Dialog Seri 10: 40
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjadikan (menciptakan) Nabi ‘Isa yang lahir tanpa Bapak itu sebagai bukti kekuasaan-Nya bagi manusia?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan telah Kami jadikan (‘Isa) putera Maryam beserta Ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). (Al Mu’minuun 50)
Kekuasaan Allah atas penciptaan Nabi ‘Isa yang lahir dari Maryam (Ibu) tanpa Bapak itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putra Maryam itu adalah utusan (Rasul) Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An Nisaa’ 171)
Kekuasaan Allah lainnya atas penciptaan Nabi ‘Isa yaitu Dia menjadikan Nabi ‘Isa dapat berbicara dari sejak dilahirkan (bayi), dan Dia menjadikan beliau sebagai Rasul-Nya dengan diberikan kitab Injil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Berkata ‘Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada Ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam 29-33)
Sekalipun Nabi ‘Isa dilahirkan oleh Maryam tanpa Bapak dan dapat berbicara dari sejak bayi, beliau tetap hanya hamba-Nya seperti manusia lain yang lahir dari Ibu Bapak, beliau hanya Rasul Allah yang tidak berbeda dengan Rasul-Rasul Allah lainnya. Allah SWT menghendaki agar manusia mengetahui kekuasaan-Nya dengan penciptaan Nabi ‘Isa dan Dia menguji iman manusia kepada-Nya dengan kekuasaan-Nya (penciptaan-Nya) itu.”
Tilmidzi: “Jika Nabi ‘Isa tidak berbeda dengan manusia lain, apakah beliau dan Ibunya (Maryam) menjalani hidupnya seperti manusia biasa?”
Mudariszi: “Nabi ‘Isa dan Maryam menjalani hidupnya seperti manusia biasa menjalani hidupnya, yaitu mereka makan dan minum dari karunia-Nya yang ada di bumi. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Al Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan Ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. (Al Maa-idah 75)
Perbedaan Nabi ‘Isa dengan manusia lain hanya pada kerasulan (kenabian) beliau, yaitu beliau lebih dilindungi-Nya daripada manusia lain. Allah SWT menjelaskan perlindungan-Nya terhadap Nabi ‘Isa dan Maryam tersebut, yaitu sebagai berikut:
Dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Al Mu’minuun 50)
Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa diajarkan agama-Nya oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam, dan Kami berikan kepadanya Injil. (Al Hadiid 27)
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (Ali ‘Imran 48)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Dia mengajarkan agama-Nya kepada Nabi ‘Isa karena agama-Nya itu dijelaskan dalam Taurat dan Injil yang diajarkan kepada beliau.”
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT mengajarkan Taurat kepada Nabi ‘Isa, apakah Injil terkait dengan Taurat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir. (Al Mu’min 53-54)
Nabi ‘Isa adalah Rasul dari Bani Israil, sehingga beliau termasuk sebagai pewaris Taurat yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Musa. Dengan mengetahui Taurat dan Injil, Nabi ‘Isa lalu ditugaskan-Nya sebagai berikut:
Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. (Al Maa-idah 46)
Nabi ‘Isa lalu menjalankan tugasnya tersebut kepada umat Nabi Musa khususnya kepada Bani Israil sebagai pewaris Taurat, sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil , sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat.” (Ash Shaff 6)
Nabi ‘Isa membenarkan Taurat (dalam firman-Nya di atas) dengan Injil, sehingga hal itu menunjukkan adanya keterkaitan antara Injil dengan Taurat.”
Tilmidzi: “Mengapa Injil dan Nabi ‘Isa harus membenarkan Taurat?”
