Bagaimana Injil Dan Agama Allah Setelah Nabi ‘Isa Diangkat Allah SWT?

Dialog Seri 10: 41

 

Tilmidzi: “Bagaimana pandangan orang-orang kafir termasuk Bani Israil terhadap Nabi ‘Isa, Injil dan agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi ‘Isa?”

 

Mudariszi: “Orang-orang kafir yang memimpin Baitul Maqdis tidak menyukai agama-Nya yang dibawa oleh Nabi ‘Isa karena agama-Nya itu hanya menyembah satu Tuhan saja. Kebanyakan Bani Israil tidak mau beriman kepada Nabi ‘Isa karena sebagian ayat-ayat Injil yang disampaikan oleh Nabi ‘Isa tidak sesuai dengan keinginan (hawa nafsu) mereka. Kedua pihak itu lalu bekerja sama untuk melenyapkan Nabi ‘Isa dan agama-Nya. Allah SWT yang mengetahui rencana mereka itu lalu membalas mereka, sebagai berikut:

 

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. (Ali ‘Imran 54-55)

 

Tipu daya Allah itu membuat orang-orang kafir termasuk Bani Israil mengira mereka telah membunuh (menyalib) Nabi ‘Isa. Perkiraan mereka itu menunjukkan mereka sendiri tidak meyakini yang mereka bunuh (salib) itu adalah Nabi ‘Isa. Allah SWT lalu menjelaskan bahwa orang yang dibunuh (disalib) itu memang bukan Nabi ‘Isa, melalui firman-Nya ini:

 

Dan karena kekafiran mereka (terhadap ’Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. (An Nisaa’ 156-157)

 

Allah SWT lalu menjelaskan keadaan Nabi ‘Isa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, sebagai berikut:

 

Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 158)

 

Tetapi karena orang-orang kafir termasuk Bani Israil tidak menyukai Nabi ‘Isa, Injil dan agama-Nya, maka mereka tetap mengatakan bahwa Nabi ‘Isa itulah yang disalib dengan tujuan agar tidak ada lagi orang-orang yang mengikuti Nabi ‘Isa, Injil, agama-Nya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan para pengikut Nabi ‘Isa yang beriman?”

 

Mudariszi: “Di antara para pengikut Nabi ‘Isa itu, ada pengikut (sahabat) Nabi ‘Isa yang setia (hawariyyin) yang mengetahui keadaan Nabi ‘Isa yang sebenarnya, karena mereka bersama dengan Nabi ‘Isa sebelum beliau diangkat-Nya. Mereka mengetahui Bani Israil dan penguasa negeri yang kafir tidak menyukai Injil dan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Dan mereka tetap mengikuti perintah Nabi ‘Isa walaupun beliau telah tiada, yaitu perintah beliau sebagai berikut:

 

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil), berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan Kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang ke-Esaan Allah).” (Ali ‘Imran 52-53)

 

Karena itu pengikut Nabi ‘Isa yang setia tersebut lalu meninggalkan Baitul Maqdis menuju ke negeri lain. Dan di negeri-negeri tersebut, mereka menyampaikan Injil dan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa, sehingga bertambah banyak orang-orang yang mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa dan Injil. Itu berarti agama Allah tetap tegak.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana penguasa negeri yang kafir itu setelah mengetahui pengikut Nabi ‘Isa bertambah banyak sekalipun Nabi ‘Isa telah tiada?”

 

Mudariszi: “Penguasa negeri yang kafir itu terus mengejar pengikut Nabi ‘Isa yang beriman untuk dibunuh atau dipaksa kembali kepada agama yang menyembah tuhan-tuhan berhala. Pengejaran berlangsung berpuluh-puluh tahun, karena pengikut Nabi ‘Isa itu berpindah-pindah negeri untuk menyelamatkan dirinya dan agama-Nya. Di antara pengikut Nabi ‘Isa itu, ada sejumlah pemuda yang lari dari pengejaran penguasa hingga mereka bersembunyi di dalam gua. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (Al Kahfi 15-16)

 

