Dialog Seri 10: 42
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT tetap hendak menurunkan Rasul-Nya dan kitab-Nya lagi, padahal dua Rasul-Nya dan kitab-Nya telah dirubah hingga agama-Nya menjadi berubah?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa yang menjelaskan agama-Nya untuk manusia yang menjalani hidupnya di dunia agar manusia selamat di dunia dan di akhirat. Tapi Taurat itu dirubah oleh umat Nabi Musa (Bani Israil) yang kafir sehingga agama-Nya berubah dan umat Nabi Musa berselisih. Orang-orang yang memeluk agama-Nya yang berubah itu, termasuk orang-orang yang lahir kemudian, menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan akan menjadi kafir. Allah SWT seharusnya memusnahkan Bani Israil yang kafir itu (seperti kaum-kaum kafir terdahulu) agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir, tapi mereka tidak dimusnahkan-Nya karena ketetapan-Nya berikut ini:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. (Fushshilat 45)
Karena agama-Nya berubah dan agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir, Allah SWT lalu mengutus Nabi-Nabi dari Bani Israil yang diberikan ayat-ayat-Nya untuk mengatasi perselisihan di antara umat Nabi Musa tersebut, agar mereka kembali beragama dengan agama-Nya yang benar. Perselisihan tidak juga teratasi dan umat Nabi Musa menjadi tetap tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT kemudian mengutus Nabi ‘Isa dari Bani Israil dengan diberikan Injil yang membenarkan Taurat dan menjelaskan perselisihan di antara umat Nabi Musa. Tapi agama-Nya dan Injil dirubah pula oleh umat Nabi ‘Isa yang kafir. Akibatnya umat Nabi Musa tetap tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan umat Nabi ‘Isa pula menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Orang-orang yang diberikan Al Kitab dalam firman-Nya di atas, yaitu umat Nabi Musa yang diberikan kitab Taurat dan umat Nabi ‘Isa yang diberikan kitab Injil. Orang-orang yang lahir kemudian akan menjadi kafir dengan memeluk agama-Nya yang berubah. Ahli Kitab (umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa) yang kafir itu seharusnya telah dimusnahkan oleh Allah SWT. Tapi karena telah ada ketetapan-Nya, Ahli Kitab yang kafir tersebut tidak dimusnahkan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. (Asy Syuura 14)
Karena agama-Nya berubah dan agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir dengan memeluk agama-Nya yang berubah itu, Allah SWT kemudian mengutus Rasulullah SAW yang diberikan Al Qur’an untuk menjelaskan perselisihan di antara Ahli Kitab agar mereka tidak lagi berselisih dan kembali beragama dengan agama-Nya yang benar.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT musnahkan kaum kafir terdahulu karena mereka memperselisihkan agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasul-Rasul dan ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menetapkan agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya bagi manusia yang menjalani hidupnya di dunia agar mereka selamat di dunia dan di akhirat. Agama-Nya dan syariat agama-Nya itu dijelaskan dalam kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) yang Dia turunkan melalui utusan-Nya (Rasul-Nya) dari golongan manusia juga. Allah SWT menghendaki manusia mengikuti agama-Nya dan syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh kitab-Nya dan Rasul-Nya itu ketika menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Umat manusia itu dimulai dari Nabi Adam dan isterinya yang keduanya diberikan ayat-ayat-Nya sebagai petunjuk bagi mereka dalam menjalani hidupnya di dunia agar selamat hidup di dunia dan di akhirat. Nabi Adam yang menurunkan anak cucunya, maka di antara anak cucu Nabi Adam itu ada yang berselisih karena berbeda dalam mengikuti syariat agama-Nya (ayat-ayat-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Adam) ketika mereka menjalani hidupnya. Allah SWT lalu mengutus Rasul-Rasul-Nya dengan diberikan ayat-ayat-Nya untuk menjelaskan perselisihan di antara anak cucu Nabi Adam itu. Allah SWT berfirman:
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Al Baqarah 213)
Setelah Allah SWT mengutus Rasul-Nya kepada umat Rasul (manusia), maka di antara mereka itu ada yang mengikuti Allah SWT, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya hingga menjadi orang-orang beriman, dan ada yang sebaliknya hingga menjadi orang-orang kafir. Kemudian, kelahiran manusia menunjukkan pertambahan orang-orang kafir lebih banyak daripada pertambahan orang-orang beriman. Itu berarti orang-orang yang lahir kemudian cenderung akan menjadi kafir. Allah SWT tidak menghendaki manusia menjadi kafir ketika hidup di dunia; itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka betelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. (Az Zukhruf 33-35)
Karena Allah SWT telah menetapkan bahwa bumi itu diperuntukkan bagi manusia yang sebagai berikut:
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al Anbiyaa’ 105)
Karena itu Allah SWT memusnahkan kaum-kaum kafir yang dimulai dari kaum Nabi Nuh hingga kaum Fir’aun agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir. Tapi manusia tetap saja selalu berselisih meskipun Dia telah memulai hidup baru di dunia dengan orang-orang shaleh (beriman) dan agama-Nya. Karena perselisihan itu selalu terjadi meskipun kaum kafir telah dimusnahkan-Nya dan setiap Rasul telah diutus-Nya, maka Allah SWT lalu menetapkan sebagai berikut:
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Huud 118-119)
Kemudian, setelah Allah SWT memusnahkan Fir’aun dan kaumnya yang kafir, Dia lalu mewariskan semua kekayaan kerajaan Fir’aun kepada Bani Israil. Allah SWT lalu memilih Bani Israil sebagai bangsa yang menerima Taurat untuk manusia; Dia turunkan Taurat itu kepada Nabi Musa. Sejak Taurat diturunkan-Nya, maka Dia tidak lagi memusnahkan kaum-kaum kafir yang ada di bumi.”
Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan timbulnya perselisihan pendapat di antara umat Rasul (manusia) itu?”
Mudariszi: “Perselisihan pendapat di antara umat Rasul (manusia) itu terjadi karena hasutan (bisikan) syaitan yang ingin menyesatkan manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus yang diajarkan oleh Rasul dan ayat-ayat-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi.” (Al Hijr 39)
Seharusnya tidak ada orang-orang kafir dan tidak ada pula perselisihan di antara umat manusia, karena Allah SWT telah menjelaskan kepada manusia tentang Iblis dan syaitan itu dalam kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul. Dan Allah SWT telah pula menjelaskan kepada manusia tentang jalan untuk terhindar dari syaitan, sebagai berikut:
Hai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi aurat dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan Ibu Bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 26-27)
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Dan Allah SWT telah pula menjelaskan kepada manusia jalan-Nya yang lurus dan cara untuk ditunjuki-Nya kepada jalan-Nya tersebut ketika manusia menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 5-7)
Tapi orang-orang kafir itu lebih suka dan senang mengikuti bisikan syaitan daripada membaca dan mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, hingga mereka lalu mengingkari Allah SWT dan agama-Nya dan lalu berselisih dengan orang-orang beriman.”
Tilmidzi: “Kapan orang-orang kafir yang merubah kitab-Nya dan agama-Nya itu akan diazab oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Orang-orang kafir yang merubah Taurat dan Injil hingga membuat agama-Nya berubah, membuat orang-orang menjadi kafir, dan membuat umat Rasul berselisih, maka mereka akan diazab-Nya di akhirat setelah perbuatan mereka dihisab-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. (Al Jaatsiyah 16-17)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW itu untuk Ahli Kitab dan orang-orang musyrik?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Manusia dalam firman-Nya di atas bukan saja umat Islam, tapi juga termasuk Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Rasulullah SAW yang menerima Al Qur’an itu pula diutus oleh Allah SWT kepada manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)
Rasulullah SAW pula menjelaskan bahwa Al Qur’an itu juga untuk Ahli Kitab dan orang-orang musyrik:
Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba–Ku dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu.” Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, kecuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: “Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)
Al Qur’an untuk Ahli Kitab, karena Al Qur’an itu membenarkan Taurat dan Injil serta menjelaskan perselisihan di antara Ahli Kitab agar mereka tidak lagi berselisih dan kembali beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dia menurunkan Al Kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Qur’an). (Ali ’Imran 3-4)
Sesungguhnya Al Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (An Nam 76)
Al Qur’an itu bukan saja untuk Ahli Kitab yang berselisih, tapi juga untuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang tidak beragama dengan agama-Nya. Allah SWT berfirman:
(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (Al An’aam 156)
Allah SWT menghendaki agar orang-orang musyrik tidak beragama dengan menyekutukan-Nya karena itu akan membuat mereka menjadi orang-orang yang rugi ketika di akhirat.”
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memilih Rasul-Nya itu dari bangsa Arab?”
