi Yunus agar mereka tetap tersesat. Syaitan melakukannya dengan menggoda kaum itu melalui bisikan-bisikan jahatnya agar mereka tidak menyukai Nabi Yunus sehingga mereka tidak mau mendengar beliau dan ayat-ayat-Nya. Di lain pihak, syaitan menggoda Nabi Yunus agar timbul nafsu amarahnya karena perbuatan kaum itu terhadap beliau. Syaitan melalui bisikan jahatnya membuat agar timbul perselisihan dan permusuhan di antara kedua pihak. Allah SWT menjelaskan tentang syaitan itu melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. (Al Maa-idah 91)
Nabi Yunus yang sudah berkali-kali menasehati dan menjelaskan kaum itu dengan ayat-ayat-Nya dalam waktu yang lama, akhirnya terhasut oleh syaitan sehingga nafsu amarahnya timbul dan lalu meninggalkan mereka. Dengan Nabi Yunus meninggalkan mereka, berarti kaum itu tidak menerima penjelasan ayat-ayat-Nya sehingga mereka tidak beriman kepada Allah SWT dan tetap sesat. Dengan demikian, syaitan berhasil membuat mereka tidak beriman kepada Allah SWT karena tidak mengikuti Rasul dan ayat-ayat-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah menahan amarah itu amalan shaleh (perbuatan baik)?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali ‘Imran 133-134)
Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal, dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (Asy Syuura 36-37)
Di samping menahan marah, orang itu akan lebih baik lagi jika memaafkan orang yang menyakitinya. Dengan menahan marah dan memaafkan, maka orang itu telah menggagalkan usaha syaitan menyesatkan manusia.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghukum Nabi Yunus karena pergi tanpa ada perintah daripada-Nya?”
Mudariszi: “Nabi Yunus pergi meninggalkan kaum itu dengan menaiki kapal laut yang penuh dengan penumpang dan barang. Muatan kapal yang dipaksakan itu lalu membuat air masuk ke dalam kapal ketika berlayar. Agar kapal tidak tenggelam karena dipenuhi air, disepakati oleh semua penumpang bahwa muatan kapal harus dikurangkan, yaitu dengan melemparkan penumpang dan barangnya ke laut, melalui undian. Setelah diundi, Nabi Yunus termasuk penumpang yang harus dilempar ke laut. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
(Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (Ash Shaaffaat 140-141)
Allah SWT lalu menjelaskan setelah Nabi Yunus di laut, sebagai berikut:
Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. (Ash Shaaffaat 142)
Ditelannya Nabi Yunus oleh ikan besar (dalam firman-Nya di atas) itu merupakan hukuman-Nya bagi beliau karena pergi meninggalkan kaumnya tanpa perintah-Nya. Nabi Yunus dapat hidup dalam perut ikan besar, karena ikan itu bernafas dengan menghirup udara yang juga dibutuhkan oleh manusia. Keadaan dalam perut ikan yang gelap tanpa dapat berbuat apapun, lalu menjadikan Nabi Yunus sadar akan kesalahannya. Karena itu beliau menyesalinya dan meminta maaf kepada Allah SWT dengan selalu mengucapkan kalimat berikut ini:
Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Al Anbiyaa’ 87)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memaafkan Nabi Yunus?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan jangka waktu Nabi Yunus berada dalam perut ikan, sampai akhirnya Dia memaafkan beliau dengan mengeluarkannya dari perut ikan. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. (Al Anbiyaa’ 88)
Allah SWT memaafkan Nabi Yunus karena beliau banyak mengingat Dia karena kesalahannya. Jika tidak demikian, maka Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (Ash Shaaffaat 143-144)
Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. (Al Qalam 49)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan Nabi Yunus setelah keluar dari perut ikan?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. (Ash Shaaffaat 145-146)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Yunus dikeluarkan oleh Allah SWT dalam keadaan sakit hingga beliau terdampar di daerah yang menumbuhkan buah-buahan yang dapat menyembuhkannya.”
Tilmidzi: “Apakah kejadian Nabi Yunus itu menjadi pelajaran bagi Rasul lain?”
Mudariszi: “Ya! Kejadian Nabi Yunus itu menjadi pelajaran bagi Rasul lain ketika menyampaikan risalah-Nya (ayat-ayat-Nya) kepada manusia (kaum). Contoh, sebagai pelajaran bagi Rasulullah SAW, yaitu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). (Al Qalam 48)
Peringatan Allah di atas bukan berarti Nabi Yunus itu Rasul yang tidak baik di antara para Rasul. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Tidaklah seyogya bagi seorang hamba mengatakan: “Saya lebih baik daripada Yunus bin Matta.” Dan beliau menasabkan Yunus kepada ayahnya (Matta).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT melarang hamba-Nya membeda-bedakan Nabi-Nabi atau Rasul-Rasul?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al Baqarah 136)
Allah SWT melebihkan derajat setiap Nabi atau Rasul dan itu termasuk Nabi Yunus; beliau telah dipilih-Nya menjadi orang yang saleh. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Isma’il, Ilyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (Al An’aam 86)
Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh. (Al Qalam 50)
Tilmidzi: “Kelebihan derajat apakah yang Allah SWT anugerahkan kepada Nabi Yunus?”
Mudariszi: “Ketika Allah SWT mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan, Dia mengutus beliau kembali kepada kaumnya terdahulu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu. (Ash Shaaffaat 147-148)
Setelah mengetahui Nabi Yunus kembali, kaum yang membuat Nabi Yunus kecewa itu lalu beriman kepada beliau dan kepada Allah SWT. Nabi Yunus dan orang-orang beriman itu lalu membuat seluruh penduduk kota menjadi beriman. Mereka menjalani hidupnya dengan taat mengikuti agama-Nya. Keimanan penduduk kota itu lalu menghendaki Allah SWT menghilanghkan azab bagi mereka dan mengaruniakan mereka kesenangan dunia. Allah SWT memuji keimanan kaum Nabi Yunus tersebut melalui firman-Nya berikut ini:
Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfa’at kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. (Yunus 98)
Pujian Allah kepada iman penduduk kota kaum Nabi Yunus dalam firman-Nya di atas itu terjadi karena Nabi Yunus mengajarkan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya kepada mereka dengan sabar. Nabi Yunus melakukan itu dengan sabar, karena pengalaman beliau sendiri yang marah kepada mereka hingga meninggalkan mereka tanpa perintah-Nya. Allah SWT lalu menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat 34)
Wallahu a’lam.