Karena mereka tidak mau meninggalkan agama-Nya, maka Allah SWT lalu memberikan petunjuk kepada mereka, sebagai berikut:

 

Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. (Al Kahfi 13-14)

 

Para pemuda itu lalu meminta perlindungan kepada Allah SWT, sebagai berikut:

 

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (Al Kahfi 10)

 

Allah SWT mengabulkan permintaan para pemuda itu dengan Dia menidurkan mereka sebagai berikut:

 

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (Al Kahfi 25)

 

Tidurnya para pemuda dalam gua selama tiga ratus tahun itu membuat mereka selamat dari penguasa yang kafir. Ketika mereka bangun, penguasa negeri telah berganti berkali-kali, tapi mereka tidak mengetahuinya karena mereka mengira hanya tidur beberapa jam saja. Allah SWT berfirman:

 

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (disini)?” Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksa kamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat itu tidak ada keraguan padanya. (Al Kahfi 19-21)

 

Para pemuda yang tidur dalam gua selama beratus-ratus tahun itu merupakan bukti kekuasaan-Nya yang Dia perlihatkan kepada orang-orang kafir dan para pengikut Nabi ‘Isa.”

 

Tilmidzi: “Apakah para pemuda tersebut dibunuh oleh penguasa negeri setelah mereka bangun?”

 

Mudariszi: “Tidak dijelaskan keadaan para pemuda dalam gua itu setelah bangun, yaitu apakah mereka tetap tinggal dalam gua atau meninggalkan gua menuju negeri lain. Tapi penguasa negeri pada waktu para pemuda itu bangun, tidak zalim terhadap pengikut Nabi ‘Isa. Bahkan penguasa negeri itu memerintahkan untuk membangun rumah ibadah di gua tersebut setelah mengetahui mereka tidur dalam gua selama tiga ratus tahun. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya. (Al Kahfi 21)

 

Tidak diketahui penyebab penguasa negeri itu tidak membunuh para pemuda yang beriman tersebut; bukan tidak mungkin penguasa negeri ketika itu telah memeluk agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa dan Injil.”

 

Tilmidzi: “Apakah itu berarti penguasa negeri telah meninggalkan agamanya yang menyembah tuhan berhala?”

 

Mudariszi: “Tidak diketahui penguasa negeri ketika itu telah memeluk agama-Nya atau masih menyembah tuhan berhala. Tetapi ketika para pemuda di gua itu bangun, agama-Nya telah berubah, yaitu tidak lagi seperti yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Perubahan agama-Nya tersebut, yaitu adanya sebagian pengikut Nabi ‘Isa mempercayai beliau sebagai berikut:

 

Dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah. (At Taubah 30)

 

Orang Nasrani dalam firman-Nya di atas adalah umat (pengikut) Nabi ‘Isa. Penguasa negeri dan orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan berhala (orang-orang musyrik) menyukai Nabi ‘Isa dikatakan anak Tuhan, karena itu berarti Nabi ‘Isa adalah tuhan juga selain Allah SWT, dan itu membuat agama-Nya menjadi tidak berbeda dengan agama mereka yang menyembah lebih dari satu Tuhan. Contoh, orang-orang musyrik Mekkah menyukai Nabi ‘Isa dikatakan sebagai salah satu dari tuhan-tuhan, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka tatkala putera Maryam (‘Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (‘Isa)?” (Az Zukhruf 57-58)

 

Perubahan agama-Nya itu yang membuat penguasa negeri tidak lagi berlaku zalim terhadap pengikut Nabi ‘Isa, atau mungkin penguasa negeri telah memeluk agama-Nya itu karena telah banyaknya pengikut Nabi ‘Isa.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana umat Nabi ‘Isa sampai dapat mengatakan hingga mempercayai Nabi ‘Isa anak Tuhan?”