Mudariszi: “Allah SWT adalah Tuhan Pencipta dan Pemilik langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi. Allah SWT berfirman:
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)
Karena sebagai Pencipta dan Pemilik, maka Allah SWT lah Pemelihara semua apa yang ada di langit dan di bumi termasuk mengurus semua makhluk-Nya. Allah SWT berfirman:
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)
Allah mengatur urusan (makhluk-Nya). (Ar Ra’d 2)
Karena Allah SWT adalah Pencipta, Pemilik, Pemelihara langit dan bumi, maka hanya Dia saja yang berhak untuk menetapkan atas segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Allah SWT berfirman:
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Al A’raaf 54)
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (Al An’aam 57)
Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)
Menetapkan hukum hanyalah hak Allah dalam firman-Nya di atas termasuk hak Allah dalam menetapkan hukum-hukum bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia sebagai khalifah, yang hukum-hukum itu Dia jelaskan dalam kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya. Menetapkan Rasul itu pula termasuk hak Allah dalam menetapkan sesuatu seperti dalam firman-Nya di atas, dan hal itu dijelaskan pula dalam firman-Nya ini:
Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali ‘Imran 74)
Karena itu hak Allah dalam memilih dan menetapkan Rasul-Nya dari Quraisy bangsa Arab, yaitu Rasulullah SAW dengan diberikan Al Qur’an.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memilih Rasul-Nya bukan dari Bani Israil karena Dia tidak menghendaki Rasul-Nya itu dibunuh oleh Bani Israil?”
Mudariszi: “Bukan tidak mungkin Allah SWT tidak lagi memilih Rasul-Nya dari Bani Israil, karena semua Nabi yang Dia utus kepada Bani Israil sebagai pewaris Taurat, telah diingkari dan sebagian lagi dibunuh oleh Bani Israil akibat dari Nabi-Nabi itu membawa ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (hawa nafsu) Bani Israil tersebut. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al Maa-idah 70-71)
Bahkan Rasul-Nya yang terakhir dari Bani Israil, yaitu Nabi ‘Isa, termasuk yang ingin dibunuh oleh Bani Israil karena membawa ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (hawa nafsu) mereka. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al Maa-idah 110)
Padahal, di antara umat manusia, maka Bani Israil lah yang seharusnya menjadi umat (kaum atau bangsa) yang paling beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Karena Nabi-Nabi yang paling banyak diutus-Nya adalah dari Bani Israil dan mu-jizat-mu’jizat-Nya yang paling banyak diberikan-Nya adalah kepada Rasul-Rasul dari Bani Israil, misalnya mu’jizat-mu’jizat-Nya yang Dia berikan kepada Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakariya, Nabi ‘Isa. Tapi yang terjadi berbeda, yaitu semua pemberian-Nya kepada Bani Israil itu justru membuat mereka menjadi kaum (bangsa) yang sombong hingga mendurhakai Allah SWT, mereka menjadi tidak berbeda dengan Iblis yang telah diberikan-Nya kelebihan-kelebihan tapi Iblis lalu menjadi sombong dan mendurhakai-Nya (mendurhakai perintah-Nya). Sehingga, mungkin karena itu Allah SWT tidak lagi memilih Rasul-Nya dari Bani Israil tapi dari bangsa Arab.”
Tilmidzi: “Bagaimana jika Rasul-Nya dari Arab itu dibunuh oleh Bani Israil atau Al Qur’an dirubah seperti mereka merubah Taurat dan Injil?”
Mudariszi: “Bukan tidak mungkin Rasul-Nya dari Arab itu akan diingkari atau akan dibunuh oleh orang-orang kafir tersebut. Tetapi Allah SWT mengetahui hal itu, sehingga Dia akan mengawasi dan menjaga Rasul-Nya selama beliau menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami. (Ath Thuur 48)
Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya itu untuk tetap menyampaikan agama-Nya dan syariat agama-Nya tanpa harus tergoda (terhasut) oleh orang-orang kafir yang berusaha menggagalkannya, karena Al Qur’an dan agama-Nya itu adalah untuk keselamatan mereka dan orang-orang yang lahir kemudian. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah: “Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.” (Al Hajj 67-68)
Ayat-ayat Al Qur’an pula bukan tidak mungkin akan dirubah oleh orang-orang kafir tersebut, tapi Allah SWT akan menjaga dan memelihara Al Qur’an itu. Allah SWT berfirman:
Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhan-mu (Al Qur’an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. (Al Kahfi 27)
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjaga Al Qur’an itu hingga kiamat?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjaga dan memelihara Al Qur’an tersebut hingga kiamat. Karena Allah SWT tidak akan mengutus lagi Nabi setelah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)
Dengan demikian, agama Allah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an itu akan berlaku hingga kiamat, sehingga Dia akan menjaga dan memelihara Al Qur’an hingga kiamat agar agama-Nya tidak berubah.”
Wallahu a’lam.