Mudariszi: “Taurat ketika itu tidak lagi seperti Taurat yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Musa, karena sebagian ayat-ayatnya telah dirubah atau disembunyikan oleh Bani Israil yang kafir setelah Nabi Musa wafat. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya).” (Al An’aam 91)
Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. (Al Maa-idah 13)
Perubahan ayat-ayat Taurat itu menjadikan agama-Nya dan syariat agama-Nya berubah, yaitu tidak lagi seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa, sehingga Bani Israil sebagai pewaris Taurat menjadi berselisih karena tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Nabi ‘Isa tidak diutus untuk mengembalikan ayat-ayat Taurat yang disembunyikan atau dirubah, tapi beliau dengan Injil ditugaskan untuk menjelaskan kebenaran Taurat yang Dia turunkan kepada Nabi Musa, dan menjelaskan (memperbaiki) kesalahan dalam beragama (beribadah dan beramal) karena perubahan Taurat itu. Jika tidak diperbaiki, maka Bani Israil sebagai pewaris Taurat akan terus berselisih dan umat Nabi Musa termasuk yang lahir kemudian akan menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, yaitu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Umat Nabi Musa tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yaitu mereka beragama (beribadah dan beramal) ketika menjalani hidupnya, tidak seluruhnya mengikuti syariat agama-Nya (perintah dan larangan) yang Dia tetapkan dalam Taurat. Itu berarti sebagian dari ibadah dan amalan mereka tersebut melanggar syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan Taurat. Pelanggaran agama itu membuat umat Nabi Musa dan orang-orang yang lahir kemudian menjadi berdosa (bersalah) dan sesat. Karena itulah Nabi ‘Isa menjelaskan dan memperbaikinya dengan Injil kesalahan dalam beragama tersebut agar mereka kembali beragama dengan benar dan tidak lagi berselisih. Adapun contoh penjelasan Nabi ‘Isa dengan Injil itu sebagai berikut:
Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran 50-51)
Dan tatkala ‘Isa datang membawa keterangan, dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.” (Az Zukhruf 63-64)
Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (Az Zukhruf 61)
Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa diberikan mu’jizat-Nya ketika menyampaikan dan menjelaskan Injil?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali ‘Imran 49)
Allah SWT memberikan sejumlah mu’jizat-Nya kepada Nabi ‘Isa untuk Bani Israil agar mereka beriman kepada-Nya, ayat-ayat-Nya dan Nabi ‘Isa. Bahkan penciptaan Nabi ‘Isa melalui Maryam yang tanpa Bapak dan beliau dapat berbicara dari sejak bayi itu juga merupakan mu’jizat-Nya bagi Bani Israil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
‘Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. (Az Zukhruf 59)
Allah SWT memberikan sejumlah mu’jizat-Nya kepada setiap Rasul dari Bani Israil, mulai dari Nabi Yusuf hingga ke Nabi ‘Isa. Tujuannya agar umat Rasul, khususnya Bani Israil, beriman kepada Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Dengan demikian, di antara umat manusia itu, maka Bani Israil seharusnya menjadi umat yang paling bertakwa (beriman) kepada Allah SWT, karena Dia paling banyak mengutus Rasul-Rasul atau Nabi-Nabi dari Bani Israil dan Dia paling banyak memberikan mu’jizat-Nya kepada Rasul-Rasul dari Bani Israil.”
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi ‘Isa dapat melaksanakan mu’jizat-Nya itu?”
Mudariszi: “Nabi ‘Isa melaksanakan mu’jizat-Nya dengan dibantu oleh Jibril. Tanpa Jibril, Nabi ‘Isa tidak dapat melaksanakan mu’jizat-Nya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. (Al Baqarah 87)
Ruhul Qudus dalam firman-Nya di atas adalah Jibril, yaitu Jibril (Ruhul Qudus) yang menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (An Nahl 102)
Malaikat Jibril diciptakan oleh Allah SWT adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 5-6)
Tilmidzi: “Apakah kitab Injil tersebut juga untuk manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang kitab Taurat sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat agar mereka ingat. (Al Qashash 43)
Karena Taurat untuk manusia dan Injil terkait dengan Taurat, maka Injil berarti untuk manusia pula. Allah SWT mejelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat, dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Al Maa-idah 46)
Tilmidzi: “Bagaimana manusia termasuk Bani Israil setelah mendengar penjelasan Nabi ‘Isa?”
Mudariszi: “Hanya sedikit dari umat manusia termasuk Bani Israil yang beriman kepada Allah SWT, Injil, Nabi ‘Isa. Di antara pengikut Nabi ‘Isa itu, ada yang ingin menguatkan imannya, sehingga mereka kemudian meminta kepada Nabi ‘Isa sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut ‘Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).” (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut ‘Isa berkata: “Hai ‘Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” ‘Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman.” Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.” (Al Maa-idah 111-113)
Nabi ‘Isa lalu meminta kepada Allah SWT agar mengabulkan permintaan pengikutnya tersebut, sebagai berikut:
‘Isa putera Maryam berdo’a: “Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkau-lah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.” (Al Maa-idah 114)
Dan Allah SWT lalu mengabulkannya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.” (Al Maa-idah 115)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kebanyakan Bani Israil tidak beriman kepada Nabi ‘Isa dan Injil?”