 

Mudariszi: “Bukan tidak mungkin kepercayaan itu berasal dari umat Nabi ‘Isa sendiri setelah wafatnya para pengikut setia (hawariyyin) Nabi ‘Isa. Umat itu mengetahui agama-Nya, tapi tidak sempurna, karena ketika itu ayat-ayat Injil dan sunnah hawariyyin tidak tercatat dengan benar (baik) akibat dari perginya hawariyyin ke negeri-negeri yang berbeda guna menyampaikan Injil dan agama-Nya. Umat Nabi ‘Isa itu lalu mengada-ada dengan mengatakan Nabi ‘Isa anak Tuhan agar dia mendapatkan pengikut. Umat itu berpendapat Nabi ‘Isa yang lahir tanpa Bapak, berarti Bapaknya adalah Tuhan, sehingga Nabi ‘Isa itu anak Tuhan. Menurutnya, dengan Nabi ‘Isa anak Tuhan, berarti Nabi ‘Isa adalah tuhan juga, dan itu akan meninggikan derajat umat Nabi’ Isa. Dan kenyataannya umat Nabi ‘Isa yang mempercayai Nabi ‘Isa anak Tuhan menjadi bertambah banyak di kemudian harinya. Selain itu, bukan tidak mungkin umat Nabi ‘Isa yang mengatakan Nabi ‘Isa anak Tuhan tersebut berasal dari keturunan Bani Israil, karena Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya berikut ini:

 

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah”, dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah 30)

 

Orang-orang Yahudi dalam firman-Nya di atas adalah Bani Israil pengikut Nabi Musa, dan Uzair itu (dikatakan) salah satu Nabi dari Bani Israil sebelum Nabi ‘Isa. Firman-Nya di atas menjelaskan bahwa umat Nabi ‘Isa yang mengatakan Nabi ‘Isa itu anak Tuhan meniru ucapan Bani Israil (umat Nabi Musa) sebelumnya. Dengan demikian, umat Nabi ‘Isa yang pertama kali mengatakan Nabi ‘Isa anak Tuhan itu bukan tidak mungkin berasal dari keturunan Bani Israil.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT bertanya bagaimana mereka sampai berpaling dalam firman-Nya di atas?”

 

Mudariszi: “Karena Nabi ‘Isa telah menjelaskan kepada umatnya tentang Allah SWT adalah sebagai berikut:

 

Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. (Al Maa-idah 72)

 

Selain itu, Allah SWT menjelaskan tentang Dia sebagai berikut:

 

Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. (Al An’aam 101)

 

Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Al Jin 3)

 

Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. (Al Ikhlash 3)

 

Karena itu, bagaimana Allah SWT mempunyai anak (Nabi ‘Isa). Jika Allah SWT hendak mengambil anak, maka Dia lah yang paling berhak menentukannya dan bukan manusia atau makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. (Az Zumar 4)

 

Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (Al Anbiyaa’ 17)

 

Dan dengan umat Nabi ‘Isa mengatakan Nabi ‘Isa anak Tuhan, maka mereka telah membuat Nabi ‘Isa itu menjadi sebagai berikut:

 

Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. (Az Zukhruf 15)

 

Bagaimana mungkin makhluk ciptaan-Nya lalu menjadi bahagian daripada-Nya (Pencipta makhluk itu), padahal Allah SWT menjelaskan tentang Dia sebagai berikut:

 

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (Al Ikhlash 2)

 

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al Ikhlash 4)

 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (Asy Syuura 11)

 

Dan jika Nabi ‘Isa itu tuhan atau anak Tuhan, lalu siapa yang mematikan Nabi ‘Isa, seperti firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta Ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” (Al Maa-idah 17)

 

Selain itu, jika Nabi ‘Isa itu tuhan atau anak Tuhan, lalu mengapa Nabi ‘Isa dapat dibunuh hingga disalib seperti yang dikatakan oleh orang-orang kafir termasuk Bani Israil? Semua alasan itulah yang mungkin menjadikan Allah SWT bertanya bagaimana umat Nabi ‘Isa itu sampai dapat berpaling.”

 

Tilmidzi: “Apakah umat Nabi ‘Isa yang beragama dengan mempercayai Nabi ‘Isa anak Tuhan telah menjadi kafir?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam. (Al Maa-idah 72)

 

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa. (Al Maa-idah 73)

 

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam. (Al Maa-idah 17)

 

Karena itu Allah SWT memperingatkan umat Nabi ’Isa yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar atau beragama mempercayai Nabi ‘Isa anak Tuhan, melalui firman-Nya ini:

 

Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Maa-idah 73)

 

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al Maa-idah 72)

 

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putra Maryam itu adalah utusan (Rasul) Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. (An Nisaa’ 171)

 

Ahli Kitab dalam firman-Nya di atas adalah pengikut kitab Injil atau pengikut (umat) Nabi ‘Isa.”

 

Tilmidzi: “Apakah umat Nabi ‘Isa masih mengada-ada tentang Tuhan hingga agama-Nya makin berubah?”

 

Mudariszi: “Sekali umat Nabi ‘Isa mengada-ada tentang Tuhan dengan tujuan untuk mendapatkan pengikut sekalipun agama-Nya berubah, maka akan mudah bagi mereka untuk mengada-ada tentang Tuhan dan perkara ibadah lainnya. Contoh mereka mengada-ada tentang Tuhan, sebagai berikut:

 

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Taubah 31)

 

Contoh lain, mereka mengada-ada tentang ibadah kepada Allah SWT yang tidak diperintahkan oleh Injil dan Nabi ‘Isa, sebagai berikut:

 

Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rasul-Rasul Kami dan Kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rabbaniyyah (tidak kawin dan mengurung diri dalam biara), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (Al Hadiid 27)

 

Sehingga semua yang mereka ada-adakan dan tetapkan itu membuat umat Nabi ‘Isa menjadi semakin tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Dan untuk membenarkan ketetapannya (agamanya) itu, mereka lalu merubah ayat-ayat Injil. Perubahan ayat-ayat Injil lalu menjadi tidak berbeda dengan perubahan ayat-ayat Taurat. Agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa menjadi tidak berbeda, yaitu berubah. Umat Nabi ‘Isa yang beriman lalu berselisih dengan umat Nabi ‘Isa yang merubah Injil dan agama-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah perselisihan di antara pengikut Nabi ‘Isa itu membuat agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa menjadi terpecah?”

 

Mudariszi: “Umat Nabi ‘Isa yang beriman yang sebagiannya lalu mempercayai Nabi ‘Isa anak Tuhan, maka umat yang percaya Nabi ‘Isa anak Tuhan itu telah membuat agama-Nya terpecah. Demikian pula dengan umat Nabi ‘Isa yang mempercayai pendetanya (orang alim) sebagai tuhan dan umat Nabi ‘Isa yang mengada-adakan rabbaniyah (tidak kawin dan mengurung diri dalam biara), semua itu menambah perpecahan agama-Nya. Agama-Nya yang tauhid yang diajarkan oleh Rasul-Nya (Nabi ‘Isa) dan Injil terpecah menjadi beberapa golongan, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Al Mu’minuun 52-53)

 

Umat Nabi ‘Isa dari berbagai golongan itu menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar sekalipun mereka mengatakan beragama dengan mengikuti Injil dan Nabi ‘Isa.”

 

Tilmidzi: “Jika agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa berubah, maka bukankah pengikut Nabi Musa dan Nabi ‘Isa yang lahir kemudian akan menjadi sesat?”

 

Mudariszi: “Nabi ‘Isa yang diutus-Nya dengan diberikan Injil yang membenarkan Taurat, telah diingkari oleh Bani Israil sebagai pewaris Taurat. Hal itu menjadikan pengikut Nabi Musa tetap berselisih dan tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Agama-Nya dan Injil yang dijelaskan oleh Nabi ‘Isa dirubah pula, sehingga pengikut Nabi ‘Isa lalu berselisih dan tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Orang-orang yang diberikan Al Kitab dalam firman-Nya di atas adalah pengikut Nabi Musa yang diberikan kitab Taurat dan pengikut Nabi ‘Isa yang diberikan kitab Injil. Karena mereka tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, maka orang-orang yang lahir kemudian, termasuk anak cucu Ahli Kitab juga akan menjadi sesat jika mengikuti agama tersebut. Mereka yang merubah kitab-Nya dan agama-Nya itu seharusnya dibinasakan oleh Allah SWT agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi sesat. Tapi karena telah ada ketetapan-Nya, mereka tidak dibinasakan-Nya melainkan ditangguhkan-Nya hingga hari kiamat. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. (Asy Syuura 14)