Mudariszi: “Ya! Kebanyakan Bani Israil tidak mau beriman kepada Injil dan Nabi ‘Isa. Mereka berselisih setelah mendengar penjelasan Nabi ‘Isa dan Injil. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). (Az Zukhruf 65)
Penyebab perselisihan (dalam firman-Nya di atas), yaitu adanya sejumlah ayat-ayat Injil yang tidak sesuai dengan keinginan (hawa nafsu) mereka, yaitu keinginan untuk memperoleh keuntungan (harta) dunia yang mereka sukai. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-Rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al Baqarah 87)
Karena mereka tidak menyukai Nabi ‘Isa dengan ayat-ayat-Injil, mereka lalu menuduh Maryam dengan tuduhan keji, yaitu sebagai berikut:
Dan karena kekafiran mereka (terhadap’Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). (An Nisaa’ 156)
Mu’jizat-Nya yang disampaikan oleh Nabi ‘Isa lalu dikatakan oleh mereka sebagai berikut:
Lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al Maa-idah 110)
Semua tuduhan jahat yang dilakukan oleh Bani Israil tersebut bertujuan agar Nabi ‘Isa tidak dipercaya hingga tidak diikuti. Karena itu Nabi ‘Isa lalu melaknat Bani Israil sebagai berikut:
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al Maa-idah 78)
Tilmidzi: “Apakah kebanyakan Bani Israil di masa Nabi ‘Isa tidak berbeda dengan kebanyakan Bani Israil di masa Rasul-Rasul sebelum beliau?”
Mudariszi: “Ya! Kebanyakan Bani Israil di masa setiap Rasul (dari Bani Israil) tidak berbeda, yaitu sama-sama menyukai kehidupan dunia, mereka ingin memperoleh keuntungan (harta) dunia. Karena itu mereka tidak ada takutnya menyembunyikan atau merubah ayat-ayat-Nya dan berselisih di antara mereka hingga berbunuh-bunuhan termasuk membunuh Nabi-Nabi. Dengan demikian, penyebab perselisihan di antara mereka adalah karena hawa nafsu mereka yang menyukai kehidupan dunia dan adanya ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (hawa nafsu) mereka. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al Maa-idah 70-71)
Rasul-Rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putra Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-Rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah 253)
Allah SWT membiarkan mereka berselisih dan Dia hanya akan memutuskan perselisihan di antara mereka itu pada hari kiamat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. (Al Jaatsiyah 17)
Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa termasuk yang ingin dibunuh oleh Bani Israil?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai ‘Isa putera Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada Ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan Ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al Maa-idah 110)
Allah SWT menghalangi Bani Israil dari keinginan mereka membunuh kamu (Nabi ‘Isa) dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Bani Israil ingin membunuh Nabi ‘Isa.”
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa setelah mengetahui keingkaran Bani Israil tersebut?”
Mudariszi: “Nabi ‘Isa meminta bantuan dari pengikutnya untuk menolong beliau termasuk menolong dalam menegakkan agama-Nya dengan memerangi orang-orang kafir termasuk memerangi Bani Israil. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil), berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan Kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang ke-Esa–an Allah).” (Ali ‘Imran 52-53)
Nabi ‘Isa mengajak pengikutnya untuk menegakkan agama-Nya, karena orang-orang kafir termasuk Bani Israil tidak menyukai agama-Nya yang dibawa oleh Nabi ‘Isa. Keingkaran Bani Israil kepada Nabi ‘Isa dan Injil menjadikan agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Taurat tidak mengalami perbaikan, sehingga umat Nabi Musa tetap menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Selain itu, keingkaran Bani Israil tersebut bukan tidak mungkin akan membuat mereka merubah ayat-ayat Injil. Dan jika Injil berubah, maka agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa menjadi berubah pula. Akibatnya, tidak ada lagi agama-Nya yang benar untuk manusia ketika menjalani hidup di dunia. Hal itu akan membuat umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa termasuk orang-orang yang lahir kemudian akan menjadi sesat dan kafir. Nabi ‘Isa tidak menginginkan hal itu terjadi, sehingga beliau kemudian menyeru (mengajak) para pengikutnya untuk menegakkan agama Allah.”
Tilmidzi: “Apakah pengikut Nabi ‘Isa itu berhasil mengalahkan orang-orang kafir termasuk Bani Israil?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff 14)
Allah SWT memberikan kekuatan kepada pengikut Nabi ‘Isa yang beriman hingga mereka menang, karena Dia telah berjanji kepada orang-orang beriman yang menolong agama-Nya sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. (Al Hajj 40)
Tilmidzi: “Tapi bukankah Nabi ‘Isa itu dibunuh dengan disalib?”
Mudariszi: “Tidak demikian! Allah SWT menjelaskan tentang Nabi ‘Isa dan orang yang disalib itu, sebagai berikut:
Dan karena kekafiran mereka (terhadap ’Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. (An Nisaa’ 156-157)
Tilmidzi: “Jika bukan Nabi ‘Isa yang disalib, lalu dimana beliau ketika itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.” (Ali ‘Imran 54-55)
Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 158)
Demikianlah (kisah ‘Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya). (Ali ‘Imran 58)
Wallahu a’lam.