 

Ahli Kitab dalam firman-Nya di atas adalah pengikut kitab Taurat (pengikut Nabi Musa) dan pengikut kitab Injil (pengikut Nabi ‘Isa). Allah SWT tidak membinasakan Ahli Kitab tersebut seperti Dia tidak membinasakan Bani Israil yang merubah Taurat dan agama-Nya sebelumnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. (Fushshilat 45)

 

Allah SWT telah menetapkan bahwa Dia akan memutuskan perselisihan di antara Ahli Kitab karena perubahan kitab-Nya dan agama-Nya tersebut pada hari kiamat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. (Al Jaatsiyah 17)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT mengatasi orang-orang yang lahir kemudian khususnya anak cucu Ahli Kitab agar mereka tidak tersesat?”

 

Mudariszi: “Para pengikut Nabi Musa dan Nabi ‘Isa (Ahli Kitab) yang beriman semakin berkurang. Jika tidak ada lagi Ahli Kitab yang beriman, maka agama Allah berarti tidak akan ada lagi. Akibatnya, manusia yang lahir ke dunia akan menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti agama-Nya dan mereka pasti akan menjadi sesat dan kafir. Allah SWT tidak menghendaki hal itu terjadi, karena itu Dia mengutus Rasulullah SAW, yaitu hamba-Nya dari Quraisy Arab (bukan dari Bani Israil). Rasulullah SAW diutus-Nya kepada manusia dan beliau diberikan-Nya Al Qur’an yang juga untuk manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)

 

Manusia dalam firman-Nya di atas itu bukan saja umat Islam, tapi juga termasuk Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (orang-orang yang menyekutukan-Nya dengan tuhan lain). Rasulullah SAW menjelaskan ketika Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada beliau sebagai utusan-Nya (Rasul-Nya), sebagai berikut:

 

Dari Iyaadl bin Himar Al Mujasyiiy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu. Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, ke­cuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW ketika itu justru untuk Ahli Kitab dan orang-orang musyrik, karena ketika itu belum ada umat Islam dan Rasulullah SAW belum mengetahui Al Qur’an (agama-Nya) dan iman. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Asy Syuura 52)

 

Al Qur’an untuk Ahli Kitab itu dijelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dia menurunkan Al Kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Qur’an). (Ali ’Imran 3-4)

 

Dia menurunkan Al Kitab kepadamu dalam firman-Nya di atas, yaitu Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW. Membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, yaitu Al Qur’an membenarkan Taurat dan Injil. Al Qur’an membenarkan Taurat, karena Injil yang membenarkan Taurat tidak berhasil mengatasi perselisihan di antara umat Nabi Musa khususnya Bani Israil sebagai pewaris Taurat akibat dari perubahan Taurat (agama-Nya). Al Qur’an membenarkan Injil untuk mengatasi perselisihan di antara umat Nabi ‘Isa akibat dari perubahan Injil (agama-Nya). Selain itu, Al Qur’an juga untuk orang-orang musyrik, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. (Al An’aam 156)

 

Agar kamu tidak mengatakan dalam firman-Nya di atas tersebut, yaitu orang-orang musyrik.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika ayat-ayat Al Qur’an disembunyikan dan dirubah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)

 

Dengan demikian, agama-Nya yang dibawa oleh Rasulullah SAW itu merupakan agama-Nya yang terakhir yang Dia turunkan untuk manusia. Agar agama-Nya itu tidak berubah seperti agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa karena disembunyikannya atau dirubahnya sebagian ayat-ayat Taurat dan sebagian ayat-ayat Injil, maka Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhan-mu (Al Qur’an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. (Al Kahfi 27)

 

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak dapat merubah ayat-ayat Al Qur’an seperti mereka merubah ayat-ayat Taurat dan ayat-ayat Injil, sehingga mereka tidak dapat merubah agama-Nya sekalipun Rasulullah SAW telah wafat.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply